
Aku tidak bisa memahami jalan pikiran Radja dan Bizar. Bahkan waktu di bumi tempatku tinggal baru saja menunjukkan pukul lima pagi, matahari pun belum naik. Namun, dua laki-laki itu sudah meninggalkanku sendirian. Jika Miss Ann tidak memberitahuku, mungkin aku hanya akan memandangi jam sambil menunggu mereka.
Miss Merry memintaku untuk datang ke sekolah dan mengambil ujian. Tentu aku menyetujuinya, apalagi Miss Merry memberikn timbal balik untukku diam di bumi seharian. Boleh berbelanja, karena Ron sudah memberikan aku uang jajan. Cukup banyak karena aku jarang menggunakan sejak tinggal di Twins. Harusnya kakak laki-lakiku yang satu itu tahu, jadi dia tidak perlu repot-repot bekerja part-time disela-sela kuliahnya.
"Dira, alat tulis gak ketinggalan?" tanya Miss Ann yang entah sejak kapan masuk ke dalam kamarku.
Aku menengadah ke atas langit-langit. Biar kuingat-ingat lagi, tetapi itu tidak cukup. Maka Miss Ann menggunakan sihirnya untuk mengeluarkan semua benda yang ada di dalam tas. Buku, pulpen, pensil, penghapus. Empat benda itu aja yang aku bawa. Tidak ada hal lainnya. Tidak lama sihir itu pun mengembalikan benda ke asalnya.
"Kamu lupa kartu pelajarmu," ucap Miss Ann.
Aku menepuk jidak. Mencari keberadaan kartu bersegi empat itu di atas nakas. Namun, di sana hanya ada tiga buku paket yang aku pelajari semalam. Lantas aku simpan di mana kartu pelajarnya?
Kudengar Miss Ann terkekeh. Lagi-lagi dia menggunakan sihirnya. Menarik salah satu buku pembelajaran di atas nakas. Lalu, dia memisahkan tengahnya. Ada yang terselip di sana, mungkin pembatas buku. Namun, betapa mataku ini membulat ketika yang aku temukan adalah kartu pelajar. Oh, sepertinya aku lupa tentang kartu pelajar yang kujadikan pembatas buku.
Miss Ann mengarahkan kartu pelajar ke arahku dan aku mengambilnya, tentu aku simpan di saku dada agar tidak hilang. Jika aku menyimpan di saku rok biru ini, mungkin saja tanganku tanpa sadar akan menjatuhkannya.
"Aku heran bagaimana kamu bisa lupa hal-hal sepenting ini, Dira," ucap Miss Ann seraya dia terbang ke arahku.
Aku mengacak rambut sendiri, semburat memerah mungkin muncul di pipiku saat ini. Jujur, Miss Ann tidak perlu mengatakannya pun aku sadar kebiasaan sifat buruk yang ada sejak lama. Namun, kecerobohan ini pula yang menarikku pada dunia ini. Jadi aku harus bersyukur atau tidak? Ah, apa pun itu aku harus menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.
"Aku tahu kamu sangat ingin ke bumi. Ingatlah Dira, kamu akan menjalani semua ujian pada hari ini. Lakukanlah yang terbaik," pesan Miss Ann padaku.
Aku mengangguk sebagai balasannya. "Miss Ann jangan khawatir. Setelah dari sekolah aku Cuma mau mampir ke rumah dulu, kok."
"Haaah." Miss Ann membuang napas, dia lalu kembali menatapku dengan sesuatu yang tidak bisa aku artikan. Kedua tangannya bergerak begitu lincah hingga sekumpulan sinar pun muncul membentuk sebuah rantai-rantai kecil seperti kalung.
Benar saja itu menjadi kalung dengan bandul hati yang di bawahnya pun terdapat sebuah bulan sabit. Miss Ann memakaikannya padaku, entahlah untuk apa. Aku hanya memandangi wajahnya yang begitu khawatir.
"Kalung ini akan menjagamu. Dia juga yang akan menuntunmu pada pedang-pedang yang ada dalam mimpi," jelas Miss Ann padaku.
Sejujurnya aku tidak mau memikirkan ke sana terlebih dahulu. Meski semakin lama para pedang itu membuat mimpiku seolah menyeramkan. Bahkan semenjak pertempuran antara Mamoru dan Michio, aku merasa mimpiku jadi menguras tenaga lebih dari biasanya.
Berlari dalam mimpi, kelelahan di alam nyata. Aku seakan terjaga sepanjang malam. Jika aku tidak melanjutkan perjalanan, mataku akan terus terpejam. Tidak ada satu pun yang bisa membangunkanku, termasuk Miss Merry.
"Dira, kok melamun?" Aku menggeleng menyadari Miss Ann tengah mengusap rambutku.
"Eh? Aku tidak apa-apa, Miss. Kayaknya aku harus berangkat sekarang," balasku menyembunyikan mimpi-mimpi yang semakin aneh itu.
Miss Ann mengangguk paham. Dia berhenti mengepakkan sayapnya. Kedua telinga runcingnya pun turut ikut turun. Cahaya yang membentuk simbol-simbol terdapat pada lantai keramik kamarku ketika kaki Miss Ann bersentuhan. Lama-lama warnanya berubah menjadi ungu dan mengalir hingga ke ambang pintu.
Pintu kecokelatan yang menjadi saksi bisuku selama ini tiba-tiba berubah menjadi putih bersih. Kenop pintunya berbentuk bundar, sangat berbeda dari biasanya. Ini berkat kekuatan Miss Ann, mungkin dia membukakan portal untukku.
"Pintu ini akan menghubungkan kamu ke depan pintu perpustakaan sekolah," ucap Miss Ann mengingatkan.
Aku mengangguk paham. "Miss tidak perlu khawatir. Aku akan segera mencari Radja."
"Kalau kamu masih kesulitan untuk bertemu dengannya, coba hubungi Bizar. Kebetulan dia menjadi murid pertukaran pelajar dengan sekolahmu untuk dua bulan ke depan."
Aku agak tidak percaya, tetapi tidak bisa kutanyakan. Miss Ann menyuruhku untuk cepat masuk. Ya, akhirnya aku dibuat penasaran.
Ketika aku memutar kenop pintu, angin berderu begitu kencang. Itu membuat penglihatanku gelap. Dengan sengaja tangan kiriku menutup mata karena cahaya yang kulihat terlalu menyilaukan. Suara angin pun tidak lagi kudengar, maka aku membuka mataku.
__ADS_1
Tepat di depanku kini terdapat tembok pembatas. Warnanya merah terang, berbeda dengan saat aku masih sekolah di sini. Aku melirik ke samping kiri, masih sama. Lab bahasa, kelas dan lab IPA. Tanaman-tanaman hias yang terpasang pun masih sama. Tidak berubah. Aku yakin jika ini adalah sekolahku.
Ngomong-ngomong sekolah. Aku yakin semua orang punya guru favorit, begitu juga denganku. Pak Hisam, apa kabar guru sejarah yang dari dulu enggak mau dipanggil Mr. Hisam? Mencintai bahasa sendiri katanya. Aku terkekeh. Mungkin setelah melakukan homeschooling, guru tersebut kekurangan pekerjaannya. Aaa ... betapa aku merindukan masa-masa dahulu. Suda-sudah tidak ada waktu untuk bernostalgia.
Aku berjalan ke depan kelas, karena di sanalah tempat tangga berada. Langsung terhubung pula dengan kantin. Anehnya, kantin begitu ramai dan membuat jalanku agak terhambat.
"Permisi," ucapku begitu lirih. Tentu tidak akan ada yang mendengarkan. Aku lalu memaksa menerjang keramaian meski haru tterhimpit. Jika saja aku berangkat bersama dengan Radja semua ini tidak akan terjadi.
Terlalu banyak mengeluh membuat aku hilang keseimbangan dang terhuyung ke samping. Untungnya itu bukan tanah, melainkan lantai. Tidak terlalu sakit, bahkan tidak sakit sama sekali. Serangan yang kuterima lenih menyakitkan daripada semua ini.
"Maaf ... eh?" ucap seorang anak perempuan yang aku kenal sebagai Britany, "Nadira? Kamu kan anak rumahan. Ngapain di sini?"
"Aku ...."
"Siapa?" tanya suara yang agak berat di antara kerumunan. Tidak lama seseorang memelah kerumunan, anak laki-laki. Oh, ternyata cowok ini nih penybab kantin sesak?
"Udah, Afly gak usah peduliin dia," hasut Britany disetujui oleh orang-orang di sekitarnya. Aku menunduk, selain Demina dan Radja, siapa yang akan membelaku?
Aku baru saja mau beranjak bangun, tetapi sebuah tangan terulur ke arahku. Hatiku merasa tidak tenang, tetapi punya pilihan apa aku? Menolak sama dengan menghinanya dan kuterima sama dengan menghinaku. Tidak ada pilihan yang bagus di antara keduanya jika murid-murid mengelilingi kami.
"Ayo berdiri," ucapnya.
Aku terpaksa menerima ulurannya. Tangan itu dingin, tetapi ada kehangatan yang familier. Mirip seperti tangan Ron dan aku sekarang merindukan kakakku. Tidak lama laki-laki tersebut melepaskan tangannya dan tersenyum ringan.
"Kamu manis ya. Kenalin aku Afly, kayakanya aku suka kamu," gumamnya sambil berkacak pinggang.
"HAH? APA?!" Serentak semua perempuan berkata serupa seolah sudah skenario untuk kejadian ini. Beberapa menahan amarahnya, mengepalkan tangan dan menatapku dengan nyalang.
"Terima kasih, tapi ...."
"Kamu beneran percaya aku suka kamu? Haha! Bodoh," ucapnya.
Benar-benar memalukan. Namun, aku menolaknya bukan karena perasaan yang aku anggap serius. "Maaf, kamu salah paham."
"Salah dari mananya? Hahaha! Lihat teman, dia mencoba menyangkal," ucap Afly pada semua orang.
Aku kesal juga jengah. Orang-orang menertawakanku tanpa tahu apa yang akan aku ucap. Bukan penolakan, tetapi meminta mereka untuk membuka jalan untukku. Bahkan ini hari pertama aku kembali ke bumi dan entah kapan kembali lagi.
"Dia memang cocok untuk ditindas seperti ini. Bahkan dia tuh udah gak punya orangtua," sindir Britany padaku.
Aku tidak mungkin memukul wajah anak perempuan sebaya denganku. Terlalu takut bagiku melawan hanya karena hal seperti ini. Aku tidak mau kehilangan kendali lagi. Maka aku memilih untuk melangkah mundur dari mereka dan menabrak orang-orang yang ada di belakangku.
"Apaan sih?!" Kira-kira mereka menggerutu seperti itu. Aku tidak banr-benar mendengarkan mereka. Terutama ketika tubuhku kembali di dorong dan aku hanya bisa jatuh karena sakitnya hati.
"Hei kalian!" teriak seseorang di ujung sana.
Semua menoleh pada asal suara lalu berlari kecuali Afly. Dia malah berjongkok di hadapanku.
"Kalau ketemu lagi, sapa aku ya," ucapnya disertai dengan tawa.
Aku masih terdiam. Kata-kata Britany membuat hatiku tersulut. Padahal semua orang tahu kalau kita tidak boleh bermain-main dengan hati. Karena hal yang paling mudah untuk dihancurkan dan dibentuk kembali adalah hati.
__ADS_1
Mataku memanas. Benar aku tidak punya orangtua, tetapi aku punya Ron. Aku punya sahabat, aku punya para peri. Kalimat itu kujadikan sihir penyemangat, tetapi entah kenapa aku terlalu terluka saat ini. Mata ini memanas, bahkan sudah menurukan air mata.
"Hei," sapa orang di belakangku. Tidak berniat sedikit pun aku menoleh atau membalasnya. "Mereka keterlaluan. Kamu gak apa?"
Aku mengangguk, segera kuhapus air mata yang tersisa. Meski tidak bisa kuhapus semua jejaknya. "Aku harus ke ruang kelas."
"Tunggu!" Tangannya menahanku untuk pergi. Dia terlihat begitu khawatir padaku. Namun mataku menatap ke samping dan bisa kulihat sekilas dia begitu datar.
"Kalau kamu nanya aku siapa, nama aku Nadira. Aku ambil homeschooling selama kelas dua ini. Sekarang aku mau ketemu Radja, dia bilang ada Ujian Akhir Semester," jelasku padanya.
Kepalaku kembali pusing. Tidak, jangan sekarang. Mataku berputar-putar, tetapi masih bisa aku atasi. Segera aku bersandar ke tembok terdekat dan mengatur napas dalam-dalam. Ini mungkin karena emosi yang bercampur aduk pada saat ini dan seharusnya tidak terlalu aku pikirkan.
"Kamu gak apa?"
"Iya, aku gak apa," balasku dengan lirih.
Laki-laki itu diam. Aku tidak mengerti, kenapa dia berdiam diri saja di sampingku. Namun, laki-laki tersebut tidak bersuara. Apakah dia merasa bertanggungjawab atas ini? Aku menggeleng, tidak mungkin.
"Nadira, kamu mau ke ruangan? Buat ulangan," tanya laki-laki tersebut.
Aku mengangguk. "Tapi gak tahu di mana Miss Merry memintaku ambil ujiannya."
"Kamu ikut aja sama aku," lanjutnya, "biat aku antar kamu ke ruangan ujian."
Tanpa mengenal namanya, aku menerima ajakan itu. Lagi pula, aku tidak merasakan niat jaha darinya sedikit pun. Dia memimpin di depanku, mengajak langkahku agar seirama dengannya.
Celingukan ke samping, kami baru saja melalui ruang guru. Tampaknya para guru mulai mengambil map---yang aku yakini adalah kertas absensi dan jaga-jaga bila ada yang melanggar. Dia lalu berbelok, begitupun denganku. Kembali berjalan lurus hingga kami berhenti di lorong yang diapit oleh ruang lab. Kedua ruangan lab komputer itu saling berhadapan.
"Kamu masuk ke sana. Aku di sebelah. Kalau kamu butuh sesuatu panggil saja aku Bara, kelas 8A," ucapnya. Dia tidak terlalu banyak basa-basi, melihatku mengangguk, dia pun berbalik dan membuka pintu ruangan labnya.
Aku ikut berbalik. Menahan rasa sakit yang masih berputar-putar di kepalaku. Padahal aku harus ujian sekarang. Tolong jangan mengganggu ujianku dulu. Helaan napas kembali kuembuskan.
Pintu pun terbuka, menampakkan belasan murid yang aku duga mengambil homeschooling juga. Mereka menatapku dengan aneh, seolah-olah aku baru datang dari planet asing. Oke memang benar juga aku datang dari Twins. Namun, mereka semua kan tidak tahu.
Kulihat ada satu orang yang cuek. Jika diperhatikan lewat kacamatanya, entah kenapa mengingatkan aku dengan ... Bizar. Sayang hanya ujung kacamata saja yang bisa kulihat. Wajah laki-laki itu menghadap ke jendela luar, jadi aku tidak bisa menerka-nerka siapa orang tersebut. Lagi pula yang mataku tuju lainnya adalah bangku dan seperangkat komputer di sana masih kosong. Aku rasa tidak ada salahnya duduk di sana.
"Lama banget deh," sindir laki-laki itu. Aku sontak menoleh mendapati suara yang sangat familier dalam benakku, "Dira kamu kesiangan?"
"Bizar?!"
Laki-laki itu menoleh seraya membenarkan letak kacamatanya. "Aku kira kamu bakal dateng lebih awal. Bukan mepet kayak gini."
Aku segera duduk berdampingan dengannya. Mengeluarkan buku tulis dan pulpen. Lalu membalasnya, "Tadi ada masalah dulu."
"Masalah?" tanya Bizar.
Aku baru mau menjawab pertanyaanya, tetapi Miss Merry mengetuk pintu masuk. Guru yang merupkan peri tersebut masuk dengan membawa map yang sama dengan apa yang aku lihat. Dia lalu berdiri di tengah, memerintahkan kami untuk berdoa sesuai kepercayaan masing-masing.
"Sekarang kalian akan menghadapi ujian. Nyalakan komputer dan tunggu saja pusat memberi kalian link untuk ujian," intuksi Miss Merry pada semua orang di sini.
Bizar menoleh ke arahku. Aku tidak suka dengan senyum miringnya. Sangat tidak suka. Karena di saat-saat seperti ini, Bizar pasti akan berucap, "Jangan nyontek ya! Aku pastikan kamu gak bakal sempet liat ke jawaban punyaku."
__ADS_1
Aku memutar mata ke arah lain. Mending fokus saja pada komputer sendiri.
"Terserahlah!" balasku.