Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 47. Kekacuan Saat Perjalanan


__ADS_3

“Jangan terlalu berharap saat mengejar sesuatu, agar kamu tidak terlalu sakit saat gagal mendapatkannya.”— Kak Ron


Aku menutup mulut entah untuk keberapa kalinya. Pandanganku ini mulai buram dan mengerjapkan mata sebentar saja sudah membuat aku nyaris terlelap. Terlalu gugup pada hari ini membuat aku tidak bisa tidur kemarin malam. Wajar jika sekarang aku ingin tidur.


Entah karena perjalanan itu sendiri. Kami berangkat pagi-pagi sekali, harusnya jalanan masih lenggang. Namun, siapa sangka jika jalan sudah mulai macet. Beberapa kali aku melihat dari jendela dan menemukan bus sekolah lain sedang melaju ke arah yang sama. Pasti dari sekolah yang akan menjadi lawan kami nantinya.


Latihan, pertarungan dan patroli. Kami sudah menghentikan monster yang ada di wilayah kami. Namun, kami belum mengetahui di mana markas baru para pasukan Azumi itu. Setidaknya ada tujuh hari untuk mencari mereka sebelum babak final. Jadi meskipun kami sudah sampai di hotel untuk beristirahat, pasti Bizar akan mengirimkan misi.


Sejauh ini, kristal kegelapan yang ada di tubuhku sangat membantu orang banyak. Bizar dan kak Ron berhasil membuat duplikatnya. Namun, kristal yang mereka berdua buat adalah penawar dari kekuatan gelap. Berkat bimbingan Miss Merry dan kekuatan Afly, semua itu berhasil. Sayangnya kami tidak bisa memproduksi begitu banyak kristal cahaya. Jadi Kak Ron dan Bizar berencana untuk membuat satu penawar yang cukup untuk mengobati semuanya.


“Babak pertama adalah seleksi. Untuk lomba karya tulis tidak ada seleksi apa pun. Namun, bagi tim debat dan tim cerdas cermat, kalian akan mengikuti babak ini setelah sampai di sana. Jika kalian berhasil, kalian akan bertahan,” jelas Miss Merry yang ada di depan sana.


Dalam artisan lain, jika kami ingin menang dan bertahan di Jakarta, kami harus melewati ini. Aku bersyukur karena cerpen tidak ada babak penyisihan. Semoga saja kedua tim berhasil dalam babak ini. Aku yakin keduanya layak dalam mengikuti lomba nanti.


Aku menoleh kembali pada jendela. Menyaksikan para mobil yang kadang maju dan berhenti. Melihat pemandangan baik bangunan maupun alam. Apa pun setidaknya tidak membuat aku mengantuk di perjalanan. Tidak ada yang bilang jika kami akan baik-baik saja. Tidak ada pula yang menjamin jika monster-monster tidak akan menyerang kami nantinya.

__ADS_1


Dalam hal ini, pasukan Azumi memang kelewat gila. Jika mereka kembali menahan kami, aku akan berpikir jika dalangnya memang berada di sekitar kami. Bagaimana pun, saat ini mereka selalu tahu pergerakan kami. Ke mana kami pergi, pasukan Azumi berada di sana. Sayangnya sampai sekarang aku belum menemukan bukti kuat. Bahkan kondisi Bizar pun tidak bisa menjadi petunjuk.


“Kamu enggak keliatan baik-baik aja, Dira. Ada apa?” Aku segera mencari tahu siapa yang berbicara. Ternyata Radja duduk di sampingku. Dia sedang memakan camilan dengan tenangnya. Aku merasa jika saat ini laki-laki itu tidak begitu khawatir dengan keadaan lomba nantinya. Dia benar-benar terlihat tenang.


“Aku kepikiran dengan orang di balik ini, Ja. Bagaimana mereka merencanakan ini? Apa sebenarnya motif mereka? Memang benar, sekarang bukan Bizar yang jadi target mereka. Mungkin aku, Rima hanyalah pembukaan,” jelasku pada Radja.


Tiba-tiba puncak kepalaku dipegang oleh Radja. Segera aku menoleh ke arahnya. “Ada aku dan teman-teman yang akan melindungi kamu, Dira. Seperti katamu, kita ikuti saja permainan mereka. Meski mereka memulainya, kita sudah tahu siapa pemenangnya.”


Aku mengembuskan napas. Rasa takut itu masih ada. Entah karena aku takut akan kenyataan atau karena takut mereka berada di sekitar kami. Mereka memang menyebalkan. Radja segera menawarkan camilannya dan aku pun mengambil isinya. Mungkin aku memang harus ikut bersikap tenang.


Notifikasi dari Bizar membuat aku berhenti mengunyah makanan. Aku segera membuka pesan yang ilmuwan itu kirimkan. Berupa peta persebaran monster di sana. Dalam kasus seperti ini, Demina pasti segera berusaha menggunakan kekuatannya untuk memanggil hujan. Dia pasti berhasil meskipun itu menguras cukup banyak tenaganya.


“Apa ini memungkinkan jika pasukan Azumi bisa saja berada di salah satu mobil yang melaju di sini?” tanyaku dan ilmuwan itu belum menjawabnya. Mungkin dia sedang memeriksa terlebih dahulu sebelum memberikan informasi akurat padaku.


“Ya, ada beberapa pasukan Azumi di dalam bus dan mobil sekitar kalian. Ini bisa membahayakan orang-orang sekitar. Kalian teruslah waspada dan tetap berjalan,” jelas Bizar yang lalu menonaktifkan percakapan kami.

__ADS_1


Tidak berlangsung lama, hujan pun turun dan menerpa jalan. Aku mulai melihat bagaimana hujan buatan Demina ini jatuh untuk mencari para monster. Tanpa ragu, aku pun menempelkan tangan di depan kaca dan menarik napas pelan sebelum akhirnyanya menutup mata dan membaca suasana di sekitar Menacari tahu bagaimana pergerakan mereka saat ini.


Aku bisa melihat dua remaja di bus depan kami. Mereka terlihat pemurung dan tidak bicara satu sama lain. Aku tidak tahu apakah mereka yang monster atau bukan. Kekuatanku terbatas karena hujan milik Demina tidak dapat menembus badan mobil. Di sisi lain, aku melihat dua buah mobil sedan kecil. Mereka tiba-tiba berhenti di depan mobil kami dengan mendadak. Orang yang mengendarai pun keluar dari sana.


Otomatis mataku terbuka dan segera berdiri, mencari tahu apa yang terjadi. Sopir bus dan Miss Merry sudah turun ke bawah untuk menemui kedua pengendara dari dua buah mobil sedan. Kenapa mereka mencegah kami berjalan maju? Aku tidak paham.


“Apa yang terjadi?” tanyaku pada Radja, tetapi laki-laki itu mengangkat bahunya. Semua juga penasaran dengan apa yang terjadi. Tidak lama, bus di depan sana ikut berhenti. Tidak tahu kenapa tetapi pintu terbuka dan banyak orang yang terburu-buru turun. Tidak mungkin.


“Sepertinya mereka sudah mulai menyerang ya? Mari kita berubah sekarang,” ucap Radja.


Aku mengangguk dan segera menyalakan fitur pada jam tangan. Tidak semua ikut ke bawah. Hanya aku, Radja, Afly dan Irish. Sementara yang lain tetap di dalam bus agar tidak terlalu dicurigai. Kami berempat segera turun melalui pintu belakang bus dan berlari ke tempat tujuan. Memang benar, monster itu sudah bereaksi. Tidak tahu apa pemicunya.


Kedua monster itu mengangkat beberapa murid dan melemparnya. Ini membuat Miss Merry pun terkejut. Namun, ketimbang itu, aku melihat dua pengemudi yang berhenti di depan busku itu berubah. Sial. Mereka memang ingin menghadang. Kembali aku melihat para murid yang sedang dilempar. Aku pun menyuruh Afly menangkap mereka dengan menggunakan syal miliknya. Sementara Radja menangkan kedua pengemudi itu dan menempatkannya ke tempat di mana kami bisa lebih leluasa untuk bertarung.


“Sepertinya mereka sudah merencanakan ini. Ayo kita selesaikan dengan cepat,” ujar Afly setelah mengamankan para murid murid menggunakan syalnya. Aku segera mengunci pergerakan para monster dengan akar-akar tumbuhan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2