
Hujan tidak juga berhenti, membuat keadaan hatiku yang buruk semakin mendung. Entah hari ke berapa aku mengurung diri di rumah. Jujur aku tidak berniat untuk menghitung hari.
Kemarin malam terdengar suara gaduh dari luar. Aku tidak berani keluar dari kamar dan hanya mengintip dari celah pintu yang dibiarkan terbuka. Kak Ron pulang diantar oleh Afly dan Candra. Mereka langsung pulang begitu saja, tidak mencoba masuk ke ruang lain. Aku sendiri belum berani menegur sapa pada mereka.
Memangnya mudah bersikap seolah tidak ada apa-apa? Aku mengembuskan napas, lalu berbalik memunggungi jendela.
"Dira?" seru seorang laki-laki yang baru saja keluar dari kamar. Aku hanya tersenyum membalasnya.
"Kak Ron? Kakak pulang? Syukurlah, aku kangen Kakak!" ucapku agak berbohong.
Kak Ron menghampiriku, dia mengusap pelan puncak rambutku. "Sebenarnya aku tidak terlalu paham dengan apa yang terjadi. Ingatanku terlalu blur. Mereka bilang aku hanya perlu banyak istirahat."
"Kalau gitu kakak istirahat sana. Dira nanti pergi ke luar buat beli bubur untuk Kak Ron," balasku.
Kak Ron menggeleng. Dia melangkahkan kakinya ke dapur dan aku turut mengekor. Jaga-jaga jika Kak Ron tiba-tiba tumbang. Aku tidak menyangka, laki-laki tinggi yang bahkan sudah berumur ratusan tahun ini malah mengambil salah satu apron yang menggantung lalu memakainya.
Aku menahan tangannya yang mau mengambil pisau dan talenan. Mana bisa aku biarkan orang sakit memasak?! Segera aku layangkan pipi yang menggembung dan mata tajam pada Kak Ron.
"Kakak mau masak aja, Dira. Kondisi kakak enggak separah itu sampai harus makan bubur," ucapnya. Aku hanya mengembuskan napas. "Kamu tunggu di meja makan."
Aku lagi-lagi mngembuskan napas. Berkacak pinggang sambil memperhatikan tangan-tangan telaten kakak angkatku yang tengah memasak. Tidak begitu menarik, tetapi harus tetap perhatikan.
"Kakak yakin baik-baik saja?" tanyaku lagi.
"Iya, udah tunggu di meja makan aja! Eh tapi, ganti baju dulu sana!" serunya padaku.
__ADS_1
Aku berbalik dan berjalan ke meja makan. Duduk di salah satu kursi sambil menopang dagu. Ingin aku merasakan meja ini dipenuhi kehangatan. Andai Nadia mau menemaniku, tetai aku ragu Miss Ann dan Miss Merry akan mengizinkan.
Lagi pula, Nadia berniat membunuku setelah semua yang aku lakukan pada dia dan teman-temanku. Kebohongan itu memang membuatku kehilangan segalanya. Namun, ini sudah berakhir. Azumi telah meninggal, telah dikalahkan. Tidak ada kabar kejahatan lain yang meluas.
Namun, jika dipikir-pikir ini aneh. Kenapa Miss Ann dan Miss Merry pun diam saja? Mereka tidak mengambil tidakan.
"Dira, kakak udah suruh kamu siap-siap ke sekolah. Kok belum ganti baju?" ucap Kak Ron membuat aku tersadar dari lamunan. "Kamu gak mau ke sekolah?"
Kak Ron membawa dua piring. Nasi goreng di tambah telor mata sapi. Dia meletakkan salah satu piring di hadapanku. Setelahnya menyimpan piringnya, Kak Ron mengambil dua gelas dan menuangkan air putih. Kakak menyodorkan gelas tersebut padaku.
Aku menerima gelas tersebut dan menjawab pertanyaannya. "Udah seminggu aku gak sekolah. Aku ingin istirahat dulu, Kak."
"Kamu yakin?" Kak Ron meragukanku. "Kamu gak kangen temen-temen kamu? Kakak gak akan maksa kalau kamu emang gak mau sekolah."
Aku mengembuskan napas sebal. Kak Ron mulai menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya. Seenak apa pun yang bisa aku lihat, nafsu makanku belum juga naik. "Kakak lagi sakit, mana bisa aku ninggalin kakak? Besok Dira bakal masuk kok," ucapku meyakinkannya.
Langit mulai memerah, meminta matahari untuk beristirahat dari kegiatan padatnya. Sesekali aku memeriksa keadaan Kak Ron, lalu beranjak untuk membaca buku di rak yang jarang tersentuh. Tidak ada hal yang menyenangkan. Berlati seorang diri pun tidak begitu mengasyikan.
Jujur, aku merindukan Bizar dan Radja. Mereka banyak membantuku saat berlatih. Jika mereka obat, maka aku sudah ketergantungan.
Sesekali melihat ke arah jendela, seraya menanti malam yang akan menghampiri. Awan mengganggu pemandangan. Tidak lama suara gemuruh dan hujan bisa aku dengarkan.
"Ah iya, aku harus akan jemuran," ucapku segera keluar dari rumah. Harusnya aku mengangkat jemuran sejak tadi siang, tetapi berkat rasa malas dan sedih itulah yang membuat aku tetap berada di dalam rumah.
Aku menarik satu per satu baju yang ada di sana. Gerakanku belum begitu cepat hingga hujan tiba-tiba menyerang. Segera aku masuk ke dalam rumah, membawa baju-baju yang bisa aku bawa.
__ADS_1
Aku baru mau menutup pintu setelah menyimpan baju di sembarang tempat, tetapi ada suara berat yang menyerukan namaku, "Nadira!"
Segera aku mengurungkan niat untuk menutup pintu dan melihat ke asal suara. Ini seperti de javu. Anak laki-laki dengan perban di kepala dan tangannya memaksan diri untuk berlari. Aku membelalak saat wajahnya yang terbasuh oleh hujan besar itu terlihat jelas.
Radja, laki-laki yang berjalan di sana. Aku ingin menghampiri dia. Tiba-tiba mengambil payung jadi ide yang terlintas di dalam benakku. Namun, Radja kembali memanggilku, "Nadira!"
Aku tetap mengambil payung dan segera menghampirinya. Cukup untuk melindungi tubuh Radja dan aku.
"Radja ... cukup," ucapku pelan. Hatiku mulai teriris ketika salah satu luka di tangan Radja terbuka dan mengeluarkan darah.
Dipikiranku, luka Radja ada karena dia berlatih dan terlalu memaksakan diri. "Dira, kembalilah."
Aku bergeming. Tetap memayungi Radja. Hujan di luar semaki deras, seakan memaksaku untuk menjawab ucapannya. Laki-laki yang menyebalkannya itu tidak terlihat baik-baik saja. Segera aku menahan tubuhnya yang nyaris tumbang, tidak peduli payungnya jatuh atau terbawa angin sedikit pun.
"Cukup Ja, kamu harus pulang," ucapku pelan. Hujan semakin deras, dingin bisa aku rasakan. Radja juga pasti kedinginan. Aku coba menarik tubuhnya mendekat ke rumah, tetapi dia tetap diam di tempatnya.
"Aku gak bisa pura-pura bodoh. Kamu itu gak jahat, aku tahu," balasnya.
Sebegitukah dia memercayaiku sebagai temannya? Dalam keadaan ini, haruskah aku bersikap semuanya baik-baik saja?
Aku hanya menggeleng. "Sudah cukup aku membahayakan kamu, dan teman-teman. Biarkan aku sendirian."
"Kamu yakin? Beginikah caramu menutupi perasaan, Dira? Kita mengenal bukan sehari dua hari. Kamu bisa percaya padaku," ucapnya.
Mataku memanas. Dadaku jadi sesak setelah dia mengucapkannya. Ya, aku memang bisa meminta teman-teman untuk percaya. Namun, kuat-kuat aku menggeleng. Menghapus keinginan jauh-jauh.
__ADS_1
"Ini sudah berakhir. Kita enggak punya hubungan apa-apa lagi. Kamu cukup tidak mengetahuiku, aku pun akan melakukan hal serupa!" Aku berteriak di depannya, melepaskan semua yang ada dibenakku. Semua yang menghalangi perasaanku.
"Kalau kamu berpikir Azumi sudah kalah, kamu salah besar," ucap Radja membuatku membelalak. "Dia memang tidak menyerang agar membuat kamu berpikir seperti ini, Nadira. Kembalilah, aku yakin kamu juga ingin kembali."