Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 56. Tidak Ada Yang Berubah


__ADS_3

“Kamu baik-baik saja, Nadira?” tanya Irish di sebelahku.


Aku mengangguk. Sadar jika sebelumnya aku terlalu banyak berpikir. Kami kembali berlari dengan Radja yang menuntun jalan di atas langit. Tiba-tiba aku melihat sihir berwarna merah mengikuti Radja dari belakang. Tidak ... tidak ... apa yang ingin dilakukan sihir itu. Segera saja aku berteriak memanggil nama laki-laki menyebalkan itu.


“RADJA! DI BELAKANGMU!”


Teriakanku membuat Radja berbalik. Dengan cepat dia pun menghilangkan sayap dan membiarkan gravitasi kembali menarik tubuhnya. Irish segera menarik tali busur. Anak panahnya memelesat dan berubah jadi jaring-jaring yang siap menahan tubuh laki-laki tersebut.


Aku pun turut membantu Irish dengan menumbuhkan empat batang bambu yang cukup tinggi, sehingga jaring-jaring itu terikat dengan empat batang bambu. Tubuh Radja benar-benar jatuh dan dia sudah mempersiapkannya. Aku tidak mengerti kenapa laki-laki ini selalu mudah membuat orang khawatir. Untuk saja aku masih bisa bernapas lega saat melihat dirinya selamat. Sekali lagi aku pandangi langit, sihir itu sudah menghilang.


Kami berlari menghampiri Radja, laki-laki itu terluka meski tidak parah. Aku bersyukur karena kekuatanku dan Irish bisa mencegah hal yang lebih buruk. Namun, hatiku belum begitu tenang meskipun Radja sudah duduk dan bisa beraktivitas kembali.


“Kamu bikin kaget Dira, tapi untunglah ... sihir itu enggak kena aku. Mereka ingin mencegah kita bertemu dengan Bara, Demina dan Afly. Aku lihat dari atas jika mereka dalam bahaya,” jelas Radja yang kembali mengembangkan sayapnya sendiri.


“Kita harus segera menyelamatkan mereka!” ucapku pada Radja, tetapi laki-laki itu menggeleng.  “Afly, Bara dan Demina dalam bahaya kan?”


“Mereka bertiga terpisah, Dira. Kita bakal lama dan bisa aja kita terlambat kalau susul salah satunya. Ini bukan waktu tepat untuk berpisah. Bizar belum mendapatkan kembali aksesnya. Andai kalian enggak gegabah, pasti hal ini enggak bakal terjadi,” ucap Radja dengan lirih. Dia benar-benar sudah kebingungan dan terlihat putus asa.

__ADS_1


Beda denganku yang masih berniat untuk menyelamatkan teman-teman. Tidak seharusnya aku menyerah lebih dulu. Bagaimana pun teman-temanku sedang dalam bahaya. Mereka minta untuk diselamatkan, meski tidak mengucapkan langsung, aku tahu. Mereka membutuhkan kami.


“Kita berpisah, Ja. Aku yakin kita bisa melakukan ini. Selama ini kita terlalu mengandalkan Bizar. Aku tahu dia sedang berusaha mencari jalan keluar, tetapi diam dan menunggu pun tidak ada gunanya. Ayo kita coba mengatasi ini semua.


“Aku, Candra dan Irish akan menolong mereka. Masing-masing memegang satu. Kamu bisa membantu kami jika ada yang kesulitan, tetapi untuk pertama-tama, kamu harus mengarahkan ke mana kami pergi. Bagaimana?” usulku.


Mereka saling melirik, mempertimbangkan apakah usulan ini memanglah Keputusan yang terbaik. Aku tahu jika Canda dan Irish masih kelelahan, jadi setelah Radja mengarahkan kami ... dia bisa membantu salah satunya. Aku yakin kami bisa melakukan ini, dengan atau tanpa bantuan dari Bizar. Lagi pula, ilmuwan itu juga harus diselamatkan dari rengkuhan musuh.


Radja lalu mengangguk, menerima Keputusan yang aku ucapkan. Segera dia pun membentangkan sayapnya dan terbang tinggi. Kadang dia melihat ke atas untuk memastikan pelindung tidak mengenainya. Akan sangat gawat jika dia pingsan sekarang, untungnya Radja adalah tipe yang belajar dari kesalahan, jadi aku tidak begitu khawatir.


Radja kembali ke bawah dan mengarahkan aku berlari ke timur, Candra ke barat dan Irish ke selatan. Kami segera berangkat dengan laki-laki keturunan air mata naga itu mengikuti Irish. Gadis itu lebih kelelahan dibandingkan kami semua. Aku tidak perlu khawatir. Teman-teman akan segera kami selamatkan.


Dari kejatuhan aku bisa melihat Demina tengah berhadapan dengan seorang manusia. Dia tidak berwujud monster tetapi memiliki kekuatan yang mirip denganku. Tidak aku sangka akan bertemu dengannya secepat ini. Rasa ragu lalu menyelimutiku kembali, bagaimana caranya aku berhasil melawan dia dengan kekuatanku yang sekarang. Aku menarik napas dalam-dalam. Perlahan aku pun memunculkan caladblog.


“Lama tidak berjumpa, Nadira. Oh tidak, tidak ... haruskan aku bilang pemilik kekuatan asli ini?” ujar anak laki-laki itu padaku.


Aku menutup mata seraya mengeluarkan sesak yang ada di dalam dada. “Jangan berkata omong kosong. Sebaiknya kamu menyerah dan biarkan kami pergi. Kamu tidak ada bedanya dengan para monster yang dikendalikan.”

__ADS_1


“Perkataanmu itu sangat menyakiti hati kecilku,” balasnya lagi dan aku tidak peduli.


Aku segera mengayunkan pedang pada monster yang satu itu. Kadang kugunakan kekuatan es untuk membekukan dia, lalu aku tendang hingga dia menjauh. Aku harus menyelamatkan Demina, dia sudah tidak memiliki tenaga untuk berhadapan meski kekuatannya itu berguna.


Laki-laki itu kembali berubah menjadi uap tiap kali aku menyerangnya. Ini sangat menyebalkan karena aku tidak bisa menghentikannya. Saat aku menyerangnya dengan es, badan laki-laki itu menjadi padat kembali. Aku haru menemukan cara untuk membuatkan pergi. Ini bukan saat yang tepat untuk mengalahkannya.


“Demina, sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku akan menyusul,” ucapku.


Demina menggeleng. Dia bersikeras untuk tetap berada di sampingku, padahal jelas-jelas dia sudah kelelahan. Aku bahkan tidak tahu sampai kapan diriku ini bisa bertahan dalam melawannya. Sebenarnya apa tujuan mereka? Bukankah jika ingin menangkapku ... mereka bisa melakukannya sekarang? Mereka seperti sdang menunggu sesuatu. Sebuah perintah.


“Sepertinya kamu enggak ada perubahan sama sekali ya, Nadira. Sia-sia saja menyerangmu dengan serius, karena dengan bermain-main pun aku akan menang. Apa yang harus aku takutkan dari seorang gadis banyak omong?” ucap laki-laki itu.


Aku mengepalkan tangan. Sangat kuat hingga akar-akar tumbuhan pun muncul satu per satu dari tanah. Begitu besar dan tinggi. Siap untuk aku gunakan sebagai senjata. Laki-laki itu pun melompat tiap kali akar-akar tanaman nyaris memecutnya. Dia begitu hebat dalam bertahan tetapi tidak lebih buruk saat melawan. Sama sepertiku. Sejujurnya aku memang mengakui jika aku lemah dan tidak bisa menggunakan kemampuan ini sepenuhnya, tetapi bukan berarti aku menyerah.


Semakin dia terus menghindar, aku bisa mengalihkan pandangannya. Bersamaan dengan itu, aku mendengar notifikasi pada jam. Bizar berhasil menerobos masuk, mungkin dia berhasil kembali ke Twins tanpa pengawasan Tiara dan Faizal. Namun dia tidak mengirimkan pesan suara seperti biasanya. Aku yakin laki-laki itu sangat sibuk sekarang.


Tidak lama aku pun bisa mengakses peta dan melihat posisi mereka semua. Bizar juga menambahkan fitur agar kami lebih mudah melarikan diri. Mereka semua juga mengarah ke sana. Segera aku pun membuat akar-akar itu bergerak dengan sendirinya, lalu menarik tangan Demina. Kami berlari sekencang-kencangnya sebelum laki-laki itu sadar jika aku melarikan diri. Untuk selanjutnya, aku tidak akan melarikan diri lagi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2