
Di tempat ini ada dua kasur, kami bisa tidur dengan saling berbagi. Sebelum aku mengajak Irish atau Demina, sepertinya mereka paling tidak mau bersama dengan Ratih. Kekhawatiran mereka terlalu berlebihan. Namun, tidak ada salahnya membiarkan mereka tidur berdua, siapa tahu itu meningkatkan performa mereka dalam bekerjasama.
Aku pun menghampiri Ratih dan meletakkan barang-barangku. Lelah kembali terasa dan aku ingin segera beristirahat. Namun, nada dering ponsel di dalam tas sangat mengganggu. Maka segera aku mengangkatnya.
“Ada apa Radja? Kita baru berpisah beberapa saat dan sekarang kamu udah telepon. Kangen ya?” ledekku pada orang yang berada di seberang sana.
“Siapa yang kangen? Enggak ada kerjaan banget aku kangen sama perempuan yang nekat kayak kamu, Dira,” balas Radja dan tanpa sadar aku pun sudah merekahkan senyuman.
Ketiga perempuan di kamar ini mulai melihat padaku dengan tatapan penasaran. Oh ayolah, memang seaneh apa aku mengangkat telepon? Segera saja aku keluar dari kamar hotel sambil berjalan-jalan, siapa tahu menemukan balkon. Meski aku sempat meledekkan, Radja kembali mengusuli diriku dengan ucapannya. Aku jadi tidak tahu apa maksud laki-laki itu menelpon diriku. Namun ternyata, laki-laki itu kembali ke tujuan awalnya.
“Nadira, kamu enggak bakal percaya sama yang aku lihat deh.”
Aku terdiam beberapa saat. Memangnya apa yang laki-laki itu lihat di kamarnya? Atau ini salah satu trik usilnya lagi? Karena tidak mau termakan ucapan palsunya lagi aku pun hanya menjawab seadanya. Kembali aku berjalan mendekati balkon. Di sana ada seorang perempuan, entah siapa. Aku yakin dia salah satu peserta lomba.
“Masih ada beberapa jam lagi sebelum seleksi. Suruh Demina dan Irish ke kamar kami 312. Ini penting banget,” ujar Radja.
“Penting banget?” ulangku seraya memegang pagar pembatas. Tidak peduli dengan orang yang berada di sampingku.
“Eh, Dira? Apa yang penting?” Refleks aku menoleh ke samping, tepat anak perempuan yang
Aku lihat sebelumnya. Mataku membelalak, untungnya tanganku bisa menggenggam erat ponsel di samping telingaku. Segera aku pun menggelengkan kepala dan mengerjapkan mata beberapa kali. Bersamaan dengan itu Radja beberapa kali memanggil-manggil namaku.
“Tiara?! Kok kamu di sini?” ucapku.
__ADS_1
“Aku peserta lomba debat, Dira. Kayaknya teman-temanku sudah selesai beristirahat. Sukses sama lomba cerpen ya,” balas gadis itu. Apa langit baru saja runtuh? Jika Tiara di sini, apa mungkin Bizar dan Faizal juga? Aku ingin bertanya tetapi gadis itu memanfaatkan kekuatannya untuk segera sampai ke kamar. Bahkan aku tidak tahu Tiara berada di kamar mana.
“Ja, Tiara ada di sini,” ucapku.
“Sudah aku bilang ini penting. Kayaknya kamu udah bisa tebak, jadi sekarang cepet ke kamar kami!” Perintah Radja membuatku bergeming. Segera saja aku memutus sambungan telepon. Mungkin memang benar jika kami semua harus ke kamar mereka. Pasti ada sesuatu.
Aku pun kembali kamar dan melihat dua partnerku sedang membaca buku. Tentu saja buku soal, tidak mungkin buku novel sepertiku. Apalagi Demina tidak pernah bersantai dan belajar mati-matian demi bisa masuk ke sekolah yang dia tuju. Meski tidak ingin mengganggu persiapan mereka, aku tetap harus mengatakan amanah yang Radja bilang.
“Demina, Irish, kita disuruh ke kamar anak laki-laki. Kayaknya kalian diminta berlatih bersama deh,” ucapku agak mengarang agar Ratih tidak curiga.
Demina dan Irish tidak bertanya. Masing-masing segera membereskan buku, mengambil papan nama untuk babak seleksi nantinya. Sementara aku pergi untuk mengambil buku novel dan kertas folio kosong.
Agak ragu untuk meninggalkan Ratih seorang diri. Namun, gadis itu terlihat cuek. Entah karena belum dekat atau bagaimana, dia memang tidak banyak berbicara. Aku pun pamit padanya dan berbalik. Lagi-lagi kepalaku jadi sakit. Apa ini efek karena kelelahan? Memang aku belum sempat beristirahat karena seluruh tubuhku ini sakit.
Radja menyambut kami dan segera menarik masuk ke dalam kamar. Wajah laki-laki itu begitu kesal, beda dengan Afly dan Bara yang murung dan memilih duduk di atas kasur. Sementara Candra, laki-laki itu duduk di pojokan dengan buku tulis terbuka di sana.
“Apa yang terjadi, Ja? Lomba belum dimulai kalian malah lemah lesu duluan?” ucapku.
“Kamu tau Tiara ke sini? Bagus. Bukan hanya mereka. Tiara dan Faizal ada di tim debat. Tapi yang lebih parah ... Bizar ikut masuk ke tim cerdas cermat,” ucap Radja.
“HAH? Apa? Kayaknya kita tadi salah denger, iya gak Irish?” ucap Demina.
“Kalau Bizar ikut lomba, kita gak ada kesempatan buat menang. Mimpi apa aku kemarin?”
__ADS_1
Aku mulai melihat Demina dan Irish sama-sama putus asa. Aku memang tidak menyangka jika mereka juga mengikuti perlombaan. Anehnya kenapa mereka tidak bilang-bilang? Tidak biasanya. Aku yakin Faizal dan Tiara bukan orang yang suka membuat kejutan jika urusanya bukan pekerjaan.
Apalagi jika mengingat Bizar. Sejak kapan ilmuwan yang satu itu ingin ikut lomba seperti ini? Oke, mungkin tujuannya adalah menyelidiki monster bersama kami. Namun, tidak aku sangka jika dia pun membuat kejutan. Padahal beberapa jam lalu dia masih memberi kabar tentang monster di jalan tol. Ya ampun, kepalaku jadi makin berat memikirkannya.
“Lupakan, aku mengumpulkan kalian bukan hanya memberitahu soal itu. Setelah Bizar memberitahu jika dia ikut lomba, dia juga mengirimkan data peserta. Ada sepuluh monster dan mereka berbeda-beda jenisnya. Tidak tahu kapan mereka akan berubah dan menyerang.
“Aku juga kecewa. Kalian enggak perlu murung. Sekarang kita harus bisa membagi waktu antara lomba dan patroli. Mungkin kita bisa kecolongan,” ucap Radja.
“Tapi wilayah kita pun kosong, Ja. Pokoknya setelah babak seleksi aku bakal balik ke Bandung. Enggak bakal aku biarin tempat itu kosong. Kalian bisa fokus di sini. Wilayah lain akan aku urus. Syukur-syukur jika ada bantuan,” celetuk Afly.
Tidak berselang lama jamku berkedip. Pesan dari Bizar. Dia ingin ikut berdiskusi dengan kami tetapi tidak bisa keluar dari kamarnya sekarang. Entah kenapa, dia tidak bisa menjelaskannya. Jadi kami melanjutkan diskusi.
“Aku setuju sama Afly. Dia harus kembali. Aku ikut lomba bukan karena ingin bersaing. Sejujurnya Tiara dan Faizal jadi aneh, mereka juga yang memaksa aku untuk ikut. Nadira, waktu luangmu pakai untuk belajar. Kamu pengganti Afly kan?” ucap Bizar.
“Tunggu, soal Afly kita setuju. Tapi apa maksud kamu dengan Tiara dan Faizal jadi aneh?” tanyaku.
“Beberapa hari lalu, Tiara dan Faizal mendapatkan misi dari Miss Ann. Aku tidak tahu apa. Saat ini selain mencari monster, aku sedang mencari tahu misi apa yang Miss Ann berikan. Kalian tetap berhati-hati. Sepertinya permainan pasukan Azumi sudah mencapai puncak.”
Aku menatap semuanya satu per satu. Tidak kusangka jika mereka pun terkejut dengan apa yang Bizar ucapkan. Padahal kami belum menemukan markas baru pasukan Azumi. Belum juga tahu siapa dalang dari semua ini. Apa kami terlambat?
Rasa khawatir pun perlahan merangkak naik ke atas. Kami belum punya rencana apa pun untuk membungkam musuh. Terlebih apa saja perubahan Tiara dan Faizal?
__ADS_1