
INI GILA!
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan ide cemerlang Bizar. Miss Ann mungkin akan mencariku siang nanti. Memberi tahu Miss Merry dan beliau akan memarahiku. Sebelum terjadi, aku benar-benar harus membicarakannya baik-baik dengan peri keras kepala itu.
Bizar menyelinap ke kamarku, dia membawa laptopnya. Padahal tidak pun akan mudah bagi Bizar dengan menggunakan kekuatannya. Tetapi laki-laki itu sengaja membawa laptop dengan berkilah mau mengajarkanku untuk membuat program pada Miss Ann. Nyatanya dia memakai benda canggih itu untuk membuat suatu pemprograman.
"Aku aktifin laptop ini buat mengalihkan Miss Ann dulu. Sekarang kita pergi pakai teleportasi," ucap Bizar.
"Emangnya Miss Merry udah dateng jam segini?" tanyaku sambil melihat penunjuk waktu yang memperlihatkan angka lima didampingi oleh dua angka lainnya. Ini terlalu pagi dan lebih pagi dari sebelum-sebelumnya.
Bizar sudah memfokuskan dirinya untuk membuat teleportasi. Tanpa menunggu putusan apa pun dariku, dia langsung menarik lenganku. Kami berdua masuk melewati portal dan langsung berdiri di ruang guru.
Mataku membelalak, jantung sedang maraton sekarang. Takut apabila satpam atau guru lain melihat kami sudah datang ke sekolah lebih awal. Bizar dengan seringainya hanya diam membenarkan letak kacamata. Sepertinya aku memang harus sedikit memercayai jika ini aman. Namun, apa ini? Aku melihat sorot senter di gedung kelas satu. Ada bayangan pria dewasa yang tengah berjalan.
Inikah yang dinamakan baik-baik saja?
"Ayo kita masuk. Miss Merry, ada di dalam," ucap Bizar padaku.
Aku berjalan satu langkah saja, lalu diam. "Kamu yakin ini akan baik-baik saja? Miss Merry mungkin akan memarahi kita," jelasku.
Bizar mengangkat bahu. "Kita tidak pernah bisa membuat api kalau kita gak berani mencobanya."
Aku termenung. Bizar hanya geleng-geleng, entah kenapa. Tanpa basa-basi dia malah menarikku dengan cepat. Berlari mencari pintu ruang guru yang terbuka di bagian timur, delapan langkah dari kami berjalan, lalu masuk ke dalamnya.
Ruangan guru sepi, dipenuhi oleh buku-buku murid dan juga buku paket para guru. Dari sini aku bisa melihat Miss Merry tengah menyibukkan dirinya dengan sebuah buku tua. Seakan dia sudah menunggu kami atau memang Bizar telah membuat janji.
"Kalian sudah datang?" hardik Miss Merry dengan mata yang masih tertuju pada buku dan tangan yang menyapu satu per satu halaman pada buku.
Bizar yang masih memegang lenganku pun menuntun kembali berjalan ke meja Miss Merry. Peri tersebut menutup bukunya, lalu menggunakan kedua tangan untuk memindahkan kursi-kursi di tempat lain untuk kami duduk.
"Katakan atau aku benar-benar menghukum kalian," ucap Miss Merry.
Bizar mengaktifkan kekuatannya. Dia tarik dari atas ke bawah hingga layar komputer tertampil dan sudah menunjukkan data-data asli tentang Afly. Miss Merry membenarkan letak kacamata sambil membaca. Dia gunakan jari-jemari itu untuk memilah data milik Bizar.
"Jadi kalian ingin menyelidiki Afly?" tanya Miss Merry seolah dia inspektur yang berasal dari kepolisian.
Bizar mengangguk padanya. "Benar, Miss. Awalnya kami mau mencari Mamoru, tetapi data-data yang aku terima menangkap data tentang Afly. Aku bawa Dira karena dia sudah pernah bertemu dengan Mamoru."
"Kamu bertemu dengan Mamoru?" Kali ini Miss Merry menatapku, "kapan?"
"Waktu ... pertama kali latihan dengan Radja. Mamoru menyelamatkan aku dari Michio," tuturku.
Miss Merry kembali memeriksa data Afly dengan seksama. Memastikan jika yang ada di komputer Bizar adalah fakta, bukan keisengan atau imajinasi semata yang dicocok-cocokkan saja. Aku mendengar Miss Merry mendengkus. Dia menatap Bizar, aku, kembali ke Bizar dan akhirnya melihat data.
"Aku sudah menduga, cepat atau lambat pertemuan dengan mereka akan terjadi. Afly memang Mamoru," ucap Miss Merry dengan tenangnya.
Mataku membulat sempurna. Mulut agak terbuka sedikit. Masih tidak bisa aku memercayai apa yang Miss Merry katakan.
"Dira, Bizar, sepuluh menit dari sekarang pergilah ke kelas manapun. Guru-guru akan datang," peringat peri tersebut.
Bizar menggeleng. "Aku masih tidak percaya jika Afly adalah reinkarnasi orang yang melindungi Hana. Dia bahkan bersikap buruk!"
Miss Merry mengembuskan napasnya. Melalui netra, aku bisa melihat keyakinan dan kesungguhan seorang peri dalam apa yang diucapkannya. Lalu, Miss Merry semakin memperkuat argumennya.
"Afly pun hanya remaja biasa, sifatnya yang menggoda orang lain dan tidak tahu harus membela yang mana dari semua turun-temurun Mamoru. Aku tahu kalian ingin menyelamatkan bumi dengan mengumpulkan tiga orang itu.
"Lupakan saja! Tanpa Hana mereka tidak akan kembali normal, aku akan mengembalikan ingatan rekan kalian secepatnya," jelas Miss Merry seolah panjang, nyatanya hanya sedikit.
Miss Merry mengusir kami. Padahal, belum sampai para guru berdatangan. Sudahlah. Aku lebih memikirkan apa yang peri itu ucapkan.
__ADS_1
Tanpa Hana mereka tidak dapat kembali normal.
Seberapa pentingnya peran Hana untuk mengembalikan sifat mereka? Aku mencoba mengingat-ingat selama Bizar menarikku ke kantin. Dia lalu meninggalkanku tetapi aku tidak peduli. Saat ini alasan hanya Hana sajalah yang merasuki otakku untuk berpikir.
Aku mencoba ingat lintasan peritiwa yang pernah tejadi dulu. Hana mengambil pedang mereka dan pengawal-pengawalnya menjadi hilang kendali. Semua ini memicu kemarahan Kazuhiro.
"Aku rasa kita memang harus menyiapkan rencana cadangan lain," ujar Bizar kembali sambil membawa dua mangkuk.
Satu mangkuk bubur kumplit dia letakkan di hadapanku. Lalu saat dia duduk, bubur satunya ikut disimpan. Sambil menyuapi sarapan pagi, aku melirik pada Bizar yang menyibukkan diri dengan buku catatannya. Jelas itu bukan pekerjaan rumah.
"Jadi kita bakal coba?" tanyaku padanya.
"Kamu dengar sendiri Miss Merry bilang apa."
Aku mengembungkan pipi selagi pula mengunyah sebentar bubur di dalam mulut. Setelah tertelan aku melanjutkan perkataanku, "Siapa tahu aku bisa, Zar."
"Jangan macem-macem. Lagian habis ini aku harus nganter kamu pulang," jelas Bizar.
Tolong aku ....
Aku melipat dahiku dalam. Siapa yang tengah meminta pertolongan?
"Bizar, kamu denger orang minta tolong gak?"
Bizar menggeleng. Dia juga sibuk mengunyah makanan yang ada di mulutnya. "Aku rasa kamu halu."
Aku mengembuskan napas, siapa tahu memang benar aku hanya halu. Namun, jika benar, kenapa suara itu hanya muncul padaku? Ingin aku tanyakan pada Bizar, tetapi laki-laki itu malah sibuk membaca artikel tentang teknologi baru yang sedang dibuat oleh Jepang.
Tolong aku ....
Aku menegadah ke langit-langit, mencoba mencari petunjuk. Tidak aku temukan di manapun keberadaan si pemilik suara. Tidak pula ada benang merah. Aku ini sedang apa?
"Dira, aku pikir kita bisa menyelidiki Afly," jelas Bizar.
Sebelum Bizar menjawab, suara pada layarnya tiba-tiba menjadi panik. Dia segera menutup layar dan memindahkan ke ponsel. Jantungku berdebar karenaa seorang bibi yang menangani bubur ayam menghampiri kami.
"Kok ribut banget sih. Itu hape siapa yang bunyi?" ujar Bibi kantin pada kami.
Aku melihat pada Bizar, karena laki-laki itu tengah sibuk memainkan ponsel sambil minum teh hangat. Masa iya aku yang harus membereskan masalah ini? Bahkan aku tidak membawa ponsel saat ini. Berpikir, berpikir Dira.
"Itu, Bi," ucapku dan masih memikirkan kelanjutannya. Kembali mataku melirik ponsel dan pemiliknya, "Bizar lupa matiin alarm ponselnya."
Bizar yang mendengar hal tersebut langsung terbatuk, padahal kondisinya baru saja beres meminum teh manis. Aku tersenyum geli, begitu juga Bibi kantin yang berkacak pinggang. Bibi itu mengacak-acak rambut Bizar asal hingga jika aku lihat dia seperti baru bangun dari tidurnya.
"Bizar ini ilmuwan, 'kan?" Pertanyan retoris bibi kantin hanya Bizar balas dengan anggukan. Dia sibuk menutup ponselnya.
"Bibi tahu siapa Bizar?"
Bibi tersebut mengangguk. "Anakku yang masih TK sangat mengagumi Bizar. Katanya dia hebat. Sedangkan kedua anak perempuanku sangat tergila-gila dengan pahlawan-pahlawan bumi."
"Tergila-gila? Pahlawan bumi?" Aku setuju dengan pertanyaan Bizar. Kami tidak pernah sempat memeriksa hal sepele seperti itu. Jadi tidak terlalu tahu-menahu tentang fans. Bahkan kami sering berusaha agar tidak meninggalkan jejak.
"Benar, mereka sangat menggemari anak perempuan yang pakai tanaman? Ah aku lupa. Intinya mereka menyukai si anak perempuan dan laki-laki. Aku tidak pernah habis pikir dengan putriku. Dia pernah bilang kalau suatu saat si laki-laki jadi suaminya. Hah, dasar bocah zaman sekarang," jelas bibi kantin itu panjang lebar.
Wajahku pucat, amat tidak baik. Bukan berarti tidak suka ada yang yang menyukaiku. Namun, kata tergila-gila, fanatik dan apa pun itu ... sangat mengganggu. Aku lihat Bizar begitu datar sambil mangut-mangut, kepalanya sudah besar sekarang. Entah bagaimana aku harus mengempeskannya.
"Yah, karena kalian berdua sudah mendengarkan bibi bercerita ... bibi gratiskan saja buburnya," gurau wanita tersebut sambil tertawa ringan, "aku sebenarnya takut jika anakku yang membuat bumbu rasanya tidak enak. Namun, melihat bubur kalian habis, aku bisa tahu kalau putriku berbakat dalam hal ini."
Bibi kantin seakan tidak ingin mendengar apa yang akan kami tolak. Dia berjalan kembali ke tempat dagangnya. Ah, lupakan cerita bibi kantin. Ada yang lebih penting dibanding bubur.
__ADS_1
"Bizar, kepalamu besar," sindirku.
Laki-laki bermata empat tersebut langsung melihat ke arahku, "tidak bisakah kamu membiarkan aku bahagia sebentar saja?"
"Kamu udah keseringan besar kepala. Sekarang kenapa bunyi itu muncul?" tanyaku padanya. Dia kembali mengambil ponsel dan memperlihatkannya padaku.
"Kayaknya Michio dan Azumi bakal berulah lagi. Sekarang kita susul mereka," jelas Bizar.
"Kamu serius? Kesambet apaan, Zar?"
"Aku punya rencana, tenang saja," ucap Bizar. "Kita tidak akan menyerang atau melawan. Dengarkan intruksiku baik-baik."
Aku mengangguk. Kami berdua bangkit dari tempat duduk. Sama-sama melangkah dari bangku tempat kami duduk. Bizar membawa ke depan perpus. Ya, dari manapun tempat ini memang sangat sepi karena kelas yang terdekat adalah kelasnya para murid kesiangan. Nilai plus untuk kami dalam menggunakan kekuatan.
"Dira, pakai baju latihan yang Radja berikan. Aku sudah memasukkannya pada sistem, jadi dengan memilih gambar di layar, molekul bajumu akan ditukar dengan kostum itu," jelas Bizar. Aku mengangguk paham.
Bizar melakukan hal serupa denganku. Memilih kostum dan membuka portal, saat perpindahan baju sekolah akan ditukar. Ketika sampai, mereka tidak dapat mengenali kami. Syukurlah Bizar memperbarui sistem yang ada pada jam kami.
Pasir mengalir dari tangan yang Azumi tengadahkan. Mata gadis itu layaknya ular kobra, begitu tajam dan mematikan. Aku mengedarkan pandang di antar kolong jembatan, mencoba mencari tanda-tanda kehidupan yang belum mereka lenyapkan. Bizar menarikku berjongkok di antara tong, bau sampah menyerbak dari sana. Namun, kami tidak mau mengambil resiko hanya karena sampah.
"Anak-anak jalanan bersembunyi. Totalnya ada lima orang," jelasnya sambil memindahkan data ke jam tangan milikku.
Aku bisa melihat pointer-pointer itu berdiri tidak jauh, tetapi tidak juga berkumpul. Mereka mungkin sudah sadar kedatangan Azumi bukanlah pertanda baik. Ya, aku juga bisa merasakan dari beratnya kepala.
"Apa yang bisa aku lakukan?" Suara yang keluar dari mulutku begitu lirih, napasku mulai tersenggal. Lagi-lagi hal seperti ini datang di saat yang tidak tepat.
"Kamu hanya perlu mengikuti jalan yang sudah aku rangkai, Dira. Hei, kamu paham tidak sih? Dira ... ya ampun! Wajahmu pucat sekali," ujar Bizar selama aku tidak menjawabnya.
"Aku baik-baik saja. Pusingnya hanya datang sebentar," ucapku berusaha meyakinkan Bizar.
Laki-laki itu mengacak rambutnya sendiri. Termenung sebentar, dia juga tidak membiarkan aku pergi. Karena tidak mau membuang waktu, aku sendiri menggunakannya untuk meredakan pusing.
"TIDAK AKU TIDAK MAU! LEPAS! LEPAS!"
Teriakan anak kecil mengusik kami. Kali ini mana bisa aku diam saja. Aku tidak perlu meminta izin, segera saja aku melihat peta di jamku. Jalan yang Bizar pilih sangat aman meski aku harus merangkak. Sambil mengendap, aku mencoba memata-matai tindakan mereka.
"Diam kau Bocah Kecil!" bentak Azumi pada anak laki-laki tersebut.
"Maaf Ratu ... aku rasa ini keterlaluan," cicit Michio. Benarkah laki-laki kelam yang hampir membunuhku itu merasa iba? Tidak bisa dipercaya!
Aku tidak bisa memercayai tindakan Azumi. Bagaimana bisa kekuatan Azumi kembali pulih? Pasir itu mencekik leher anak tersebut. Ini akan gawat, jika aku tidak segera bertindak ... anak laki-laki di sana akan kehilangan nyawanya. Aku tidak bisa, aku tidak bisa membiarkannya seperti itu.
Mata Azumi melihat pada Michio. Sementara tangannya tetap berfokus pada anak laki-laki. Ya ampun, tidak bisakah dia melepas anak laki-laki itu?
"Hentikan omong kosongmu ini, Michio. Aku tidak perlu mengaktifkan tanda itu untuk membuatmu jahat,"
Aku merentangkan tangan kanan dengan mengingat bentuk panah yang sering aku pakai. Melalui akar yang membungkus tanganku lalu membentuk sebuah busur dan sisanya kembali ke dalam tanah. Sebelum menyerang, aku berjalan perlahan ke tempat yang lebih memudahkanku.
Di belakang sudah sungai, hanya dibatasi oleh tong saja. Tempatku berjalan ada di balik tong. Sambil mencari celah di antara kedua tong, aku mengawasi pergerakan mereka.
"Dia masih anak-anak, Ratu," ucap Michio mantap.
Aku menaik tali busur dan emunculkan sebilah bambu kuning yang runcing. Cocok untuk membelah pasir Azumi. Tidak bisa aku biarkan lagi! Anak laki-laki itu sudah terlalu kesakitan.
"Diam---"
Tak!
Anak panahku melesat begitu saja menembus di antara anak laki-laki dan Azumi. Anak kecil itu terkulai lemas dan akhirnya pingsan. Segera aku membalikkan diri, karena aku yakin Azumi memiliki refleks untuk mencari siapa yang berani mengacungkan senjata padanya.
__ADS_1
"Jangan bertindak gegabah dan gila lagi, Dira. Kita tidak mungkin bisa melawannya," titah Bizar kepadaku.
Aku mengembuskan napas, menggenggam erat busurku, baru berani menjawab telepati Bizar. Kita tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya, Bizar.