
Aku segera melihat ke arah mereka yang mengembuskan napas dan merapikan diri. Kami semua menata barang bawaan di satu tempat agar lebih mudah bagi Bizar sembunyikan. Berhubung sekolah sepi, kami pun segera berganti pakaian menjadi mode tempur. Aku melihat peta dan mencari data berapa banyak anak yang ada di sana.
“Nadira, jangan terlalu banyak maju ke depan. Kak Ron bisa-bisa memarahi kami semua. Kamu diamlah di garis belakang bersama Irish,” titah Candra. ¬¬
Meski ingin memberontak, aku tidak bisa. Takut jika Kak Ron akan tahu soal ini. Maka aku pun memunculkan panah yang terbuat dari tanaman dengan es yang menghias di tiap ujungnya. Aku terlalu banyak mengeluarkan kekuatanku, sehingga kekuatan air ini tidak stabil lagi.
Kami segera beranjak dari tempat. Berhubung aku dan Irish berdiri di garis belakang, kedua laki-laki dengan sayap itu hanya membawa Demina dan Candra saja. Kami memutuskan untuk naik ke atap sekolah dan melewati beberapa rumah dari atas. Sampai menemukan posisi tepat untuk menembakkan anak panah. Aku mengembuskan napas dan melirik ke bawah sana. Keempat orang itu sedang melawan satu monster besar. Mungkn monsternya sudah berevolusi. Sementar Irish menunggu aba-aba, aku justru mencari celah untuk membantu mereka.
Aku segera menarik tali busur dan memunculkan anak panah yang terbuat dari es. Monster itu tidak melangkah kakinya, tetapi dia menggunakan tangan untuk menyerang semuanya. Kekuatan dari anak panah ini tidak lain untuk membekukan. Namun, aku cukup ragu karena airku yang tidak stabil bisa saja membekukan seluruh tubuh, lebih parah lagi jika semakin lemah. Saat ini semua sedang kerepotan dan itu menjadi bahan pertimbanganku untuk menembakkan anak panah.
Salah satu mataku tertutup dan aku pun fokus melihat pada kakinya yang tidak bergerak ke mana-mana. Segera aku melepaskan pegangan pada tali busur yang kutarik hingga ujung sebelumnya. Anak panah itu memelesat cepat ke arah kaki monster. Dalam sekejap anak panah milikku berubah menjadi genangan air. Tidak lama berubah kembali menjadi es. Seperti praduga tadi, air milikku tidak stabil dan menyebabkan esnya terus naik.
Ingin aku hentikan, tetapi tidak bisa. Es itu semakin naik. Sebelum semunya bertambah buruk, aku pun kembali memunculkan anak panah, kali ini bukan untuk menyerang tetapi untuk melukadi diri sendiri. Satu jari tanganku terulur pada ujung anak panah, lalu aku pun merintih kesakitan. Namun, jika melihat ke bawah, esnya mulai turun.
“Irish, selagi masih aku tahan, cepat cari intisarinya!” ucapku.
Irish mengangguk. Dia segera menarik tali busurnya dan lalu melepaskan anak panah. Dia menembak ke bagian punggung monster tersebut. Perlahan sesuatu tertark keluar dan hancur begitu saja. Namun, aku kira semua ini sudah berakhir, nyatanya tidak.
__ADS_1
Monster itu kembali bangkit dan justru semakin berevolusi. Ini cukup mengagetkan. Aku pun melihat pada jam, masih ada waktu sekitar dua puluh menit lagi. Kami harus mencari cara untuk menghentikan semua ini atau semuanya terlambat. Tidak akan ada kemenangan da sopir yang menjemput akan curiga.
Aku masih menahan peri di tangan. Padahal cuma satu jari, tetapi darah dari luka tusuknya masih saja keluar. Ini membuatku tidak bisa menggunakan panah. Sangat berbahaya. Aku takut jika ini justru membuat rasa sakitnya semakin parah. Lagi pula aku tidak akan bisa menembak dengan benar. Maka, aku memutuskan untuk melompat ke bawah dan mencari tahu apa yang salah.
“Dira, apa yang kamu lakukan?! Di sini berbahaya!” Radja berteriak padaku.
“Aku tidak bisa menggunakan kekuatan air, tidak stabil. Mungkin juga berpengaruh pada kekuatan tanamananku. Jadi, aku akan membantu kalian dengan mencari tahu apa yang terjadi pada monster ini,” jelasku.
Tiba-tiba tangan ini menyerang kami. Segera saja Radja balas dengan tangannya yang berubah menjadi tangan naga. Dia lalu memberikanku kode agar cepat menyingkir dari wilayah terdekatnya. Dia tidak mau jika aku terluka. Setelah dia menahan tangan monster itu, Demina pun menyerang menggunakan petir miliknya. Namun, tidak ada reaksi apa-apa. Bara juga menyerang dari atas dengan menggunakan tangan-tangan kegelapan untuk mengunci pergerakannya.
Segera aku berguling ke samping dan menemukan salah satu serpihan lainnya melekat di punggung. Inilah yang menyebabkan dia masih mengamuk. Namun, bagaimana cara kami menembaknya? Aku melihat ke atas, posisi Irisih memang tepat. Hanya saja ... lokasi kristal hitamnya berada di balik dada kiri. Aku takut jika panah itu akan menembus bagian jantung.
“Irish, di belakang punggungnya terdapat kristal, tepat dengan posisi jantung!” teriakku kencang.
“Kalau begitu kita pukul saja, Dira!” ucap Candra seraya menangkis serangan dari monster tersebut.
“Jangan!” Aku langsung memelototi laki-laki itu, “kalau kita melakukannya, orang ini bisa celaka. Mungkin juga kristal ini akan hancur dan masuk kembali ke dalam tubuh. Kalau begit apa gunanya?”
__ADS_1
Radja lalu melompat ke arahku, dia mendorong tubuhku agak jauh karena monster mulai mengincar tubuhku. Mungkin monster ini memiliki akal pikiran dan tahu apa yang aku ucapkan itu memang benar apa adanya. Aku tidak bisa habis pikir dengan semua ini.
“Jangan tembakkan anak panahmu, Irish!” teriak Radja yang lalu menoleh ke arahku. “Kamu bawa botol penyucian? Ambil kekuatan jahatnya dengan itu, kami berempat akan menahannya. Kita tidak bisa mengambil resiko jika Irish gagal menembak.”
“Tapi, Ja, akurasi Irish sangat tepat. Ini lebih efisien,” kilahku.
“Meskipun terlihat akurat, kegagalan tembakan Irish pun pasti ada. Meski itu hanya 1% saja. Lakukan saja perintahku dan jangan banyak omong jika kamu mau ini semua cepat berakhir,” ucap Radja padaku.
Aku mengembungkan pipi tetapi tetap menurutinya. Segera aku keluarkan botol penyucian dari dalam saku. Untungnya aku tidak pernah meninggalkan benda ini meskipun kami sudah tahu cara untuk menghilangkan kekuatannya.
Candra mulai menahan tangan dari monster tersebut. Kekuatan laki-laki-laki itu benar-benar kuat, mungkin bisa lebih kuat lagi dalam beberapa tahun ke depan. Satu tangan yang ditahan oleh Candra tidak bisa berkutik. Hingga tangan kiri pun digunakan untuk memberontak. Sayangnya sebelum menimpa Candra, Radja dan Bara menggabungkan kekuatan mereka.
Kekuatan gelap pun mengunci bagian tangan satunya. Kali ini kaki dari monster itu mulai bergerak. Irish pun melontarkan begitu banyak anak panah yang dibentuk melingkar dan Demina memberikan aliran listrik di sana, sehingga monster itu tidak bisa masuk dan keluar begitu saja.
Aku segera mendekat. Tidak lupa untuk lebih berhati-hati saat mendekati pagar listrik tersebut. Karena aku lebih dekat, aku pun segera menyodorkan botol penyucian ke arah kristal yang dapat aku lihat. Perlahan-lahan kekuatan gelap itu pun terhisap masuk ke dalam. Aku mulai bernapas lega, kristal itu perlahat tertarik keluar dan jatuh ke tanah.
Tubuh monster tersebut berangsur-angsur berubah menjadi manusia utuh. Semua pun menyeka keringat mereka. Sepertinya sepanjang perjalanan ke tempat pelatihan nanti kami akan tertidur karena kelelahan.
__ADS_1