Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 39. Hukuman Atau Istirahat?


__ADS_3

“Kakak, aku ingin bersekolah lagi. Kasian Nadia sendirian,” ucapku seraya menekuk tangan di atas meja.


Kak Ron baru saja selesai memasak dan kini dia menyajikan makanan di hadapanku. Nasi goreng spesial buatan kakak, aku tidak pernah bisa menolaknya meski dalam keadaan marah sekali pun. Aku iri dengan Nadia yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian lengkapnya. Dia akan pergi ke sekolah, tetapi aku tidak.


Selain dibebaskan dari tugas dan misi, Kak Ron juga membuat aku izin dari sekolah. Aku terlalu lelah katanya. Namun, aku merasa baik-baik saja dan tidak ada yang salah dengan kondisi tubuhku. Memang aku paham maksud Bizar memberikanku misi diam-diam untuk mengawasi para monster, siapa tahu ada di sekolah. Hanya saja ... aku bahkan tidak bisa masuk ke sekolah untuk beberapa hari.


“Kamu istirahat dulu, Dira. Nanti aku buat salinan materinya deh, kamu enggak perlu khawatirkan aku,” ucap Nadia dan itu sama sekali tidak membantu.


“Benar, kamu ini harus menjaga kondisi. Meski kamu merasa tidak ada apa-apa, tetapi kakak bisa mengetahui ada sesuatu yang salah dalam tubuhmu saat ini. Kamu terlalu lelah jadi kekuatanmu tidak stabil. Untuk apa kamu pergi misi dan membantu orang lain sementara kamu saja dalam kondisi lemah?” jelas Kak Ron.


Aku mengembuskan napas, memang benar jika kekuatanku belum stabil. Terkadang kekuatan ini sangat lemah dan jadi kuat dalam satu waktu. Namun, bukan berarti aku tidak kuat untuk menjalankan misi. Terutama dalam penyelidikan. Tidak banyak bertarung hanya mencari informasi. Apa pula aku harus beristirahat di rumah dan tidak pergi ke sekolah?!


Ruang makan ini menjadi sepi, tidak ada topik apa pun yang harus kami bahas. Aku sendiri masih ragu-ragu untuk menceritakan kejadian-kejadian lalu di pelatihan. Mereka cukup tahu jika identitas kami sudah ketahuan dan sekarang kami lebih mudah mendapatkan izin dari kepala sekolah. Memang agak takut jika Pak Tio membongkar ini ke publik. Jadi aku berkata pada mereka untuk tetap berhati-hati dan tidak menyerang dengan gegabah.


Setelah makan, aku pun merapikan meja makan daripada tidak ada kegiatan. Aku suruh saja Nadia untuk segera berangkat ke sekolah dan Kak Ron bersiap-siap untuk pergi kerja. Mereka pergi setelah sepuluh menit dan berpesan agar aku tidak keluar rumah. Memang agak menyebalkan, tetapi aku tidak bisa mmberontak.

__ADS_1


Aku putuskan untuk membuka ponsel dan membuka artikel yang mengatakan info-info terbaru dalam beberapa jam terakhir. Para wartawan dan jurnalis sudah membuat berita tentang monster. Pengakuan warga di desa yang kami tuju pun sudah terungkap. Kekuatan gelap itu memang muncul dari Azumi dan dipicu oleh sisi gelap seorang manusia.


Saat ini salah satu cara untuk menghilangkannya adalah dengan menerima pendapat orang lain dengan lapang dada. Memaafkan sebuah tindakan dan jangan sampai dirasuki oleh sifat negatif. Mereka hanya perlu belajar ikhlas dalam menerima keadaan. Seperti yang Radja dan Bara ceritakan kemarin.


Para penduduk desa hanya marah dan kecewa pada sistem perintahan yang dipimpin oleh kepala desa. Kedua rasa itu aktif dan membuat semua orang takut. Kami hanya perlu mengatakan keuntungan dari sistem. Menjelaskannya perlahan dan membuat kepala desa pun turun tangan. Aku yakin hanya ada kesalahpahaman kecil di antara pemimpin dan rakyatnya.


Kekuatan gelap pun menghilang dan tidak ada lagi yang harus kami singkirkan. Namun, untuk dendam yang sudah sangat dalam, tidak ada cara selaian menghancurkannya dengan kekuatan. Jadi kami sudah menemukan cara yang sangat bagus. Hanya saja, ini tidak akan berpengaruh ketika mereka sudah menjadi monster.


“Ini membosankan,” gerutuku.


Aku ingin keluar dan berkeliling, bukan duduk diam seperti ini. Segera aku mengembuskan napas, lalu melihat ke jendela. Tidak, tidak jangan ada pikiran keluar dari rumah. Aku tidak ingin membuat Kak Ron khawatir. Jadi aku memilih kembali ke kamar sambil membaca jurnal milik Hana. Buku itu biasanya menuntunku pada sesuatu.


Namun, meski membaca lembaran yang begitu tebal. Aku merasa sepi. Segera aku tengadahkan tangan ke langit-langit. Dapat aku lihat sebuah simbol di sana. Jarang-jarang aku melihatnya lagi. Simbol bunga yang dialiri sinar biru dan ungu. Ini bentuk perjanjian antara aku dan Hana waktu dahulu. Ya, sekaligus menanam bibit kekuatan.


Jika ditanya apakah aku bahagia dengan ini semua, aku akan menjawabnya dengan ‘ya’. Hana sudah banyak membantuku. Sudah sepantasnya aku bersyukur dengan semua hal yang terjadi ini. Jujur saja aku tidak menyangka bisa sebebas ini. Dahulu aku hanya mengharapkan Tuhan memang benar-benar mengulurkan tangan untuk membawaku kembali.

__ADS_1


Kurang lebih sepuluh tahun aku merasakan sakit yang tidak ada obatnya. Kini semua itu berakhir. Dulu akulah yang diulurkan tangan oleh orang-orang sekitar, berharap sekarang aku bisa membalas mereka. Namun, tidak.. Aku tetap tidak berguna. Selama ini mereka kembali mengulurkan tangannya padaku. Aku tidak bisa melakukan apa pun dan hanya menghambat.


Andai waktu bisa diulang dan aku bisa menyelamatkan mereka semua. Tidak, aku tidak memiliki dendam pada orang yang sudah membunuh orangtuaku. Aku juga tidak memiliki dendam dengan Azumi yang sudah membawaku hingga seperti ini. Memang inilah takdir. Sebuah takdir yang harus aku jalani dengan lapang dada. Lagi pula, aku masih memiliki sebuah keluarga dan teman.


Aku kembali mengembuskan napas. “Memang benar, aku seharusnya bersyukur.”


Aku hanya bisa berdoa agar kamu tidak bernasib sial dan terus bahagia selamanya.


Tiba-tiba ucapan dari Miss Sharron terngiang di benakku. Benar juga! Kenapa Hana tidak bahagia? Bukankah dia seorang ratu  dan dia pun sangat kuat? Jika kesialan itu hanya tentang dia yang sulit menyalurkan kekuatannya pada sang reinkarnasi, bukankah itu sudah diakhiri dengan adanya kehadiranku?


“Kamu menyimpan banyak rahasia, Hana. Harusnya kamu lebih terbuka sedikit waktu kita masih bisa bicara. Ya sudahlah, nanti aku tanya pada Kak Ron. Semoga saja ingatannya tidak luntur jika aku membicarakanmu,” gumamku.


Tiba-tiba aku mendengar suara ledakan. Tunggu, ini bahkan masih jam sekolah. Siapa yang akan datang jika seperti ini? Aku segera berlari ke depan jendela dan membukanya. Asap mengepul dari sana. Rasanya ini tidak benar, aku harus mengevakuasi warga di sekitar sana. Akan tetapi, bagaimana caranya agar aku bisa pergi tanpa dikenali orang-orang?


`

__ADS_1


__ADS_2