Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 70. Bertemu Lagi


__ADS_3

“Sepertinya kamu kesulitan,” ujar anak laki-laki dari atas, dia turun dan mengulurkan tangannya padaku. Di satu sisi, aku melihat monster itu langsung tumbang begitu saja. Mataku mengerjap. Bersamaan dengan monster yang kalah, aku melihat laki-laki lainnya berdiri agak jauh.


“Kalian ... terima kasih,” ucapku dengan senyum.


“Sayangnya ini belum berakhir, Dira.”


Aku menoleh ke arah Rico yang tengah menghampiriku dan Alwi. Begitu banyak manusia yang menghampiri kami. Aku bisa melihat beberapa tanda di tubuh mereka mulai menyala. Saling berkaitan dan terlihat begitu mengerikan ketika bagian-bagian pada tubuh mulai berubah. Aku menelan ludah. Ini sungguh mengerikan. Mereka sangat banyak, apa kami bisa menghentikan mereka?


“Mereka banyak sekali, kita bahkan belum menyiapkan diri untuk penyerangan sebesar ini,” ucap Alwi.


Ucapan itu membuat aku pun ikut berpikir. Apa jangan-jangan ketiga tempat penyerangan yang lain adalah jebakan? Mereka mengincarku? Aku mencoba untuk mengabaikan asumsi tersebut lalu bersiap untuk menyerang mereka. Jika tidak ada Alwi dan Rico, tujuan mereka untuk melenyapkanku pasti sudah dilakukan sejak awal. Entah kenapa aku jadi berpikir jika ini mengarah pada laki-laki yang memiliki kekuatan sama denganku.


Aku sibuk menggunakan akar tanaman untuk menghentikan mereka. Terkadang membuat pembatas. Sementara Alwi dan Rico sibuk mengamankan manusia yang ada di sekitar kami. Ini memang gila dan tanpa persiapan. Aku tidak tahu berapa lama tubuhku akan bertahan. Bahkan rasanya kepalaku sedang dipenuhi oleh sesuatu, sungguh berat. Mataku sudah berlinangan air mata. Kenapa aku harus selemah ini? Tolong bertahanlah sebentar lagi, demi manusia dan teman-teman yang sedang berjuang bersamaku. Tanpa sadar air mataku turut ikut menetes.


Seketika air di sekitar pun menyeruak masuk dan mengitari tubuhku, di berbagai sisi terdapat gelembung-gelembung. Aku tidak mengerti situasi apa ini, tetapi yang aku tahu kekuatanku terasa lebih meningkat. Rasa pening di kepala pun turut menghilang. Justru anehnya, aku merasa sangat ringan. Seakan air-air di sekelilingku baru saja mengobati.


Tanaman rambat semakin lama dirusak oleh para monster. Aku tidak bisa berjalan di tempat saja. Segera aku pun mengepalkan tangan lebih kuat lagi, di satu sisi aku juga melihat ke sisi kanan dan kiri. Melihat apa saja yang sedang dilakukan oleh lawan. Perlahan tanaman rambat itu diselimuti oleh es. Aku tidak tahu kenapa kekuatanku meningkat secara tiba-tiba.


Tidak aku sangka kekuatanmu meningkat lebih cepat,” teriak seseorang di antara para monster besar. Aku tidak tahu siapa, tetapi sudah bisa ditebak. Dia orang yang sama dengan yang selalu menyerangku.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah bola-bola air mengarah ke arahku. Buru-buru aku melompat ke sisi yang lain. Bersamaan dengan itu, pertanahan yang aku bangun mulai melemah. Namun, para monster tidak bergerak maju, justru yang aku lihat adalah laki-laki tinggi masuk ke arena pertempuran. Dia menggunakan jari telunjuknya untuk memutar air bagai gangsing. Entahlah apa yang dia incar, tetapi dia tidak ada ubahnya dengan duplikasi diri sendiri.


“Kita bertemu lagi. Rasanya aku belum pernah mengenalkan diriku. Kamu ini akan mati, jadi aku rasa akan bagus bagi kamu untuk mengenang siapa yang akan membunuhmu,” ucapnya.


Aku muak dengan sesuatu yang dikaitkan dengan kematian. Tatapanku sudah tidak bisa dikondisikan lagi, bahkan rasanya seperti aku akan menghabisinya hidup-hidup. “Sudah berulang kali aku merasakan apa itu sakit dan bagaimana rasanya hampir mati. Kamu tidak pernah merasakan sepuluh tahun bertahan hidup untuk sesuatu yang bahkan kini tiada. Jadi, simpan saja namamu. Aku tidak mau mendengarnya, karena jika aku harus mati, mungkin itu memang hari kematianku.”


“Sungguh menyedihkan. Sayangnya itu tidak akan mengubah apa pun di dalam pertarungan kita. Jadi terimalah ini!” ucap laki-laki tersebut sambil mengarahkan telunjuknya ke arahku.


Sebuah air dalam ukuran kecil mengarah padaku. Semakin lama semakin padat. Aku jadi tidak mengerti apa yang tengah dibutuhkannya. Aku pun menahan air tersebut dengan air milikku. Perlindungan yang sangat berguna. Aku turut menyapu air tersebut dan membentuk jarum sehingga airnya terarah hanya kepada laki-laki tersebut.


Dia begitu lihai dalam menghindar. Entah bagaimana dia mengubah bentuk tubuhnya menjadi begitu aneh, seperti uap air. Karakteristiknya yang bisa mengubah partikel ini cukup sulit untuk di lawan. Aku segera menarik napas dan bersiap untuk menyerang kembali.


Sungguh lomba yang kacau. Bukannya mengharumkan nama sekolah, kami malah terjebak di dalam masalah. Laki-laki itu berbalik menyerang, kali ini dia menggunakan pedangnya. Dengan tubuh bagaikan asap, itu akan sangat sulit untuk aku atasi. Kecuali jika aku bisa memanfaatkan sisa air yang ada di sekitar sini.


Dia begitu gesit, tetapi aku tidak akan menyerah. Memberikan senyum indah dan bertingkah seolah aku akan menyerah. Dari ujung mata, aku melihat beberapa monster mulai ditumbangkan oleh Alwi dan Rico. Peluangku jadi lebih besar. Namun, laki-laki itu sudah ada di hadapanku dan siap menebas. Buru-buru aku berjongkok.


“Aneh sekali. Kamu sepertinya sudah siap untuk mati, Nadira Putri Haniah. Kamu orang yang akan menyusul keluarga dan juga Hana. Tolong sampaikan salamku pada mereka,” ucap laki-laki tersebut.


Aku mendengus. “Tidak. Tolong sampaikan salamku pada mereka dan maaf karena aku harus menghentikan niat jahatmu ini.”

__ADS_1


Air yang sedang aku sentuh pun perlahan berubah menjadi beku. Dalam kondisi tubuhnya yang beruap, aku pun jadi lebih mudah menghentikannya. Laki-laki itu tertahan dalam penjara besi. Dalam genggaman tanganku terdapat pedang dan kini aku gemetar. Rasanya begitu ragu jika aku harus menusuknya. Namun, jika tidak aku lakukan, dia akan membuat kerusuhan lagi.


“Nadira! Kamu tidak apa-apa?” tanya Rico saat aku sadari tubuhku hampir jatuh. Tidak ada tenaga untuk melawan lagi. Aku melihat Alwi sangat sibuk menahan monster lainnya. Bukan waktunya untuk lemah, aku harus membantu mereka.


“Aku harus menyusul ke tempat Radja dan Candra, mereka teman-temanku. Namun, aku tidak tahu apakah aku bisa ke sana tepat waktu,” jelasku.


“Tentu saja kamu akan tepat waktu, Dira. Maaf sudah membuatmu menunggu lama,” ucap Bizar melalui jam tanganku. Aku pun menekan fitur dan membuat panggilan video pun muncul.


“Bizar, ke mana saja kamu? Aku hampir kehabisan tenaga. Bagaimana keadaan teman-teman?” ucapku padanya.


Bizar terlihat kelelahan. Dia bahkan tidak mengucapkan apa pun dan hanya melihat ke arahku. Namun, melihat wajah itu ... entah kenapa aku merasakan firasat buruk. Hatiku terasa sangat sakit dan mataku begitu perih.


“Maaf, Dira, sebaiknya kamu mencari tempat berlindung sekarang. Tidak perlu masuk ke tempat mereka. Kita sudah kalah,” ucap Bizar pelan.


Hatiku mencelos bahkan seketika kehilangan tenaga begitu saja.


 


 

__ADS_1


__ADS_2