
Aku mencoba untuk menutup mata. Tiba-tiba saja penglihatan sebelumnya pun kembali muncul. Kali ini aku tidak lagi melihat sosok bayangan hitam. Sejak awal Ratih sudah sampai dan dia mengawasiku. Dia selalu menulis di dalam jurnal. Lalu, acara pun berputar ketika aku naik ke bus. Ratih sibuk dengan bukunya sendiri. Entah apa yang dia tulis, tetapi aku yakin setelahnya dia pun merapalkan mantra, lalu hilang begitu saja.
Saat aku kembali dari latihan bersama Radja kemarin, Ratih baru saja selesai menulis. Dia Melihat ke arahku, mengucapkan jika Irish dan Demina akan mengajakku makan di luar. Seteahnya dia pun melihat kembali ke isi buku.
“Besok, pertempuran yang sesungguhnya. Silakan nikmati malam terakhir kalian.”
Buru-buru aku mengerjapkan mata ketika sadar ada belati yang nyaris melukai leherku. Untungnya Radja mendorong tubuhku hingga jatuh dan benda yang membahayakan itu menancap pada batang pohon. Tidak ada waktu untuk mengaduh sakit, aku harus segera menghentikan ini semua. Terlebih kami tidak bisa mengandalkan begitu banyak orang.
Radja mengulurkan tangan dan membawaku terbang ke langit. Sesuai yang aku instruksikan, kami harus pergi kembali ke hotel. Meski bukan Ratih, aku tetap bisa menemukan jurnal itu. Pasti benda itulah yang membuat rencana kami berantakan. Aku memang tidak tahu apa kekuatan yang dimiliki gadis itu, tetapi jika seperti ini terus—yang bahaya bukan hanya kami, tetapi dirinya sendiri juga.
Sambil terus terbang, kami mencoba meminimalisasikan penyerangan terhadap musuh. Tidak jarang monster-monster terbang mencoba mengganggu kami, tetapi dengan tangan naga milik Radja segera menghadang mereka. Aku tidak bisa membiarkannya bertarung sendiri, tetapi udara bukanlah tempat yang tepat untukku.
“Seberapa besar keinginan mereka untuk melihat kita mati sih?” ujar Radja yang menggerutu sambil menahan tiap serangan dengan sayapnya. Pasti benar-benar repot mengatasi banyak orang seorang diri. “Apa kamu yakin Ratih adalah dalangnya? Kesempatan kita sangat kecil, jika gagal ... mungkin ini jadi hari terakhir aku bisa mengusili kamu.”
Aku tertawa hambar. “Bahkan di saat terdesak, kamu masih bisa mengajakku diskusi soal hal-hal yang tidak masuk akal.”
“Hentikan di sana, Dira, Radja!”
Radja tiba-tiba berhenti melaju, dia tetap mengepakkan sayap tetapi matanya mencari-cari sesuatu—sama sepertiku. Seolah ada yang memanggil kami, tetapi dia tidak mau menunjukkan wajahnya. Sampai akhirnya seorang laki-laki muncul dari balik awan. Dia memegang kuasnya. Hal itu membuat mataku membelalak.
__ADS_1
Baru saja kami keluar dari maut yang siap mengoyak-ngoyak tubuh, sekarang kami dipertemukan dengan pemimpi. Faizal memegang kuasnya yang berukuran besar dan dia tengah menggambar sesuatu. Aku tidak tahu apa itu, tetapi kami benar-benar harus menghindarinya. Apa pun yang digambar Faizal bukanlah hal baik jika laki-laki itu berada pada sekitaran musuh kami.
Faizal membuat sebuah naga buatan dengan kemampuannya. Radja bisa saja melawan tiruan itu, tetapi dia akan kehabisan tenaga dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku benar-benar ingin ikut membantu, tetapi bagaimana caranya dan apa yang harus aku lakukan? Sungguh aku sangat takut jika terlalu banyak orang yang berkorban. Lalu, terlintas sesuatu dalam pikiranku.
“Ja, kita turun sekarang. Biarkan dia menyerang dan membawa kita ke alam mimpi. Bara, Demina dan Irish terjebak di dalam sana. Kita bisa menyelamatkan mereka dengan melawan Faizal dari dalam!” ucapku bersemangat.
“Itu sangat beresiko, kita belum tentu bisa keluar dari dunia mimpi yang dia buat, Dira. Begini saja, kamu pergilah mencari Ratih dan biarkan aku yang mengerjakan usulmu itu,” balas Radja.
Aku menggeleng. Bukan itu yang aku inginkan. Untuk apa aku pergi sendirian jika aku mengorbankan satu per satu temanku. Sudah cukup Candra yang berhadapan dengan Tiara. Aku tidak mau kabur lagi. Sementara Radja menghindari serangan naga tiruan, aku bergeming dalam pikiran. Bukankah kerja sama lebih menguntungkan? Pekerjaan kami lebih cepat selesai, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
“Ja, aku mau membantu. Apa gunanya kita terus berlari? Membagi diri hanya membuat korban semakin berjatuhan. Sebaiknya kita bekerja sama dalam mengalahkan musuh.” Radja melihat ke arahku dengan tatapan yang seolah berkata aku tidak ingin membahayakanmu.
Setelah keadaan tenang, aku akan meminta maaf kepada Bizar secara pribadi. Kali ini biarkan aku berjuang demi bumi dengan caraku sendiri. Faizal menyerang kami dengan naga tiruannya. Aku tahu dia sangat lemah jika dia tidak memasukkan kami ke dalam mimpi. Faizal tidak kuat dengan kekuatan nyata, tetapi sebagai pengendali mimpi dia bisa lebih menakutkan bahkan mengambil nyawa seseorang bahkan tanpa meninggalkan jejak apa pun.
Dalam satu lahapan naga tiruan tersebut menyerap kami ke alam mimpi. Kami memang sulit menggunakan kekuatan, bahkan ada kemungkinan tidak akan bisa. Dunia ini milik Faizal dan hanya dia yang bisa mengaturnya. Apa pun yang dirinya kehendaki, bahkan meski aku pun dipisahkan dari Radja.
Aku membuka mataku lebar-lebar, melihat hutan yang begitu lebat. Tempat ini ... aku mengenalnya. Perlahan aku berjalan mundur sampai menabrak pohon. Ini tempat di mana aku hilang kendali dan akhirnya Hana terbunuh waktu itu. Perlahan aku mencoba untuk menarik napas. Semua akan baik-baik saja, aku yakin. Segera aku pun mencari jalan keluar.
Sesuai dugaan, Faizal sengaja memisahkanku dengan Radja, dia tidak ingin kami bekerja sama. Entah di mana laki-laki itu menempatkan Radja, tetapi aku yakin kami berdua bisa bertemu kembali. Aku sudah memercayai Radja begitu dalam, dia pun begitu, itulah hubungan kuat antara kerja sama tim. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan Faizal.
__ADS_1
“Kamu berjanji padaku untuk melindungi bumi.”
Aku segera menengok ke belakang dan menemukan seorang gadis bergaun Kebangsawanan tengah berdiri di antara pohon-pohon. Tentu saja aku mengenalinya, karena dialah yang memberikanku kekuatan untuk bertahan hidup sampai sekarang. Ini adalah mimpi, aku tidak tahu apa tujuan Faizal yang sebenarnya.
“Hana, aku tidak ada punya waktu untuk mengobrol. Saat ini bumi dalam bahaya dan aku sedang berusaha untuk menepati janjiku padamu,” ucapku dan kembali berjalan. Namun, begitu banyak tanaman menjalar muncul di hadapan, sehingga aku pun tidak bisa menerobos masuk ke.
“Kamu terlempar ke dunia roh, bukan dunia mimpi, Dira. Inilah yang mereka inginkan, menghilangkan jiwamu sedikit demi sedikit lalu mengambil kekuatan milikku,” ujar Hana.
Aku menaikkan sebelah alisku. Apa dia pikir aku akan memercayainya? Ini hanya dunia yang diciptakan oleh Faizal. Hanya karena laki-laki itu temanku dan dia mengenal baik masa laluku, bukan berarti apa yang diucapkan gadis itu benar.
“Kalau kamu tidak berbalik sekarang juga, aku tidak bisa memberitahukan kamu cara untuk keluar dari dunia roh, Dira. Ini bukan mimpi dan Faizal justru sedang mencarimu. Waktuku terbatas,” ucap Hana.
“Sebenarnya apa maumu? Hana, kamu sudah tiada ... jangan membuatku berharap akan kehadiranmu lagi,” balasku seraya menggenggam tangan begitu erat.
“Benar, aku sudah mati. Karena itulah aku bisa bertemu denganmu di dunia roh untuk beberapa menit saja.”
__ADS_1