Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 64. Ternyata Selama Ini ....


__ADS_3

“Nadira, siapa dia?” ucap Radja yang melepaskan pandangannya dari artikel tersebut. Tepat di saat itu aku selesai mengumpulkan kertas yang ada di bawah. Radja pun turut beranjak dari tempatnya. Aku tidak tahu kenapa tetapi mata laki-laki itu tampak menyelidiki Alwi mulai dari ujung kepala hingga ujung kakinya.  Pasti tidak nyaman bagi Alwi.


Memangnya Radja kenapa sih harus liat Alwi kayak gitu? Padahal seharusnya mereka saling mengenal. Alwi dan Radja satu perlombaan, bahkan bisa saja menjadi lawan di hari mendatang. Namun, melihat mereka tidak saling mengenal membuat aku berpikir jika Radja tidak sempat untuk mengetahui siapa saja lawannya. Apa aku harus memperkenalkan mereka?


Tatapan Radja yang semakin tajam memang membuatku takut, seolah mengatakan cepat-beritahu-aku-siapa-dia. Aku pun memamerkan senyum yang agak dipaksakan pada Radja. “Namanya Alwi, dia juga peserta debat. Oh ya, kenalin ini ....”


“Radja Adhitama, temennya Nadira,” ujar laki-laki menyebalkan itu sambil mengulurkan tangan.


Tanpa ragu Alwi pun membalas uluran tersebut. “Alwinner Shifter, peserta lomba debat dari SMP Makmur. Biasa dipanggil Alwi.”


“Senang bertemu denganmu, semoga kita bisa bertemu di atas panggung yang sama,” lanjut Radja lalu melihat ke arahku.


Kali ini tatapan Radja terkesan sangat menantang. Tuh kan, dugaanku tentang dia yang belum mengenal satu pun peserta lomba debat dari sekolah lain itu benar. Saat ini dia sangat senang bahkan jika ini di ruang lomba, Radja pasti akan antusias untuk menunggu tim sekolah kami dan Alwi bertanding. Segera aku pun menggeleng pelan dan teringat apa tujuan awalku.


“Ja, Alwi aku beli minum dulu,” ujarku.


“Beliin aku kopi dingin ya,” balas Radja sambil merogoh uang dan menyerahkannya padaku. Aku menarik napas, padahal sebelumnya dia tidak tertarik untuk membeli minum. Dasar Radja. Kapan dan di manapun pastinya menyebalkan.


“Ja, kamu mau begadang? Terlalu banyak minum kafein itu gak bagus dan kamu gak perlu deh ngikutin gayanya, Bizar,” balasku kesal.

__ADS_1


Laki-laki itu mendengus. “Aku butuh ketenangan jadi beliin aja kopinya atau sampe jam sepuluh kita terus-terusan belajar!”


“Kamu lebih maniak belajar daripada Demina dan Irish!” ucapku tanpa ragu, tiba-tiba pipiku jadi merah. Lupa kalau ada orang lain di sini.


“Nadira, aku bareng sama kamu ya? Kebetulan aku pun mau keluar,” ucap Alwi.


Aku mengangguk. Diam-diam mataku melihat Radja lagi, ternyata laki-laki itu kembali sibuk dengan artikelnya. Bara juga terlalu sibuk berenang. Sepertinya mantan pasukan Azumi yang satu itu sangat tidak tahan dengan kolam renang. Ya, mungkin sewaktu-waktu jika kami bisa berlibur, kami harus menyewa vila yang ada kolam renangnya. Tentu jika teman-teman menjadi lebih akrab dengan Bara pasti akan jadi lebih baik.


Alwi segera memegang pundak dan dia mengajakku untuk segera pergi. Kami keluar bersama-sama. Di depan hotel ada mini market, jadi aku bisa membeli minuman dan camilan di sana. Setelah menyeberang dengan dibantu oleh Alwi, aku pun masuk ke dalam toko. Kami berpisah di ujung rak. Tujuan yang Alwi beli dan yang aku inginkan berbeda tempat. Sambil mencari pesanan Radja dan merasakan kenyamanan dari tempat ini, aku pun turut mendengarkan siaran radio yang sedang diputar. Seketika tubuhku menegang mendengar apa yang disebutkan di dalam radio.


“Halo kembali lagi dengan LotusFm di kanal 91.02! Seperti biasa, kami akan membahas hal-hal yang supernatural dan sulit dipercaya bagi para pendengar semua. Kali ini ada berita yang masih hangat.


Kejadian itu membuatku menelan ludah. Untung saja mereka tidak menyadari kebaradaanku dan Rico dalam konteks sesungguhnya. Jika mereka tahu, aku yakin orang-orang itu pasti akan memburuku lebih cepat lalu melakukan wawancara. Meski ditolak, mereka pasti akan memaksa. Bukan hanya itu, jika sudah ketahuan sekali, pasti akan sangat sulit menghindar. Cukup Afly saja yang mengurusi penggemarnya. Aku tidak mau seperti dirinya.


Segera aku pun kembali mencari barang yang Radja inginkan. Sampai di rak tengah, aku menemukan sederetan kopi dengan berbagai merk. Radja tidak menyebutkan apa yang dia inginkan, jadi aku mencoba memilihnya dengan hitung kancing.


Tiba-tiba aku menangkap bayang-bayang kegelapan yang baru saja melintas di belakangku. Oh ayolah! Kenapa membeli minuman saja harus dipersulit oleh mereka sih? Aku berdecak kesal. Segera saja aku pun meletakkan kembali minuman yang sedang aku pegang. Bersamaan dengan itu, aku melihat Alwi yang juga keluar tanpa membawa apa pun. Tunggu, dia lebih terlihat panik.


Sayangnya aku tidak melihat bayangan hitam pada tubuh Alwi. Melainkan pada orang yang baru saja berlalu. Tanpa tahu malu, aku segera keluar dari mini Market mengejar orang tersebut. Jika dia mengamuk, akan sulit menghadapinya. Terlebih aku sudah melawan satu monster sebelumnya. Aku takut jika kekuatanku tidak stabil karena terlalu sering memaksakan kekuatan untuk melampaui batas.

__ADS_1


“Kak, tunggu!” ujarku, tetapi orang tersebut tidak mendengarkan. Saat aku berhasil meraihnya dan menahan orang tersebut, aku bisa melihat ada kristal di sana. Ya, orang ini benar-benar termasuk dalam pasukan Azumi.


Di satu sisi, aku pun merasa ada orang yang memegang pundakku, segera aku pun menoleh dan mendapati Alwi yang terlihat khawatir. “Kamu baik-baik aja?”


Aku mengangguk pada Alwi sebagai balasan. Segera aku pun melihat orang itu lagi, karena entah kenapa tangannya berubah menjadi dingin seperti es. “Kak, apa Kakak ada masalah? Jika ada yang membuat Kakak tidak tenang, sebaiknya lepaskan saja!”


Orang tersebut tidak menanggapi justru berbalik dan melihat kami. Aku menahan diri untuk tidak mual. Terlambat untuk menyelamatkannya dengan berbicara. Wajah orang ini sudah berubah menjadi putih pucat agak kehijauan. Matanya putih bersih dan dia terlihat kaku. Rasa dingin dari tangan yang aku pegang pun begitu menusuk. Tidak aku sangka jika orang tersebut membuat tanganku diselimuti oleh es. Sial.


“Nadira!” panggil Alwi panik.


Aku bingung. Jika aku tidak menghancurkan es dan kristal kegelapan, Alwi pasti dalam bahaya. Namun, jika aku mengeluarkan kekuatan sekarang, Alwi pasti tahu jika aku bukan manusia biasa. Apa yang harus aku lakukan? Selagi kristal itu masih terlihat jelas, aku masih bisa menghentikannya. Ah lupakan saja, nyawa orang-orang lebih berharga sekarang.


Aku segera mengaliri air di es milik lawan. Menyelimuti esnya denganku dan lalu menghancurkannya. Degup jantungku berpacu dengan kencang. Namun, yang lebih membuatku berdebar bukanlah kepanikan akan Alwi yang terkejut melihatku sekarang.


Sebuah sinar ditembakkan pada orang itu hingga jarak antara aku pun agak berjauhan. Tidak mungkin Afly. Laki-laki itu baru saja pulang ke Bandung. Segera aku pun menoleh ke belakang. Hanya ada bayang-bayang dan Alwi tidak ada di sana. Maka aku pun beranjak untuk melihat ke langit. Rasanya seperti de ja vu. Aku pernah mengalami ini dulu. Hanya saja, sekarang aku tahu siapa orang yang berada di langit tersebut. Pelan aku membisikkan namanya.


“Alwi?”


 

__ADS_1


 


__ADS_2