
Sesuai ucapan Bizar, kami pun menunggunya untuk menyelesaikan program. Tidak begitu lama sampai aku mendapatkan notifikasi di jam. Segera aku pun melihatnya dan tertera di sana pusat tempat kami menyimpan bom untuk menyebarkan vaksin. Aku harus menyebarkannya di Bandung. Baru saja mendapatkan info, kami langsung melihat tabung yang cukup besar muncul sebanyak jumlah kami sekarang. Radja dan Tiara segera mengangkatkan kadang mereka memutar tabung yang besar itu dan mencari tahu benda apakah itu. Aku ikut membawanya, tetapi tidak aku sangka benda ini lebih berat daripada yang terlihat.
“Aku mengirim titik kordinat tempat kalian menyimpan tabung ini. Tolong katakan jika kalian sudah siap sehingga Io dan aku bisa menerbangkan tabung menjadi roket dan bum! Vaksin ini akan tersebar seperti asap. Tidak akan ada satu orang pun yang akan terlewat,” jelas Bizar.
“Di sini kami harus menunggu selama sepuluh menit? Baiklah,” ujar Radja.
“Tidak, pergilah sekarang! Kita tidak punya waktu banyak!”
Aku tersentak karena portal muncul tiba-tiba dan menghisap tubuhku. Dengan erat aku memeluk benda berbentuk tabung itu. Jika pertempuran ini berakhir, ingatkan aku untuk menjitak ilmuwan satu itu.
Aku berdiri di atas gedung pencakar langit. Setelah meletakkan tabung tersebut, aku pun menghubungi Bizar. Kali ini tidak akan ada orang yang tersakiti lagi. Namun, yang menyebalkan adalah ilmuwan itu memberikan tugas tidak hanya di satu tempat. Memang benar, terlalu banyak tempat di dunia, sehingga kami pun harus meletakkan tabung vaksin di beberapa tempat, lalu kembali ke Twins.
Kak Ron bilang kami harus kembali karena tenaga yang kami keluarkan sudah cukup terkuras dan harus diperbarui. Jadi aku dan teman-teman pun beristirahat sejenak di Twins, sementara kelompok dua dan tiga akan mencari keberadaan Miss Ann setelah vaksin disebar. Selain itu Bizar juga sudah menemukan titik-titik lokasi yang sekiranya akan digunakan sebagai persembunyian oleh Miss Ann.
“Bizar, kamu jadi labil,” sindir Tiara, “awalnya kamu menyuruh kami untuk diam di tempat dan memberikan aba-aba. Sekarrang kamu suruh kita pulang.”
“Diamlah, Tiara. Kepalaku makin pusing mendengarkan ucapanmu yang sangat panjang dan tidak berarti seperti itu,” balas Bizar tanpa sedikit pun terusik ketika dia mengetik program. Mulutnya juga tidak berhenti bicara dengan orang-orang di bumi. Sepertinya laki-laki ini sudah sangat kelelahan.
__ADS_1
Kak Ron datang bersama dengan nampan berisi beberapa mangkuk sereal. Laki-laki itu segera menyerahkannya kepada orang-orang yang berada di Twins. Saat melihat dengan jelas, ternyata ini bukan sereal melainkan bubur kacang merah. Aku menelan ludah, tidak tahu bagaimana rasanya. Namun, Kak Ron memasak ini pastinya bukan tanpa sebab. Biasanya kakak membuat makanan yang dapat meningkatkan tenaga. Terlebih dia menggunakan kekuatannya agar lebih cepat memulihkan keadaan kami.
Aku memandang Kak Ron ketika melihat Bizar yang tidak sengaja menyenggol bubur kacang untuknya, lalu berceceran di bawah sana. Sebelum air itu mengenai komputernya, aku pun menarik air pada bubur itu lalu membuatnya beku. Sepertinya dugaanku benar. Bizar sudah kelelahan dan dia bisa bertindak melewati batasnya sendiri. Aku membawa makanan milikku, lalu menghampiri laki-laki yang masih keras kepala itu.
“Kamu hampir keluar batas, bagaimana jika kamu makan dulu? Biar aku suapi,” ucapku yang lalu mengambil sesendok bubur kacang merah ke arahnya. Bizar mengangguk dan setuju dengan usulanku. Laki-laki itu membuka mulutnya, tetapi secara tiba-tiba wajah laki-laki itu di tarik ke arah yang berlawanan.
Aku melihat siapa tersangka yang melakukan hal itu. “Bizar, ilmuwan paling gila yang aku kenal. Ayo makan dulu. Nadira pergilah makan, biar aku yang mengurus ilmuwan gila yang satu ini!”
“Apaan sih, Ja? Nadira mau suapin aku, kenapa kamu yang ribet sih? Kamu cemburu karena aku yang disuapi dia? Tunggu bentar ... ya Faizal, letakkan saja di sana. Lima belas menit lagi programnya akan berjaan. Tolong pastikan manusia lainnya sudah dievakuasi selama ... ah, lokasi itu tidak ada Miss Ann? Baiklah, cari di lokasi selanjutnya!”
Aku mengembuskan napas. Bizar benar-benar sibuk. Sekali lagi aku pun berniat menyuapi ilmuwan ini, tetapi Radja menahan tanganku. Tatapan tajam itu seolah menyuruhku untuk makan sendiri bersama teman-teman. Dia benar-benar menyebalkan! Aku lalu menggembungkan pipi dan berjalan menjauh. Membiarkan Radja menyuapi Bizar, sementara laki-laki itu terus mengoceh sambil mencari benda lainnya.
Laki-laki itu lalu kembali dan meminta Kak Ron untuk mengisinya kembali. Bukannya marah atau kesal, kakakku justru menepuk bahu Radja dengan bangga. Sejak kemarin kami terlalu tegang dan kini laki-laki itu membuat keadaan yang keruh jadi terlihat menyenangkan sedikit. Aku lalu kembali menyuapi bubur kacang merah ke mulut sendiri. Seraya menunggu lima belas menit yang Bizar katakan.
Tepat di menit kelima belas, Bizar segera mengumumkan langsung kepada kami. Dia menunjukkan prosesnya pada layar komputer besar miliknya. Semua tabung itu berubah menjadi roket. Tidak hanya itu, mereka terbang lalu memecahkan diri menjadi begitu banyak bagian. Bagaikan hujan roket—atau petasan? Aku tidak tahu, tetapi keduanya terlihat sama saja. Secara tiba-tiba semua benda itu meledak dan asap berwarna ungu pun muncul, menyebar ke segala arah. Bizar sudah memprediksi semua ini.
Kamera pengawas Bizar yang tersebar pun menunjukkan bagaimana monster-monster yang terkena asap itu pun perlahan berubah menjadi manusia. Seperti sihir tetapi lebih luar biasa karena ini mencampur kekuatan Kak Ron, Afly dan Bizar. Mereka orang yang paling berjasa dalam membuat vaksin ini. Rasanya sesuatu yang mengganjal di hatiku mulai pergi.
__ADS_1
Kini misi kami hanyalah menghentikan Miss Ann. Aku segera bangkit dari tempat duduk dan menyiapkan diri, mulai dari persenjataanku. Pedang caladbolg masih baik-baik saja, panah pun bisa aku gunakan lagi. Namun, jika dipikir-pikir hal yang paling tidak bisa aku siapkan bukanlah senjata, melainkan hati.
Terakhir kali aku melawan Miss Ann, aku tidak sanggup. Bahkan peri itu sudah mengenali pergerakan, kekuatan dan pikiranku. Dia juga pasti tahu tentang teman-teman yang lainnya, adakah kesempatan kami untuk menang? Bahkan Miss Merry yang mengatakan bahwa Miss Ann hampir menyamai kekuatannya saja bisa dikalahkan. Aku ragu, aku takut akan pertumpahan darah. Jika hanya aku yang berkorban, mungkin aku tidak akan ragu.
Sayangnya, ini demi tim dan entah kenapa aku benar-benar takut. Perasaanku tidak tenang dan aku tidak tahu harus melindungi yang mana. Semua orang penting bagiku. Lama-lama memikirkannya membuat kepalaku pusing. Setelah menggunakan kekuatan hope, aku merasa penglihatan lainnya tidak muncul lagi. Padahal biasanya di saat terdesak seperti ini akan ada penglihatan yang membantu jalan kami.
Sepertinya aku juga tidak bisa bergantung terus pada kekuatan mistis itu terus. Aku pun melihat ke arah lain. Tepat di mana teman-teman sedang berbagi canda tawa mereka. Sementara Kak Ron kembali ke ruangan medis. Jika dipikir-pikir, sepertinya aku harus meminta saran kakak. Dia pasti tahu apa kelemahan Miss Ann.
Mereka tumbuh bersama di desa yang sama, mungkin saja Kak Ron tahu, jadi aku pun menyusul kakak. Ada beberapa orang sakit di ruang medis. Mereka sedang tertidur pulas, tetapi kakak tidak memedulikannya. Justru kakak mendekati satu ruangan lainnya.
Aku melihat ruangan khusus itu begitu sepi. Awalnya aku ingin memanggil, tetapi suara benda yang pecah cukup mengagetkan diriku.
“TIDAK MUNGKIN!”
Mataku membelalak. Kenapa Kak Ron tiba-tiba berteriak kencang? Segera aku pun menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi. Namun Kak Ron langsung tumbang begitu saja.
__ADS_1