Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 39. Kak Ron ...


__ADS_3

Aku berhenti melangkah setelah mendengar suara hantaman keras terdengar dari balik pintu. Entah apa yang terjadi di ruang tahta. Namun, firasatku berkata harus segera masuk.


"Ratu, maaf tapi ...." Ucapanku terputus ketika pedang-pedang berada tidak jauh denganku.


Azumi menatapku tajam, lalu beralih ke atas tepat di mana Bara terbang tinggi. Entahlah apa yang terjadi, tetapi itu mampu membuat Azumi marah. Aku pelan-pelan menaikkan tangan, meraba ujung pedang yang ada di samping badan.


"Nadira," panggilnya membuat aku refleks mengepalkan tangan lalu berjongkok.


"Ya, Ratu?"


"Bara baru memberitahu jika Ron sudah kembali. Dia pengkhianat, orang yang tidak mau bekerjasama denganku. Dia juga kakak yang buruk untukmu," ujar Azumi padaku.


Aku sangat ingin menyangkalnya. Namun, yang kulakukan malah memiringkan kepala. Seolah-olah tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh Azumi. 


"Ah, sudahlah," ucap Azumi pasrah lalu kembali melihatku,"aku ingin kamu membunuhnya bersama Bara."


Mataku membelalak, tidak bisa aku sembunyikan. Segera aku melihat pada laki-laki tinggi yang terbang. Bola mata hitam itu begitu kelam.


Dalam satu tepuk tangan, Azumi mengantarkan aku dan Bara ke bumi di sekitar pemukiman dekat rumahku. Ini sudah cukup malam untuk orang berlalu lalang, kecuali anak berandalan yang kadang melintas di jalan ini pada jam tertentu. Azumi menatapku kembali.


"Jika melukai Radja saja bisa, orang yang bukan siapa-siapa seperti Ron pasti mudah, terlebih sebagian kekuatanku ada padamu," jelas Azumi.


"Kami akan membawa berita baik," balas Bara.


Azumi tidak banyak berkata lagi, dia hanya menjelaskan beberapa kelemahan Kak Ron. Katanya kakak hanya bisa dihabisi olehku. Tepatnya menggunakan kekuatan Hana. Sayangnya setelah kontrak antara pengawal dan ratu diputuskan, Kak Ron dengan mudah bisa dikalahkan.


Aku menunduk setelah Azumi menguar seperti asap. Memang tidak ada makhluk hidup yang abadi. Cepat atau lambat regenerasi cepat Kak Ron dapat dilumpuhkan.


Bara mengepakkan sayap dan pergi lebih dulu. Aku yakin ada yang salah dengan laki-laki itu. Sebelum terjadi hal buruk, aku pun berlari ke rumah.


Jika Kak Ron tidak ada di rumah, celakalah aku. Bisa saja Bara menemukannya lebih dulu lalu menghabisinya. Meski aku tahu, Kak Ron dengan pengalamannya lebih kuat.

__ADS_1


Rumah itu lembab, sudah terlalu lama tidak dihuni. Aku sempat ragu untuk mengetuk pintu, tetapi kayu panjang tersebut terbuka lebih dahulu. Sosok bertubuh tinggi dan agak besar itu menutup apa yang aku lihat.


"Kak Ron!" panggilku cemas.


Kak Ron tersenyum padaku, lalu membukakan pintu lebar-lebar. Segera saja aku masuk. Insting seorang pengawal yang hidup ratusan lalu sangat kuat, ya, Kak Ron bahkan menyegel rumah kami. Bara perlu waktu untuk menyadari keberadaan Kak Ron dan aku bisa berbincang sebentar dengan kakakku.


"Kak Ron, kakak kapan pulang?" tanyaku sambil memegang tangannya. Hangat, dan aku merindukan belaian lembut di atas kepalaku.


"Dari kemarin malam dan kakak baru sampai di rumah," jelasnya.


"Eh?"


"Kakak habis mengobati Radja. Racun di tubuhnya cukup banyak, masih untung regenerasinya bisa mengeluarkan sebagian racun. Dia akan baik-baik saja seminggu lagi.


"Lihat, wajah kamu masih tegang. Kenapa sih? Kakak udah selamatkan Radja lho," jelas Kak Ron.


Di satu sisi, aku merasa lega. Namun, tidak cukup waktu untuk bersenang-senang. Aura di luar sana lebih mencekam, pertanda kehadiran Bara semakin mendekat.


Di saat semuanya sempurna, kami masuk ke dalam ruang yang tidak ketahui apa namanya. Aku masih setia menggenggam tangan Kak Ron, takut-takut jika apa yang kulakukan malah membahayakan.


Ruang putih itu berubah menjadi dasar danau dengan belut-belut air berenang menghampiri. Kak Ron segera berenang naik menarik tanganku. Setelah kepala keluar dari air, aku bisa melihat di mana kami berada.


Lux of Valley.


Kak Ron naik lebih dahulu ke dermaga lalu mengulurkan tangan padaku. Tidak perlu waktu lama aku meraih dan ikut naik ke dermaga.


"Jangan membuat kakak kaget dengan menggunakan kekuatan itu, Dira," tegur Kakak sambil berkacak pinggang di depanku.


Aku memeluk tubuhku sendiri, cuaca berangin di Lux of Valley. "Aku refleks, Kak."


"Kamu datang dengan cemas, entah kenapa kakak rasa ini ada hubungannya dengan alasan kamu berkhianat," ucap Kak Ron padaku.

__ADS_1


Aku mengangguk. Tidak mau menyangkalnya, karena memang itulah faktanya. Aku menatap kedua bola mata itu, sebentar saja.


"Ini keinginan terakhir Vivian. Setelah kepergiaannya, aku benar-benar ingin menghentikan Azumi. Menghentikan kekacauan dan membiarkan hidup ini normal seperti sedia kala!


"Kakak ... aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi. Cukup aku melihat kematian!" amukku. Hati ini seakan diremas-remas dan air mata jatuh tanpa izin.


"Kakak tahu rasanya kehilangan." Kak Ron lalu duduk bersebelahan sambil menepuk punggungku. "Hidup terus-menerus seperti ini memang gila, entah berapa banyak kematian yang kakak lihat. Kehilangan Vivian, kehilangan Hana dan kakak selalu tidak berada di sisi mereka."


"Kak, sampai Azumi tidak mengincarmu ... pergilah ke Twins. Aku tidak mau kakak ikut terbunuh. Cukup satu panah saja yang membuat orang sekarat," ucapku cepat.


"Nadira, kakak tidak mau kamu ...."


Aku tidak ingin membiarkan Kak Ron lebih membahayakan diri. Dengan keadaan Bara yang gelap mata, tidak mungkin dia mendengarkan ucapanku. Azumi hampir berhasil, tetapi aku harus menghentikannya. Setidaknya sampai Radja dapat memimpin dan ketiga kesatria pedang itu memilih jalan yang tepat.


Segera semua air mata itu aku hapus. Berdiri lebih dahulu dan menjauh dari tepi dermaga. Mengabaikan semua yang diucapkan Kak Ron. Apa pun itu. Sekuat tenaga kaki-kaki aku perintahkan untuk melangkah ke seberang lain. Percuma saja aku tidak bisa ke bumi. Azumi mungkin saja sudah melacak keberadaanku sekarang.


"Kak Ron," panggilku seraya menoleh.


Laki-laki berusia ratusan tahun itu melihat padaku dengan wajah herannya. Aku menyelipkan anak-anak rambut di depan ke belakang telinga. Tersenyum padanya.


"Aku tahu ini gila, tetapi serang aku. Anggap aku musuh Kakak."


Kak Ron membelalak. Ekspresi yang sudah aku duga. Seperti angin turut tidak menyetujui apa yang kuucap. Kak Ron tidak ingin melukai adiknya, tetapi aku lebih tidak mau kalau Azumi yang menghancurkannya.


Segera aku lebarkan tangan, entah bagaimana tubuhku terangkat beserta air mengelilingi permukaan tangan seperti spiral. Satu serangan balasan saja cukup membuat Azumi percaya.


Kulihat Kak Ron masih ragu-ragu mengangkat tangannya. Namun dalam persekian detik sinar kuning mulai berkumpul dan tanpa aku sadari kakak sudah siap memukul. Aku menggerakkan tangan untuk meminimalisir pukulannya. Sampai aku terdorong menabrak pada pohon.


Samar aku melihat dari sisi kanan ada seorang laki-laki yang tengah memapah. Namun, di saat bersamaan asap hitam menguar melingkar tubuhku.


__ADS_1


Ilustrasi Bara by IG : __Atsuko__


__ADS_2