
“Cobalah lebih keras lagi, Demina! Kita harus mengetahui berapa banyak monster yang ada di sini,” ujar Candra seraya membujuk Demina untuk mempelajari kekuatan barunya.
“Ayolah! Aku bahkan belum istirahat, Candra. Aku enggak bisa, Miss Merry pasti salah sangka deh,” gerutu Demina. Wajar saja, ini sudah percobaan kesepuluh dan belum ada tanda-tanda apa pun. .
Aku dan Radja duduk manis sambil memakan potongan buah yang dibuat oleh Irish. Kami memutuskan untuk memakai satu hari izin dari sekolah ini untuk mengidentifikasi dua puluh satu monster yang pernah menyerang kepala sekolah. Mereka pasti masih ada di sekitar sini. Maka dari itu, kami meminta bantuan Demina untuk mencari tahu keberadaan pasukan Azumi yang tersisa.
Selama tim sedang Bizar susun sekaligus jadwal patroli dan beberapa fitur baru ditambahkan olehnya, kami diminta untuk menunggu. Aku tidak mau mendesaknya. Selama ini Bizar sudah berusaha sangat keras dibandingkan orang lain. Aku bersyukur karena mereka semua pun sepakat untuk tidak memaksa karena kesehatan ilmuwan itu lebih penting.
Demina menaikkan tangannya ke atas langit. Dia mencoba menurunkan hujan, tetapi lagi-lagi petir yang datang. Karena kekuatan dasar milikku adalah tanah, jadi tiap petir yang menyambar, aku gunakan tanaman untuk mengangkat tanah dan menahannya. Ini demi mencegah korban yang berjatuhan.
“Dira, sepertinya ini tidak akan berhasil,” ucap Radja, “Demina tidak memiliki kekuatan elemental terutama air. Ini yang akan membuatnya terhambat.”
“Lalu bagaimana? Apa kita menarik orang satu-satu untuk menganalisa tubuhnya?” balasku.
Radja mengangkat bahu. “Itu lama, sebelum menemukan dua puluh satu monster, mereka akan kabur lebih dulu. Apa kamu mau seperti itu?”
__ADS_1
Aku melahap kembali potongan buah. Jika berdiam diri di sini pun tidak ada gunanya. Aku lalu membuka ponsel dan mencari tahu tempat apa yang ada di sekitar ini selain hutan. Barangkali mereka menempatkan persembunyian di sekitar sini. Tidak mungkin dengan hutan. Mereka juga manusia biasa, tentu saja memerlukan makan dan minum. Sementara di hutan terlalu banyak hewan buas.
Radja dan Bara sudah menelusuri hutan dan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan dari orang-orang yang tinggal. Bahkan mereka tidak menemukan rumah atau pedesaan. Vila tempat kami tinggal untuk pelatihan ini adalah yang terakhir. Sudah dipastikan dan tidak dapat dibantah lagi. Sungguh, ini membuatku pusing.
Semenjak kami memutuskan untuk mengikuti permainan mereka, kami benar-benar harus membasmi monster di wilayah sekitar dengan cara diam-diam. Namun, Demina tidak juga bisa menurunkan air hujan untuk mendeteksi keberadaan. Menurut Miss Merry insting miliknya lebih peka dibandingkan yang lain. Lagi pula dengan ada air, aku bisa mencari tahu letak para monster itu.
Demina kembali menaikkan tangannya. Aku tahu dia sudah kesal karena Candra terus mendesaknya. Namun, tidak ada cara lain. Demina hanya tidak mau kalah dengan Candra dan Irish. Sebenarnya dia lebih memilih berhadapan dengan Candra. Irish itu sangat pintar dan cerewet, kalau Demina berhadapan dengannya di pasti akan kembali berdebat satu sama lain.
Tiba-tiba awan mendung berkumpul di atas sana, aku cukup terkesan bahkan berhenti memakan potongan buah. Akhirnya gadis itu memiliki kemajuan juga. Perlahan air dari atas sana turun ke bawah dan tiap tetesannya menerap hingga bawah tanah. Aku pun menutup mata dan merasakan tiap tetes jatuh.
Aku bisa mendapatkan gambaran sesuai wilayah hujan yang Demina berikan. Satu per satu orang berlalu lalang di sebuah pedesaan, mereka segera pergi berteguh. Namun, air hujan ini masih melekat di tubuh mereka. Pencarianku tidak berhenti di sana. Aku segera menelusuri tiap orang dan mencari tanda-tanda bahwa mereka monster.
Aku pun kembali membuka mata dan melihat ke sekitar di mana hujan yang Demina bawa pun sudah berhenti turun. Gadis itu basah kuyup, sepertinya terlalu fokus untuk menurunkan hujan bisa berakibat fatal. Mana tahu jika orang di sekitarnya adalah monster. Demina harus di temani jika dia berniat untuk menggunakan kekuatan ini lagi ke depannya.
Bersamaan dengan langit yang kembali cerah, Demina pun ambruk. Aku segera meminta bantuan Bizar untuk memeriksa kondisi tubuhnya dari jarak jauh. Seberapa banyak tenaga yang dikeluarkan oleh gadis itu hanya untuk menurunkan hujan? Demina sangat kelelahan, bahkan air dan potongan buah tidak bisa mengembalikan staminanya. Dengan bantuan Radja dan Candra, mereka membawa masuk gadis tersebut ke kamarnya.
__ADS_1
Untuk mempercepat keadaan. Aku pun menarik keluar air yang melekat di tubuhnya. Sehingga bajunya kembali menjadi kering. Air itu aku arahkan keluar jendela. Ada tanaman hias di sana, jadi bisa aku manfaatkan untuk menyiram mereka. Tidak lama pesan dari Bizar pun terkirim padaku.
Bizar mengirim sebuah grafik, tiap-tiap kondisi yang meliputi stamina, kadar air dan lainnya. Aku membelalak karena grafik itu menunjukkan kondisi Demina yang sangat lelah. Jadi aku segera meminta Radja dan Candra untuk mengambilkan makanan dan minuman saat sadar nanti. Saat ini Demina benar-benar lelah, bahkan membutuhkan tidur. Satu dari kami harus menjaganya, setidaknya sampai Miss Merry bisa dihubungi untuk menjemput gadis ini. Sementara sisanya berburu monster.
Tapi tunggu, yang tahu di mana letak monster itu hanya Demina dan aku. Oke, ralat, aku hanya bisa menebak saja. Belum tentu benar jika mereka adalah monster.
“Keadaan Demina benar-benar buruk. Meski ini berhasil, dia akan kelelahan. Aku takut jika dia memaksakan diri tubuhnya tidak akan bertahan,” ucap Radja padaku.
“Lalu apa rencana kita sekarang?” balas Candra. Aku pun ikut berpikir. Seandainya Demina bisa memberitahu terlebih dahulu, mungkin sebagian dari kami bisa berangkat lebih dahulu untuk mencegah monster kembali menyerang.
“Sebaiknya kalian pergi ke timur, di sana ada desa. Aku yakin ada empat orang monster. Mungkin lebih jika diperiksa benar-benar. Aku akan menunggu Demina sampai sadar. Kalian pergi saja duluan,” ucapku sambil menjelaskan semua penglihatanku tadi.
Radja mengangguk lalu mengajak Candra— mungkin juga Irish akan ikut. Tersisa Bara dan Demina. Aku menutupi wajah lalu memikirkan kembali soal monster-monster ini. Jika aku adalah pasukan Azumi, apa caraku untuk menembus pertahanan Bizar? Tdiak ada.
Bizar terlalu ketat dalam pengamanan. Jika benar lawannya pun sama-sama IT, apa memungkinkan mereka memiliki lebih dari satu? Seingatku Bizar sudah menghajar telak mereka, jadi tidak mungkin mereka mengetahui informasi tentang kami lagi. Nyatanya tidak begitu, meski orang yang kami sangka IT itu sudah hilang, pasukan Azumi tetap mengikuti kami. Pasti ada sesuatu yang kami lupakan.
__ADS_1