
"Nadira, jika kamu berani berbohong, aku bisa memberikan cairan ini padamu. Tidak peduli jika tubuh kamu akan menolak dan kekuatan Hana menghilang.
"Kekuatan dan pasukan yang aku miliki sekarang sudah lebih dari cukup untuk menghabisi kamu."
Aku ingin bergeming. Sayangnya, Azumi dengan botol cairan itu membangkitkan firasat yang sepertinya tidak ada hal baik di sana. "Aku bahkan enggak tahu apa maksudnya. Siapa Hana?"
"Wah, kamu bahkan melupakan Hana? Tidak apa-apa ... dia bukan orang penting bagimu."
Hatiku mencelos mendengarkan kata-kata Azumi. Membiarkan perempuan itu pergi dan menarik kembali jeruji-jeruji ke tanah. Aku tidak memahami pikiran ratu dari sisi gelap tersebut.
Bisakah aku menepati harapan Vivian? Rencana gilanya membuatku menjadi jahat sementara. Hawa dingin ini lebih menusuk daripada berendam pada kolam renang selama dua belas jam penuh. Azumi tidak mungkin percaya percaya dengan ucapan-ucapanku sebelumnya. Tentu saja, dia selalu menjadi orang yang menentang semua tindakannya.
Aku memandang pada jam tangan. Tanpa Radja untuk diajak diskusi atau Bizar yang selalu membantu dalam mencari data, aku hanya bisa termenung. Perlahan-lahan aku gunakan tangan dan memunculkan air yang melingkar di sana.
Keesokan hari Bara kembali datang. Dia masih sama seperti sebelumnya. Mengerikan, tetapi aku tidak yakin dengan wajahnya yang semakin pucat. Dengan santai dia memanggil namaku, "Nadira."
__ADS_1
"Aku ingin pulang ke bumi," ujarku pelan membalas ucapannya dengan topik yang berbeda.
"Azumi bilang kamu udah sembuh dan bisa bergerak, ya?" lanjutnya.
Aku memutar mata bosan, melihat padanya. "Ini membosankan, Bara! Melihat atap-atap sepanjang malam ini."
"Azumi sedikit menggertak kamu. Seharusnya kamu enggak perlu berbohong," balasnya, "kamu terlalu ragu untuk berpura-pura."
"Biarkan aku turun ke bumi!" ucapku bersamaan, tetapi terhenti.
Laki-laki itu seperti memiliki kepribadian ganda dengan aura hangat tetapi lama-kelamaan mencekam. Aku pikir itu efek dari pedang yang belum sempurna. Sisi gelap kembali muncul sewaktu-waktu, tidak kenal waktu. Begitu juga sebaliknya. Sepertinya itulah alasan keberadaan Bara di sini.
Ruangan gelap tanpa lampu, hanya cahaya luar sebagai penerangan utama. Lama aku memperhatikan pintu jeruji, Bara mencoba menarik kesadaranku ke tempat seharusnya.
"Nadira, aku janji akan membantu kamu keluar. Tolong tunggu saja," bisik Bara.
__ADS_1
"Aku tidak bisa diam saja!" sanggahku.
"Beri aku waktu! Tidak ada yang tahu kapan aku berubah jadi jahat lagi, Nadira. Selama itu aku akan mengumpulkan semua kelemahan Azumi!" jelasnya yang ingin aku memercayai dia.
Aku kembali menggeleng. Paham betul jika Bara sedang berusaha, tetapi aku tidak bisa membiarkannya seorang diri. Tidak mungkin melawan Azumi sendirian.
"Bara," panggilku sambil memegang punggung tangannya, "Kamu enggak bakal bisa."
"Tidak masalah! Setidaknya jika harus ada yang berkorban, aku satu-satunya yang pantas. Kala aku ... memilih kejahatan sebagai jalan yang aku miliki!"
"Aku tidak mengerti!" bentakku hingga menggema di penjara ini.
Mataku sempat tertutup dan menunduk. Saat dibuka, mata Bara menyambut dengan wajah tegangnya. Perlahan aku menarik tangan dan fokus hanya menatapnya.
"Tiap orang memiliki kehidupan berarti. Terutama kamu, orang yang sudah menganggap aku sebagai teman kamu."
__ADS_1