Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 20. Cara Radja


__ADS_3

“Tolong! Kami terperangkap di sini, tidak mungkin berubah dalam kondisi seperti ini. Saat ini ada lima monster di tengah jalan tol. Aku akan kirim kordinatnya,” ucap Faizal.


Kami semua sedang belajar bersama dan terkejut mendengar pesan dari laki-laki tersebut. Tanpa portal, kami akan sulit sampai ke sana. Terkecuali kami bisa terbang atau memiliki sayap. Sayangnya aku, Demina, Irish, Candra dan Nadia tidak memiliki sayap dan kemampuan terbang. Hanya Afly, Bara dan Radja saja yang bisa pergi. Namun, jika ada lima monster, bukankah kami semua seharusnya turun? Jika tidak, kami akan kalah dalam jumlah ataupun kekuatan.


“Aku ada ide! Afly, kamu bisa membawa salah satu terbang juga kan? Bagus. Nadira, kamu pergi denganku, Bara dengan Irish dan Afly dengan Candra. Sisanya berjaga di sini,” usul Radja dengansuaranya yang tegas. Laki-laki itu segera menumbuhkan sayap di punggungnya, lalu tangannya terulur kepadaku.


“Baiklah, kita pergi ke tempat itu. Demina, Nadia. Tolong lacak kordinat dan kirim ke kami,” ucap Candra.


Aku segera menggenggam tangan dari Radja seraya mengganti bajuku dengan baju tempur secara otomatis. Kami berenam siap untuk pergi. Tidak mau menunggu, Radja berpamitan lebih dulu dan kami segera terbang ke atas langit. Aku tidak begitu banyak bergerak selain mencari-cari kericuhan.


Berada di atas langit membuat mataku sipit. Semua benda di bawah sana menjadi sangat kecil. Karena laki-laki itu fokus menjaga keseimbangan dengan memegang tanganku, maka aku yang harus mendengarkan informasi dari Nadia dan Demina. Meski begitu, Radja justru menyusuri jalan tol yang mengarah pada Jakarta.


Di ujunng jalan sana terdapat asap yang mengepul. Segera aku beritahu Radja dan dia pun memutuskan untuk mendekat ke arah tersebut. Sialnya, sudah ada beberapa wartawan di sana. Kembali aku melihat pada Radja dan laki-laki itu bertindak masa bodoh dengan media massa. Ya, laki-laki itu kembali terbang dan menyerang salah satu monster.


Aku tidak mau kalah dari Radja. Segera saja aku menggunakan tanaman rambat untuk membuat perlindungan, sekaligus menarik orang-orang menjauh dari tempat kejadian. Sebelum ada korban jiwa yang lebih banyak. Perlindunganku hampir beres dan mereka berempat pun datang tepat waktu. Maka segera saja aku menutup wilayah tersebut sampai tidak ada yang dapat mengintip.

__ADS_1


“Maafkan aku, Irish! Kamu bisa menembak dari jarak dekat, kan?” tanyaku seraya melepaskan tangan dari atas tanah.


Irish mengangguk. “Kamu tenang aja. Aku bisa nembak akurat dalam jarak dekat sekali pun.”


Aku bernapas lega. Kali ini ada lima musuh dan kami ada enam orang. Keempat laki-laki akan berusaha menahan monster-monster itu sampai kami bisa melumpuhkan mereka. Tugasku dan Irish adalah menembak mereka dengan panah yang sudah dilumuri jauh-jauh hari. Tembakanku memang tidak seakurat miliknya, tetapi tidak ada salahnya mencoba, dibandingkan aku menahan para monster itu.


Segera aku menghentakkan kaki dan air pun muncul dari bawah. Aku menuntun air itu untuk membentuk sebuah busur es. Sementara Irish, mengambil busur khusus miliknya. Dia mengambil anak panah dan siap untuk mencari bagian terbuka dari musuh. Aku turut menyusul dan menarik tali busur. Sebuah anak panah es pun muncul di sana, dengan noda berwarna ungu terang, cairan pelumpuh.


Kami berdua melepaskan anak panah secara bersama-sama dan tepat pada sasaran. Dua monster lumpuh. Tiga jika yang sedang Radja ambil kekuatan jahatnya pun ikut dihitung. Afly menyingkir dari sana dan segera mengambil kekuatan jahat dari kedua monster tersebut. Syukurlah karena sekarang tersisa dua dan masih ditahan oleh Candra dan Bara.


Mereka berdua terlihat kewalahan dengan musuh yang berada di hadapan mereka. Aku juga ragu jika dua monster itu bisa diambil kekuatan gelapnya. Mereka terlihat berbeda dibandingkan dengan yang sebelumnya. Mataku menyusuri celah salahs atu monster. Tidak ada bagian yang terbuka. Bagaimana caranya aku menebak racun pelumpuh? Saat melirik pada Irish, gadis itu tetap menembakkan anak panahnya.


“Irish, apa dia akan baik-baik saja?” tanyaku penasaran. Candra sedang berusaha untuk mengambil kekuatan kegelapan di dalam tubuh monster tersebut. Namun, tidak ada reaksi apa pun.


Jantungku semakin berdebar. Aku pun segera mengulangi pertanyaanku pada Irish. Gadis itu pun menoleh. “Aku tidah tahu, Dira. Kita harus bersiap atas kemungkinan terburuk. Terlebih di antara kita tidak ada yang menguasi kekuatan medis.”

__ADS_1


Aku mencoba untuk mendekat dengan garis depan. Bara berusaha kuat untuk menahan monster tersebut. Seolah sang monster siap menerkamnya, Bara pun menendang perut yang dilapisi oleh sisik tersebut. Aku segera mengambil anak panah dan menembak ke salah satu jalan yang akan dipijak olehnya. Sehingga es pun muncul dan tepat ketika monster menginjak, kakinya akn membeku.


Monster yang terkapar di tanah mengeluarkan darah merah, layaknya manusia biasa. Aku melihat pada Candra. “Biar aku yanng mengurusnya. Tolong buat satu monster lagi pingsan.”


Segera aku pun mengeluarkan botol yang sebelumnya sudah terisi oleh kekuatan kegelapan monster lain. Aku arahkan botol tersebut pada lawan, seraya airku mencoba untuk menyembuhkan luka dari anak panah. Monster itu tidak akan menyerang, racun pelumpuh sudah bereaksi.


“Dira, kamu berhasil?” Aku mendongak dan melihat Radja pun mulai mendekat. Gelengan lemah aku berikan pada laki-laki tersebut sebagai jawaban. Tetap tidak ada reaksi lain dan rasanya monster ini sudah berada di atas tali hidup dan mati.


“Aku akan mencoba kekuatan baruku. Dira, aku minta bantuan untuk menahan monster ini,” ucap Radja dan aku pun mengangguk.


Laki-laki itu memposisikan monsternya untuk duduk dan aku disuruh untuk menopang pungungnya. Jika ini untuk keselamatan, aku tidak akan menolak apa yang laki-laki itu arahkan.


Tiba-tiba saja tubuh monster ini terguncang hebat. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat menegok ke belakang, Radja sedang berusaha menarik keluar kekuatan kegelapannya. Namun, rasanya sesuatu pun ikut masuk ke dalam tubuhku. Ini menyesakkan.


Pandanganku mulai samar-samar. Namun, aku tetap berusaha tetap sadar. Rasanya semua tenagaku ikut terdorong keluar dan akhirnya tubuhku menjadi lemah. Bersamaan dengan monster di belakangku pun jatuh.

__ADS_1


Aku memaksakan diri untuk melihat monster itu. Samar aku sudah melihat tubuhnya berubah menjadi normal lagi. Tangan dan kaki lengkap. Tidak ada darah yang keluar lagi. Radja menghampiriku dan mengulurkan tangannya. Namun, sebelum aku menerima uluran itu, semua yang aku lihat sudah berubah menajadi warna hitam.


Saat ini tenagaku habis daaku masih bisa mendengar suara akar-akar tanaman yang menjadi penghalang pun mulai roboh.


__ADS_2