
“Kakak memang bilang jika pemilik kekuatannya dibunuh. Lalu, bagaimana jika kita menemukan pengguna hope, Kak? Apa kita bisa menghentikan semua ini? Di dunia roh, Hana dan Mizuki bilang padaku jika itu kekuatan yang bisa membalikkan keadaan,” balasku.
“Itu benar, Dira. Kekuatan itu memang bisa membalikkan keadaan. Jika tidak, Twins tidak akan pernah mengharapkan kehadiran pemilik kekuatan ini. Tapi, ini sudah terlalu lambat untuk mencarinya. Kita bahkan tidak tahu apakah kekuatan itu benar-benar ada atau tidak,” racau Kak Ron seraya tangannya mengobatiku dengan sihirnya.
“Aku memilikinya, Kak. Kekuatan hope ada padaku,” jelasku singkat. Tentu itu mengundang reaksi yang aku perkirakan. Kak Ron membelalak—dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan—atau mungkin dia menganggap aku terlalu mengada-ngada.
Sebelum Kak Ron masuk dalam pikirannya sendiri, aku segera menjelaskan. Awal aku bertemu dengan Hana. Terlempar ke dunia roh sebelum masuk ke dunia mimpi milik Faizal. Kakak terlihat tidak percaya, lalu ekspresinya berubah menjadi pucat pasi. Saat aku menjelaskan keadaan di dunia kai, kakak terlihat tidak nyaman. Aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Namun, sedetik kemudian laki-laki itu menarik diriku ke dalam pelukannya. Bisa aku rasakan kehangatan dan rasa takut Kak Ron menyelimuti.
“Kakak tidak tahu harus berkata apa, Nadira. Apa yang kamu jelaskan terlalu cepat dan aku tidak ingin memercayainya. Meski mendengar kekuatan sehebat itu ada padamu—aku tidak ingin kamu membahayakan dirimu,” ucap Kak Ron.
“Aku sudah sejauh ini dalam bertindak. Kakak tenang saja, aku akan baik-baik saja. Walaupun aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan kekuatan ini dengan maksimal, tetapi aku merasa semuanya akan baik-baik saja,” jelasku sambil mengelus punggung Kak Ron.
Kak Ron segera melepas pelukan dan dia tersenyum ke arahku. “Kamu bukan anak kemarin sore yang selalu meringkuk di atas kasur. Bukan anak lemah yang selalu ditindas. Meski kamu punya kesempatan untuk melarikan diri, kamu tidak melakukannya.”
__ADS_1
Aku balas tersenyum. Memang agak sulit untuk maju, tetapi aku tidak bisa mundur begitu saja. Terlebih setelah aku mengetahui siapa pelaku di balik kejahatan ini. Aku tidak bisa diam di tempat. Di hadapanku Kak Ron benar-benar ketakutan. Meskipun dia sudah melewati begitu banyak masa dan kematian. Namun, kakak layaknya seorang kakak laki-laki biasanya. Menginginkan semua yang terbaik untuk adiknya.
—————————
Aku memasang kembali jam tanganku. Memeriksa setiap fitur yang baru saja Bizar tingkatkan. Semua data hanya berisi tentang Miss Ann, jurnal dan juga lawan-lawan lainnya. Bizar mengisi juga tentang keadaan tiap anggota. Ini membantu kami mengetahui kondisi dan siapa yang harus diselamatkan lebih dahulu. Sebelum pergi, aku kembali meyakinkan diriku.
Di sisi lain, Radja dan Tiara pun bersiap-siap. Laki-laki itu mengobati dirinya terlebih dahulu dengan bantuan Kak Ron. Luka-lukanya agak banyak, tetapi darah dari luka tersebut sudah mengering. Bizar memperbaiki baju laki-laki itu yang sudah terkoyak di mana-mana. Pasti banyak yang terjadi selama aku berdiam diri di tempat ini.
Sementara Tiara memaksa untuk ikut denganku. Tidak ada alasan untuk kami menolaknya, terlebih gadis itu yakin jika dirinya bisa melacak keberadaan Ratih. Terlebih sebelumnya dia memang berhubungan dengan gadis tersebut. Aku tentu percaya. Meski agak takut jika Ratih masih dikendalikan. Terutama kekuatan hope ini masih asing untukku.
“Miss Ann bisa kita hentikan nanti, tetapi melawan dan mencari Ratih adalah prioritas. Kedua, jika ada yang mau berpendapat, sebaiknya sekarang. Jika tidak, aku serahkan pengumuman terakhir pada Radja,” ujar Bizar melalui jam tangan. Tentu saja laki-laki itu tidak akan beranjak dari laboratorium miliknya.
Aku menoleh pada laki-laki yang masih diobati oleh Kak Ron. Laki-laki itu meringis tetapi tangan kanannya masih setia memegang jam tangan. Aku tanpa ragu mendekati laki-laki tersebut. Rasa penasaran dengan apa yang akan mereka bahas pun datang menghampiri. Radja masih bungkam; dia menahan sakit dari luka-luka yang tengah Kak Ron tangani.
__ADS_1
Setelah merasa lebih baik, Radja pun berucap, “Kita akan membagi kelompok menjadi tiga. Ini khusus tim Twins Knight—jangan protes, ini nama yang sangat simpel. Rico membagi tim Defender dan Alwi membagi tim Nirvana Ruins. Jadi sebagai perwakilan aku dan Bizar sudah memikirkan ini semua.
“Nadira, aku, Tiara dan Afly akan pergi menghentikan Ratih. Kalian sudah tahu apa yang akan kami lakukan. Ini memang prioritas, tetapi terlalu banyak orang yang melawan pun tidak akan efektif. Nadira akan berada di garis belakang dan memanah, aku dan Tiara sebagai penyerang sementara Afly akan melidungi kami.
“Candra, Demina, Nadia, Bara ... kalian pergi untuk mencari Miss Ann, hentikan rencananya. Aku yakin kalian semua bisa mencegahnya selama Kak Ron mengobati Miss Merry. Lalu, sisanya jadilah tim penyelamat. Selain menghemat tenaga, kalian harus menyelamatkan warga sekitar. Bizar akan mengirimkan titik kordinat untuk kelompok masing-masih.
Perintah Radja mutlak, tidak ada yang berani untuk membantahnya. Bahkan aku sendiri. Lagi pula waktu kami sangat terdesak. Aku yakin jika monster pun mulai mencari gara-gara dengan kami lagi. Tidak lama, Radja kembali beraksi, pengobatan Kak Ron sudah berhasil.
Kami langsung dibukakan portal oleh Bizar. Tanpa ragu, laki-laki itu segera masuk ke dalamnya, disusul Tiara lalu aku. Aku tidak ingin menoleh ke belakang dan melihat kakak—itu hanya akan memunculkan keraguan di hatiku lagi. Jadi aku memutuskan untuk segera pergi tanpa berpamitan. Di luar sana, banyak orang kesakitan hanya karena kami belum berhasil mengalahkan Tiara dan jurnalnya, juga Miss Ann dengan kelicikan otaknya.
Hari ini aku tidak berminat membiarkan Tiara lolos dengan mudahnya. Seperti yang Radja perintahkan sebelumnya. Aku akan berdiri di garis belakang sebagai pemanah. Padahal bawa saja Irish jika dia ingin mendapatkan penembak jitu. Sayangnya, aku mengerti. Tenaga gadis penembak jitu itu sangat berguna dalam tim lainnya. Sementara aku bisa menggantikannya meski tidak memiliki tembakan yang sangat akurat.
Aku melihat kota sudah hancur. Begitu banyak monster yang berjalan tanpa mengenal arah dan tujuan mereka. Jujur ini membuat dadaku sesak. Rasanya aku ingin menelan ludah. Kami kembali ke nol lagi. Mencari Ratih dan Miss Ann. Mereka tidak mungkin bersama. Bahkan aku yakin jika peri licik itu akan menyembunyikan Ratih di sebuah tempat.
__ADS_1
Tidak lama ada portal ain yang terbuka. Afly terbang di atas langit dan segera menghampiri kami. Laki-laki yang hampir menyerupai menyebalkannya Radja itu pun segera mencubit pipiku. Dia berkali-kali bilang bahwa dirinya sangat cemas. Aku bisa memahami itu, bahkan aku belum sempat berterima kasih atas bantuan Afly sebelumnya. Tanpa dia, aku pasti tidak akan bisa sampai di lokasi Radja dan Candra.
“Ada ide di mana dia akan bersembunyi, Tiara?” tanya Radja dan laki-laki itu mendelik pada gadis yang menggunakan masker. Tatapan mereka sama tajamnya dan siap membelah siapa saja orang yang akan menentang mereka. Sangat mengerikan!