
Silau itu perlahan menghilang, bersamaan pedang yang jatuh dari tangan Bara. Pedangnya lebih bercahaya dan terlihat baik-baik saja. Namun, si pemilik justru berteriak seolah kesakitan.
Aku tidak mengerti maksud Kak Ron. Hanya saja, sinar itu seperti menarik niat-niat jahat keluar dari tubuh lawan. Kekuatan besar itu memakan banyak tenaga, terlebih baru saja Kak Ron menyembuhkan Radja.
Keduanya tumbang. Jatuh terkapar di atas tanah. Aku terlalu lemah. Tidak hanya aku yang bersedih, tetapi langit malam pun turut jatuh ke bawah melalui tetesan airnya.
"Kak Ron!" seruku sambil berjalan ke arahnya.
Aku bukannya tidak peduli dengan keadaan Bara. Namun, di sini yang korban adalah Kak Ron. Aku memegangi pipinya yang semakin lama menjadi dingin. Tidak bisa aku biarkan, tetapi aku pribadi tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tanpa bantuan orang lain, aku tidak mungkin bisa membawa Kak Ron ke kerajaan. Memanggil salah satu dari mereka pun memakan waktu. Kali ini aku seperti berdiri di seutas tali, satu-satunya jalan untuk berpindah tempat.
Aku melihat pada air. Bertanya-tanya, bisakah itu membantuku untuk melakukan teleportasi seperti sebelumnya?
"ugh, kepalaku," gumam laki-laki di belakangku.
Dengan persiapan penuh dan masih melihat pada Kak Ron, aku hanya bisa mengandalkan instingku. Apabila Bara bermaksud buruk, sudah pasti tanaman rambat akan menahannya.
__ADS_1
"Nadira?" ucapnya pelan. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan tetapi suara langkah kakinya semakin mendekat. "Rasanya aneh, sejak kapan aku tidur di luar?"
"Bara, jangan bercanda," ucapku lirih. Tanganku semakin mengepal bersamaan rumput-rumput yang tumbuh menjulang tinggi. Siap untuk melilit tubuh laki-laki tersebut.
"Eh? Ada apa? Tunggu-tunggu, Nadira. Aku benar-benar tidak mengerti."
Aku segera menoleh, mendapati rumput tengah menyerangnya. Dengan kemampuan sebesar itu, dia seharusnya tidak menghindar dari rumput biasa. Mataku berkaca-kaca, tidak kuat lagi menahan air yang menggenang.
"Terserah kamu! Bantu aku bawa Kak Ron ke kerajaan! Biar mereka bisa merawatnya," titahku.
Bara menggeleng penuh. "Kalau kamu ingat, aku tidak bisa masuk ke sana, Dira."
Aku memerlukan beberapa menit hingga debaran jantungku kembali teratur. Butuh beberapa menit juga Bara datang untuk menggendong tubuh kakakku. Wajahnya semakin membiru dan aku khawatir akan kehilangan. Tidak, jangan lagi. Hanya Kak Ron yang tersisa sebagai keluargaku.
Bara terbang, tentu setelah aku menyuruhnya. Perbedaan jalur yang kami tempuh pun membuat aku berlari sekencang-kencangnya. Tidak peduli apa yang aku tabrak, monster apa yang aku lalui. Semua tersingkir oleh kekuatan air dan tanaman yang muncul tanpa disuruh.
Kerajaan itu memang sepi. Bara sudah berada di atas, tetapi tidak berani untuk masuk. Aku menatapnya tajam dan melipat tangan di depan dada.
__ADS_1
"Bara!" geramku.
Bara refleks mundur hingga dia masuk ke dalam halaman. Aku yakin sistem memang akan membacanya. Termasuk Bizar.
Kami tidak perlu waktu yang lama untuk menunggu Bizar keluar. Dia berlari lebih kencang dan mengeluarkan kekuatannya untuk mengunci kami. Aku tidak mengerti kenapa, tetapi tatapan Bizar benar-benar menunjukkan kebencian.
"Kalian baik sekali mengantarnya ke mari. Cukuplah kalian pergi sekarang, pertempuran lainnya bisa ditunda!" ucap Bizar pada kami berdua.
"Kamu salah paham," timpalku.
Bizar menggeleng. Dia lalu mengambil alih tubuh Kak Ron. Memapat tubuh laki-laki yang lebih berat dan dewasa agak merepotkan. Harusnya Bizar menggunakan kekuatannya saja.
"Nadira ... jangan pergi." Kami bertiga membelalak. Berkat suara terbata nan lirih.
Kak Ron memaksakan dirinya untuk sadar. "Masih ada waktu beberapa menit sampai regenerasi total dilakukan. Kakak hanya ingin memberitahumu ... untuk beberapa waktu, kakak tidak akan mengenal siapa-siapa. Semua informasi terendam bersamaan kakak yang sedang beregenerasi."
Aku tidak paham. Baru mau bertanya, tetapi Kak Ron kembali batuk dan meminta Bizar segera membawanya. Jujur aku ingin menahannya, tetapi saat ini sudah ada yang menunggu laporan kejadian. Bara menunduk lalu menatapku kembali. Dia mengulurkan tangan sebagai isyarat pulang bersama.
__ADS_1
Aku cukup lelah. Segera tangan kami berpegangan dan dia membawaku pulang ke tempat di mana Azumi berada.