Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 67. Tentang Radja


__ADS_3

Aku tertawa sejenak. Pemikiran Candra tidak salah. Justru itulah yang Bizar peringatkan padaku. Jika mereka terus membagi soal, mungkin akan gawat. Tidak selamanya semua soal bisa dikuasai, ada kalanya harus bekerja sama.


“Candra gak salah. Cuma aku udah coba berdua dan gak berhasil. Bakal susah melatih kekompakan apalagi besok kami harus berhadapan dengan sekolah lainnya,” jelas Irish, “kalau kamu? Aku yakin kamu cemberut bukan hanya karena kami saja.”


“Ini ... aku punya banyak cerita tapi sebelumnya. Apa kalian menceritakan pada Ratih jika kalian berdua akan mengajakku pergi makan di luar?”


“Ini ... aku punya banyak cerita tapi sebelumnya, apa kalian menceritakan pada Ratih jika kalian berdua akan mengajakku pergi makan di luar?”


Setelah pertanyaan itu aku lontarkan, mereka saling lirik. Melihat wajah mereka yang terkesan tidak tahu apa-apa. Aku yakin, tidak ada yang menyebutkan jika mereka berdua tidak menceritakan niat mereka.


Irish bilang padaku, dia dan Demina terkurung di kamar hotel cowok. Tepatnya dia sendiri yang mengurung sampai kurang lebih tiga puluh soal acak sudah mereka kerjakan secara masing-masing. Jadi Irish meyakinkanku jika dia ataupun Demina tidak memberitahu tentang rencana tersebut pada Ratih. Sempat gadis itu bertanya, tetapi aku belum bisa menjawabnya.


Ini masih praduga. Aku tidak mau jika asumsiku ini malah membawa mereka jadi lebih sesat. Aku tidak ingin mereka malah main hakim sendiri. Bisa saja Ratih hanya menebak-nebak. Meski sebelumnya dia sudah membuatku ketar-ketir akan dia yang sadar jika aku mengikutinya. Sepertinya Ratih bukan manusia biasa. Namun, dia tidak memiliki kekuatan magis ataupun elemental. Aku juga tidak melihat dia melawan monster.


Sebenarnya siapa Ratih?


Tiba-tiba pundakku dipegang oleh Demina. Dia tersenyum lembu dengan tatapan yang membulat seperti kucing menanti ikan asin. Segera aku melihat ke depan, di mana ada warung makan bertuliskan nasi goreng. Sepertinya aku tahu kenapa dia manatapku seperti itu. Kak Ron tidak pernah melarangku untuk membeli makan di jalanan, dia hanya minta aku hati-hati. Dia hanya tidak suka jika aku makan mi instan, jadi sepertinya tidak akan ada masalah apa pun.


“Nadira, selain soal Ratih, kamu mau cerita apa? Tumben banget, aku tuh jadi kepo,” ucap Irish, sementara Demina sudah lebih dulu berlari ke warung makan. Meninggalkan kami yang berjalan lebih santai.

__ADS_1


“Soal Radja. Dia jadi nyebelin banget, Irish,” gerutuku.


Irish belum menanggapi karena kami berdua mencari Demina dan segera duduk. Katanya gadis itu sudah memesan makanan, jadi tidak perlu mengulang. Aku tidak masalah, tetapi sepertinya Irish tidak suka. Dia beberapa kali mengomeli gadis tersebut. Aku tertawa pelan, lalu melihat ke sekitar. Banyak orang di sini. Tidak mungkin aku menceritakan soal Alwi dan Rico juga kejadian yang sudah aku alami. Meskipun ditutupi, aku tidak tahu harus menutupinya dengan apa.


“Dira, kamu sendiri yang sering bilang kalau Radja itu menyebalkan. Berarti harusnya kamu sudah terbiasa dengan perlakuannya, kan? Lagian dia bikin ulah apa lagi?” jawab Irish tiba-tiba.


Aku mencoba mencari cara untuk menutupi hal ini. Jika tidak banyak orang, aku bisa saja menceritakan soal Radja yang menganggap Alwi adalah musuh. Namun, keadaan sekitar tidak berkata begitu. Aku harus menggantinya dengan kebohongan kecil. Setidaknya menutupi hal ini demi keamanan pribadi itu tidak salah.


“Kalian enggak bakal percaya! Radja  melarang aku berteman! Takut dia jahat katanya, padahal dia udah bantu aku. Bahkan aku merasa Radja lebih jahat dengan menyuruh aku mempelajari berbagai artikel dalam satu malam!” omelku.


“Kalau temennya cowok, aku yakin, Radja takut kehilangan kamu dan malah peduli sama orang baru. Kalau perempuan, mungkin takut ada ember bocor. Kayak perempuan satu ini,” ucap Demina memberi asumsi.


Aku menggaruk rambut yang tidak gatal. Padahal aku ke  mari hanya untuk bercerita, tetapi mereka malah berkelahi lagi. Adu mulut yang tidak bisa dihentikan oleh siapa pun. Bahakn orang-orang sekitar tidak peduli. Mereka kita kami hanya bercanda saja. Seorang pria tua memberikan dua buah piring nasi goreng. Dia menghidangkannya untuk Irish dan Demina lebih dulu.


Tadi kubilang tidak ada yang akan menghentikannya bukan? Ternyata sebuah nasi goreng hangat dan wangi bisa membuat mereka genjatan senjata dan mulai makan. Aku tidak masalah jika mereka tidak mau menunggu. Lagi pula, aku memikirkan ucapan Demina.


Mana mungkin seorang Radja Adhitama takut kehilangan aku sebagai temannya. Kami sudah saling kenal dan menjadi partner tidak hanya sehari atau dua hari. Nyaris dua tahun kami saling memberi dukung dan rasa percaya. Namun hari ini, seakan-akan kepercayaan itu sudah tidak lagi berlaku dalam matanya. Aku tidak habis pikir. Bukankah Radja memiliki banyak teman selain aku? Seharusnya tidak ada yang dia takutkan.


Alwi dan Rico juga bukan orang yang jahat. Dia tidak seharusnya menduga-duga hal yang aneh. Aku cukup kesal. Namun, aku rasa, aku pun memang salah. Andai aku mendengarkan arahannya untuk belajar, Radja mungkin tidak akan marah. Selama ini hanya dia yang percaya padaku. Baik ketika aku berpura-pura jahat ataupun tidak.

__ADS_1


“Nadira, kamu gak nafsu makan nasi gorengnya?” ujar Demina.


Aku segera melihat hadapanku. Sudah ada nasi goreng utuh. Entah kapan bapak itu meletakkannya. Sepertinya aku terlalu tenggelam dalam pikiran sampai-sampai tidak sadar jika makan malamku sudah sampai.


“Maaf teman-teman, aku melamun,” ucapku jujur. Aku harus meminta maaf pada Radja setelah pulang dari sini. Mungkin kamar hotel laki-laki sudah ditutup. Aku pun mengembuskan napas, lalu mengambil sesuap nasi goreng ke dalam mulut. Harapanku hanyalah Radja yang memaafkanku, sebelum lomba dimulai.


Tiba-tiba kepalaku pusing. Sial, apa karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga? Aku tidak sanggup menahannya. Mataku menjadi buram. Hanya ada sesosok bayangan hitam di sana.


Aku tidak tahu apakah ini karena lelah atau penglihatan lainnya. Namun, aku mencoba tenang dengan terpaksa. Bayangan hitam itu mengambil sebuah buku jurnal yang tidak asing bagiku. Bukankah itu milik Ratih? Kepalaku semakin lama semakin pusing. Aku harus memberitahukan mereka ... Ratih dalam bahaya.


Sebuah kehangatan tiba-tiba muncul. Aku kembali melihat Demina dan Irish. Di sisi kanan dan kiri, sementara aku jadi lebih tinggi. Tunggu, apa?! Aku pun mulai sadar jika ada yang menggendongku di punggung. Apa aku sudah merepotkan mereka? Aku belum bisa berbicara, bahkan mataku terlalu lelah untuk tetap terjaga. Jadi aku memilih untuk melihat kegelapan dan membiarkan kehangatan ini menyelimutiku.


“Makasih ya. Untung aja kamu lewat sini. Aku gak tahu kenapa Nadira keliatan lelah banget, sebaiknya kamu jangan membebani dia dengan banyak artikel. Kamu dan Bara bakal menang dengan mudah,” ujar suara yang aku yakini milik Irish.


“Aku memang bersalah karena membuat dia jadi kelelahan. Terlebih, dia sudah menghadapi dua monster hari ini. Meski dia dibantu, itu pasti menguras tenaganya,” ucap orang yang menggendongku. “Lain waktu, aku bakal bilang makasih. Tanpa ada yang membantu dia, aku yakin Kak Ron bakal naik pesawat dan segera menjemput Nadira.”


Aku memaksakan diri untuk tertidur. Namun, mendengar nama Kak Ron, aku jadi penasaran. Siapa laki-laki yang membantuku?


 

__ADS_1


 


__ADS_2