Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 77. Kembali Beraksi


__ADS_3

“Aku paham, Kak Ron. Tolong ... bantu aku sembuh. Dira ingin membantu mereka semua,” balasku penuh keyakinan. Kak Ron mengembuskan napasnya, dia lalu mengangguk.


“Kakak akan mengusahakannya. Kamu sabarlah. Malam nanti adalah babak final. Lawan kita saat ini tangguh, padahal bukan melawan dalangnya,” jelas Kak Ron, “jika kamu terjebak di dalam sebuah mimpi, kami masih bisa menyelamatkanmu karena Radja terhubung dengan alam naga. Namun, jika kamu terjebak di dalam sebuah buku, kami tidak tahu harus melakukan apa.”


Aku bergeming. Buku. Jurnal. Jika benar Ratih adalah sosok bayangan hitam yang kulihat, apakah maksudnya kekuatan itu berada pada jurnal yang sering dia tulis? Aku tidak tahu kenapa hati ini berdesir bagai terbawa ombak. Musuh begitu dekat, tetapi kami baru menyadarinya. Benar-benar mengesalkan.


Ratih, tidak cukupkah kita bersaing dalam lomba menulis cerita saja?


----------


Sesuai prediksi Kak Ron, aku bisa kembali bertugas di malam hari. Semua sudah mulai kelelahan dalam menghadapi musuh. Bahkan pil pembangkit tenaga yang diciptakan oleh kak Ron dan Bizar pun tidak bisa digunakan lebih lama lagi. Ini sudah batasnya dan akan lebih berbahaya jika mereka terus melakukannya.


Kak Ron membatasi tiap orang memakan lima buah pil dengan tenggang waktu dua jam. Namun, beberapa orang dia beri dua sampai tiga pil saja. Tergantung kesehatan tubuh masing-masing. Khusus untukku tidak diberi satu pun pil. Tentu saja, selain tubuhku tidak bisa mengonsumsi suplemen seperti itu, vaksin di dalam tubuhku ini sedang bekerja. Jadi, aku harus bisa bertahan dengan baik. Tidak selamanya teman-teman bisa berada di sekitarku dan membuat keberuntungan untukku.


“Ingat, Dira. Jangan jauh-jauh dengan Radja. Bizar akan membuka portalnya. Apa pun yang terjadi, carilah orang yang mengendalikan ini. Meski tidak ingin mengatakan ini, tetapi orang yang dia incar itu kamu,” ucap Kak Ron panjang lebar. Berbagai raut wajah dapat aku lihat, mulai dari masam hingga sinis. Kakak tidak tenang dan aku menyadari hal tersebut.

__ADS_1


Benar ucapan kakak, Bizar langsung saja membukakan portal. Aku memeluk Kak Ron terlebih dahulu. Entah dorongan apa yang membuat diriku takut sampai-sampai memeluk laki-laki dewasa itu dengan erat. Mungkin, ini bisa menjadi akhir pertempuran, bisa juga menjadi awal masalah baru. Tidak ada yang benar-benar berakhir kecuali kematian itu sendiri yang sudah menjemput.


Bizar sempat melirik ke arahku. Padahal, beberapa waktu lalu matanya masih fokus menatap layar transparan di hadapannya. Dia seolah ingin mengucapkan, berhati-hatilah. Aku tahu itu yang ingin dia ucapkan lewat kedua mata di balik kacamatanya. Namun, Bizar harus kembali ke pos, memberi kabar pada tiap tim. Pekerjaannya sudah cukup banyak dan sekarang ditambah pula dengan anggota kesatria pelindung bumi lainnya. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih di dalam pikiran. Aku yakin, laki-laki itu juga sedang membaca pikiranku.


Pertama kali keluar dari portal dengan sambutan yang begitu mengenaskan. Kota ini sudah dipenuhi oleh kabut kegelapan—banyak bangunan hancur dan retak, kendaraan tidak lagi berbentuk dan pohon-pohon begitu layu—sangat kacau, terlebih monster-monster terus berdatangan dari berbagai arah. Aku segera mencari keberadaan Radja di atas langit. Dengan sayap naga, tempat paling memungkinkan adalah di langit.


Beberapa monster di daratan mulai mengincarku. Benar kata kakak. Mereka menginginkanku dan aku tidak boleh berjauhan dengan Radja. Namun, laki-laki itu belum juga terlihat. Aku mencoba mengaktifkan pelacakan pada jam, tetapi kabut ini menghalangi pemandangan. Sungguh, aku tidak tahu ke arah mana harus pergi.


Aku pun memanggil caladbolg, pedang dengan kekuatan air itu bisa menghentikan mereka. Andai vaksin dalam skala besar itu lebih cepat selesai, semua tidak akan serepot ini. Para monster itu memiliki cakar yang sangat tajam, tidak mungkin melawannya dengan menggunakan pedang. Maka aku gunakan caladbolg untuk mengendalikan air. Membuat kekuatan ini meningkat dan bisa digunakan untuk menghentikan mereka.


Beberapa di antara mereka berubah menjadi lebih besar, seperti balon. Mungkin sebentar lagi meletus. Inilah yang Kak Ron dan Bizar bahas. Bukan hanya monster dari wujud manusia, tetapi monster buatan pun sudah bermunculan. Aku rasa musuh masih memiliki hati dengan menggunakan monster buatan untuk meledak, sedangkan manusia yang terperangkap tetap digunakan sebagai aset kami. Meski begitu, mereka tahu kalau kami tidak bisa menyakiti bahkan membunuh monster-monster. Satu kelemahan dari semua ini, kami tidak bisa membedakan monster; semua montase terlihat sama satu sama lain.


Walau Bizar dan Radja bisa membedakan, kami tetap kesulitan. Pasalnya, pekerjaan Bizar sudah sangat banyak dan tidak mungkin kami menambahkan pekerjaannya lagi. Saat ini yang bisa dilakukan oleh kami hanyalah mengandalkan insting. Benar ucapan Kak Ron dan Bizar, cara menghentikan semua kekacauan ini hanya bisa dilakukan dengan menemukan pengendalinya dan menyebarkan vaksin dalam skala besar.


“Nadira!” panggil suara yang aku yakini itu Radja. Aku pun segera menoleh ke atas di mana seorang laki-laki tengah menunggangi naga putih. Tidak aku sangka Radja akan menggunakan kekuatan penuhnya dengan meminta bantuan para naga. Namun, tidak bisa aku sangkal jika itu pun sangat membantu.

__ADS_1


Radja turun dan segera memegang tanganku. Dia menarikku untuk duduk di punggung naga, bersamanya. Bisa aku rasakan sisik-sisik naga ini sangat tajam. Naga Putih yang tidak aku ketahui apa saja kekuatannya pun terus melaju. Baru aku sadari jika sisiknya mengeluarkan sebuah aura berwarna hijau. Seperti sihir penyembuhan yang sering dilakukan Miss Ann dan Miss Merry.


“Apa ini rencana kita, Ja? Mencari Ratih dari atas?” tanyaku.


“Ya,” balasnya, “di atas kita bisa bisa melihat lebih jauh. Jadi kamu tenang saja. Monster-monster di langit juga sudah aku kalahkan. Sekarang kita bisa tenang.”


Radja terlihat santai dengan matanya yang masih memandang lurus ke bawah sana. Tidak dia pedulikan ke mana naga ini akan membawa kami. Namun, aku tidak bisa melihat apa pun dari atas sini. Bahkan aku merasa jika Ratih tidak akan ditemukan. Jika aku seorang musuh, aku pasti akan bersembunyi di suat tempat. Jadi aku pun kembali menarik lengan baju Radja, memintanya untuk segera melihat ke arahku.


“Sejak kamu enggak sadarkan diri, banyak situasi yang berubah. Candra terluka, tetapi Tiara melarikan diri—enggak nyerang atau melukai Candra. Aku makin enggak ngerti sama dia.”


“Kabur? Radja, apa ada kemungkinan jika Ratih dan Tiara bersama. Tidak ... itu dia. Kita enggak bakal menemukan mereka dari langit. Cobalah berpikir bagai seorang pembunuh,” ucapku pada Radja. “Tiara pasti menyembuyikan Ratih di suatu tempat. Jelas bukan di atas atau reruntuhan gedung. Mereka bisa ada di bawah tanah atau di dalam gedung.”


“Kalau begitu, seharusnya kita sudah menemukan mereka, Dira. Sayangnya tidak. Semua yang berada di daratan sudah menyebar dan tidak menemukan keberadaan mereka,” ucap Radja.


Aku bertopang dagu. Bagaimana bisa mereka tidak ditemukan? Sebenarnya kekuatan apa yang Ratih miliki? Aku yakin jika Tiara membawa gadis itu bersembunyi, pasti tetap terlihat. Bagaimana juga, kami pernah satu divisi dalam menangani misi. Tiba-tiba terlintas ide yang sangat luar biasa dari kepalaku.

__ADS_1


“Radja, ayo turun dan tinggalkan aku di bawah.”


__ADS_2