
Awalnya kami memang dibuat bingung. Tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya pada mereka. Ucapan dua kelompok itu serupa. Semuanya sudah selesai dan musuh dipukul mundur bahkan sebelum kami mengirimkan racun pelumpuh. Radja tetap meminta penjelas lebih. Namun, semuanya mengangkat bahu dan berguman. Kejadian apa yang membuat mereka ragu untuk mengungkapkannya pada kami?
“Aku takut salah, Ja. Kalau kamu di sana, kamu pun akan kebingungan. Kami dibantu oleh seseorang, entah siapa,” ucap Candra dengan lirih. Dia melirik ke bawah dan menopang dagunya sendiri. “Tahu-tahu saja monster yang akan menyerang kami tumbang. Kami tidak tahu siapa dan bagaimana ciri-cirinya. Tapi, aku yakin dia sangat hebat.”
“Kalau aku sih liat orangnya kayak gimana. Dia punya sayap yang besar, rambutnya agak jabrik dan dia membawa senjata. Aku tidak tahu tongkat atau pedang. Saat itu fokus aku kebagi sama monster yang hampir mencelakaiku. Tapi sama seperti Candra, aku gak lihat wajahnya giamana. Kalian jangan bermuka masam gitu dong,” ucap Irish agak menyindir pada wajahku dan Bizar.
Ini kedua kalinya. Tidak tahu apakah yang menyelamatkan teman-teman adalah lawan atau kawan. Aku ragu, takut jika mereka satu komplotan dengan orang-orang itu. Bisa saja ini salah satu trik untuk membuat kami percaya lalu mereka akan menusuk kami dari belakang. Tidak, tidak! Kenapa aku jadi berpikiran sempit seperti ini?
Bizar mengembuskan napasnya, dia lalu membetulkan kembali letak kacamata yang tengah dikenakan. Tidak ada petunjuk yang berarti di sini. Pandanganku lalu teralihkan pada satu hal. Penyucian, cara agar manusia-manusia itu kembali normal tanpa menjadi monster seperti ini. Segera aku menarin lengan baju Bizar dan Radja.
Setelah mereka menoleh, aku pun segera membimbing keduanya untuk melihat pada manusia berwujud monster itu. Mereka berpikir sekilas sebelum memahami apa yang aku maksud. Bizar lebih awal menyadari dan dia pun segera mengambil dokumen di atas meja. Dia juga memberikannya pada teman-teman setelah membuat dokumen tersebut pintah ke dalam layar.
“Kita lupakan saja dulu tentang orang-orang itu. Pikirkan nanti lagi. Saat ini kita harus menyelamatkan manusia-manusia itu. Sebenarnya ada beberapa cara, tetapi yang baru kami temukan hanya dua hal itu,” jelas Bizar, “bagaimana menurut kalian?”
“Jika ini memang petunjuk, tidak ada salahnya mencoba, Bizar,” balas Tiara.
Semua setuju. Mereka sepakat untuk mencoba cara pertama. Mengambil serpihan kekuatan yang mendekam pada hati manusia. Kegelapan yang menuai sebuah kebencian. Mencari wadah yang cukup tepat agak sulit. Tidak ada satu pun dari kami yang mengetahui kisaran kekuatan gelap di dalam tubuh setiap manusia. Akhirnya dia memutuskan menggunakan botol serum berbentuk tabung untuk percobaan pertama.
__ADS_1
Afly mulai memunculkan bola cahayanya. Sangat silau, kami pun memutuskan untuk berbalik dan tidak perlu tahu apa yang terjadi. Kecuali Bizar dan Radja; mereka bisa menggunakan kacamata hitam dan Radja bisa mengaktifkan kekuatan super dari naga. Sinar itu semakin terang untuk memaksa kami untuk menutup mata.
Merasa keadaan muai kembali normal, aku perlahan membuka mata. Di sana botol tabung itu berubah menjadi perak dan tidak tembus pandang lagi. Aku tidak menyangka jika kekuatan cahaya milik laki-laki bernobatkan raja gombal itu mampu membuat sebuah kaca menjadi perak. Terkadang butiran kerlap-kerlip akan terlihat jika Bizar bergerak.
“Mari kita coba, apa benar bisa ditarik ek dalam wadah,” gumam Bizar.
Ilmuwan satu itu perlahan mendekat pada salah satu tubuh manusia berwujud monster. Tubuh yang dipenuhi oleh batang kayu, bahkan jari-jemarinya pun turut berubah. Manusia itu terlihat mengerikan, dengan bentuknya yang menyerupai sebuah pohon. Masih syukur jika rambutnya tidak ikut berubah menjadi daun. Bahkan, memikirkannya saja sudah geli.
Bizar lalu membuka penutup botol tabung itu dan segera dia arahkan pada monster. Tidak ada yang terjadi. Botol itu tidak bereaksi apa pun dan manusia itu tetap berwujud seperti monster. Aku lalu melihat alis dari Bizar mulai saling bertautan dan akhirnya dia mengarahkan pada matanya sendiri.
“Zar, apa berarti kita tidak bisa menarik kekuatan gelap itu? Apa kami harus menggunkan kekuatan empat pedang lagi?” tanya Nadia.
“Begitukah?” balah Kak Ron yang lalu mendekati Bizar. Dia segera menempelkan jari telunjuknya pada tabung tersebut. Perlahan sinar hijau pun dapat kami lihat. “Semoga kekuatan ini bisa ikut membantu. Jika tidak, kamu harus segera mengirim mereka ke tempat isolasi.”
“Tenang saja, kali ini pasti behasil,” ucap Bizar yang lalu menyunggingkan senyumnya.
Ilmuwan itu kembali mengarahkan lubang tabung pada tubuh manusia berwujung monster. Perlahan-lahan aura kegelapan muncul dari tubuh manusia yang satu itu. Sesuai yang dokumen itu katakan, aura kegelapan pun mulai masuk ke dalam tabung. Aku melihat dengan seksama bagaimana benda berwarna perak itu perlahan berubah sedikit demi sedikit menjadi warna ungu kehitam-hitaman.
__ADS_1
Aku membelalak. Tubuh manusia itu pun perlahan menjadi normal. Bagian kayu yang menyelimutinya mulai menghilang. Artinya kekuatan kegelapan yang berada di dalamnya sudah terangkat. Demina tiba-tiba memelukku. Dia sangat sendang dengan keadaan ini.
“Syukurlah kita berhasil!” ucap Faizal. Laki-laki itu melompat kegirangan.
Aura kegelapan dari manusia itu menghilang. Buru-buru Bizar menyumpal bagian berlubang itu dengan penutup. Dia lalu memperhatikan aura kegelapan yang nyaring keluar dari tabung kecil itu. Bahkan sekecil itu saja cukup membuat kami semua kerepotan saat melawannya. Namun sekarang, kami bisa melawan mereka dengan perasaan yang cukup melegakan.
Bizar pun membuka layar transparan. Dia lalu meletakkan tabung itu di hadapan layarnya. Perlahan sinar keluar dan menariknya masuk ke dalam. Setelahnya dia kembali memunculkan sebuah wadah yang lebih besar lagi. Bizar memunculkan lebih dari sepuluh wadah yang berbentuk botol biasa.
“Sepertinya kita harus membuat dalam skala besar. Kak Ron, aku memerlukan bantuanmu. Sementara waktu kita bisa memakai ini. Mungkin tidak bisa sampai evolusi selanjutnya, tetapi ini cukup membantu. Kalian tidak perlu khawatir, aku akan mencari cara untuk mengatasi evolusi-eolusi lainnya,” jelas Bizar.
“Aku akan membantumu, Bizar. Kalian semua istirahatlah. Pasti lelah, kan?” tanya Kak Ron.
Tanpa berpikir panajng semua berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Berharap tidak akan ada kejadian lain lagi yang terjadi dan mengganggu istirahat. Aku ingin tetap di sana, tetapi Kak Ron menyuruhku untuk belajar bersama dengan Radja. Persiapan Ujian Nasional. Menyebalkan sekali.
Aku pun mengembuskan napas, lalu melirik ke arah Radja. Dia tersenyum seperti seorang iblis! Benar-benar menyebalkan laki-laki yang satu ini! Namun, Radja memang seperti itu bukan?
__ADS_1