Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 30. Kabar (3)


__ADS_3

"Kamu enggak seharusnya mengikuti aku kamu," ucapku pada laki-laki di belakangnya.


"Aku mau jaga Nadira! Dia bisa dalam bahaya, apalagi Bara belum kamu kasih pedangnya," balas Afly yang semakin menyamakan langkahnya denganku


Aku berhenti berjalan, melirik ke kanan dan kiri mencari tanda-tanda kehidupan lainnya. Perbincangan dengan Candra gagal. Cukup menyebalkan karena laki-laki itu ditelpon untuk segera pulang.


Aku mengembuskan napas. Bersiap untuk terbang. Sayangnya suara teriakan laki-laki di belakangku ini sangat mengganggu.


"Radja aku ingin ikut!" serunya di bawah sana.


Untung dia bukan temanku, jika ya maka saat ini juga wajahku memerah saking jengahya diriku. Aku hanya melihatnya tanpa niat membawa dia ke Twins. Lagi pula dia punya jalannya sendiri ke dunia itu tanpa perlu aku membawanya.


"Serius aku ingin jaga Nadira!" ujarnya semakin meyakinkan aku.


Aku tetap menggeleng padanya. "Gini, Afly. Kami punya Bizar yang akan memberikan informasi lebih akurat. Kamu enggak perlu khawatir oke?"


"Perasaan aku enggak enak! Percayalah, aku dan Nadira terhubung. Sama seperti aku pada Bara," jelasnya lagi.


"Terserahlah. Kamu pergi ke Twins dengan kekuatanmu, Afly," balasku, "lagian aku enggak bakal langsung pulang ke kerajaan. Harus latihan."


Afly kembali berseru, "Kamu bakal ninggalin Nadira? Aku bahkan gak tau jalan ke kerajaan itu!"


"Tinggal lurus dari Lux of Valley," jawabku singkat dan langsung memelesat menembus tingkatan awan-awan di langit.


--------


Aku menarik pedang dari sarung. Di antara hutan Lux of Valley, hutan barat jadi tempat yang paling cocok untuk dengan latihan pedang. Aku menutup mata sekilas.

__ADS_1


Merasakan angin berembus membawa wangi tanaman dan tanah.  Pelan, sangat pelan daun berembus ke arahku. Tepat ketika aku membuka mata, segera aku layangkan pedang hingga membela daun yang ada.


Latihan sederhana, mengandalkan ketepatan dan pendengaran. Sayang ini tidak seperti biasanya. Hanya segelintir daun yang bisa aku belah menjadi dua.


Tiba-tiba ucapan Afly masuk dan tergian seperti perekam suara. Masuk ke dalam otak dan susah untuk aku ambil. Sementara hati terus menguatkan diri jika Nadira akan baik-baik saja.


Sampai sekarang tidak ada kabar apa pun. Kecuali Bizar yang mengirim pesan akan terjadi gerhana matahari di Twins dan bumi. Azumi bisa menambah kekuatan. Oh, bahkan kekuatan perempuan itu bisa kembali dengan semaksimal mungkin.


Kabar buruk menurutku. Harus segera kembali ke Twins. Sayangnya, baru sampai mengepakkan sayap. Warna hitam mulai mendominasi di atas langit.


"Aku harus segera kembali," bisikku pada angin.


Dengan menutup mata aku mulai menukar lensa menjadi mata naga. Tidak peduli hari sangat gelap, aku bisa melihat dengan jelas.


Twins sangat gelap dan begitu tenang, tumben sekali. Aneh jika Bizar tidak menyalakan lampu atau setengah ini.


"Miss Merry? Miss Ann?" panggilanku tanpa ada satupun yang menyahut, "Zar ini enggak lucu! Kalian di mana?"


Mata naga sangat tajam, meski hari gelap dan ruangan Bizar ikut gelap. Apa yang terjadi? Aku bertanya-tanya dalam pikir. Sampai menuruni anak tangga Bizar tengah tertidur di lantai.


"Bizar! Hei! Sadarlah!" seruku memanggilnya sambil menepuk pipi laki-laki itu.


Geram. Bizar tidak kunjung bangun, aku mengambil gelas berisi air putih. Tanpa segan aku mengambil air tersebut dan membasuhnya pada laki-laki tersebut hingga dia terbangun.


"Umm ...." Bizar melenguh dan matanya mengedip berulang-ulang. Mungkin tidak percaya karena gelap.


"Bagus kalau kamu udah sadar," ucapku. "Kenapa tidur di lantai sih?"

__ADS_1


"Hah? Aku tidur di lantai?" balasnya sambil memegangi kepala lalu mengaktifkan kacamatanya pada mode malam.


"Ya dan tempat ini sangat sepi tanpa penghuni," gerutuku.


Bizar refleks menghampiri tempat layar komputer berada. Dia fokus pada tulisan-tulisan tersebut. Wajahnya pucat, bersamaan dengan pencahayaan yang kembali terang.


"Ya ampun!" serunya.


Aku menoleh. "Ada apa? Kamu belum menceritakan semuanya."


"Enggak penting cerita sekarang, Ja. Ini lebih gawat!"


"Apaan?" balasku sambil melipat dahi ke dalam, "jangan buat aku panik deh."


"Ja, keamanan sejak tadi dimatiin. Oke kayaknya ada hubungan dengan aku tidur di lantai dan tempat yang sepi!" ucapnya panik.


Tangan-tangan itu begitu cepat melompat dari satu sisi ke sisi lainnya. Bola matanya dengan cepat membaca semua tulisan di sana, mencari sejak kapan keamanan dinonaktifkan.


Aku kembali menutup mata, menggantinya dengan kondisi normal lagi. Kembali memperhatikan layar komputer yang membuat wajah Bizar pucat. Sampai-sampai dia menutupi mukanya.


"Ja, kita harus periksa keadaan Nadira. Sekarang!" titah Bizar tanpa peduli dengan data yang komputernya tunjukan.


Aku pribadi kembali mengepakkan sayap. Lebih dahulu keluar dibandingkan Bizar. Perasaanku tidak enak, terlebih mengingat kata-kata Afly di sekolah.


Nadira dalam bahaya. Seharusnya dia memercayai laki-laki itu. Apa pun yang saat ini dia pikirkan dan perasaan yang tengah menggebu-gebu, harus aku drop lebih dulu. Aku harus tenang, bisik logika pada perasaan.


Sampai di depan pintu, ruangan tersebut sudah dibuka. Aku agak meragukan isi di dalamnya. Sangat tenang dan sepi yang lebih mencekam dari biasanya. Bizar baru sampai di sebelahku dan langsung saja masuk ke dalam.

__ADS_1


Aku lihat dia mematung di depan ranjang Nadira. Sementara mulutnya berucap sesuatu yang tidak ingin aku percaya.


"Ja, Nadira ke mana?"


__ADS_2