
"Padahal aku enggak selemah dulu," gumamku pada silir yang berlalu.
Aku mengempakan tubuh ke bangku di mana bisa melihat murid-murid yang mengenakan kaos putih-merah dengan lambang sekolahnya. Sama seperti yang aku kenakan, lengkap. Namun, guru olahraga yang satu ini malah membedakanku.
"Itu bolaku!"
Kira-kira suara melengking itu yang sering aku dengar dari permaianan futsal anak gadis. Biasanya posisi kiper aku pegang penuh tanpa ada seorang pun mengganggu gugat putusan. Justru mereka senang, karena akhirnya tidak perlu hanya berdiam diri saja di depan gawang. Itu dahulu, ketika kelas tujuh. Beda guru dengan sekarang.
Aku beranjak dari bangku dengan membawa selembar kertas yang sudah dicorat-coret. Harus disimpan ke meja guru di ruang olahraga. Tanpa perlu konfirmasi aku sudah selesai mengejakan tugasnya. Lagi, aku mengembuskan napas dan memejamkan mataku.
"Kamu bolos?" Itulah yang pendengaranku tangkap setelah menyimpan kertas di atas meja guru.
Ketika berbalik. Aku justru berteriak. "Afly!"
"Paan? Gak usah teriak. Kamu bolos?" tanya laki-laki dengan keringat yang bercucuran dari pelipisnya.
"Enggaklah!" sanggahku, "kamu enggak denger tadi Pak Bambang bilang apa?"
Afly menjepit dagunya. Dia tengadah pada langit-langit ruangan. Raut muka laki-laki itu berubah-ubah. Mengekspresikan apa yang dia pikirkan, hanya omong kosong.
Aku menggeleng melihat kelakuannya yang semakin lama menyerupai Radja. Oh, mungkin juga sudah melebihi. Aku memilih pergi dari ruangan, tidak peduli Afly mau mengerjaiku lagi. Cukup. Ini di sekolah dan aku tidak ingin penggemar perempuannya mengintimidasiku.
"Dira, kata kamu waktu itu Azumi mengambil pasukan dari manusia biasa," ucap Afly tiba-tiba yang ternyata mengikutiku.
Dia berhenti berjalan di belakang, sedangkan aku celingak-celinguk melihat keadaan. Orang-orang sibuk dengan pekerjaan mereka. Maka, aku segera berbalik dan membekap mulut Afly.
"Bisa gak sih, hal itu jangan kita omongin di tempat terbuka kayak gini?" ucapku padanya.
Afly hanya mengangguk, tanpa bersuara. Aku menghela napas dan kembali berjalan sambil melihat-lihat keadaan. Entah kenapa di manapun dan kapanpun ada saja gadis yang melirik-lirik ke arahku. Mereka bahkan meninggalkan fokus pada bola hanya untuk melihat interaksi Afly yang dekat-dekat denganku.
Afly harusnya sadar, sesuai kesepakatan kami di mall. Dia tidak akan bicara lama denganku, kecuali di tempat sepi. Aku menyikut pelan pinggang Afly hingga dia memekik. Namun, dia tidak membalas karena tatapannya teralihkan para gadis yang tengah melihatnya saat ini.
Aku lebih dulu berjalan cepat. Sebelum benar-benar waktu futsal habis dan para penggemar gila mengejarku. Ini menyebalkan. Radja juga seharusnya membantuku, tetapi dia dan bola basket sangat tidak bisa dilepaskan.
"Kalau kamu jalan sambil melamun, nanti kamu kejedot tembok," tegur seseorang.
Aku sontak menoleh ke arahnya dan menemukan anak laki-laki yang baru saja menuruni anak tangga ke lantai dua. Dia membawa dua buah buku paket pelajaran kelas dua. Tidak lupa aku melihat sebuah bandana yang dipakai pada lengan kanan laki-laki itu.
"Oh, Bara? Dari mana mau ke mana?" tanyaku.
"Dari perpus mau ke ke kelas, Nadira," balasnya ramah. Jika aku menengok ke belakang, entah kenapa sulit percaya jika Bara adalah orang yang beberapakali berusaha untuk membunuhku.
Aku meneguk ludah. Kini rasa sakit di kepala kembali menghantui. Ini menyebalkan karena sudah terlalu sering aku merasakannya jika ada di samping Bara. Belum lagi, belakangan aku mendengar panggilan di antara pening yang mendera.
Tolong aku
"Dira?"
__ADS_1
Berat bagiku mengangkat kepala untuk melihatnya. Pandanganku memburam, ekspresi apa yang laki-laki itu tunjukkan padaku. Aku menggeleng. Suara meminta tolong itu terus terngiang. Hingga dadaku ikut sakit. Seolah ada yang mengepalnya begitu kuat. Mengapa panggilan itu mampu memicu sakit pada jantungku?
"Oi, Dira! Aku masih mau ngomong." Aku mendengar suara itu dari belakang. Dia pasti Afly, mengingat aku baru meninggalkannya sendiri setelah keluar dari ruangan.
Afly memegang pundakku. Satu sentuhan yang membuat aku tersentak, terlepas dari apa yang terjadi pada sakit dan seruan itu. Aku menoleh padanya. Berharap dari tatapanku dia mengerti untuk tidak berkata apa pun.
Laki-laki itu tetap mendekatiku bersamaan Bara yang menuruni anak tangga terakhir. Empat mata itu saling bertukar pandang sebelum berakhir melihatku.
"Kamu murid baru yang selalu dikerubungi oleh para gadis itu, kan?" hardik Bara pada Afly, "dan yang membuat orang-orang nyaris telat saat ulangan tengah semester."
"Emangnya kenapa? Salah?" balas Afly.
Aku mengelus dada melihat pertengkaran mereka berdua. "Kalian berdua, udahlah. Oh ya, Afly kita harus ke lapangan. Bara, kamu juga masih ada kelas lho!"
Keduanya sama-sama menggaruk kepala. Kompak sekali. Aku tidak bercanda soal ke kelas. Namun, Bara justru memeriksa jam tangan yang sedang dia kenakan. Setelahnya mengangguk-angguk lalu berpamitan. Begitu juga aku yang mengajak Afly kembali ke lapangan. Entah mengapa aku merasa pertemuan tadi hampir saja.
-----------------------------
Aku kembali menata isi di dalam tas. Bel pulang berbunyi lima menit sebelumnya dan beberapa murid sudah berlalu lalang. Kecuali Demina, aku, Radja dan Afly.
"Dira kamu enggak lupa ada kerja kelompok, kan? Aku bakal share loc, cek ponsel kamu nanti," ucap Demina mengingatkan. "Aku duluan."
Nyaris saja aku lupa. Bersyukur Demina masih maniak akan nilai, tidak ingin terlewat sedikit pun. Pelajaran fisika dan tugas kelompok, aku harus mengingatnya baik-baik. Sesuai yang dia bilang, aku harus memeriksa notifikasi ponsel. Belum ada, maka aku menyimpan ponsel itu di saku rok.
Radja berjalan ke arahku. Dengan satu tangan dia mengangkat tas hingga membuat aku berpikir seringan apa isi yang ada di dalamnya. Tunggu, Radja sering olah raga! Kayaknya angkat pake satu jari juga di bisa, pikirku.
Aku mengetuk dagu selagi melayangkan pandangan ke langit-langit ruang kelas. Selain Demina, aku tidak ingat dengan siapa saja. Jelas bukan dengan Radja, karena aku ingat betul dia ditunjuk ke kelompok pertama.
"Aku enggak inget. Kamu pulang duluan?" balasku padanya.
Bukannya menjawab. Kami justru mendengar suara lain yang berseru, "Kalian gak khawatir sama perlawanan Azumi?"
Radja langsung berbalik menghadap Afly dengan menyilangkan tangan di depan dada. "Apa urusanmu di sini Afly? Ini jam pulang."
"Ja ... kamu enggak boleh gitu," tegurku. Radja memerengut kesal dan mendengkus dia lalu melihat ke arahku.
"Sewot banget sih. Kalau gak mau jawab biar Nadira aja yang bales. Dia lebih baik tuh daripada kamu," balas Afly.
Aku berkacak pinggang padanya. Entah mengapa seharian ini dia malah membuatku kesal setengah mati. Aku meminta Radja kembali fokus padaku. Menjelaskan tentang kerja kelompok dan dia tidak perlu khawatir untuk jam pulang. Pukul tiga sore semua aktivitas, tugas dan perbincangan harus selesai. Radja atau Bizar akan menjemputku untuk kembali ke Twins. Baik sekali. Namun, kali ini aku bersikeras menolak untuk dijemput.
Suasana yang hening di kelas ini membuat aku tidak tenang. Seperti Radja yang baru saja mengalihkan pandangannya pada Afly. Sedangkan laki-laki yang satu itu sibuk bersiul dengan memasukkan tangan ke dalam saku celana.
"Aku enggak mau denger ada penindasan yang menyangkutkan Nadira di dalamnya. Jangan pikir kami hanya akan berdiam diri seperti anak ayam tanpa induk," ancam Radja dengan tatapan yang begitu tajam dia layangkan pada Afly.
Afly mengangguk. "Kami bakal bicara di tempat aman. Tanpa penggemarku, lagian dia satu kelompok fisika sama aku. Aku tunggu di perpustakaan."
"Eh?" gumamku tidak percaya.
__ADS_1
"Aa." Radja mengembuskan napas kasarnya. "Aku titip Dira. Tolong ingatkan dia pukul tiga harus pulang. Kadang dia keras kepala."
Radja menengok pada jam tangannya. Entah kenapa dia jadi lebih panik. "Aku harus menemui Bizar. Dira jaga diri kamu sendiri!" lanjutnya.
Tidak lama sebuah portal hitam muncul. Ulah Bizar pastinya. Aku melihat Radja segera masuk dan lingkaran itu semakin lama semakin kecil. Hingga di ruangan ini benar-benar tersisa hanya kami.
Afly keluar lebih dulu untuk menghilangkan kecurigaan. Tidak lama ponselku bergetar dan menampilkan nomor yang tidak aku kenal. Abaikan saja, lagi pula aku tidak mengenalnya.
-----------------------------
Ruangan perpustakaan masih terlihat sama saja. Rak buku fiksi dan non-fiksi serupa seperti tahun lalu. Tidak ada yang berbeda dari penataan, sedangkan jumlah terlihat lebih meningkat. Mungkin angkatan yang lulus tahun lalu menyumbangkan buku sehingga perpustakaan menjadi lebih lengkap.
Aku melihat Afly duduk di meja yang mengarah pada jendela luar. Dia terlihat sibuk melihat pemandangan di luar sana. Padahal menurutku tidak ada yang seru. Aku mendekati dirinya, sekalian mengambil buku yang bisa membantu tugas kelompok.
"Afly," panggilku.
Dia langsung menoleh. Melepaskan tangan yang menopang dagu ketika memandang keluar. Senyumnya mengumbar, pertama kalinya buatku melihat dia tersenyum.
"Sekarang jelaskan padaku, Nadira!" Aku mengangguk paham.
Segera aku mengaktifkan mode jangan ganggu yang telah Bizar perbarui. Selain kami, tidak akan ada yang mendengar obrolan. Namun, itu mengonsumsi banyak tenaga kata Bizar.
Aku tidak mau mengambil resiko jika penjaga perpustakaan hari ini bukan Miss Merry. Miss Ann tidak mungkin ke mari, karena peri itu harus menjaga Nadia dan memeriksa perkembangan kondisinya.
"Aku belum tau banyak, Bizar masih sibuk. Dia punya banyak urusan dan belum sempat mengabari kami," jelasku.
"Ya, jelaskan aja setahu kamu, Nadira. Ini urgent, aku beneran pengen tahu," bujuk Afly lagi.
Aku menarik kursi di sebelah Afly. Duduk berdampingan dengannya. Entah kenapa aku merasakan mata laki-laki ini tidak juga lepas dariku. Menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Setidaknya itu membantuku lebih tenang.
"Afly kamu inget waktu bantu kita lawan Bara dan Azumi? Sebelumnya dia memaksa anak-anak jalanan menjadi pengikutnya. Aku menghentikannya, tetapi tidak berhasil menyelamatkan diri sendiri.
"Itu berlanjut ketika liburan. Aku baru bangun dari mimpi yang menyiksa. Saat itu Miss Merry dan Miss Ann meminta kami ke pusat kota. Kamu tahu apa yang aku hadapi? Manusia biasa. Dia lebih ganas, semakin menjadi ketika berhadapan denganku.
"Entah kamu mengenalnya atau tidak, Ron Pean, dia membantuku. Sebelum kekuatan jahat menelannya, Kak Ron berhasil menetralkan. Di sana aku tahu, Azumi mengumpulkan manusia sebagai pasukan mereka," tuturku panjang lebar padanya.
Afly diam mencerna apa yang kukatakan. Mimik wajahnya yang begitu serius sangat lucu. Aku ingin mencubit pipinya sekarang juga. Namun, suara ponsel membuatku mengurungkan niat.
"Aku gak nyangka dapet dua informasi yang penting. Pean itu pengawal Hana juga, 'kan? Kenapa kamu mengenalnya?! Nadira, sebenararnya kamu siapa?!"
Aku tersentak ketika laki-laki itu memaki. Dia mengacak-acak rambut seolah kesakitan. Bukannya tidak mau menjawab, tetapi bibirku begitu kelu untuk menjawab. Terlebih di ruangan ini aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
Di belakang sana ada yang berjalan, refleks aku menoleh. Tidak lupa aku melihat pada jam dan memunculkan layar transparan. Mode jangan ganggu masih menyala. Lalu apa maksudnya ini semua?
"Nadira, jelaskan siapa ... siapa kamu bagi Hana? Kamu gak mungkin dia! Kenapa kamu bisa menemuiku, Michio dan Ame?" teriak Afly sekali lagi di sana. Aku benar-benar terdiam. Tepat di akhir kata ketika mataku berpandangan pada sosok yang baru saja masuk ke dalam.
"Aku bisa merasakan kekuatan yang familier di ruangan ini. Tidak aku sangka ...," ucap sosok itu terputus.
__ADS_1
Aku menelan ludah ketika dia menggeleng di ujung sana. Tanganku begitu bergetar, terlalu takut dan cepat untuk terbongkar. Aku masih terbelalak. Apa yang terlihat masih belum bisa aku percaya.