
Aku lalu melirik pada jam. Ada satu pesan masuk, entah sejak kapan. Segera aku pun melihat pesan dari Bizar. Kenapa kamu sulit dihubungi? Belum beres latihannya ya? Padahal aku baru akan menyuruh kamu pergi misi. Kira-kira begitulah isinya. Tumben sekali ilmuwan yang satu itu mengirimku untuk misi. Apa ini berhubungan dengan pasukan Azumi lagi?
Kami memutuskan untuk kembali ke kerajaan. Afly dan Nadia pergi ke ruangan mereka masing-masing dan aku sendiri segera pergi ke laboratorium. Jika Bizar sudah berkata begitu, berarti dia sudah memindahkan misi kepada orang lain. Ya, memang bukan urusanku lagi, tetapi aku penasaran dengan misinya.
Jika berhubungan monster, seharusnya dia lebih berhati-hati. Siapa tahu tiga orang itu lagi yang muncul. Aku takut siapa pun yang dikirim pergi akan kaget dan memilih untuk mengobral nyawa dengan mudahnya. Kecuali jika Radja atau Bizar ikut ke lokasi, tetapi aku agak ragu. Radja mungkin pergi dengan Bara. Sementara Bizar duduk dan mengawasi.
Benar dugaanku. Bizar duduk di depan layar, dia fokus mengetik dan sesekali melirik pada layar-layar di sana. Aku tanpa ragu mendekatinya. Namun, laki-laki itu tetap fokus. Ini membuatku mengembuskan napas dan melihat apa yang sedang dia kerjakan di atas sana. Sebuat tabel dengan foto, sepertinya dia sedang menyelidiki seseorang.
“Siapa mereka, Bizar?” tanyaku sambil menunjuk salah satu tabel di layar.
“Kalau aku bilang mereka adalah orang yang menyerang kita kemarin, apa kamu bakal percaya, Dira?” balas Bizar dan dia tetap fokus dengan pekerjaaanya.
“Kamu yakin? Mereka sangat berbeda, Bizar,” balasku, “lihat, laki-laki ini terlihat pemurung dan tidak percaya diri. Tidak ada miripnya dengan mereka yang sudah merendahkan kita?”
”Kita akan mengetahuinya nanti. Sekarang kita harus mendengarkan laporan dari Demina dan Tiara. Mereka yang menggantikan kamu bertugas dalam misi, Dira,” ujar Bizar yang lalu kembali mengetik program dan menekan tombol enter untuk membuka portal. “Jangan tegang begitu, aku sudah menceritakan beberapa hal penting tentang monster yang kita temui.”
Tepat setelah mengatakannya, portal yang entah di mana terhubung dengan portal pada pintu. Demina dan Tiara keluar dari sana dan terlihat sangar kelelahan. Segera aku menghampiri mereka dengan kedua robot di kanan dan kiri. Sepertinya Bizar menyadari hal itu juga.
__ADS_1
Demina dan Tiara memiliki beberapa luka ringan, tetapi saat ini kami tidak memiliki tim medis. Miss Merry masih koma dan Miss Ann fokus untuk mengobatinya. Kak Ron sendiri belum maksimal. Terlebih ini masih pukul tiga sore, kakak masih bekerja sambilan di bumi. Aku melirik pada Bizar, tetapi dia pun tidak melakukan apa pun.
“Kalian baik-baik saja? Apa saja yang sudah terjadi di sana? Kenapa aku tidak bisa melacak kalian?” tanya Bizar.
Aku membelalak. Jadi sedari tadi Bizar tidak tahu apa-apa yang terjadi dalam misi? Aku sulit memercayainya. Apa musuh mengetahui robot-robit yang kami gunakan?
“Monster menyerang kami dan dia sangat sulit untuk dilawan. Tubuhnya diselimuti oleh besi. Tidak ada celah. Tapi jangan khawatir teman-teman. Ada orang yang membantu kami berdua,” jelas Demina.
“Membantu?” tanyaku dan Bizar bersamaan.
“Benar, tapi aku tidak ingat wajahnya. Setelah dia membantu kami, dia pergi begitu saja. Jadi kami tidak sempat menanyakan teman dan dari mana dia tahu soal penyerangan ini,” jawab Tiara.
Portal lain kembali dibuka, tetapi kali ini bukan untuk misi. Aku membantu Demina untuk berjalan, sementara Tiara memegang lengan bajuku. Sampai di depan portal, mereka pun melepaskan bantuan dan Bizar langsung menutup portal. Dia juga kembali memperhatikan layar tersebut dan sangat sibuk mengetikkan sesuatu. Bizar sibuk sekali dan aku penasaran.
Bizar akhirnya kembali melihat ke arahku, dengan wajahnya yang lesu. Dia pasti lelah setelah mengalami semua hal ini. Dia mengajakku untuk duduk kembali di dekat komputer besarnya. Aku tidak mengerti kenapa laki-laki ini berusaha keras seorang diri. Jika dia mau meminta bantuan, bukankah itu akan lebih mudah? Dia akan mendapatkan info lain juga.
Aku cuma takut kalau dia adalah pengkhianat, ucapan itu datang ke dalam pikiranku. Lagi-lagi dia membaca pikiranku tanpa izin. Bizar lalu melepas kacamatanya dan aku bisa melihat jelas lingkar hitam di bawah mata laki-laki tersebut. Pasti kurang tidur lagi. Bizar lalu menunjuk salah satu tabel di sana.
__ADS_1
“Dia adalah murid SMA di Jakarta. Susah buat menyelidiki dia dari sini. Mungkin aku bakal pindah dari Bandung, Dira,” ucap Bizar terus terang.
“Apa? Kita udah kelas tiga, Bizar. Aku tahu kamu emang murid spesial, tapi, teman-teman kamu juga di sini kan?” ucapku berusaha membuat Bizar mengubah pikirannya untuk pindah.
“Kita tidak bisa seperti ini terus. Petunjuk sudah ditebar, kita arus menyelidikinya. Semakin banyak pasukan Azumi yang bertindak sementara kita kekurangan pasukan. Pusatnya ada di Jakarta, mungkin dia mengincar ibu kota, Dira,” jelas Bizar dengan lirih.
Aku menggeleng, segera aku genggam tangannya. “Pasti ada cara untuk menghentikannya. Kamu sendiri yang menginsprirasiku, Bizar. Bukankah mereka hanya menduplikat? Dan monster besi itu pasti punya kelemahan.”
Sayang laki-laki itu tidak kunjung bersemangat. Dia menoleh ke arah lain, lalu menunduk. Sepertinya dia sedang berpikir keras. Sampai aku mendengarnya ucapannya dengan penuh keraguaan. “Kamu benar, tetapi aku sangat lemah dan tidak bisa berdiri di garis depan.”
Dengan perlahan Bizar menarik tangannya kembali. Dia lalu mengetik sesuatu dan memperlihatkanku sebuah grafik yang sama sekali tidak aku pahami. Judul pada grafik itu tertulis nama Bizar dan di sampingnya ada foto laki-laki itu. Aku hanya bisa melihat garis yang lebih besar mengarah pada kemampuan berpikir. Keahliahnya hanya pemprograman. Tidak ada yang lain lagi.
“Musuh sekaligus duplikatku lebih kuat dalam fisik. Aku tidak bisa melatih fisikku seperti kalian semua. Selama ini aku berdiri di belakang, menjadi menara pusat untuk mengatur kalian,” jelasnya, “aku harus pindah, itu caraku membantu kaian semua.”
Aku mengepalkan tangan. “Bizar, kamu tahu siapa yang lemah dan tidak bisa melakukan apa pun di sini. Aku, seorang Nadira tidak pernah berhasil tanpa bantuan teman-teman. Percaya padaku.”
“Nadira, kamu tidak paham pikiranku,” kilah Bizar.
__ADS_1
“Kamu bisa tetap menjadi menara pusat dan aku yakin kamu bisa menemukan cara untuk menghentikan semua kegilaan ini. Jika duplikatmu lebih kuat, belum tentu dia lebih pindar darimu bukan?” balasku dengan senyuman. “Lagi pula, teman-teman sekolahmu tidak akan mengizinkan kamu pindah begitu saja loh!”