
“Bizar, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu sampai diikat seperti itu?” tanya Radja.
Si ilmuwan yang satu itu menyeka keringat yang jatuh di pelipisnya baru menjawab, “Aku bilang kamu gak perlu khawatir sama aku, Dira.”
“Gimana bisa kamu bilang kayak gitu ke aku, Za? Kamu dalam bahaya ... aku sama Radja dateng aja kamu udah diiket kayak anak kecil lagi diculik. Atau kayak di film-film, kamu disandera gata-gara melakukan kesalahan!” gerutuku sambil menahan isak tangis.
Bizar tiba-tiba menepuk pelan puncak kepalaku, dia tersenyum manis. Bisa-bisanya dia berlaku manis seperti itu di saat seperti ini. Aku menahan isak tangis dan juga air mata yang sudah jatuh tanpa aku minta. Tidak tahu apa yang kan terjadi jika kami tidak datang. Apakah Bizar akan selamat atau kami yang akan bertemu dengan jasadnya saja.
“Terima kasih. Aku sudah diselamatkan oleh kalian,” ucap Bizar. “Ngomong-ngomong, apa kamu sudah menghentikan bus yang akan pergi ke seminar?”
Aku mengangguk. “Ya, Bizar. Saat ini kelompok A sedang menahan mereka dengan membuat kejadian aneh, seperti membuat bannya kempes juga tidak memiliki bahan bakar. Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai. Tapi menurut, Faizal ... ada beberapa yang udah ke sini. Mungkin inisiatif mereka untuk meninggalkan hotel lebih dahulu dibanding yang lain. Kelompok B sedang mencari mereka dan juga menandai setiap pasukan Azumi.”
“Tidak, itu bukan inisiatif. Mereka adalah pasukan Azumi dan mereka juga yang mengurungku di sini. Cepat suruh kelompok B untuk berhati-hati. Pukul 20:00 mereka akan menyerang seluruh gedung ini. Aku tidak bisa membantu kalian karena jam milikku diambil oleh mereka,” jelas Bizar.
“Kalau begitu, tetap di belakang. Aku akan mendapatkan jam milikmu lagi. Sepertinya kamu sudah menerka semua ini akan terjadi ya, Bizar? Kamu terlihat sangat tenang,” ucap Radja. Bizar lalu tertawa, tetapi juga menunjukkan tangannya yang gemetar. Setelah semua yang pernah kami lalui, baru kali ini aku melihat dia sangat ketakutan.
Kami mengakhiri percakapan dan segera pergi dari gudang. Meski Bizar kehilangan jam, bukan berarti dia kehilangan kepintarannya. Laki-laki itu tetap mengarahkan kami berdua ke tempat yang tepat. Bahkan jika dibandingkan dengan peta pada jam tanganku, ucapan Bizar lebih akurat. Ada beberapa ruangan rahasia yang bisa digunakan untuk bersembunyi.
__ADS_1
Bizar bisa memprediksi jika ada sepuluh orang pasukan Azumi yang berkeliaran, tetapi itu pun bisa bertambah sewaktu-waktu. Kami sampai di aula dan begitu banyak orang dewasa yang berkeliaran. Para wartawan pun sedang menjalankan tugas mereka. Namun, tujuan kami hanya menandai beberapa orang di dalam ruangan. Selama itu pun aku mendapatkan informasi tentang orang yang diselidiki oleh teman-teman.
Sejujurnya aku takut jika nantinya musuh sudah mengetahui rencana kami. Padahal Bizar menenangkanku, dia bilang jika komputernya memang terhubung dengan semua orang saat berbicara. Namun, tidak dengan jamnya. Rencana kami bisa hancur jika ada orang jahat di dekat komputernya. Maka aku pun berusaha menenangkan hati.
Tepat pukul 20:00, beberapa di antara peserta seminar berubah menjadi monster. Mereka pasukan Azumi yang sudah Bizar tandai. Namun, perkiraan ilmuwan itu salah. Hanya ada lima di dalam sana. Di sekitar pun tidak ada yang memiliki logo seperti itu. Bizar semakin menyipitkan mata, fokus melihat orang-orang yang berubah.
“Mereka tidak ada di sini,” ucap Bizar pelan.
“Apa maksudmu?” tanya Radja. “Siapa yang tidak ada?”
“Mereka, orang yang menyekapku di gudang, Ja. Sebagian dari mereka kembali ke hotel. Kemungkinan terburuk, sepertinya mereka menyadari rencana kita,” jelas Bizar yang lalu menoleh ke arahku. “Dira. Minta Io untuk memutus hubungan mikrofon. Buat semuanya bisu dan tampilkan peta saja. Si pengkhianat sudah keluar dari persembunyiannya.”
Bizar lalu memindahkan layar transparan itu ke hadapannya. Untuk mengulur waktu, aku dan Radja diminta untuk menghentikan para monster yang sudah kami tandai dan bisa dihancurkan intisari kekuatannya. Segera saja aku memunculkan panah es dan Radja menarik keluar pedangnya.
Aku dan Radja berpisah, begitu juga dengan kelompok A. Di sini kami bekerjasama, tetapi tidak saling mendominasi. Setiap orang punya target masing-masing. Sebelum semua bertambah parah, kamu harus menghentikan kekacauan di sini dan pergi ke hotel. Menghancurkan para pasukan Azumi yang juga mengacau di sana. Aku segera menaik tali busur dan mengarahkannya pada tengah dada dari si monster. Tidak peduli itu besi atau apa pun. Kali ini pasti berhasil, aku yakin.
Anak panahku memelesat jauh dan tepat mengenai sasaran. Semulus tembakan Irish! Aku sangat senang, tetapi di satu sisi ini sangat mengkhwatirkan. Orang itu berteriak kesakitan, tetapi aku bisa melihat aura gelapnya keluar dari tubuh. Berbentuk kristal kecil yang lalu hancur menjadi butiran-butiran debu.
__ADS_1
Teman-teman juga baru saja menyelesaikan misi mereka. Aku bisa bernapas lega sekarang. Bizar masih membutuhkan waktu, jadi aku dan yang lain pun memutuskan untuk pergi ke hotel. Kami sudah terlalu cuek dengan para wartawan. Meski dalam keadaan takut dan nyaris mati, mereka masih mengejar kami dan meminta keterangan.
Aku dan teman-teman hanya bisa menerobos, tidak menjawab apa pun. Lagi, aku melihat pada Bizar dan laki-laki itu sangat fokus. Rasanya akan bahaya jika semuanya pergi. Maka dari itu aku mengurunkan niat dan memancing para wartawan untuk mengejarku saja. Namun, aku tidak akan menjawab pertanyaan apa pun.
Para wartawan itu aku kurung dalam tanaman, sehingga tidak lagi mengejar. Beberapa orang juga melihatku dengan tatapan mengerikan mereka. Takut dan sulit percaya. Aku tahu perasaan itu. Syukurlah jika mereka tidak terluka parah, mungkin setelah ini semua akan pergi ke psikolog untuk melawan trauma mereka. Aku yakin, karena ini kejadian yang tidak bisa dilupakan begitu saja.
“Bizar,” panggilku, tetapi dia tidak menjawab.
Aku memutuskan untuk berdiri di sampingnaya. Melihat apa yang dikerjakan. Meski sudah mencoab beberapa program di komputer Bizar, tetap saja aku tidak paham dengan apa yang ada di depan layar tersebut. Lalu, perlahan semua teks itu berubah menjadi video.
Mataku membelalak. Ada sebuahtanda tanya besar di dalamnya. Bizar sedang melihat video yang di hadapannya terdapat seseorang. Entah siapa. Laki-laki itu menggunakan kacamata, persis dengan kacamata milik Bizar. Dia juga menggunakan jam tangan milik ... Bizar. Namun aku tidak bisa percaya, ada wajah dari laki-laki itu sangat mirip dengan orang yang berada di sampingku saat ini.
“Tidak mungkin ... kalau kamu Bizar ... dia siapa? Tunggu! Jangan-jangan kamu bukan Bizar yang sesungguhnya.”
Apa yang aku ucapkan, tidak sedikit pun dibalas oleh laki-laki di sampingku. Ini membuat jantungku berlari kencang. Tidak tahu siapa yang benar-benar Bizar.
__ADS_1