
“Kamu sudah sadar ya, Nadira? Terima kasih ... kamu satu-satunya yang mengingatkanku bahwa aku manusia. Memakai kekuatan penuh membuatku lupa segalanya. Ini memang beresiko, tetapi tidak ada cara lain,” ucap Bizar, lalu dia melahap sereal dingin tersebut.
“Kekuatan penuhmu itu mengerikan, Bizar. Lagi pula, kamu memang harus beristirahat. Kamu sering mengatakan padaku untuk tidak memaksakan diri, sekarang aku kembalikan ucapan itu padamu. Jangan memaksakan dirimu,” jawabku tanpa ragu.
“Kamu benar. Ini beresiko, bahkan jika kamu tidak datang atau tidak ada yang mengingatkan. Aku bisa mati. Mati kelaparan haha!” gurau Bizar tetapi aku tidak suka. “Dan itu memang benar. Kakekku meninggal karena beliau menggunakan kekuatan penuh.”
Aku terperangah dengan apa yang Bizar ucapkan. Dengan wajahnya yang serius seperti itu, aku yakin ini tidak cocok disebut candaan. Aku tidak tahu apakah Bizar sedang melantur karena bisa saja karena terlalu lelah dia jadi mengucapkan kata-kata aneh. Jika saja ada musuh di sekitarnya, aku yakin ini sudah dimanfaatkan oleh mereka. Bizar menurunkan kewaspadaannya. Pelan aku pun mengembuskan napas.
Pikiranku masih berpusat pada Miss Merry dan Radja. Meski Kak Ron mengatakan jika Miss Ann berhasil kabur membawa Ratih, bukan berarti aku bisa tenang-tenang saja dalam menghadapi hal seperti ini. Terlebih gambaran pada mimpi itu terlihat begitu nyata. Nyaris mirip jika aku membandingkan penampilan Bizar yang ada pada mimpiku dengan Bizar di hadapanku.
Ilmuwan yang satu itu pun berhenti memakan serealnya. Segera dia memberikannya ke arahku, lalu aku meletakkannya pada meja. Akan ada robot yang mengambil benda kotor. Sementara aku pun melihat kembali pekerjaan Bizar. Sulit rasanya untuk membantu, dia terlalu hebat. Bahkan aku rasa Bizar tidak memerlukan tim. Akan sulit menyatukan pikiran dia dengan timnya.
“Dira, aku berikan kamu dua menit untuk menyampaikan apa yang ingin kamu katakan,” ucap Bizar yang kembali masuk dalam mode penuhnya. Dia bahkan belum minum air! Aku benar-benar geram dengan Bizar. Semoga laki-laki ini mengingat apa itu minum dan dehidrasi. Jika tidak ... aku akan lebih bersedih mendengarkan kabar tentang dia yang sakit.
“Aku mendapatkan teguran lewat mimpi,” ucapku pelan, “Radja tidak baik-baik saja. Dia benar-benar dalam masalah, Bizar.”
__ADS_1
Aku mulai menjelaskan pada Bizar tentang jurnal milik Ratih. Jurnal itulah yang membuat monster-monster berdatangan dan Ratih yang mengendalikannya. Memang benar otak yang menggerakkan ini semua ada pada Miss Ann, sementara gadis itu hanyalah eksekutor. Bahkan orang-orang yang aku dan Bizar dan aku hadapi sebelumnya hanya pion saja. Semua ini akan lebih mudah jika kami menghentikan Ratih. Aku tahu jika menghentikan Miss Ann pun penting, tetapi sumber masalah yang lebih parah terdapat pada buku jurnal.
Dugaanku memang benar, Bizar mau mendengarkan. Dia pun segera mencari informasi tentang jurnal dan sihir terlarang. Dari sana aku mengetahui jika Ratih mendapatkan jurnal itu dari Miss Ann. Pasalnya, benda-benda milik Hana dan teman-temannya di zaman dahulu disimpan baik oleh peri itu. Mungkin buku jurnal itu bukan sihir terlarang. Menurut Bizar, buku itu adalah buku sihir yang diaktifkan oleh kekuatan Tiara dan Faizal. Pergabungan antara seorang pemimpi dan pembunuh yang lalu menciptakan buku tersebut.
“Tapi kita sudah mendapatkan teror bahkan sebelum Tiara dan Faizal dipengaruhi oleh Miss, Ann,” tolakku pada ucapan Bizar.
Laki-laki itu menimpali, “Jika Miss Ann saja mudah mengambil sampel atau pergerakan kita, kenapa dia harus bersusah payah membuat mereka jadi kawan? Nadira, ini permainannya.
“Miss Ann sudah membuat buku itu sejak lama. Tepatnya kapan aku tidak tahu. Namun, buku itu tidak sempurna, maka dari itu di awal-awal kita lebih mudah menyerang para monster. Kamu dan teman-teman yang pergi berlomba saat itu dihadang oleh monster juga kan? Mereka lebih kuat. Aku rasa di sini buku jurnal tersebut sudah sangat sempurna. Seperti yang kita tahu Tiara dan Faizal sudah berubah di sini. Bahkan mereka membawaku ikut campur ke perlombaan. Itu demi membuat aku jauh dari komputerku,” jelas Bizar panjang lebar.
“Untuk menghentikannya aku harus turun sekarang, Bizar. Apalagi Radja, dia enggak boleh ketemu Ratih dulu. Aku serius,” ucapku, “Radja bakal mati kalau dia pergi sendirian.”
“Berhenti mengkhawatirkanku, Nadira! Istirahatlah dengan benar dan aku akan kembali ke sana. Sekarang kamu harus kembali ke bangsal atau Kak Ron akan mempersulit izinmu untuk melakukan penyerangan,” ucap seseorang dari layar monitor tersebut. Aku segera melihat ke arah pelaku.
Bizar dengan santainya mengambil sebotol kaleng minuman. Dia menegak air di dalamnya tanpa menoleh ke arahku. Namun, tangan kirinya masih sibuk mengetik sesuatu. Di lua sana Radja terus menceramahiku. Aneh. Harusnya aku yang marah pada laki-laki itu. Radja pasti belum beristirahat dan ingin aku omeli, tetapi malah aku yang kena omel darinya. Menyebalkan sekali. Memang gelar laki-laki menyebalkan pada Radja itu tidak akan pernah hilang.
__ADS_1
Segera aku berpamitan pada Bizar. Tubuhku menjadi lebih enak dan bisa bergerak tanpa perlu memegang benda sekitar lagi. Entahlah, ucapan Radja justru membuatku ingin membuktikan bahwa seorang Nadira Putri Haniah itu baik-baik saja. Sungguh kesal jika aku mengingat hal yang sebelumnya terjadi.
Aku kembali ke ruang rawat dan naik ke bangsal sebelumnya. Dalam hati aku menggurut atas sikap Radja. Bisa-bisanya laki-laki itu mengomeliku. Jujur saja aku tidak terima. Seharusnya aku yang menyuruhnya kembali dan beristirahat! Ah, dia benar-benar menyebalkan! Namun, aku bersyukur karena laki-laki itu masih hidup dan baik-baik saja. Tidak lama Kak Ron kembali, dia mengecek keadaan teman-teman. Wajahnya begitu lelah. Sampai akhirnya dia berhenti di depanku.
“Kakak sudah mendengar percakapanmu dan Bizar. Kamu ini, kakak udah larang kamu turun dari bangsal. Huh ... sudahlah, keadaanmu sudah membaik tapi obatnya belum semua terproses. Dira, kakak punya pertanyaan, kenapa kamu bersikeras untuk turun tangan? Apa saja penglihatanmu?” ucap Kak Ron padaku.
“Di dalam mimpi, aku mendengar diskusi kakak dan teman-teman. Kakak menceritakan salah satu cara untuk menghentikan jurnal itu adalah dengan kekuatan hope. Kakak bilang satu-satunya orang yang kurang hanyalah dia,” jelasku.
Kak Ron mengangguk. Dia benar-benar menyimak. Namun, sempat aku melihat dirinya terperangah, seakan kekuatan itu memang sakral. “Kekuatan itu memang luar biasa. Dulu Miss Merry yang menjelaskannya pada kakak. Namun, kakak tidak pernah melihat seperti apa kekuatannya. Bahkan kakak khawatir kekuatan itu tidak akan muncul lagi.”
“Kakak memang bilang jika pemilik kekuatannya dibunuh. Lalu, bagaimana jika kita menemukan pengguna hope, Kak? Apa kita bisa menghentikan semua ini? Di dunia roh, Hana dan Mizuki bilang padaku jika itu kekuatan yang bisa membalikkan keadaan,” balasku.
“Itu benar, Dira. Kekuatan itu memang bisa membalikkan keadaan. Jika tidak, Twins tidak akan pernah mengharapkan kehadiran pemilik kekuatan ini. Tapi, ini sudah terlalu lambat untuk mencarinya. Kita bahkan tidak tahu apakah kekuatan itu benar-benar ada atau tidak,” racau Kak Ron seraya tangannya mengobatiku dengan sihirnya.
“Aku memilikinya, Kak. Kekuatan hope ada padaku,” jelasku singkat.
__ADS_1