Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 82. Dunia Kai (3)


__ADS_3

Radja bukan tipikal yang langsung menyerang perempuan. Demi melindungiku, dia berdiri di hadapanku dan mengembalikan sayap naganya. Dia tidak akan terbang kali ini, lagi pula sangat tidak menguntungkan melawan Tiara dengan terbang. Aku tetap merasa ini bukanlah rencana yang bagus. Terlebih aku tidak mampu menyakiti Tiara.


Tiba-tiba, sekepulan asap menguar dari lantai. Kami tidak bisa melihat. Tidak. Mungkin laki-laki di hadapanku bisa melihat dengan mata naganya. Aku mencoba meraih lengan baju Radja. Asap ini begitu tebal, sampai aku bisa merasakan sesuatu menarik pundakku. Awalnya aku mengira ini Radja, tetapi kenapa aku merasa ada bahaya mengancam dari belakang?


“Apa kamu siap untuk mati, Nadira?”


Aku membelalakkan mata, mendengarkan pertanyaan dari mulut Tiara. Aku yakin di hadapanku ada pedang miliknya. Dia tidak akan ragu-ragu untuk membunuhku. Inilah ajal yang tidak bisa aku lihat. Hanya bisa aku rasakan hawa panas tubuhnya. Semakin lama aku merasakan permukaan besi tajam dari pedang itu semakin mendekati leherku.


Segera aku memejamkan mata, bingung mau menyerang dengan cara apa. Namun, aku juga tidak berniat mati. Dalam sekejap ancaman itu menghilang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, ini asap ini terlalu tebal dan aku mulai tidak bisa bernapas. Andai listrik pada gedung ini berfungsi, aku yakin ada sensor yang akan mendeteksi asap dan mengeluarkan air dari atas. Sayangnya, sejak aku di gudang pun, tidak ada tanda-tanda soal listrik yang menyala.


Aku berharap jika Radja tengah berhadapan dengan Tiara dan keduanya baik-baik saja. Aku tidak bisa mendoakan salah satunya menang. Ya, mereka memang temanku. Andai aku bisa melihat dalam asap pun, aku akan membantu Radja dalam menangani musuh. Sementara aku juga akan membantu Tiara, setidaknya membantu gadis itu terlepas dari jeratan Miss Ann. Sayangnya asap ini lebih mengganggu, selain membuat mata tidak bisa melihat dan perih bersamaan aku juga sulit bernapas. Mungkin ii salah satu trik yang dimiliki Tiara.


Suara pedang dan cakar naga yang beradu bisa aku rasakan. Tangan Radja yang diganti menjadi cakar memang sekuat baja, bahkan pedang pun tidak bisa menembusnya. Sayangnya, itu bukan berarti Radja tidak memiliki kelemahan. Laki-laki itu bukan pemilik asli dari kekuatan para naga, alhasil dia hanya bisa menggunakan beberapa persen dari kekuatan asli.


Pola Radja selalu sama. Dia menggunakan sayap untuk terbang dan kadang menggunakan tangan kanannya menjadi tangan naga sebagai senjata. Jika musuhnya lebih mudah, laki-laki itu akan menggunakan pedang sebagai alternatif. Namun, jika berada di tanah, Radja akan memusatkan semua kekuatannya pada tangan. Tentu, itu membuat hampir seluruh bagian tubuhnya tidak memilik perlindungan. Sangat berbahaya. Terutama jika Tiara sudah menyadarinya. Aku benar-benar takut Radja akan terluka lagi.

__ADS_1


Terlintas sebuah ide dari pikiranku, segera saja aku berjongkok dan menempelkan telapak tangan pada ubin. Perlahan tanaman rambat pun muncul dan menjalar ke segala arah. Aku memang tidak bisa melihat, tetapi dengan tanaman ini, aku bisa merasakan di mana mereka bergerak. Seraya mencari tahu, aku mencoba untuk memusatkan fokus pada Tiara. Menerka langkah kaki siapa yang terburu-buru.


Tidak aku sangka jika kekuatan ini pun membuat aku tahu berapa jarak antara aku dengan Tiara atau Radja. Intinya yang aku rasakan ada langkah yang semakin mendekat. Sial. Aku pun segera menarik kekuatan air dan membuat ombak sebagai perlindungan. Namun, airku menghilang begitu saja. Bersamaan dengan itu, asap di sekitarku pun semakin tebal dan tidak terkendali.


Aku terburu-buru untuk mundur. Melalui tumbuhan jalar ini, aku bisa merasakan dia semakin cepat. Begitu saja sampai sebilah pedang bisa aku lihat di depan mata. Nyaris membelahku. Untungnya hanya anak rambutku saja yang terbelah. Sungguh mengagetkan. Tidak salah jika Tiara disebut sebagai pembunuh bayaran. Langkah dan dirinya yang tidak terlihat ini bagaikan kematian yang mendatangiku secara langsung. Aku tidak tahu kenapa Tiara ingin membunuhku, padahal yang paling dibutuhkan dalam mengambil kekuatan Hana adalah aku.


“Nadira! Cari kesempatan untuk menyerang punggung Tiara!” ujar Radja. Entah berada di mana. Laki-laki itu pasti sedang berhadapan dengan Tiara.


Aku kembali melacak dengan tanaman yang terus terinjak oleh keduanya. Jika aku berteriak ada Radja, Tiara akan tahu jika aku bisa melacak jejaknya melalui tanaman ini. Namun, jika tidak berteriak, aku takut jika Radja yang terkena seranganku. Di barat, empat langkah teratur. Aku yakin itu jejak milik keduanya.


Kai, itu kekuatan Tiara dalam membuat ilusi untuk musuh. Bahkan ini lebih gawat daripada asap. Sama seperti Faizal, Tiara bisa menciptakan dunianya sendiri. Terlebih gadis itu bisa memperbanyak diri atau membuat dunia yang mendukung kekuatannya. Meski begitu, kai harus segera dihentikan. Menggunakan dunia lain bisa berefek buruk pada jiwa dan tubuh Tiara—juga kami.


Asap-asap di sekitar pun berubah bentuk menjadi pohon-pohon lebat. Tidak ada celah bagi matahari untuk masuk. Tempat yang lebih dingin dan tanah cokelat. Sejujurnya aku lebih merinding dengan aroma yang menguar dari tempat ini. Amis, darah segar. Bulu kudukku meninggi, di mana Radja? Apa dia juga ada di tempat yang sama?


Aku berjalan mengitari hutan aneh ini. Entahlah di mana Tiara berada. Kai yang dia gunakan benar-benar menyembunyikan gadis itu. Mulanya aku berpikir begitu, tetapi ternyata Tiara menghampiriku dengan sendirinya. Dia menggunakan cakar besi. Tidak lagi sebilah pedang. Jujur aku tidak pernah melihat atau mengetahui kelemahan gadis itu dengan senjata cakar besi. Hawa membunuh itu begitu kuat dan tidak terkendali. Dengan cepat gadis itu berlari.

__ADS_1


“Hentikan, Tiara! Aku ini temanmu!” ucapku setengah berteriak.


“Teman? Di saat seperti ini kamu masih menganggap teman? Lupakan,” ucap Tiara dan dengan cakarnya dia pun kembali menyerangku.


Aku segera menggunakan kekuatan tanaman untuk menahannya, tetapi itu tidak berlangsung lama. Segera aku berjalan mundur, seraya memunculkan pedang untuk menahan serangannya. Aku tidak tahu gaya serangan Tiara. Jadi, aku harus melindungi diri sebaik mungkin, terutama gadis di hadapanku bisa hilang dan datang kapan saja. Aku menengadah, apakah pohon-pohon tidak nyata ini pun bisa membantuku?


Tiara kembali menyerangku. Sesuatu mendorongku untuk membalasnya. Padahal aku tidak berminat dan hanya ingin melindungi diri. Namun, seolah tanganku memiliki pikirannya sendiri sampai tega menghadapi Tiara. Kuat-kuat aku menahannya dengan pikiranku. Sayangnya tanganku tetap bergerak di luar kehendakku.


“Hentikan aku mohon,” gumamku pelan. Namun, tidak ada yang berubah.


Cakar besi itu berusaha untuk menahan kuatnya pedangku. Jujur, aku merasa seperti boneka yang sedang dikendalikan oleh seseorang. Tidak bisa bergerak sesuai kehendak sendiri. Aku mengembuskan napas, mencoba lebih tenang dalam menghadapi hal ini.


Tanganku berhenti menyerang, segera aku pun melompat mundur. Kulihat Tiara masih baik-baik saja. Aku harus mencari Radja. Laki-laki menyebalkan itu pasti mencemaskanku, tetapi kenapa sejak tadi aku tidak melihat keberadaannya? Padahal aku bisa merasakan jika Radja ada di sini.


Tiara kembali menyerangku, kali ini dia lebih ganas dari sebelumnya. Aku segera berlari, melompat dan membanting diri ke arah lain demi menghindarinya. Namun, seolah tidak kenal lelah, Tiara tetap menyerang. Aku benar-benar tidak habis pikir. Kembali aku membanting diri ke arah lain, tetapi Tiara membaca pergerakanku hingga cakar besi itu mengoyak lengan kiriku.

__ADS_1


“Ugh.”


__ADS_2