
"Tidak, Nadira!"
Seruan itu memaksaku untuk tetap tersadar. Namun, aura kegelapan yang menguar dan pandanganku yang buram tidak cukup yakin untuk memastikan siapa mereka. Seluruh badan entah kenapa rasanya jadi mati rasa. Padahal aku yakin serangan Kak Ron tidak sekuat itu.
Aku cukup terusik ketika sebuah tangan kekar mencoba menarik tubuhku untuk keluar. Namun, tangan itu menjadi merah seperti terbakar. Entah bagaimana, tanganku bergerak tanpa rencana. Menepis hingga si pemilik tangan tersebut terhuyung ke belakang. Jelas aku tidak bisa menggerakkan tubuh, lantas kenapa tangan ini bergerak dengan sendirinya.
Pandanganku semakin buram dan aura ini menahan pasokan udara masuk ke dalam paru-paru. Sulit bagiku untuk mengetahui siapa yang tengah menghampiri. Namun, lagi-lahi sebuah tangan menerobos masuk dan mengelus puncak rambutku.
"Kegelapan hampir menutupi hatimu," ucap suara laki-laki di hadapanku. Bisa saja Kak Ron, bisa saja yang lainnya. Aku benar-benar tidak dapat memercayai semua inderaku saat ini.
Mataku kembali berkontraksi. Kilasan balik atau masa depan yang muncul secara acak mengacaukan otakku. Ditambah sesak yang menimpa, aku ingin berteriak tetapi tidak terdengar suara apa pun. Seakan aku hanya berteriak dalam hati.
Tunggu. Kenapa ini sama seperti saat aku dan Hana pertama kali bertemu? Aku ingin memastikan dengan menyerukan namanya. Namun, tidak ada sahutan balik.
"Aku tidak bisa." Ucapan si pemilik tangan itu membuat aku kembali fokus. Melupakan pusing atau sakit yang menimpa.
Semakin dia mengelus puncak rambutku, semua aura kegelapan pun menghilang. Sakit meradang menjadi reda. Tidak perlu waktu lama hingga mataku bisa melihat jelas siapa yang ada di sana.
Ingin rasanya aku menagis, memandangi wajah lama yang ingin aku temui selama ini. Wajah pucat dan tubuh yang lebih kurus. Terkecuali senyum dan nada suaranya saja yang tidak berubah. Meyakini jika di hadapanku adalah Radja, laki-laki menyebalkan dan aku nyaris membunuhnya.
"Nadira, lama tidak berjumpa," sapanya, "senang bisa melihatmu lagi."
Aku coba menggerakkan jari-jemariku. Meski berhasi, hanya persekian mili saja yang dapat aku gerakkan. Tiba-tiba tangan Afly menopang tubuh Radja yang hampir jatuh ke arahku. Sementara Kak Ron dan telapak tangannya yang merah pun menghampiri.
Tangannya dia tangkupkan di atas kepalaku. Perlahan kehangatan terasa dari atas mengalir hingga ke ujung kaki. Kak Ron mencoba menyembuhkan, sayangnya radarku mendeteksi hal buruk saat ini.
"Ada bagusnya juga aku membiarkan kamu berkeliaran sendiri, Nadira."
__ADS_1
Dengan tenaga seadanya aku mencari sumber suara. Lirik ke kanan hanya ada hutan, begitu juga kiri. Tidak mungkin di depan. Selama itu Kak Ron dan Afly tengadah dan memicingkan matanya. Hatiku mencelos, kenapa hari ini lebih banyak hal yang tidak bisa aku prediksi?
Bara terbang di atas sana dengan sayap kelelawar. Dengan satu gerakan tangan, tebasan kegelapan muncul tetapi berhasil Afly cegah dengan pelindung cahayanya.
Bagai embusan kencang angin, Bara terbang ke arah kami. Mencoba melawan cahaya yang jelas-jelas itu kelemahan kegelapan. Sayangnya itu tidak berlaku saat ini. Pelindung Afly retak dan aku bisa melihat matanya berkedut seperti tidak kuat menahan kekuatan lawannya.
"Bara hentikan!" ucapku memaksa untuk berteriak.
"Kamu tidak punya hak untuk melarangku!" Aku membelalak. Dia yang berucap tetapi tetap terbang cepat.
Kak Ron melirik padaku, dia lalu beralih pada anak laki-laki lainnya. "Afly, bawa Radja pergi dari sini."
"Tapi, aku bisa mengalahkan Bara!"
"Aku tahu," balas Kak Ron menanggapi Afly, "tetapi Radja lebih membutuhkan kamu. Dia belum pulih total, tetapi ngotot keluar."
Dia hanya mengangguk tanpa pamit. Memapah tubuh kurus Radja menjauh dari tempat kami berada. Aku merasa punggung dan kepala masih sakit, tetapi cukup untuk bertahan selama beberapa menit.
Lux of Valley menguntungkan bagi kemampuan airku. Tidak peduli Bara melaju kencang dengan sayapnya. Aku bisa dengan mudah menghentikannya. Sesuai tujuan awalnya, dia hanya menyerang Kak Ron.
Aku tidak ingin Kak Ron terluka, segera aku memunculkan busur. Membuat busur dari air es Lux of Valley. Dengan satu tembakan, berhasil menerobos sayap Bara.
"Kak Ron, Bara jadi seperti ini karena ramuan Azumi. Aslinya dia tidak jahat!" ucapku padanya.
"Nadira kamu berkhianat?" lirih Bara yang jatuh di hadapanku.
Bara menghilangkan kembali sayapnya. Dia berjalan pelan ke arahku. Cepat-cepat Kak Ron menghadang. Kedua tangannya mengeluarkan energi dan membuat Bara tidak bisa mendekat.
__ADS_1
"Nadira!" bentak Bara di seberang Kak Ron.
"Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti adikku, Bara!" balas Kak Ron mewakiliku.
Kak Ron pasti tahu jika melawan sihir, dia tidak akan bisa menang. Jika fisik, dia tidak punya benda lain untuk melawan selain tangan kosong. Aku tidak mungkin memberi panahan ini.
Semakin pudar energi yang membatasi kami, Kak Ron segera menyikut perut Bara hingga laki-laki itu mengadu sakit. Tidak ingin memberi peluang, kakakku justru menendang. Jika berhasil tertahan dia gunakan kaki lainnya.
Sampai akhirnya dia bisa memelintir tangan Bara dan mengunci pergerakan laki-laki tersebut. Aku menoleh mendapati bayangan hitam besar tiba-tiba muncul, bersaman dengan tubuh Bara yang menghilang. Bayangan itu bertranformasi menjadi laki-laki itu.
"Kekuatan penuh pedangnya kembali," bisik Kak Ron di sampingku.
"Eh?" Aku tidak begitu terkejut, mungkin kekuatannya muncul setelah aku membebaskan ingatan di alam mimpi. Namun, yang menjadi bahan pertimbanganku saat ini adalah cara mengatasinya.
"Tenaga kakak belum pulih sepenuhnya. Tapi, kakak enggak bisa membiarkan Azumi memiliki Bara yang tunduk seperti ini," ucap Kak Ron lagi.
"Tunggu, Kak! Biar aku yang melawannya!" Sayangnya ucapanku tidak digubris oleh Kak Ron. Justru dia berhadapan dengan Bara tanpa keraguan.
Aku bisa melihat bagaimana mata Bara sepenuhnya berubah menjadi gelap dan hitam. Dia menarik pedangnya kembali. Sinar permata itu redup, tidak bercahaya seperti di alam mimpi.
"Dira, kakak senang kamu menerima kakak sebagai keluargamu. Maaf jika setelah ini kakak tidak akan mengenalimu lagi," ucapnya padaku, "kakak akan melakukan regenerasi total."
Aku membelalak, berusaha mencegah dengan memegang lengannya. Namun, tenaga Kak Ron lebih kuat. Hanya hitungan detik, semuanya terlalu silau dan aku hanya bisa menutup mata.
Silau itu perlahan menghilang, bersamaan pedang yang jatuh dari tangan Bara. Pedangnya lebih bercahaya dan terlihat baik-baik saja. Namun, si pemilik justru berteriak seolah kesakitan.
Aku tidak mengerti maksud Kak Ron. Hanya saja, sinar itu seperti menarik niat-niat jahat keluar dari tubuh lawan. Kekuatan besar itu memakan banyak tenaga, terlebih baru saja Kak Ron menyembuhkan Radja.
__ADS_1
Keduanya tumbang. Jatuh terkapar di atas tanah. Aku terlalu lemah. Tidak hanya aku yang bersedih, tetapi langit malam pun turut jatuh ke bawah melalui tetesan airnya.