Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 21. Pesan Dari Bizar


__ADS_3

“Apa kalian yakin gadis ini baik-baik saja? Kami bisa membawa gadis ini ke rumah sakit,” ucap seorang wanita dewasa.


Aku merasa kesulitan untuk menggerakkan tangan dan membuka mata. Perlahan, tetapi pasti, aku bisa melihat atap-atap dari sebuah kendaraan. Di dekatku ada Irish yang juga menjadikan pahanya sebagai tumpuan bagi kepalaku. Pertanyaaanku hanya satu, di mana ini?


“Tidak perlu, Bu. Kami di sini saja sudah sangat tertolong. Kami harap semuanya merahasiakan soal identitas kami. Segera setelah teman kami sadar, kami akan membawanya pergi.” Kali ini suara laki-laki yang aku sangat kenali. Aku lalu menoleh ke bangku di samping kanan. Di mana ada seorang laki-laki dan seorang wanita dewasa duduk berdampingan.


Mataku tertuju pada beberapa anak yang duduk berhimpitan di bangku lainnya. Di antara mereka aku melihat ada Faizal. Aku menelan ludah. Kendaraan ini ... bukankah menuju Jakarta? Artinya kami menumpang di bis sekolah? Tunggu, sebenarnya apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?!


Aku berusaha untuk bangun, sehingga Irish pun menatap padaku. Segera saja aku meminta bantuannya. Jari-jemari rampingnya pun segera menuntunku untuk duduk dengan benar. Dia lalu mengecek kondisi dan denyut nadiku. Saat aku bertanya, dia hanya bilang aku pingsan karena kelelahan. Mungkin karena kemarin malam aku melawan para monster juga.


Setelah merasa baikan, Radja pun menoleh padaku. Dia juga meminta menghentikan bis ini agar kami semua bisa pulang. Tidak ada rencana untuk mengikuti bis ini. Urusan Bizar, dapat dipantau oleh Faizal dan teman-teman lainnya. Jadilah kami turun tengah jalan yang cukup sepi. Tanpa mau membuat kehebohan, Radja memegang tanganku dan juga Irish.


Laki-laki itu membawa kami terbang. Menambah satu beban ternyata membuat laju terbang Radja lebih lambat, tetapi juga lebih hati-hati. Tanpa perlu kahawatir jatuh, karena genggamannya begitu erat---sampai-sampai aku merasa jika sebelum jatuh, tanganku yang akan remuk lebih dulu. Bahkan Irish menahan rasa sakitnya sambil berbicara tanpa henti.


Kami membali ke Twins, menembus susunan awan. Radja menurunkan kami tepat setelah kami sampai. Irish berdecak sebal, dia mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit. Aku tahu dia mau mengomel lagi. Namun, Radja terlihat sudah lebih kebal dengan hal seperti itu. Irish juga paham setelah dia didiamkan oleh laki-laki itu sejak di perjalanan, maka gadis itu pun memilih untuk mengobati tangannya.


Sementara aku sendiri, masih belum merasa enak sepenuhnya. Jika memang kelelahan, tubuhku tidak akan seberat sekarang. Bahkan untuk melangkahkan kaki pun aku masih merasa sedikit pusing. Tiba-tiba saja, Radja memegang pundakku. Seolah dia sedang menahan agar aku tidak jatuh.

__ADS_1


“Aku akan antar kamu ke Kak Ron. Mau digendong?” Aku menggeleng lemah padanya.


Radja lalu menuntunku pergi ke kamar. Menaiki anak tangga lebih susah dari yang aku bayangkan. Berulang kali laki-laki itu menarikku ke atas agar tidak jatuh. Namun percuma saja, sehingga laki-laki itu pun memunculkan kembali sayap dan segera membawaku terbang ke lantai dua.


Di sana Kak Ron sudah menunggu. Dia mengganti posisi Radja yang membawaku. Kali ini dia membopong diriku ke kasur. Raut kekhawatiran kakak tidak bisa disembunyikan. Sinar hijau pun mulai muncul dan mengaliri hangat ke dalam tubuh. Kali ini aku bisa bernapas dengan tenang dan aman.


“Apa yang terjadi pada Nadira, Ja?” tanya Kak Ron, “keadaannya menurun drastis. Mungkin selama beberapa hari dia tidak bisa  masuk sekolah untuk mengembalikan tenaganya.”


Radja mengembuskan napasnya. “Ini salahku, Kak Ron. Tadi kami berusaha untuk menark keluar kekuatan jahat dari monster. Tapi, sepertinya tenaga Dira ikut kebawa. Aku gak bakal pakai ini lagi.”


“Jangan menyalahkan dirimu sendiri! Terima kasih sudah berkata jujur. Nah, Dira, kamu akan menetap di Twins sampai lusa. Kakak tidak ingin membiarkan kamu sendirian di rumah,” jelas Kak Ron. Aku hanya menggangguk lemah untuk membalas ucapannya.


Sepeninggalan Radja, Kak Ron tetap melanjutkan pengobatan. Dia begitu fokus untuk menyembuhkanku, padahal aku hanya kekurangan tenaga saja. Entah sudah beberapa menit berlalu, akhirnya kakak berpamitan untuk membuatkan makanan.


Aku memang merasa lebih baik, tetapi perasaanku tidak. Jika aku saja sangat lemah seperti sekarang, bagaimana dengan orang itu? Apakah dia juga merasa lemah setelah kekuatan kegelapan yang mengubahnya menjadi monster diambil secara paksa? Selain itu, aku juga memikirkan sesuatu soal Radja. Akankah kekuatannya tadi memberi efek lain pada penggunanya? Entah kenapa aku takut jika tadi Radja menggunakan sihir terlarang.


Aku melihat ke arah jam. Pukul empat sore. Seharusnya aku kembali berlatih untuk lomba. Sampai sekarang aku belum terpikirkan harus menulis apa. Kisah apa yang bisa dikatakan logis dan layak dibaca? Perlahan aku pun menutup mata dan tenggelam untuk memikirkan ide cerita untuk lomba. Sampai aku kembali membuka mata ketika aku dengar suara lain.

__ADS_1


“Nadira, kita makan dulu. Kali ini makanlah yang banyak,” ujar Kak Ron. Dia meletakkan nampan di atas nakas.


“Kakak memasak atau meminta Miss Ann dan Miss Merry?” tanyaku iseng.


“Miss Ann sibuk mengembalikan Miss Sharron dan Miss Merry belum begitu baik. Jadi kamu tahu koki masakan anak kost Australia ini yang akan melayanimu,” ucap Kak Ron.


Aku tersenyum geli. “Memangnya di Australia kakak buka restoran khusus anak kos? Dasar kakakku ini. Tapi makasan kakak emang enak sih, aku suka.”


“Bagus kalau kamu suka, Dira. Kakak hanya membuatkan kamu roti, ini kakak bawa dari rumah. Sementara sereal ini, kakak buat di sini dan sudah digabung dengan beberapa vitamin,” jelas Kak Ron.


Aku pun mengambil roti itu perlahan dari atas nakas. Kadang kakak membantuku karena dia tidak tahan melihat aku yang cukup kesulitan saaat mengambilnya. Roti buatan kakak sangat manis dan lembut. Aku menyukainya, sereal yang Kak Ron buat pun cukup enak.


“Kakak, aku jadi ingat soal Bizar yang mengirimkanku sebuah email. Dia bilang itu informasi soal monster yang sering kita lawan. Tapi, sebelumnya, apa Miss Ann atau Miss Merry udah kasih tau orang-orang di sini?” tanyaku.


“Belum ada informasi dari siapa pun, Dira. Isi email Bizar apa? Coba kamu buka,” ucap Kak Ron seraya menyuapiku sesendok sereal lagi.


Aku sendiri baru ingat soal emailnya dan belum membuka pesan itu sejak kemarin malam. Setelah melawan monster, aku pergi tidur. Di sekolah aku fokus belajar dan saat belajar bersama pun tidak ingat. Jika Miss Merry dan Miss Ann belum tahu, apa artinya Bizar belum yakin?

__ADS_1


Semuanya akan terjawab jika aku membuka pesan. Segera saja aku membuka email melalui jam tanganku. Mataku menyipit saat membaca isinya.


“Tidak mungkin! INI?!”


__ADS_2