
Aku mendengus mendapati telur dadar yang mungkin bisa dibilang telur orak-arik. Namun, warna kehitaman di sekitarnya membuatku ragu. Sementara, perempuan di sampingku hanya tersenyum sambil memijat tengkuknya sesekali.
"Dira, sarapannya udah jadi belum sih?" suara Bizar terdengar dari balik pintu dapur.
Ini semua karena acara sekolah. Sertifikasi, Miss Ann dan Miss Merry terpaksa ikut kegiatan tersebut. Tidak ada penolakan dari kepala sekolah. Mereka juga tidak mau mengambil resiko untuk dicurigai.
Tiga hari dua malam tanpa keduanya, kami harus bertahan hidup. Namun, belum ada satu hari, Nadia sudah menghancurkan telur yang aku buat untuk sarapan.
"Ayo kita buat lagi, Nadia. Kamu potong bawangnya, aku masak telurnya," instruksiku padanya.
Ujung bibir Nadia berkedut. "Tidak bisakah aku memasak, Dira?"
"Kalau dua laki-laki itu gak ngamuk, gak apa kok. Kita masak buat mereka, nanti telur yang gosong biar aku yang makan," jelasku pada Nadia.
Nadia tampak senang, dia lalu pergi ke kabin dan memotong bawang merah dan putih. Semoga kali ini masakan kami jadi. Gawat jika tidak.
"Lama banget!!!" geram anak laki-laki yang tiba-tiba masuk ke ruangan.
Aku menelan ludah, nyaris melempar spatula ke sembarang arah kalau hawa menusuk ini tidak ada di belakangku. Radja, melipat tangannya. Dia berjalan ke arah masakan kami berdua. Ya ampun.
"Kalian masak apa sih? Dibilang telur bukan, gosong iya ... krauk ... asin pula," omel Radja, "kalian mau nikah?"
"Ja, tolong jangan ganggu kita," ucapku kesal.
Aku kembali fokus pada telur yang baru saja selesai Nadia kocok dengan bawang. Irisannya tidak berbentuk dan apa pula yang aku lihat? Serabut dari bawang merah masih ada di sana.
Radja menarik paksa mangkok itu dariku. Dia buang isinya. Lalu memecahkan dua buah telur. Laki-laki itu juga memotong bawang daun, bawang putih dan bawang merah. Hanya digunakan setengah dari masing-masing rempah.
"Ja?" sapaku tetapi dia tetap fokus.
Dia mengocok telur dengan telaten. Lalu aku mendengar dia bersuara, "Nyalakan apinya, Dira. Sedang aja, jangan terlalu panas."
Aku mengangguk. Menurunkan tensi yang sangat panas. Dipikir-pikir, kok udaranya kenapa makin panas ya?
Aku mendelik pada sosok Nadia yang berada di dekat pemanggangan. Tangannya memerah. Tepatnya dihiasi oleh api.
"Pakai apiku saja," ucap Nadia.
Aku menepuk jidat. Nadia memang berusaha memperbaiki hubungannya dengan semua orang. Aku tahu niatnya baik dan aku mau membantunya.
"Simpen tenaga kamu buat misi, Nad," balas Radja dengan tenang.
"Misi?" tanyaku.
Radja masih menyibukkan diri dengan adonannya. Setelah dia merasa minyak di dalamnya sudah pas, barulah laki-laki tersebut memasukkannya ke dalam wajan. Radja juga mengambil spatula dari tanganku. Menggeser tubuhnya hingga aku menjauh.
Tidak sampai lima menit, dia mematikan kompor. "Ya, misi pertama Nadia atau dibilang tes ya?"
"Jaaa ...." Aku merengek, karena dia tidak pernah serius jika aku di dekatnya. Aku juga tidak tanggung untuk mencubit pinggang laki-laki itu. Biar tahu rasa!
"Iya-iya, Dira. Ini tes penyelamatan sekaligus latihan buat Nadia. Jadi setelah makan kita bakal bahas ini," jelas Radja.
"Memangnya Miss Ann dan Miss Merry kasih izin?" tanyaku iseng.
Radja memutar matanya bosan. "Ya enggaklah! Kamu ngajak dia masak di dapur aja udah salah."
Aku menggigit bibir bawahku. Sementara, anak perempuan yang diberikan misi itu hanya tersenyum. Ya ampun, aku lebih suka wajah judesnya ketimbang senyuman manis itu. Seakan dia memang bukan Nadia. Bukan pula perempuan yang sulit mengatasi emosinya.
Radja membawa lauk pauk kami ke meja makan. Nadia duduk berhadapan denganku, sementara di samping ada Radja. Sengaja katanya, Bizar bisa memberikan kurungan jika perempuan bermata api itu mulai bertingkah aneh.
Sarapan pagi berakhir dengan perut kenyang. Nadia masih dengan senyumnya, semakin lama aku bisa merasa api di dalamnya mengebu-ngebu. Tidak sulit mendeteksinya, cukuplah berada di sekitar Nadia. Saat tubuhnya panas, percikan api akan menghiasi di sana.
"Nad, kamu gak apa?" tanyaku pelan. Dia tetap mengganggu.
Kami menunggu instruksi Radja selanjutnya. Laki-laki itu pergi bersama Bizar, entahlah mereka merencanakan apa. Sementara aku menunggu bersama Nadia di kamarku.
Tok Tok Tok.
Tidak lama aku menghampiri pintu dan membukanya. Radja membawa sebuah pakaian, sementara Bizar membawa sebuah tombak. Mereka berdua masuk ke kamar, meski-aku-belum-bicara-apa-pun.
__ADS_1
"Hai!" sapa Nadia begitu bahagia.
Radja tidak terpengaruh dengan suara Nadia yang melembut. Dia justru menyerahkan pakaian tersebut pada gadis bermata api.
"Pakailah setelah kami-para laki-laki-keluar. Bajunya dibuat khusus, kamu bakal sulit buat dikenali," ujar Radja.
"Ini," celetuk Bizar seraya memberikan jam tangan di atas pakaian, "jika ada keadaan darurat, kamu bisa menghubungi kami. Bayarannya ... semua pergerakkanmu akan aku awasi."
Aku berdigik ngeri ketika kalimat terakhir semakin dingin. Kedua laki-laki di hadapanku kenapa sih? Tidak, tidak. Hari ini semuanya kenapa?!
"Oke, cukup. Bisa gak kalian keluar dan biarkan Nadia berganti pakaian?" balasku pada dua anak laki-laki yang sama-sama diam sambil tersenyum.
"Dira, kamu juga keluar ya?" tegur Nadia.
Aku tentu mengangguk. "Tenang aja, Nad. Nah, ayo kita keluar kamar!"
Aku menarik paksa tangan Radja dan Bizar, tidak peduli mereka masih ingin bicara atau melakukan apa. Nadia ingin mencoba pakaian dan dia tidak sabar untuk menangani misi pertamanya.
Radja menatapku. Dia berhenti lalu bersandar di antara tembok pemisah antara kamarku dan tempat kami berdiri.
"Dira, kamu masih memikirkannya?"
Aku tersentak. "Memikirkan?"
"Kekuatan Hana," balas Radja singkat.
"Radja sepakat denganku. Kami bakal kasih tau semua yang ingin kamu tanyakan," timpal Bizar.
"Eh?" Apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu? Jingkrak-jingkrak atau menautkan alis semakin dekat? Atau keduanya saja?
"Gak sesimpel itu kok," cegah Radja yang sepertinya tahu fantasiku, "kalau kamu membuktikan Nadia bisa berubah."
Butuh beberapa detik sampai pikiranku kembali mencerna percakapan mereka dari awal. Ketika informasi yang aku dapatkan muncul, malah terjadi ledakan besar. Hingga aku pun berteriak, "Hah?!"
"Dengar Dira, kalau kamu berhasil ... bukan cuma jawaban dari pertanyaan aja yang kamu dapatkan," jelas Bizar diplomasi.
"Apa lagi?"
"Serius?"
Aku membelalakkan mata, meski Bizar dan Radja hanya terdiam. Diam mereka, aku jadikan jawaban 'ya' pada masalah ini. Tidak lama pun pintu kamar terbuka.
Nadia berdiri di depan pintu, dengan pakaiannya yang terlihat lebih kasual. Dia juga menggunakan topeng, serupa denganku. Lalu, Bizar yang memegang tombak pun menyerahkannya pada Nadia.
Radja menarik tubuh untuk beranjak dari tembok. Matanya terbuka dan menatap kami bertiga. Dia juga melipat tangan di depan dada dengan seringai terukir di wajahnya.
"Kita mulai."
oOo
Aku melihat wajah Radja. Kerutan di dahinya muncul, seakan sekarang dia melampaui umur seharusnya. Mata tajam bak elang yang memburu mangsa itu hanya memfokuskan diri pada Nadia. Si Gadis Api yang masih belum menguasai kekuatan sendiri.
Di Lux of Valley yang didominasi oleh air, kekuatan Nadia bisa cegah jika terlalu membahayakan. Bizar menjadi partner gadis itu. Aku tahu, kedua laki-laki ini berusaha mengukur kekuatan Nadia.
"Habis ini, Nadia bakal istirahat dulu. Kamu latihan sama aku, Dira," ujar Radja.
Aku melihat padanya dengan cemberut tercetak begitu jelas di wajah. "Aku kira latihannya fokus sama Nadia aja."
"Terus biarin kamu libur gitu?" Aku mengangguk membalas pertanyaan laki-laki keturunan naga itu. "Oh terlalu cepet kalau kamu mikir gitu."
"Lagian percuma, Ja. Aku masih takut kalau keluarin kekuatan elemental," balasku padanya.
Radja menatap kembali pada kedua orang yang beradu tangan. Beradu kekuatan yang semakin lama semakin cepat. Seolah, mereka berdua memang rival sejak lama. Barang diam sejenak, tidak Bizar ataupun Nadia sia-sia kan.
Aku lihat Nadia semakin mahir menggunakan tombak yang Bizar berikan. Sementara lawannya memfokuskan diri dengan dua senjata api. Dari ujung tombak, Nadia menghantarkan apinya, hingga kadang tiap tebasan ya diikuti oleh warna merah ke oranye.
Bizar tidak menghantarkan kekuatan seperti Nadia. Kemampuan merekayasa lebih dia tekankan saat membuat perlindungan, menambah kegesitan dan membidik arah lawan. Padahal aku dan Radja memperhatikan di tengah-tengah dermaga. Namun, panasnya latihan kedua manusia itu sampai merasuk pada kami. Aku pikir, mungkin inilah alasan Radja mengajakku berlatih.
"Aku gak nyangka, Bizar jadi mirip Irish. Kegesitan dan ketepatannya meningkat drastis," gumamku yang lalu di dengarkan oleh sosok di sampingku.
__ADS_1
"Bizar memangkas waktu bersantai dan istirahatnya. Dia selalu latihan, meski berujung badannya sakit karena terlalu banyak olahraga. Mengerjakan projek ilmiahnya di malam hari. Tidur tepat pukul 12 malam," jelas Radja, "usaha yang dia lakukan gak bakal membohongi hasil."
"Ja ...," panggilku dengan lirih.
Radja menoleh padaku. Lewat kedua bola mata, aku bisa melihat kejujurannya di sana. Ada rasa takut, terluka dan amarah. Mungkin itulah mengapa ketika aku melihat Radja, dia selalu menyeramkan dan sangat menyebalkan.
"Mau sampai kapan kamu menghindar dari ketakutanmu? Hadapi atau terus melarikan diri. Kamu tahu keduanya punya akhir yang berbeda."
Aku bungkam atas perkataan Radja yang menohok hati. Sampai kapan aku melarikan diri? Entahlah. Kapan aku bisa menghadapi ketakutan ini? Bahkan untuk mengingat saja, otak sudah terblokir lebih dulu.
"Aku tahu, kita remaja. Dalam masa pertumbuhan, begitu labil dalam ambil keputusan. Selalu mencari-cari jawaban dari pertanyaan kita," jelas Radja lagi.
"Ja, aku bakal coba buat latihan," balasku agak ragu. Sesuai yang Radja katakan, aku hanyalah remaja labil. Manusia yang dititipkan kekuatan. Takdir yang Tuhan telah beri padaku.
Aku lihat dari samping senyum Radja yang mengembang. Bersamaan Bizar dan Nadia berhenti latihan. Keduanya menghampiri kami di tepi dermaga. Bizar melepaskan sepatu dan memasukkan kakinya ke danau. Tidak peduli dengan monster air di sana. Nadia sebaliknya, dia memilih berselonjor sambil memijat pergelangan kakinya.
"Gimana?" tanyaku basa-basi pada mereka.
"Kadang api yang dikeluarkan besar, bisa juga kecil. Gak teratur. Kalau tombak, aku rasa dia bukan pemula," balas Bizar.
"Bukan pemula? Kamu pernah pegang atau belajar, Nadia?" Kali Radja yang bertanya.
Nadia yang tengah tersenyum tiba-tiba luntur. Tangannya berhenti memijat pergelangan kaki. Justru kulihat kedua tangannya itu bergetar.
"Nad?" seruku seraya memegang pundaknya.
Refleks dia mengibaskan tanganku. Ada mata menyalang di sana. Juga getaran kuat pada tubuhnya. Dia kembali memalingkan wajah ke sisi lain.
"Ada sesuatu yang kamu takutkan, Nadia."
Seketika mendengar Bizar bicara aku ingin melemparnya dasar danau sekarang juga. Ini bukan situasi yang cukup baik untuk diperbincangkan, tetapi dia menyulut api dengan bensin. Aku melirik pada Radja, berharap laki-laki itu mengerti.
"Aku rasa gak penting, bisa atau enggaknya aku pegang tombak," balas Nadia, "dan itu bukan urusan kalian."
Aku bungkam. Bukan karena tidak ingin bicara lebih lanjut. Ada perkataan Miss Ann yang aku ingat. Tentang Nadia, gadis yang bernasib miris.
"Nad, kamu boleh cerita," ucapku pelan. "Kita ini bakal jari rekan."
Aku bisa merasakan, Radja menatapku tajam dengan penuh tanda tanya. Namun, untuk saat ini aku tidak peduli.
Aku menyentuh jari-jemarinya yang begitu ramping dibandingkan denganku. Tangan itulah yang pernah melukai. Dingin dari telapak tangannya itulah yang pernah membunuh. Aku tahu, itu hanyalah masa lalu.
"Aku memiliki teman yang juga guruku. Dia hanya manusia biasa yang dengan tega orang desa membunuhnya. Hanya karena dekat denganku.
"Aku benci. Aku merasa asing di tempat kelahiranku sendiri. Aku membenci takdir yang Tuhan beri. Bahkan tangan ini selalu memiliki bekas darah orang lain," turut Nadia yang mulai menangis. Di antara semua emosionalnya, dia kadang menyulut api dari tangan dan agak membakar kedua tanganku.
Radja memegang pundak. Seolah pegangannya berbicara 'peluklah-dia'.
Aku tentu memeluknya. Menurunkan tensi api yang mengelilingi tubuh Nadia. Mencoba menahan rasa sakit yang gadis itu hantarkan ke hatiku. Sebelum pembantaian, dia bahkan kurang beruntung dibandingkan aku.
"Apa pun ... apa pun yang terjadi ... kamu gak boleh bilang gitu. Jika Tuhan berkehendak, apa pun bisa terjadi. Inilah takdirku, itu takdirmu. Kita hanya bisa berusaha, Nad."
Bizar membenarkan letak kacamatanya. Dia mendekat tanpa mau mengeluarkan kaki dari danau. "Nadia ... biarkan masa lalu mengajarkan kita sesuatu dan masa kini yang membimbing kita ke masa depan."
"Kamu tahu, aku marah pada leluhurmu bukan tanpa sebab. Ya ... jika Nadira udah keras kepala gak ada salahnya mencoba," timpal Radja tiba-tiba.
Nadia menghapus linangan air mata pada pipi. Dia mula-mula memperhatikanku, beralih ke Bizar lalu ke Radja. Kembali melihat Lux of Valley.
"Aku ... sebenernya mau melawan Azumi. Tapi ... tanpa senjata itu, aku bakal keluar kendali lahi," balas Nadia. Murung. Lagi-lagi.
Aku menengadah. Melirik pada ujung danau yang terdapat pondok. "Aku janji bakal menemukannya untuk kamu, Bara dan Afly."
"Hah?!"
Sial! Aku salah bicara. Radja baru saja menyetujui Nadia. Kenapa bisa-bisanya aku bicara seperti itu?! Aku menelan ludah sambil menatapnya.
"Nadira, aku udah bilang ...."
Sebelum laki-laki itu mengamuk, notifikasi masuk lewat monitor Bizar yang muncul tiba-tiba. Pesan suara dari peri. Begitu sangar dan ingin aku kabur sekarang juga.
__ADS_1
"Bizar, Radja, Nadira. Ke mana kalian bawa Nadia pergi?!"
Kami bertiga saling memandang. Oh sial .... Bahkan dalam tiga hitungan ini bisa berakibat sangat fatal.