
“Sejujurnya, kami menemukan jika 80% peserta, panitia dan guru di sini adalah pasukan Azumi. Awalnya memang bukan dan ini baru terjadi semenjak perlombaan dimulai. Aku curiga jika Ratna dan Faizal ada di balik ini,” jelas Bara. Dia terlihat ragu-ragu saat menyebutkan dua nama terakhir. Mungkin karena dia sudah mulai menganggap mereka adalah teman. Pasti ada rasa kesal karena sepihan kekuatan Azumi justru membuat banyak orang menderita.
“Selain itu, aku harus segera pulang. Mereka dalam bahaya. Maksudku ... beberapa di antara mereka mulai bertemu dengan Miss Ann, jadi sebelum terlambat, aku akan kembali. Miss Merry sedang mengurus segalanya,” lanjut Afly.
Aku mulai memahami kondisi ini. Satu di antara mereka cemas akan keadaan semua orang di sekitar kami dan satu lagi mencemaskan orang-orang yang berada di luar pengawasan kami. Aku menoleh pada Radja dan laki-laki itu menarik napas. Tangannya mengepal erat. Seberapa marahnya dia terhadap musuh, tetapi tidak bisa melampiaskannya pada Azumi begitu saja.
Semilir angin dari taman menerpa rambut kami. Wajah mereka membuatku tidak bersegera untuk tersenyum. Apa pula jadinya jika aku menceritakan soal Ratih. Mereka yang kalut membuat aku tidak bisa berkata apa-apa. Padahal ingin aku kenalkan mereka pada Rico, orang yang sudah menyelamatkanku dan mungkin teman-teman yang lain.
“Afly, kita pulang sekarang. Aku sudah mengusahakan agar bisa kembali dan memeriksa keadaan Ann. Dia tidak boleh bertindak gegabah,” ucap Miss Merry yang baru saja datang sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Panitia tidak mengizinkan kecuali ada guru pembimbing yang lain. Menyebalkan sekali.”
“Kita bisa tenang karena Bizar berada di Twins, Miss. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengunci akses untuk pergi ke Azumi, hanya dia yang bisa pergi ke sana,” ucap Radja.
Berbicara soal Bizar, ucapannya terakhir kali membuat aku ragu jika dia baik-baik saja. Apa ilmuwan yang satu itu sudah makan? Beristirahat dengan nyenyak? Tidak, meningkatkan keamanan pasti sangat menyita waktunya. Namun yang aku yakini, ilmuwan satu itu akan kembali berkompetisi jika Irish, Demina dan Candra berhasil hingga babak final.
Afly dan Miss Merry segera pamit. Sesuai dengan kesepakatan, Afly hanya diantar sampai ke terminal. Selebihnya Miss Merry akan kembali, mungkin setelah beliau ke hotel, aku akan menanyakan beberapa hal mengenai lomba dan Miss Ann.
Pasti ada alasan mengapa peri yang satu itu malah ikut menjadi pasukan kegelapan. Walau seharusnya aku bertanya langsung, aku sangat berharap jika Miss Merry bisa menjawabnya. Jika penyebabnya bisa kami hancurkan seperti monster biasa pada umumnya, Miss Ann pasti akan kembali menjadi normal bukan?
__ADS_1
“Jadwal lomba debat kita lusa. Besok ada pelatihan dan sebaiknya kamu enggak ikut dulu.”
Aku mendongak pada Bara. Agak tidak percaya dengan ucapannya. Radja tidak berniat membantah, justru sikap diamnya membuat aku yakin jika dia pun menyetujui hal serupa. Aku tidak perlu ikut pelatihan lomba debat bersama dengan mereka semua.
“Kamu emang enggak ikut pelatihan, tapi bukan berarti kamu bakal lepas dari belajar. Tiap malem kamu bakal belajar ekstra sama aku,” ucap Radja sambil tersenyum padaku.
“Jangan senyum, Ja,” ucapku mengingatkan pada laki-laki tersebut.
“Kenapa? Kamu takut jatuh cinta sama aku?”
“Senyum kamu itu serem, gimana bisa aku jatuh cinta sama kamu?” balasku sambil memalingkan muka.
Radja tidak tersinggung justru ikut tertawa dengan yang lain. Sempat matanya menoleh padaku, tetapi dia kembali mengobrol dengan yang lain. Kali ini pembahasan yang ringan. Ya, kalaupun ringan pembahasan mereka pasti tidak akan jauh dari seputar monster, Miss Ann dan pasukan kegelapan yang tersisa. Lama-lama bosan juga dengan pembahasan ini.
Setelah makan siang, semua kembali ke tempat pelatihan kecuali tim debat yang katanya sudah selesai dan bisa beristirahat lebih awal. Jadi Radja meminta Bara dan aku ke hotel untuk belajar bersama. Penderitaanku akan segera dimulai, diajari oleh Radja adalah bagian terburuk. Tentu saja, laki-laki ini terlalu keras dalam mengajar. Aku jamin profesi guru tidak akan pernah cocok dengannya.
Radja memutuskan untuk belajar di luar, berdampingan dengan kolam renang berada. Bara lebih tergoda untuk berenang dibanding belajar. Andai aku pun bisa, tetapi Radja menolak. Dia bilang kalau kekuatanku bisa saja tidak stabil lagi dan malah memicu keramaian di hotel. Jadilah aku terjebak dalam belajar penuh bersama dengan Radja.
__ADS_1
Aku muak dengan artikel itu. Bagaimana bisa Radja mempertanyakan soal yang sama untuk aku argumenkan. Menyebalkan sekali, tetapi aku sadar tidak bisa melakukan apa-apa selain menurut. Untung saja tidak ada Bizar, pasti aku akan ditindas dua kali lipat jika ilmuwan itu ada di sini.
“Tunggu dulu, Ja. Aku mau ambil minum, haus. Kamu sih, latihan tapi mulut enggak berhenti ngomong kayak kereta yang enggak bisa direm,” ucapku.
“Itu karena kamu males-malesan. Padahal aku udah suruh kamu belajar lebih awal, Dira!” geram Radja.
Aku mengembuskan napas. “Radja, nulis itu bukan cuma tangan aja yang gerak! Otak ikut mikir, panca indera ikut aktif. Aku juga harus bayangin tiap kejadian di cerita biar bisa dituangkan dalam kertas.”
Radja hanya mengangguk-angguk. Tidak mau membantah ucapanku. Laki-laki ini benar-benar mengusirku untuk segera pergi. Tentu saja yang dia harapkan hanyalah aku yang menurut untuk belajar lagi.
Jadi aku memutuskan segera beranjak dari tempat kami duduk. Melihat sekilas Bara yang sangat bebas, lalu mendengus. Saat berbalik, tubuhku bersenggolan dengan laki-laki lain hingga beberapa kertas berserakan bahkan basah.
“Ya ampun! Maafkan aku,” ucapku pada laki-laki tersebut dan segera saja mengambilkan kertas-kertas yang sekiranya masih bisa diselamatkan.
Dia menoleh padaku. “Tidak apa, tenanglah. Eh ... kamu perempuan yang waktu itu kan? Nadira kalau aku gak salah ingat.”
Aku segera melihat dengan seksama wajah laki-laki tersebut. Refleks aku menutup mulutku. “Oh iya aku inget. Alwi! Gak sangka bisa ketemu lagi.”
__ADS_1
“Nadira, siapa dia?” ucap Radja yang melepaskan pandangannya dari artikel tersebut. Tepat di saat itu aku selesai mengumpulkan kertas yang ada di bawah. Radja pun turut beranjak dari tempatnya. Aku tidak tahu kenapa tetapi mata laki-laki itu tampak menyelidiki Alwi mulai dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Pasti tidak nyaman bagi Alwi.
Memangnya Radja kenapa sih harus liat Alwi kayak gitu?