
Sebuah sinar ditembakkan pada orang itu hingga jarak antara aku pun agak berjauhan. Tidak mungkin Afly. Laki-laki itu baru saja pulang ke Bandung. Segera aku pun menoleh ke belakang. Hanya ada bayang-bayang dan Alwi tidak ada di sana. Maka aku pun beranjak untuk melihat ke langit. Rasanya seperti de ja vu. Aku pernah mengalami ini dulu. Hanya saja, sekarang aku tahu siapa orang yang berada di langit tersebut. Pelan aku membisikkan namanya.
“Alwi?” ucapku pelan sekaligus mengungkapkan rasa tidak percayaku. Bagaimana bisa laki-laki itu dengan tenangnya mengalahkan lawan.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan orang yang baru aku temui lagi. Alwi. Aku yakin dia adalah orang yang sama dengan hari itu, perbedaannya hanya satu saja. Dulu aku tidak mengenali dia karena hari malam, sekarang dia bahkan menampakkan dirinya padaku. Suatu kebahagiaan karena sekarang aku tahu siapa orang-orang yang sudah menyelamatkanku dan juga teman-temanku selama ini. Syukurlah mereka orang baik.
“Sepertinya ini bukan waktunya untuk kita ngobrol ya, Dira,” ucapknya sambil mengingatkan.
Benar. Aku kembali menoleh pada musuh, dia cukup kuat. Tanpa ragu-ragu lagi, aku pun segera menggunakan kekuatanku untuk menyelimuti es miliknya. Saat ini kami harus menyelesaikan lawan yang satu ini. Tidak mau ada korban bertebaran akibat kami lalai dalam bekerja.
Setelah es milikku mengepung milik lawan. Aku segera menghancurkannya. Dia menjadi marah dan sepertinya akan menyerang tanpa arah. Aku menelan ludah, sepertinya ini akan menjadi sesuatu yang benar-benar buruk jika kami tidak mencegahnya lebih lanjut. Seakan tahu apa yang aku pikirkan, Alwi pun menyerang lawannya dengan menggunakan tongkat miliknya. Aku mengamati dengan seksama, ternyata dia cukup kuat. Bahkan mungkin setara dengan kemampuan Radja yang memiliki kekuatan para naga.
Monster itu berusaha menjangkauku. Namun, aku selangkah lebih cepat dengan menggunakan tanaman sebagai pelindung. Sementara Alwi menyerang. Tidak bertahan lama, aku pun menggunakan panah dan segera membidik kristal kegelapan pada monster tersebut.
Kristal tersebut hancur berkeping-keping dan aku dapat mendengar suara teriakan dari manusia tidak bersalah tersebut. Alwi segera menopang tubuhnya, dia tidak peduli jika ada serpihan lain yang menempel pada tubuhnya. Aku pun segera mendekati. Tanpa berubah wujud, orang-orang pasti akan mengetahui siapa kami. Bahkan aku tidak berani menoleh.
Aku jelas-jelas tahu jika orang-orang di sekitar kami mulai mengabaikan keadaan. Mereka justru mendekati bahaya dengan mengangkat ponsel dengan flash yang masih menyala. Bukti pasti jika mereka sedang merekam aksi kami. Syukurlah, keberadaan mereka cukup jauh, jadi tidak akan mendengar ucapan kami saat berhadapan dengan musuh tadi.
__ADS_1
Maka aku pun menundukkan wajah. Aku tidak mau direkam oleh orang-orang. Meski mereka tidak berani mendekat. Segera saja aku membuat pelindung dari tanaman untuk melindungi privasi kami. Terdengar suara gaduh dari luar sana, pasti mereka mencoba memaksa masuk ke dalam tempat ini. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan Bizar tidak bisa dihubungi juga.
“Kita harus pergi dari sini, Alwi. Sekumpulan orang sudah mengelilingi kita,” ucapku.
Alwi mengangguk. “Sebaiknya aku membawa dia ke rumah sakit. Apa kamu bisa menghindari mereka, Dira?”
Aku berpikir sejenak. Bagaimana caranya agar orang-orang ini pergi dariku? Mereka masih memegang ponsel. Jika itu sudah terpublikasi dan pemerintah tahu, aku benar-benar harus pergi dari tempat ini.
Setelah lama berpikir, aku pun menemukan cara yang tepat. Segera saja aku membisikkannya pada Alwi. Dia pun ikut setuju. Maka aku pun segera membuka perlindungan tersebut. Bersamaan dengan Alwi pergi, aku tetap menunduk dengan tangan yang menengadah dan memunculkan kristal es. Kristal itu aku arahkan ke atas dan hancur berkeping-keping, sehingga pandangan mereka teralih pada hal lain.
oOo
Sepulang kami ke hotel, aku menunggu Alwi sambil mendengarkan penjelasan dari Radja tentang materi debat dan apa-apa saja yang harus diperhatikan dalam perlombaan. Beberapa kali aku pun mengembuskan napas. Sedih rasanya karena Radja tidak memberikanku waktu untuk istirahat walaupun hanya lima menit. Dia benar-benar monster. Aku jadi curiga, Radja tidak akan pernah lelah sebelum masuk ke dalam jam tidurnya. Itu pun, aku tidak tahu kapan dia tidur.
Kali ini aku ditemani oleh Bara. Mendengar aku dalam bahaya, katanya Bara buru-buru naik dari kolam dan membilas dirinya. Namun, baru saja aku beranjak masuk ke kolam lagi, dia pergi keluar. Alhasil dia pun menelpon Radja dan menanyakan keadaanku. Tentu saja laki-laki menyebalkan ini menyebutkan di mana aku. Tidak semudah yang diharapkan, Radja juga menitipkan pesan pada Bara untuk pergi membeli minum dan camilan selagi di luar hotel.
“Camilan pedas, asam dan asin. Lengkap sekali! Emangnya kita mau pesta? Kalau gitu, sekalian aja ajak Irish, Candra dan Demina! Mereka juga pasti sedang belajar, kan?” usulku seraya memilah makanan satu per satu.
__ADS_1
“Enggak perlu Dira, mereka udah punya makanan. Lebih lengkap dari kita. Tahu sendiri Demina itu enggak bisa kalau belajar tanpa camilan. Soal minuman, Candra pasti udah bikin cokelat panas,” ujar Radja.
“Kok kamu tahu?” tanyaku menyelidik. Apakah Radja ini diam-diam suka mengintip apa yang dilakukan teman-teman. Tatapanku dibalas nyalang oleh Radja. Aku berdigik ngeri dan segera kembali menatap pada artikel-artikel yang belum dibaca.
“Kemarin sebelum tidur, Candra kasih kita cokelat panas. Dia bilang bawa sendiri bubuk cokelatnya. Ya, aku juga sependapat dengan Radja,” balas Bara yang tidak dapat diajak berkompromi. Aku hanya mengangguk sebagai tanggapan.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dari kejauhan aku melihat Alwi. Segera aku pun berdiri, tetapi Radja menahan tanganku. Dia terlihat sangat sangar. Pasti karena proses belajar dan latihan lomba ini tidak berjalan sesuai perkiraannya. Aku meminta izinnya untuk bertemu dengan Alwi, tetapi dia menolak. Harus belajar, katanya. Ini sangat menyebalkan. Bahkan Bara tidak membantuku untuk terlepas dari mulut singa yang satu ini. Ralat. Mulut naga, dia kan titisan dari para naga-naga Twins.
“Ja, banyak hal yang ingin kayu ceritakan sama kamu. Ini tentang orang-orang yang sudah membantu kita, aku tahu siapa mereka. Jadi tolong biarkan aku pergi untuk menemui mereka semua,” ujarku pada laki-laki tersebut.
Dia menarik napasnya dalam, lalu segera menoleh ke arahku. “Baiklah. Cepat kembali, kamu tahu kalau orang-orang di sini tidak seaman yang kita kira, Dira.”
“Apa kamu menuduh jika aku berbohong, Ja? Mereka itu beneran orang baik dan udah bantuin aku!”
__ADS_1