Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 45. Retakan


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, Nadira," panggil Afly, aku lalu kembali melihat padanya. "Semoga kamu baik-baik saja sampai kita pulang sekolah."


Ucapannya benar-benar peringatan. Ketika bel istirahat berbunyi dan aku hanya bisa menelan ludah.


Sejujurnya aku merasa jika peringatan itu menyatakan sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak tahu apa. Ya, aku berharap semua akan baik-baik saja.


---------


Bel jam pelajaran terakhir sudah berakhir. Mulai dari buku hingga alat-alat tulis baru saja masuk ke dalam tas. Aku melihat Afly dan Demina masih sibuk mengobrol tentang pelajaran terakhir.


Ingin mengajak, tetapi malu. Terlebih suasana kelas masih saja mencekam. Orang-orang memang tidak berani mendekatiku atau macam-macam. Pasti mereka masih ingat saat aku bertindak kasar. Akhirnya mereka menilaiku seperti orang aneh. Walau memang itu tidak sepenuhnya salah.


Beberapa siswa mendekati dan aku tidak begitu mengenal siapa mereka. Namun, aku tetap berusaha tenang sambil menunggu pesan masuk dari Radja atau Bizar.


"Heh!" panggil anak perempuan di depan bangkuku.


Aku tidak menggubrisnya, tetapi hal itu menjadikannya lawan bicaraku menggebrak meja. Ruang kelas yang mulai sepi pun memperkuat suasananya. Aku mengembuskan napas, lalu melihat pada para siswa di sekeliling bangku.


Antara penggemar Afly dan orang yang memang suka usil, keduanya ada di sana. Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Harap-harap mereka sama sekali tidak membuat keributan di kelas.


"Untuk apa sih kamu balik lagi?! Udah bolos aja sekalian! Gak perlu bikin kami lebih repot deh. Pak Hisam jadi sering mengawasi kami gegara kamu!" tukas siswa lainnya dan aku tidak paham sama sekali.


Menjawab pasti kena amarah, diam pun bukan jawaban tepat bagi mereka. Serba salah. Aku mana tahu selama absen Pak Hisam justru mengawasi mereka semua lebih ketat. Syukur tidak ada korban lainnya.


Di sisi lain, aku melihat Demina dan Afly mulai menghampiri. Menepuk pundak salah satu siswa dan memamerkan senyum yang cukup mengerikan. Seolah mereka siap mengeluarkan senjata masing-masing.


"Jangan salahkan, Nadira. Itu kesalahan kita dulu. Bercanda sesama teman itu memang wajar, tetapi kemarin kita sangat keterlaluan," ucap Alfy bijak.


Siswa yang pundaknya dipegang oleh Afly justru memelototiku. Tangan sudah terkepal, tetapi tidak sanggup memukul. Namun, para siswa lain tidak kunjung bereaksi dan malah semakin menjadi.

__ADS_1


"Heh, Dira! Kamu pake susuk kan? Mulai dari Radja, Afly sampe Bara deket sama kamu. Jijik kita!" ujar salah satu siswi.


Aku menatap tajam. Tidak terima dengan ucapan gadis itu terhadapku. Tidak masalah dengan persepsi berbeda tiap orang, tetapi ini sudah masuk ke dalam pencemaran nama baik! Mana mungkin aku memakai susuk. Jelas-jelas aku tidak tahu apa benda itu.


Segera aku berdiri dan menampar wajah gadis itu. Ya, aku mulai berani. Tidak peduli bagaimana tanggapan orang. Ini sudah keterlaluan. Bagaimana orang yang selalu berusaha menyelamatkan bumi dari ancaman justru diperlakukan buruk seperti ini. Walaupun aku belum sepenuhnya berhasil, tetapi gadis itu sukses membuat hati sangat terluka karena ucapan.


Pepatah bilang, dibandingkan pedang ... lidah lebih sakit saat menembus hatinya. Memang benar. Terlebih aku sudah tidak sanggup untuk bersabar dengan kelakuan mereka.


"Tolong tarik ucapan kamu! Aku gak pernah diajarkan untuk memercayai sebuah benda seperti itu. Aku dekat dengan mereka itu karena mereka semua adalah temanku!" ucapku lantang.


Seakan tidak percaya mereka hanya memutar mata, membuatku makin kesal karenanya. Aku mencoba tenang karena ini masih batas wajar. Seharusnya tidak dibesar-besarkan.


Bersamaan suara notifikasi masuk ke jam. Aku melihat Demina dan Afly. Mereka juga mengetahui notifikasi apa itu.


"Kalau yang ingin kalian bicarakan hanya ini, aku mohon ... jangan ganggu aku. Harusnya kalian jera, bukannya Pak Hisam bisa saja datang kapan pun?" ucapku lagi.


Sesegera mungkin aku menarik tas dan mengenakannya. Jantungku mulai berdebar tidak karuan. Sesak, seakan tidak ada udara satu pun masuk. Aku membelah formasi mereka yang mengelilingiku. Sampai-sampai kaki, tangan dan bibirku mati rasa. Padahal melawan monster lebih mudah ketimbang menghadapi mereka.


Sampai di depan pintu, aku melihat Bara sedang bersandar di tembok. Laki-laki itu hanya menyilangkan tangan. Sejujurnya aku melihat kepalan di tangan Bara, sepertinya dia sedang menahan amarah.


"Bara," panggil laki-laki di belakangku.


Aku menjeling, ternyata Afly dan Demina mengikutiku. Mereka sudah menggunakan tas masing-masing, meninggalkan para kerumunan itu.


"Aku tahu kamu liat mereka. Jangan dihukum! Bukannya aku mau membela, tapi ... menghukum mereka sama saja membuat Nadira kena imbasnya," jelas Afly.


Bara menarik dirinya. "Dendam mereka tidak berhenti di satu titik saja. Kamu lho yang mengajarkan aku soal itu."


Aku geleng-geleng. Meninggalkan keduanya tidak mungkin. Perlahan aku melihat pada Demina. Dia masih memalingkan muka. Sudahlah. Aku mengembuskan napas, lalu membuka pesan dari Radja.

__ADS_1


From : Radja


To : Nadira


Segera ke taman ketika kalian sudah selesai. Aku dan Bizar akan sedikit terlambat.


Pesan itu ambigu. Bagaimana tidak? Dia menyuruh kami berkumpul lebih dulu, tetapi dirinya sendiri akan terlambat. Perasaanku tidak begitu tenang. Takut jika Azumi yang katanya belum mati ... akan kembali menyerang.


"Kalian jangan berantem di sini. Radja minta kita ke taman," ucapku.


Afly dan Bara sudah saling menarik kerah baju. Jika tidak dihentikan, mereka pasti sudah saling pukul. Sementara Demina sedang membaca pesan, memastikan ucapanku.


"Afly, baca pesan dulu. Nadira, aku lihat pesan milikmu," ucap Demina.


Aneh. Aku menoleh lebih dulu. Orang-orang yang menindasku sedang berbisik, entah merencanakan apa. Maka aku diam-diam menutup pintu. Agar mereka tidak tahu apa yang kamu lakukan.


Sesuai yang diminta, aku mengirimkan pesan di layar transparan itu pada Demina. Entah apa yang terjadi. Namun, gadis itu sedang mengamati pesan dengan teliti.


Meski Bara tidak disuruh, dia juga menyadari satu hal. Segera laki-laki itu mendekat dan berbisik pelan padaku. Dia merasakan aura aneh di sekitar sekolah. Terlihat tidak ada hubungannya dengan pesan, tetapi pesan yang ada pada jam Afly mirip dengan aura itu.


"Radja emang minta di taman, tapi udah diganti. Kita harus ke lapangan. Aneh, kenapa dia ngirim pesannya beda ya?" gumam Demina.


"Radja menyuruh kita berkumpul di lapangan," balas Afly setelah mendengar ucapan Demina.


Aku pun sama bingungnya. Jika dikirim bersamaan, kenapa hanya punyaku saja yang berbeda?


"Bara, apa ini kerjaan kamu?!" ucap Afly yang tiba-tiba menuduh Bara.


"Aku bahkan gak tau apa-apa soal itu! Jadi jangan asal tuduh, Alfy," balas Bara tidak mau kalah.

__ADS_1


__ADS_2