
Aku mengangkat tinggi jam tanganku sendiri. Miss Merry tidak mengizinkan aku untuk ikut dalam misi. Tepatnya orang-orang yang tidak ikut betugas kemarin saja yang diturunkan, terkecuali Radja. Laki-laki itu bersikeras untuk mencari tahu monster apa lagi yang menyerang warga. Kali ini mereka tidak boleh kalah cepat, hanya itu harapanku.
Jangan sampai korban jiwa semakin bertambah banyak. Mereka tidak memiliki salah apa pun jika memang serpihan kekuatan Azumi adalah dalang dari semua ini. Untuk mencari tahu itu, aku masih berada di dalam laboratorium milik Bizar. Bongkahan es yang aku dan Radja buat untuk menahan monster itu sudah terkelupas begitu saja. Mungkin untuk mempermudah penelitian. Aku agak takut melihat mayat itu masih berada di laboratorium untuk Bizar uji beberapa tes.
Entah yang keberapa kali aku sudah meneguk ludah. Tubuhnya menjadi lebih pucat dari sebelumnya. Aku mengepalkan tangan dengan kuat dan mencoba untuk memalingkan muka. Berusaha menjadi kuat dan tebal muka itu sulit. Aku heran bagaimana teman-temang bisa melakukannya dengan mudah. Mungkin memang hanya aku saja yang terlalu membawa perasaan. Padahal dulu aku pernah berakting menjadi penjahat dan berhasil.
Tanpa sadar air mataku menggenang, aku pun buru-buru menghapusnya sebelum ketahuan Bizar. Walau dalam jangkauan dua meter, laki-laki itu cukup mudah mengetahui apa saya yang terjadi di sekitarnya.
“Nadira, kamu perlu istirahat. Enggap perlu maksain diri buat liat virus yang ada di mayat ini,” tegur Bizar dengan mata yang tidak sedikit pun lepas dari layar di depannya.
Jari-jemari tangannya begitu lincah dalam berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Aku hanya bisa mengerjapkan mata melihatnya dan tersenyum menanggapi ucapan laki-laki tersebut. “Bagaimana bisa kamu suruh aku istrahat Bizar? Aku bahkan enggak pernah liat kamu istirahat cukup belakangan ini.”
“Dua jam cukup untukku tidur. Makan aku bisa minta bantuan pada robot untuk menyuapiku,” jelas Bizar.
“Kamu jarang ke sekolah, aku dengar itu dari teman-teman.” Aku tahu itu agak mengungkit hal pribadinya, tetapi Bizar jarang memedulikan hal-hal seperti itu.
“Aku udah cukup pintar kok di setiap pelajaran, Dira. Aku ini ilmuwan jenius,” ucapnya menyombongkan diri.
Aku menarik napas dalam-dalam. Dia mulai lagi besar kepala, walau memang benar ucapannya. Jika Bizar mau, dia bisa lompat kelas atau bahkan langsung masuk ke perguruan tinggi negeri sekali pun. Namun, aku yakin jika dia memilih untuk menetap karena dia ingin menghargai dirinya sendiri. Dalam lubuk hatinya, Bizar ingin tetap dikatakan sebagai remaja normal pada umumnya.
__ADS_1
Seorang robot datang dan membawakan bangku agar aku duduk di belakang Bizar yang sedang bekerja. Aku melihat ke layar yang ada di samping, di mana itu menampilkan pertarungan yang sedang berlangsung saat ini. Jadi dari sanalah dia sering menghubungiku untuk memberi informasi. Jika mereka butuh bantuan, Bizar dengan mudahnya memanggil teman-teman. Aku rasa tanpa dia, kami tidak dapat bekerja satu sama lain dengan baik.
Selama ini Bizar selalu memforsis tubuhnya sendiri. Andai kami bisa membuatnya beristirahat sehari saja. Terlepas dari urusannya di dunia ini ataupun pekerjaannya. Namun, tanpa Bizar, kami jadi sulit untuk melacak keberadaan musuh. Ah! Ini menyebalkan.
Aku memilih untuk melihat-lihat keadaan di luar sana. Monster yang dilawan mereka mirip dengan monster kemarin malam. Hanya saja, cakar besi yang dimilikinya hanya ada dia dan lebih besar. Bagian penyerangan hanya ada Demina, Irish, Afly dan Radja. Mereka cukup kuat, tetapi lawan yang belum ditemukan kelemahannya cukup menyusahkan.
“Dira, Miss Merry memang menyuruh kamu untuk tidak berperang. Tapi di sini hanya ada kamu,” ucap Bizar tiba-tiba. Aku melihatnya menekan salah satu tombol dan sebuah benda cair dalam tabung pun muncul di hadapanku.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.
“Kita belum menemukan titik kelemahan dari lawan atau bahkan membuat mereka kembali normal. Sampai aku beres meneliti monster ini, ramuan itu bisa digunakan untuk melumpuhkan lawan,” jelas Bizar.
Aku sedikit menggoyangkan tabung tersebut sehingga air di dalamnya pun ikut terguncang. Warna cairan yang awalnya putih berubah menjadi hitam. “Apa ini semacam racun?”
“Kamu bahkan belum memberitahu cara menggunakan racun ini!” timpalku.
“Racun itu akan bereaksi meski terkena bagian tubuhnya. Tapi usahakan jangan pada besi di tubuh lawan,” jelas Bizar.
Aku lalu mengangguk paham. Segera aku melirik pada jam dan menekan pergantian baju antara bersantai dan bertugas. Hanya butuh tiga puluh detik dan aku segera masuk ke dalam portal. Rasanya seperti diputar dengan cepat dan mual, sialnya aku baru minum cokelat panas. Kini aku bisa merasakan asam lambungku naik ke atas.
__ADS_1
Jangan sekarang! Aku menekan diriku untuk tetap kuat. Kupegang racun itu dengan benar. Portal itu membawaku ke dahan dari pohon yang cukup besar. Aku bisa berdiri di sana tanpa terlihat oleh musuh. Sepertinya Bizar merencanakan ini semua.
Ya, aku juga tidak mau membuang waktu lebih lama. Korban akan segera berjatuhan jika aku tidak menghentikan monster itu, terlebih yang lain mulai kelelahan. Irish ada di bawahku. Dia sedang bersiap menembak dengan anak panahnya. Kesempatan yang bagus sekali.
“Irish! Tangkap dan lumuri racun ini di anak panahmu!” teriakku sekaligus melempar tabung itu padanya.
Irish sontak menoleh dan segera mengambilnya tabung tersebut. Dia tidak banyak tanya dan langsung melumuri anak panahnya. Di saat seperti ini, Irish yang selalu menggunakan sarung tangan membuatku tenang-tenang saja. Dia tidak akan terkena racunnya selama sarung tangan gadis itu terbuat dari bahan karet.
Dibandingkan kemampuan panahku, tembakan Irish lebih akurat. Dia dengan mudahnya menembak tanpa banyak waktu untuk berpikir. Bahkan dengan otak cerdasnya, dia mampu memprediksi kecepatan angin bersamaan denganlaju panahnya.
Anak panah Irish dilayangkan begitu saja. Meski monster itu sudah melihatnya, dia tidak akan pernah bisa menangkapnya. Aku sudah tahu kemampuan pasif milik gadis itu. Anak panahnya menghilang saking cepatnya.
Sesuai dengan apa yang Bizar katakan. Ketika racun mengenai tubuh manusianya, monster itu akan lumpuh. Aku bernapas lega setelah melihat hal tersebut, lalu kembali melihat pada Irish yang juga bernapas lega. Kami pun menghampiri teman-teman yang lainnya di sana.
“Warga sudah diamankan, tapi tetap saja ada yang bandel dan ingin buat viral,” ujar Afly.
“Bukannya kamu senang kalau terkenal ya?” balas Demina.
“Iya sih, tapi enggak kayak gini juga,” timpal Afly sambil memerengut.
__ADS_1
“Ayo kita kembali. Bizar bilang kita harus bawa monsternya dan disimpan ke sel. Afly, kekuatan pelindungmu sangat diperlukan lho!” Kulihat Afly mengembuskan napas sebal, tetapi dia tetap menjalankan apa yang aku katakan. Sekilas aku menengadah ke langit dan menemukan seseorang yang tengah berdiri di atas menara.
Siapa dia?