Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[R2] 02. Reverse Ingatan (1)


__ADS_3

"Vivi ... Vivi ...," gumamku sebelum benar-benar membuka mata. Mencoba menerima kenyataan yang sudah terjadi, tetapi tetap menghantui. Tiap celah membiarkan cahaya masuk. Membauat tempat lembab ini menjadi lebih hangat.


Hanya saja, aku benar-benar ingin menganggap ini mimpi. Tidak peduli aku harus lumpuh sekali pun. Selama Vivian berada di sini, menemaniku.


Sesuai ucapan Vivian, tubuhku pulih. Tanpa ada yang sakit hanya terlalu lemah. Memang sudah berapa lama aku tertidur sebelum berakhir di tempat ini? Sebelah tanganku menonjolkan jam yang retak, sepertinya bekas peperangan dan mereka menggunakannya untuk mengetaui kondisiku. Seharusnya terhubung dengan Bizar.


Aku merasa sesuatu tengah menyumbat saluran pernapasanku. Entah karena tempat lembab ini atau karena tangisanku di dalam mimpi. Orang dewasa benar, beban hidup itu berat.


Saat aku menyentuh pipi agak lengket dan panas, memberikanku satu fakta. Aku menangis. Dari mimpi terhubung pada tubuh asliku. Jadi itu benar-benar terjadi? Aku mencoba memikirkannya kembali. Namun, semakin aku berpikir, semakin kuat pening menghantamku.


"Oh!" Sontak aku menoleh pada suara imut. Berasal dari pintu, dia berjalan mendekat.


Pintu dengan besi-besi berjejer rapi tanpa ada perbedaan jarak sedikit pun. Dia berdiri di baliknya, tempat kebebasan berada. Seharusnya aku bisa berada di sana, bersama teman-temanku.

__ADS_1


"Aku tidak sangka kamu bangun lebih awal, Wadah Reinkarnasi," ucap perempuan berambut panjang tersebut.


Mengetuk perlahan tingkat yang sedang dipegang hingga jeruji tersebut terangkat. Lebih leluasa bagi dia masuk dan aku keluar. Sayangnya aku tidak bisa melakukannnya. Azumi bisa membunuh aku kapan saja. Terlebih ini ranah miliknya, Melarikan diri sama saja dengan menggali uburan untuk diri sendiri.


"Azumi," desisku.


Dia mengangkat kedua alisya sambil menutup mata. Ketika aku kembali melihat, dia tersenyum ke arahku. "Aku lihat tubuhmu baik-baik saja. Kekuatanmu juga berkembang pesat."


"Buat Azumi yakin jika kamu jahat, kamu bisa mendapatkan celah sebanyak-banyaknya."


"Jadi mereka masih menghubungimu ya?" tanyanya.


Aku memasang alis terangkat satu, lalu berseru tanpa pikir panjang, "Mereka siapa?"

__ADS_1


"Jika kamu ingin mengelabuiku, itu tidak akan berhasil, Nadira," seru Azumi.


Entah mengapa hal itu memang sukses membuat aku menahan napas untuk beberapa detik. Namun, tidak bisa membiarkan dia menyadarinya. Meski aku harus memperlihatkan tampang aneh dengan alis yang menyipit dan bibir terbuka sedikit.


Lenguhan pelan kuharap bisa semakin meyakinkan. Dengan menggeleng pelan, lalu aku mengembuskan napas. Kembali melihat pada perempuan bermahkota kegelapan itu sekali lagi.


"Aku tidak mengerti. Mereka siapa?" Aku kembali mempertanyakan hal yang sama.


Azumi refleks menerjang tubuhku. Dia mencengkeram kuat bagian pundak hingga aku meringis. Sakit. Padahal Azumi terlihat sangat lemah dan tidak memungkinkan untuk melawanku.


"Sepertinya kekuatan yang aku keluarkan membuat ingatanmu terbentur. Bagus! Tanpa cairan kegelapan, aku tidak perlu membuatmu lupa," bisik Azumi dengan mata kami yang masih saling bertukar pandang.


Siapa pun yang menatap Azumi dari dekat akan berbahaya. Aku bisa merasakan dari kedua simbol yang bermunculan di bawah mata perempuan itu. Tekanan dari kedua matanya membuat aku sulit menggerakkan apa pun.

__ADS_1


Dia beranjak sekaligus memunculkan sebuah tabung botol dengan sinar merah darah di dalamnya. Itukah yang dinamakan cairan kegelapan?


"Nadira, jika kamu berani berbohong, aku bisa memberikan cairan ini padamu. Tidak peduli jika tubuh kamu akan menolak dan kekuatan Hana menghilang."


__ADS_2