Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 11. Lawan Baru (1)


__ADS_3

Ini sudah seminggu dan aku tidak ingin mengucapkan apa yang kudapat dari buku pada Bizar atau siapa pun. Ini bisa menyulut kesalahpahaman dan aku sangat tidak mengiginkan itu. Kami sudah membuat formasi dan terbentuk dengan baik, mana mungkin dengan mudahnya aku menghancurkan itu semua.


Bizar memang masih mencari tahu, tetapi kenapa data dari buku yang aku baca tidak dia temukan dalam programnya. Sudah beberapa kali aku menanyakannya dan laki-laki itu hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Bukan berarti kami tidak membutuhkan Bizar, tetapi aku sadar jika tidak semua buku dalam perpus terdata dalam program milik ilmuwan yang satu itu.


Pencarian Radja dan Bara belum menemukan apa pun. Mereka masih sering keluar diam-diam. Tidak ingin membangunkan tim penyelidikan untuk bertidak, termasuk Tiara. Gadis itu memang hebat, tetapi mengingat kekuatan kegelapan sangat berbahaya dan bisa  menghasut orang lain membuat mereka cemas. Bahkan, aku yang tahu rencana mereka pun tidak diizinkan untuk ikut ke sana. Sampai saat ini Radja tidak mau menyerah mencari petunjuk.


Aku mengembuskan napas dan melihat bagaimana air di danau bergerak dengan tenang. Belajar menggunakan kekuatan sendirian, tidak masalah. Justru itu membuatku memiliki waktu bersantai yang lebih lama. Selama berbaring di atas rumput, aku melihat ke arah langit.


Kira-kira di saat seperti ini, apa yang akan Hana lakukan ya?


Pertayaan itu muncul di kepalaku tanpa aku bisa menjawabnya. Ingin rasanya aku meminta sarannya. Selaa ini aku hanya bisa menenangkan pikiran, tidak bertindak gegabah dan tidak memicu kekuatan apa pun dari tubuhku. Tanpa pedang dan kekuatan aku bukan apa-apa.


Namun, aku ingin diakui oleh teman-teman, bukan karena kekuatan milik orang lain. Dengan kekuatanku sendiri. Dan aku rasa berdiam diri seperti ini tidak akan berguna untuk mewujudkannya. Maka aku segera membenahi posisi dan membersihkan tubuh dari tanah yang menempel di bajuku.


“Jika ada pengguna lain dan itu bukan Bara, lalu siapa? Apa ini ada hubungannya dengan kekuatan mereka yang mirip-mirip dengan kami?” gumamku.


Aku lalu melihat ke tengah danau.  Airnya bergerak dengan tenang. Seolah dia mencoba menjawab pertanyaanku. Jika benar pengguna lain itu ada, maka cepat atau lambat mereka akan memecah belah persatuan kami. Aku tidak bisa dan tidak akan membiarkan itu terjadi!

__ADS_1


“Nadira!” panggi suara nyaring di belakangku.


Gadis berambut merah, Nadia dalam mode berperangnya, menghampiriku. Dia didampingi oleh Afly yang lengkap dengan syalnya. Aku memutuskan untuk bangun dan menyapa mereka berdua. Jika mereka ke sini, pasti niatnya untuk berlatih. Danau ini benar-benar sudah menjadi keramat bagi kami semua. Salahkan Radja si maniak latihan itu!


“Kami tau dari teman-teman. Katanya daripada belajar kamu milih latihan. Telinga aku sakit denger Demina ngomelin kamu. Enggak di sini atau di kelas,” omel Afly padaku.


Aku hanya tersenyum. “Aku enggak begitu ambisius untuk melanjutkan sekolah. Ke manapun tidak masalah.”


“Nanti Kak Ron marah sama kamu, Dira,” timpal Nadia.


Aku merasa tertohok. Kak Ron pasti akan kecewa jika tahu adiknya sangat tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan seperti teman-teman yang lain. Dibandingkan belajar, keselamatan bumi juga sama pentingnya! Tidak ada yang bisa benar-benar aku pilih. Terlebih pengguna elemen kegelapan lain yang entah ada di manal, sangat menganggu pikiranku saat ini.


“Wah, kamu menantangku, Dira? Aku bisa membunuhmu dengan api merah ini loh,” jawab Nadia padaku.


“Lalu tugasku di sini apa? Dasarr para gadis, kalau udah berantem pasti gak peduli sama sekitarnya,” gerutu Afly.


“Tentu saja tugasmu melindungi kami berdua hitung-hitung belajar menggunakan kekuatan pelindungmu dengan baik,” jawabku. Afly tampak menimang-nimangnya lalu mengangguk setuju. Dia segera menarik syal yang terpasang di lehernya dan diam mengamati kami.

__ADS_1


Aku menarik air dari danau dan bersiap-siap untuk menangkis elemen api milik Nadia. Siapa pun tahu jika api akan kalah dengan air, tetapi saat ini konteksnya berbeda. Elemen milik gadis itu lebih kuat dibanding dengan punyaku. Bisa saja aku yang kalah sekarang. Namun, aku tidak semudah itu untuk dikalahakan.


Nadia segera menyilangkan tanganya dan membuat api itu berembus kearahku. Segera aku arakan air untuk membuat perlindungan cukup tebal. Sampai api itu menyambar dan menjadi uap seketika. Lalu aku pun membalasnya dengan mengubah air menjadi es dan membentuk jarum yang sangat banyak yang aku arahkan langsung pada Nadia. Dengan kekuatan apinya dia melelehkan seranganku.


Aku melihat gadis itu pun mulai mengeluarkan pedangnya. Api biru mengelilingi besi panjang itu, sepertinya Nadia mulai serius dalam menghadapi diriku. Aku pun mulai mengangkat kembali air dari danau hingga memutari belakang tubuhku. Untuk melindungi kami Afly menggunakan kekuatan cahayanya. Berjaga-jaga agar kami tidak saling bunuh.


Sebelum Nadia menyerang, aku segera menggerakkan air tersebut menjadi ombak yang siap menyerang. Tentu saja lawanku tidak mau menyerah begitu saja. Dia segera menggunakan pedang untuk membagai dua ombak milikku. Namun, yang aku rencanakan bukanlah itu. Aku hanya ingin membekukan sisi-sisi untuk pertahanan saat menyerang dari jarak dekat.


Buru-buru aku menggunakan air untuk mengubahnya menjadi panah. Ini baru aku coba, biasanya aku menggunakan tanaman. Namun, aku terlalu percaya diri jika ini akan berhasil. Segera aku melompat ke sisi danau dan mengarahkan pada tembok ombak yang aku buat. Nadia sedang berusaha mencairkan es di sekitarnya, sesuai apa yang aku rencanakan.


“Ice shoot!” ucapku yang lalu menarik tali busur itu. Target sudah terkunci.


Dengan cepat anak panah pun memelesat ke arah Nadia, tetapi tidak aku duga jika Afly akan masuk dan melindungi gadis tersebut. Entah kenapa ini jadi lebih seru. Meski ini sangat menyenangkan, aku tidak bisa membayangkan ekspresi Radja.


Radja pasti menyilangkan tangan di depan dada sampai aku beres dia akan mengomel tentang pola yang aku gunakan. Laki-laki itu sangat sering mencari-cari kesalahan orang lain. Menurutnya, walau gerakanku membaik ... aku belum tentu bisa menang dari lawan. Tidak, mulai sekarang aku akan berusaha agar bisa mengalahkan para duplikat dari pasukan Azumi.


Ya, aku akan lebih serius. Di lain waktu. “Teman-teman kita udahan yuk.”

__ADS_1


“Apa? Aku baru saja mulai dan kamu sudah mengajak untuk selesai?!” balas Afly tidak terima. Aku menghilangkan panah dari es dan segera berjalan ke tanah. Energiku sudah hampir habis dan bisa jatuh kapan saja ke dasar danau.


Aku lalu melirik pada jam. Ada satu pesan masuk, entah sejak kapan. Segera aku pun melihat pesan dari Bizar. Kenapa kamu sulit dihubungi? Belum beres latihannya ya? Padahal aku baru akan menyuruh kamu pergi misi. Kira-kira begitulah isinya. Tumben sekali ilmuwan yang satu itu mengirimku untuk misi. Apa ini berhubungan dengan pasukan Azumi lagi?


__ADS_2