Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 92. Cerminan Diri (3)


__ADS_3

Tanpa berlama-lama lagi aku pun kembali menggenggam gagang pedang. Lawan yang telah mengecoh akan kami kalahkan. Suara tebasan pedang mulai terdengar. Itu pasti duplikasi Tiara yang sebentar lagi datang. Dibandingkan mencari sesuatu yang belum bisa dipastikan kebenarannya, aku memilih untuk menahan duplikasi.


Semoga saja Bizar lebih cepat dalam bertindak dan menghancurkan pelindung ini. Degan begitu kami berempat bisa saling terhubung kembali. Kabar baiknya Bizar juga bisa mengirikan info lebih cepat dan akurat. Semakin lama suara langkah kaki itu makin terdengar. Aku mengeratkan pegangan. Jika es tidak dapat menahan duplikasi Tiara seperti aku menahan orang aslinya, maka tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan kekuatan penuhku dalam kekuatan tanaman.


Sekelebat bayangan muncul dan membuat fokusku teralih. Namun, secepat mungkin aku menggunakan es untuk melindungi diri sendiri. Sebalok es itu langsung retak dan hancur berkeping-keping. Dengan kedua tangan aku menutupi wajah, bagian paling rawan untuk terkena serangan. Setelahnya aku kembali berjalan mundur dan menghentikan tiap serangannya. Duplikasi Tiara sama merepotkannya dengan yang asli.


Aku memang tidak bisa menggunakan kekuatan airku. Hanya tanaman saja yang bisa menahan duplikasi gadis di hadapanku. Namun, bagaimana caranya aku bisa menahan duplikasi Tiara jika tanamanku masih bisa dia potong. Aku mulai menatap ke arah lain mencari celah untuk membuat jebakan. Jika aku gunakan berangkap-rangkap, mungkin duplikasi ini bisa berhenti bergerak dan tidak akan merepotkan yang asli.


“Maafkan aku, Tiara. Ini mungkin akan terasa sakit,” gumamku seraya mengumpulkan keberanian. Duplikasi gadis itu pun mulai melawanku dan bergerak lebih lincah. Namun, aku segera berjongkok dan menempelkan tangan ke ubin. Kini tanaman rambat pun mulai menjalar hampir di seluruh ruangan. Tempat ini akan cocok untuk melawannya.


Menunggu kabar selanjutnya dari Bizar memang melelahkan. Tidak ada cara selain menahan, kami tidak mungkin bertindak sendiri. Pasalnya, kami tidak tahu mana di antara tiga duplikasi ini yang asli. Aku segera melakukan rol depan dan menghentikan langkah gadis itu dengan membelitkan tanaman. Itu cukup menahannya. Segera aku pun menarik kembali pedangku yang tertinggal di sana, selagi duplikasi Tiara melepaskan dirinya.


Sambil berdiri aku kembali berlari. Kali ini aku gunakan air untuk menghalau dan menyerang duplikasi Tiara. Selain itu, aku membasahi tiap tanaman yang ada di bawah. Duplikasi Tiara terus mengejarku dia tidak kenal lelah, tetapi aku yakin jika Tiara yang asli akan lebih lelah karena aku melakukan ini. Setelah yakin semua tanaman sudah tersiram air, aku pun berhenti berlari.


“Kenapa, kamu sudah lelah, Nadira?” ujar duplikasi itu. Dengan tatapannya yang tajam, aku semakin yakin. Dia bukan Tiara, jadi tidak akan masalah jika aku menahannya.

__ADS_1


“Tentu saja tidak. Tapi sepertinya kamu yang sudah lelah, jadi bagaimana kalau kamu beristirahat dulu?” balasku dengan tenang, lalu menjentikkan jari.


Tumbuhan rambat di bawah sana segera bermunculan dan menerjang tubuhnya. Tanaman itu melingkar pada seluruh tubuh termasuk wajah. Mengikat bayangan itu tanpa terlewat satu pun. Aku hanya menggunakan tanaman-tanaman di atas dan bawah sementara di tembok penopang akan muncul setelah aku pergi.


Semakin dia bergerak, tanamannya akan menjerat lebih kuat. Aku tidak mau begitu menyakiti Tiara, tetapi tidak ada cara selain ini. Duplikasi Tiara mencoba menggunakan kekuatan api seperti yang kemarin aku lihat, tetapi karena aku sudah mengaliri tanaman dengan air, itu membuatnya tidak bisa melakukan apa pun. Memang benar itu rencanaku. Setidaknya itu berhasil menghentikan duplikasi Tiara untuk beberapa saat.


Aku pun menjauh dari tempat tersebut dan membiarkan duplikasi Tiara terdiam di sana. Selain itu aku mencoba menyalakan fitur pada jam tersebut. Kira-kira di mana teman-teman yang lain? Sayangnya pelindung ini membuat aku pun tidak mendapatkan sinyal mereka. Ayolah, aku sangat berharap Bizar bisa menembus pertahanan satu ini. Sungguh, bagaimana pun musuh ini sangat menyebalkan dan begitu mengganggu. Aku bahkan takut jika Ratih melarikan diri lagi. Perlahan aku pun mengembuskan napas dan segera berjalan tanpa tujuan.


Beberapa ruangan aku coba selidiki, tetapi tidak satu pun di antara mereka yang berada di dekatku. Terbesit di benakku untuk kembali ke tempat awal demi mengetahui apa yang terjadi di sana. Apakah Ratih berpikir untuk melarikan diri lagi? Aku tidak habis pikir dengan gadis satu ini, tetapi serius, ini tidak akan pernah selesai jika dirinya melarikan diri. Jadi aku pun berlari ke ruangan awal.


“Hentikan, Ratih. Kamu membahayakan dunia dan biarkan kami memperbaikinya. Jurnal ini juga terlalu berbahaya untukmu,” ucapku pada gadis tersebut.


“Itu jurnal milikku. Kembalikan! KEMBALIKAN! Aku tidak menerima penolakan,” balasnya seraya berusaha menjangkau tanganku.


Aku menggeleng kuat. “Tidak Ratih. Kamu harus tahu jika ini membuat orang-orang terluka. Orang-orang yang kamu sayangi pun ikut terluka. Biarkan kami menghancurkan jurnal ini oke? Aku yakin kamu orang baik.”

__ADS_1


“Kamu tidak mengerti, Nadira. Kamu tidak akan mengerti apa yang sudah aku alami. Bagaimana kamu bisa-bisanya membunuh satu-satunya orang yang peduli kepadaku? Miss Ann memberitahukan soal Azumi, sahabatku, dan kamu yang membunuhnya!” tukasnya.


Aku menyipitkan mata. Apa maksudnya dengan aku membunuh Azumi? Bahkan saat perang yang lalu selesai, gadis muda itu dikurung demi  memperbaiki mentalnya; bahkan Bizar sendiri yang mendirikan ruangan tersebut. Gadis itu baik-baik saja, tetapi kami tidak pernah memiliki niat untuk mengeksekusi mati Azumi. Terlebih aku adalah orang uang paling menentang hal tersebut. Jadi bagaimana bisa ceritanya berubah jadi aku yang membunuh Azumi?!


“Kamu tidak akan paham bagaimana keluarga Azumi selalu membantuku. Gadis itu memang masih kecil dan nakal, tetapi dia tidak perlu dibunuh! Kamu dengan teganya membunuh Azumi. Ann benar, kamu adalah orang terburuk, Nadira. Dengan membunuhmu, aku yakin bisa mengembalikan Azumi. Selama ini orang yang jahat itu kalian. Jadi kalianlah yang akan aku hancurkan melalui buku ini,” ucap Ratih agak berteriak.


Aku bergeming. Beberapa kali mengedipkan mata, tetapi tanganku masih setia dengan apa yang aku lakukan sebelumnya. Menahan Ratih dalam bertindak. Aku tidak paham kenapa gadis itu menyalahkan atas apa yang tidak aku lakukan.


“Ratih, aku punya dua hal yang perlu kamu ketahui. Pertama, aku tidak membunuh Azumi. Gadis itu masih hidup dan menjalani rehabilitasi. Percayalah padaku. Kedua, buku jurnal ini menghancurkan segalanya dan jika pun Azumi mati, tidak akan ada cara untuk mengembalikannya,” jelasku seraya menahan gadis yang memberontak tersebut.


Ratih berhenti bergerak. Tatapannya tetap tajam. Dia memang sangat mencurigakan sejak awal tetapi aku baru menyadarinya sekarang. Bahkan aku cukup terkejut akan kedekatannya dengan Azumi. Ralat, keluarga Azumi. Ini informasi baru. Aku yakin jika Bizar tidak pernah bicara apa pun soal itu. Tidak lama aku mendengar suara notifikasi. Dengan menggenggam jurnal itu aku pun menyalakan fitur pada jam. Namum mataku tidak lepas dari posisi Ratih.


 


 

__ADS_1


__ADS_2