Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 69. Kekacauan Terencana


__ADS_3

“Tidak masalah, Dira. Sudah tugasku untuk menjaga kamu.” Aku menaikkan salah satu alisku, bingung dengan apa yang baru saja laki-laki itu katakan. “Juga teman-teman kita.”


Aku kembali tersenyum. Nyaris saja salah paham. Meski begitu, jantungku ikut berpacu dengan cepat. Radja memang perhatian, tetapi tegas juga. Dia memang cocok menjadi pemimpin Twins selanjutnya. Aku berharap dia akan terus bersikap seperti ini. Meski usil di satu sisi.


Lalu aku pun melihat ke arah jam. Sekejap mataku terbuka lebar-lebar, dengan terburu-buru aku pun pergi dari ruangan tersebut.


Aku buru-buru menyisir rambut dan memakai bedak saja, tidak sempat menggunakan pelembab. Mengobrol dengan Radja memang menyenangkan, tetapi melihat jam membuat aku kaget. Hanya tinggal dua puluh menit lagi kegiatan akan dimulai. Sekarang sudah berkurang sepuluh menit untuk mandi, pakai baju dan merapikan kamar. Sungguh hari yang sangat luar biasa.


Beberapa kali nada dering dari ponsel terdengar dari penjuru ruangan. Tentu seputar Radja, Demina, Irish, Radja dan Bara yang bergantian menghubungi. Jika mereka tahu, itu malah membuatku makin panik. Berulang kali membuka berkas artikel, padahal sudah lengkap. Namun, hati tetap tidak tenang. Mengambil ponsel, lalu menyimpannya kembali. Aku benar-benar tidak tenang. Apa yang tertinggal?


“Ayolah, tidak bisakah kalian membuatku tenang sebentar saja?!” ucapku kesal. Aku mencoba untuk menarik napas sedalam-dalamnya, lalu mengembuskan begitu saja. Ketenangan adalah yang aku butuhkan dibandingkan panik dengan hasil yang tidak memuaskan.


Lama berdiam diri, aku justru mendengarkan ledakan dari luar. Itu sukses membuatku membuka mata lebar-lebar. Kutanggalkan semua artikel dan ponsel. Tidak lama notifikasi pada jam pun berbunyi. Lorong hotel sangat sepi, pertanda semua peserta mulai pergi ke tempat lomba. Aman bagiku menyalakan fitur pada jam tangan. Di sana tertera izin pemutaran video yang diselenggarakan oleh Bizar. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menyetujuinya.


Bizar melakukan panggilan langsung dengan kami semua yang berada di hotel. Minus dengan Tiara dan Faizal. Tentu ini adalah hal yang sangat penting. Hal itu membuatku berhenti tepat di depan jendela. Pemandangan hitam, merah dan oranye pun membuat bibirku kelu.


“Teman-teman, aku yakin kalian sadar ada masalah. Maaf aku terlalu sibuk untuk membuat vaksin bersama Kak Ron. Baiklah, bahaya kali ini bukan dari pasukan kegelapan milik Azumi. Orang yang membuat onar adalah orang-orang kita. Aku tahu kalian sudah bisa menebak siapa orangnya.

__ADS_1


“Tiara dan Faizal membuat kekacauan di dua tempat. Saat aku sadari, mereka memang dikendalikan. Bukan oleh Miss Ann, meski dia memang terlibat di dalamnya. Di sekitar kalian ada pasukan kegelapan yang sangat berbahaya. Mohon bekerjasamalah. Kita memang tidak bisa menembus pertahanan mereka sekarang, tetapi aku yakin ... kalian bisa menghentikan mereka semua jika tahu siapa yang mengendalikan,” jelas Bizar di dalam sana. Aku melihat api yang berkobar besar itu memang sangat mencolok. Namun, bisakah jika kami saja yang turun tangan?


“Apa kamu bisa melacak orang yang mengendalikan mereka Bizar?” ucap Radja.


“Kalau aku tahu, aku pasti sudah menghubungi kalian sejak awal, tetapi aku yakin jika dia berada di sekitar mereka. Sebaiknya sekarang kalian pergi bertarung sekarang. Banyak manusia yang perlu diamankan. Hati-hati, pasukan kegelapan lainnya juga lebih pintar.”


Percakapan pun diputus secara sepihak oleh Bizar. Sekilas sebelum terputus, aku bisa mendengar Kak Ron memanggil Bizar. Sepertinya mereka benar-benar sibuk, terlebih mereka juga harus membuka mata dan telinga dari Miss Ann. Aku tidak tahu apakah Miss Merry akan pergi ke Twins atau tidak. Namun, dia sudah sangat tidak memercayai rekannya sendiri.


Jika aku jadi Miss Merry, aku pasti akan menghentikan Miss Ann. Terlebih pusat penyerangan mereka ada di kota. Baik lawan ataupun kawan, kedua pihak sedang sibuk. Ini waktu yang tepat bagi Miss Merry pergi untuk menahan serangan Miss Ann. Sementara kami bisa diandalkan untuk melindungi Bumi.


Aku segera mengubah wujud sebelum turun ke lobi. Setidaknya, itu lebih mudah dibandingkan aku harus berubah secara terang-terangan di luar sana. Tidak akan ada yang mengganggu. Setelahnya aku akan segera menyusul teman-teman. Mereka juga pasti sedang menyusun rencana. Jadi aku harus buru-buru. Di luar hotel, teman-teman sudah pergi.


Sebelum mereka semakin dekat, aku pun memunculkan anak panah es dan segera aku lontarkan ke arah kaki monster-monster tersebut. Perlahan mereka pun mulai membeku. Aku tidak tahu berapa lama kekuatanku akan bertahan. Segera saja aku berlari melewati para monster. Jantungku berdebar, ingin menghubungi teman-teman tetapi terlalu takut mereka akan mengerjarku.


“Nadira!” Panggilan itu membuat diriku mencari siapa yang memanggil. Ternyata orang itu berada di langit dan segera turun menghampiriku.


“Afly, kenapa kamu ke sini? Bukannya keadaan nenek kamu belum membaik?” ucapku.

__ADS_1


“Aku tidak bisa diam saja jika hanya kalian yang turun. Teman-teman juga ikut ke sini. Sebagian dari mereka dihadang dan jadi tiga tempat penyerangan. Kedua monster itu biar aku yang menghabisinya. Kamu pergilah dan cari tahu di mana Radja menempatkanmu,” balas Afly yang lalu mengambil syalnya. Dia siap menyerang kedua monster. Aku pun mengangguk dan berterima kasih atas bantuannya.


Sambil menepi ke gang yang aku pikir aman, aku pun membuka fitur lain pada jam. Radja mengatur strategi di mana Demina, Irish dan Bara pergi melawan di barat. Sementara aku, Radja, dan Candra di utara. Mereka berdua pasti sedang berusaha keras karena aku belum sampai untuk membantu.


Aku segera berlari ke tempat tujuan. Andai Bizar bisa dihubungi kembali dan membukakan pintu teleportasi. Lagi-lagi aku dipertemukan dengan monster yang menghadang. Kali ini memang satu, tetapi benar-benar membuat repot. Baru saja Afly yang membantuku. Aku tidak memedulikannya dan mencoba menghindar dari tempat monster datang. Sialnya, gang ini terlalu sempit. Ayolah Bizar buka portal teleportasi sekarang.


Sambil memunculkan anak panah, aku masih berusaha untuk kabur. Beberapa kali menembakkan ke arah satu monster yang sedang mengejar. Memang tidak ada cara selain melawannya, tetapi aku tidak bisa membuat teman-teman menunggu lebih lama. Sampai akhirnya aku jatuh tergelincir oleh air—sepertinya dari truk pembawa air bersih.


Monster itu semakin mendekat. Aku jadi bingung apa yang harus aku lakukan sekarang. Jika saja ada cara selain menyerangnya. Aku segera memanggil caladbolg dan berpikir untuk pergi menyerang. Walau aku tahu itu akan menghabiskan tenaga, tetapi ... sudahlah. Tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain ini.


“Sepertinya kamu kesulitan,” ujar anak laki-laki dari atas, dia turun dan mengulurkan tangannya padaku. Di satu sisi, aku melihat monster itu langsung tumbang begitu saja. Mataku mengerjap. Bersamaan dengan monster yang kalah, aku melihat laki-laki lainnya berdiri agak jauh.


“Kalian ... terima kasih,” ucapku dengan senyum.


“Sayangnya ini belum berakhir, Dira.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2