
Tidak selamanya rahasia itu bisa ditutupi— Nadira
“Apa kamu tidak bisa menyuruh orang lain untuk menangani tugas ini, Bizar? Bagaimana jika kepala sekolah mengenali wajah kami?” ucap Radja di jam tangan miliknya.
“Semua sudah aku bagi tugas, beberapa berjaga di sini. Sisanya membantu pemberontakan di wilayah lain. Terus sisa kalian aja. Maka dari itu, aku harap kalian bisa menyelesaikan tugas ini,” balas Bizar. Kami tidak tahu jika saat ini kekacauan pun sedang terjadi di tempat lain. Kami semua sudah siap kecuali tim cerdas cermat. Nampaknya mereka masih berdebat tentang soal matematika yang mereka kerjakan. Aku angkat tangan soal itu.
Aku pun menarik baju Radja, meminta dia untuk segera mencari tahu apa yang terjadi di ruang tamu. Kami mungkin saja bisa pergi tanpa mereka, selagi Bizar memeriksa keadaan dan menghitung berapa banyak monster yang berkeliaran di luar sana. Jadi aku meminta Radja untuk segera pergi dan melerai mereka bertiga.
Bara sempat bingung dengan ucapanku, tetapi dia pergi. Mengatakan terlebih dahulu tentang misi kami, terlebih ini menyangkut nyawa kepala sekolah. Padahal IT mereka sudah kami kalahkan, tetapi kenapa mereka masih menyadari pergerakan kami? Masa iya ada mata-mata lain di antara kami? Aku benar-benar tidak habis pikir tentang semua ini.
Rasanya seperti membuka kado besar yang ujungnya mendapatkan hadiah kecil.
Aku menunggu kabar dari teman-teman, juga Miss Merry. Terkadang aku melihat kabar terbaru dari Bizar, terlebih jumlah monster yang tiga kali lipat dari jumlah kami. Masing-masing harus melawan tiga monster, memangnya bisa? Aku bahkan ragu jika monster itu adalah monster yang mudah dikalahkan.
Alih-alih memikirkan rencana, aku justru merasa jika kami semua melarikan diri dengan kepala sekolah. Melawan dua puluh satu monster itu tidak masuk akal, karena tempat pelatihan sangat terpencil dan jauh dari pemukiman warga. Mereka bisa ditahan dengan kekuatan es milikku, mungkin ditambah dengan penjara kegelapan milik Radja dan Bara.
__ADS_1
“Dira, aku menyerah, mereka tidak berhenti berdebat. Sebaiknya kita pergi sekarang. Kabar terbaru Bizar membuat aku semakin takut. Monster-monster itu sudah menghadang mobil, tinggal menunggu waktu. Sebaiknya kita pergi sekarang, ke mana Bara?” tanya Radja.
“Aku di sini, Miss Merry sudah pergi lebih dahulu. Mari kita pergi. Biarkan saja mereka bertiga dengan perdebatan kecil itu. Kita bisa membicarakan hal itu di lain waktu,” balas Bara.
Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Bizar segera membuka portal agar kami lebih cepat sampai di tempat tujuan. Kami langsung dikejutkan dengan Miss Merry yang sudah menahan pergerakan beberapa monster tanpa takut ketahuan oleh kepala sekolah. Aku segera membantunya dengan membekukan satu per satu monster. Sayangnya ini tidak begitu efektif. Karena monsternya terlalu agresif.
“Kita pergi bersama kepala sekolah dan sopirnya. Suruh Bizar membukakan portal. Nadira, Radja dan kamu Bara ... gunakan kekuatan maksimal kalian!” ucap Miss Merry.
Aku mengangguk. Bara sedang menginformasikan hal tersebut pada Bizar untuk membuka portal secepatnya ke tempat pelatihan kami. Sementara kami berdua sudah mulai berkolaborasi. Aku mengikat para monster dengan kuat. Namun, beberapa berhasil kabur dan aku mulai kewalahan.
Begitu pula dengan Radja, laki-laki itu mulai kewalahan dalam menghadapi monster-monster di depan sana. Bara segera berteriak dan menyerukan nama kami. Aku segera menoleh ternyata portal sudah dibuka. Dengan cepat aku pun berlari ke sana seraya mengibaskan tangan untuk mengikat kuat para monster di belakang sana.
“Merry, sebenarnya apa yang terjadi barusan. Apa yang ... kenapa kamu memiliki kekuatan aneh seperti yang sering aku tonton di TV juga film-film super hero kesukaanku,” tanya kepala sekolah.
“Sebaiknya Anda minum dulu dan tenangkan diri. Jika ada yang terluka, aku akan segera menyembuhkannya sekarang. Namun, jika tidak ada, tenangkan diri Bapak,” ucap Miss Merry dengan santai. Tidak ada wajah kepanikan yang aku lihat sedikit pun dari peri tersebut.
__ADS_1
Pak Tio langsung merampas minuman yang aku buat sebelumnya. Meneguk teh itu dengan cepat hingga tidak tersisa. Sementara sopir yang sudah membawa Pak Tio itu terlihat sangat gugup dan takut. Bahkan memegang gelas saja bisa membuat airnya tumpah ke mana-mana. Pasti melihat semua itu secara langsung sangat menyeramkan. Mereka bukan para wartawan yang selalu mencari mati dengan mendekat ke arena saat kami bertarung.
Rahasia pasti akan terbongkar seiring berjalannya waktu, tetapi yang menjadi pertanyaan setelah ini adalah persepsi orang terhadap kenyataan baru tersebut. Kami tidak bisa menebak bagaimana sifat dari Pak Tio dan apa tanggapannya dengan semua ini. Apa dia akan bahagia atau justru malah kaget dan tidak mau menerima kenyataannya.
Aku tidak tahu bagaimana pendapat pria dewasa tersebut, tetapi jika kami harus memberitahukan identitas kami ... aku hanya sedikit berharap tentang satu hal. Pak Tio akan menutup mulut dan tidak melakukan pencitraan apa pun dengan ini semua. Aku sudah terlalu takut untuk berhadapan dengan orang lain dalam keadaan seperti ini.
Ini membuat aku terlihat khawatir. Pak Tio selalu membangga-banggakan hasil karya muridnya dan membuat banyak orang tertarik masuk ke sebuah organisasi yang jarang peminat pula. Entahlah apa tujuan dari laki-laki tersebut. Karena kami semua sudah sampai dan bisa beristirahat, aku rasa semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dijelaskan karena kepala sekolah sendiri sedang sibuk mengatur kembali susunan kepingan hati yang membuat dia masih menutup mata. Mungkin beristirahat dengan ketegangan yang ada.
Baru saja berharap salah satunya lepas, tetapi kembali terdengar suara gaduh di tempat lain. Pasti kelompok cerdas cermat lagi yang bertindak. Ini benar-benar menyebalkan! Bahkan Pak Tio jadi membuka matanya kembali. Aku menelan ludah, padahal kami baru saja membuat kedua manusia itu tenang-tenang saja. Bahkan bagi seorang Miss Merry yang berniat pergi pun jadi tidak jadi.
“Jelaskan apa maksud dari semua ini, Merry. Lalu siapa ketiga orang ini? Apa kamu berniat untuk mencelakai diri anak-anak remaja dengan mengorbankan mereka di garis depan?” tanya Pak Tio sangat penuh dan beliau menatap kami bertiga dengan seksama. Aku menelan ludah.
Sepertinya takdir kami memang seperti ini. Rahasia ini tidak akan bertahan lama, apa seharusnya kami panggil saja Bizar sekarang?
Tapi ... bagaimana jika Pak Tio kembali mengingatnya?
__ADS_1