
Kuat-kuat aku menutup mata. Mengeratkan pegangan pada apa pun. Hawa dingin dan menusuk itu terlalu dekat. Jangan lupakan aura membunuh yang tengah aku rasakan. Namun, itu tidak sebanding dengan gerakan cepat seseorang yang menari tangan hingga aku terbawa.
“Sadarlah, Dira!” ucap suara berat itu.
Aku segera membuka mata. Sayap kelelawar yang pertama kali aku lihat bercampur dengan aura hitam menguar di mana-mana. Refleks aku langsung menepis hingga pegangannya terlepas.
Tidak bisa dipahami bagaimana tempat ini muncul aura yang begitu gelap dan jahat. Perlahan tempat ini jadi lebih berkabut, tidak ada yang bisa aku lihat kecuali Bara.
Semakin dihirup, dadaku jadi sesak. Berbeda dengan Bara yang tengah memegangi kepalanya. Aku mencakar tanah, rumput, atau apalah yang ada di bawah sana. Kepalaku jadi berkunang-kunang, hingga kabut ini seolah mengubah bentuk.
Danau dan dermaga, juga sebuah pondok disertai kabut yang tidak begitu tebal. Suar merah terang terdengar dan dapat aku lihat di atas sana. Pertanyaanku tentang di mana pun berubah jadi aku ini sedang apa?
“Bara,” panggilku, tetapi tidak ada sahutan.
Aku coba memanggilnya hingga lima kali dengan berat suara yang berbeda pula.
Tidak ada tanggapan. Namun, tiap kali aku memanggilnya, sesak itu hilang.
Sebaliknya mataku tertuju pada suar tersebut. Perlahan-lahan aku memegangi batang pohong. Terlalu berbahaya jika hanya memegang rantingnya saja. Melalui kaki yang bersentuhan, aku mencoba meraba jalan tersebut aman atau tidak.
Aku tidak mau mengambil resiko dan menjadi nama yang ada koran berita duka. Terkadang tergelincir di atas batu itu memang menyebalkan. Untungnya tanganku masih setia memegang batang pohon meski berakhir tangan yang perih.
Kabut ini memang tidak begitu tebal, tetapi cukup menghalau apa saja yang ada di depan sana. Sekali lagi suar menyala terang. Diikuti suara angin berembus kencang di kedua sisi telinganya.
Tunggu apa?!
Aku melihat pedang-pedang bersinar menuntun jalanku. Merekalah yang membuat suara, bukan angin. Namun, kenapa pedang-pedang ini ada? Bukankah seharusnya mereka berada pada pemiliknya. Bahkan pedang milik Mizuki pun berada di sini.
Langkah kakiku semakin berpacu mengejar para pedang. Hingga aku bisa melihat pondok. Tempat yang selalu aku lihat di alam mimpi.
Pondok itu masih berdiri tegak, tidak ada perbedaan apa pun. Aku coba menghampiri pintu, tepat di mana para pedang berjajar di sampingnya. Seperti mereka memang menutunku ke mari.
__ADS_1
Gagang pintu itu tidak bisa terbuka. Dulu. Saat aku memaksa hingga berakhir terpental. Melalui celah melihat Bara, Nadia dan Afly di sana, entah bagaimana dengan sekarang.
"Baiklah, ayo kita coba lagi!" ucapku menyemangati diri sendiri. Agak ragu ketika tangan menyentuh gagang pintu.
Akan tetapi, tidak ada tanda-tanda apa pun. Bahkan tidak membuat aku terpental. Para pedang sepertinya memang sedang menungguku, maka tanpa ragu aku membuka pintu.
Terlihat di depan sana ketiga orang itu masih duduk dan tertidur. Aku tidak tahu apa maksudnya, tetapi salah satu pedang masuk dan memotong tali tambang yang mengikat mereka. Sementara aku membuka ikatan mata mereka.
Sayangnya tidak banyak yang berubah, mereka terlihat seolah tidak memiliki jiwa. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Lalu ketiga pedang lainnya masuk. Cahaya menyinari di ruangan ini hingga membuat mataku silau.
"Ugh."
Suara itu terdengar olehku. Kala membuka mata, sinar sudah menghilang dan para pedang turun ke pemiliknya masing-masing. Kecuali pedang milik Mizuki yang setia ada di sampingku.
"Kalian baik-baik saja?" tanyaku pelan.
Afly orang yang pertama sadarkan diri. Dia melihatku dengan seksama seperti tidak mengenali. Namun, dengan cepat dia mengubah posisinya menjadi berlutut. Begitu pula dengan Nadia dan Bara.
Aku tersentak lalu menggeleng. "Aku bukan ratu kalian, bukan Hana. Kalian masa lupa sama aku?"
"Kami hanyalah ingatan dan sebagian jiwa yang terkurung di dimensi ini. Kami tahu reinkarnasi Ratu Hana akan kembali," ucap Bara padaku.
"Aku bukan reinkarnasinya. Kekuatan dia ada karena dulu aku membantunya," jelasku.
Lalu Afly pun bersuara, "Meski ini pertama kalinya kami bertemu denganmu ... Kami yakin kamu reinkarnasinya."
Aku bungkam. Kesalahpahaman ini tidak boleh berlanjut. Aku bukanlah reinkarnasi Hana. Bahkan menurut Azumi, aku hanyalah wadah kekuatan saja.
"Kami harus menyempurnakan hidup kami di bumi," ucap Nadia, "aku tidak bisa membuat mereka diriku sendiri gila."
"Tunggu!" ucapku.
__ADS_1
Aku menahan ketiganya. "Kalian tidak bisa menganggap aku sebagai Hana. Kalian tidak sepantasnya berlutut, kita semua adalah teman di dunia nyata. Terlepas dari masa lalu dan aku bukan dia, kita benar-benar berteman."
Tidak ada satu patah kata yang keluar dari mulut mereka. Kabut perlahan menjadi tebal. Tidak bisa aku lihat di mana mereka.
Aku terpaksa menutup mata karena angin kencang dan berhembus entah dari mana. Menggunakan tangan sebagai perlindungan, aku mencoba bertahan.
"Bisa-bisanya kalian tidak sadarkan diri di tengah misi."
Aku mendongak dan membuka mata perlahan-lahan. Rambut merah ikal itu terlihat menyeramkan. Terutama ketika di berjalan mendekat dengan tongkatnya.
"Ratu ... Azumi?" ucapku lirih.
Refleks aku melihat ke samping, memastikan ucapan Azumi tentang pingsan. Bara tidak sadarkan diri, dengan tubuh yang terbalut oleh sayap kelelawar. Apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?
Tempat ini, Azumi tidak membawa kami ke kastil. Justru dia baru saja datang dan entah berapa lama kami terbaring. Untungnya tempat ini sepi dan jarang diminati orang untuk dipakai aktivitas.
"Ya, Dira. Kita harus segera pulang. Sepertinya seminggu ini aku terlalu memforsir tubuh kalian berdua," ucapnya.
"Tidak, ini karena aku yang terlalu lemah," balasku meyakinkan dia. Jika membiarkan Azumi turun melawan, Twins sudah pasti hancur dan dikalahkan.
"Kalian harus beristirahat, aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun. Jika kalian mati, aku sendiri yang akan kehilangan aset berharga."
Satu ketukan tongkat Azumi dengan tanah dan kami pun terbawa langsung ke kastil. Bara belum juga sadarkan diri, maka aku segera menghampirinya.
"Jauhi Bara, biar aku yang menyembuhkan dia," ucap Azumi.
Aku ragu. Namun, Azumi mengeluarkan ramuan melalui sihir di tangan kanannya. Dia lalu mengangkat Bara dengan sihir pada tongkat. Lalu ramuan itu di arahkan masuk ke dalam mulut Bara.
"Jika tidak sadarkan diri, Bara lebih mudah meminum ramuan kegelapan." Azumi tertawa lalu menyeringai padaku. "Dan bagus karena kamu sudah memakan bekal yang aku beri padamu. Sekarang kalian akan memberikan segenap jiwa dan raga."
Aku membelalak, tanganku mengepal. Tidak, ini bukan tentang bekalnya. Justru kecelakaan itu menyelamatkanku, tetapi bagaimana dengan Bara? Bisakah ramuan itu tidak berfungsi?
__ADS_1