
“Ya kamu tidak perlu berlatih dulu, Bizar. Aku dan Bara sudah menemukan salah satu cara untuk menghentikannya. Tapi kami perlu bantuan kamu dan Nadira,” celetuk Radja.
“Eh aku?” Sejujurnya aku benar-benar bersyukur karena cara mengatasi monster itu sudah ditemukan. Namun, tatapan semua orang jadi bertanya-tanya dan sangat ingun tahu. Aku menelan ludah. Setelah ini mereka pasti akan banyak bertanya padaku.
Namun, tidak bisa dipungkiri. Aku juga penasaran dengan cara untuk menghentikan monster-monster di dalam manusia biasa, kira-kira bagaimana caranya? Kenapa aku dibutuhkan oleh Radja dan Bara, semua akan terungkap jika aku ikut bersama mereka bertiga.
--------------------------------------
Aku menunggu hasil pencarian yang dilakukan oleh Bizar. Entah apa yang diberikan Radja dan Bara pada laki-laki itu, tetapi katanya sangat membantu. Namun, ini sudah lebih dari tiga puluh menit dan dia masih berkutat dengan benda itu. Oleh karena itu, aku pun mengembuskan napas.
Radja sibuk memainkan cincin api di tangannya. Dia menolak untuk pergi keluar dan berlatih. Pasti semua akan bertanya pada laki-laki tersebut. Begitu pula dengan Bara. Mereka berdua kompak untuk tidak terlibat dalam hal-hal merepotkan. Terlebih trio orang cerdas di kesatria Twins sangat cerewet dan kritis.
Ini tugas seorang Bizar yang gila akan ketenaran atau tugasnya Afly. Sayangnya anak laki-laki yang populer itu cukup pusing jika harus memahami semua tentang ini. Maka dari itu, Afly selalu menolak untuk bertanya maupun menjawab. Kalau kami bertanya soal cara jitu menaklukan lawan jenis, laki-laki itu pasti akan menjawabnya dengan semangat. Benar-benar raja modus kelas kakap.
“Aku ingin jujur, kebetulan hanya ada kita berempat,” ucapku mencairkan suasana.
Radja segera melirik ke arahku tanpa berhenti memutari cincin api menggunakan jari telunjuknya. “Ada apa, Dira? Kayaknya penting. Apa ini soal pasukan Azumi lagi?”
“Ya,” balasku singkat, pelan aku menarik napas. “Apa di antara kalian ada yang tahu soal sihir terlarang?”
Aku menunggu ekspresi ketiga laki-laki tersebut. Bizar hanya menggeleng lemah seraya mengetik dengan cepat. Sementara Radja melirikku dengan tatapan anehnya. Bara sendiri berpose seolah sedang berpikir keras. Mereka bertiga benar-benar terlihat sangat tidak peduli! Padahal aku sedang bicara serius. Sudahlah, aku pun mengembuskan napas.
__ADS_1
Bara lalu kembali melihat padaku. “Sihir terlarang itu sihir berbahaya. Darimana kamu tahu, Dira? Bagi penggunanya, itu tidak menguntungkan. Jika dipendam berbahaya, jika dikeluarkan pun berbahaya.”
“Aku iseng membacanya di perpustakaan. Saat kalian semua pergi mengurusi kepentingan masing-masing. Dari sana aku berpikir, apakah Azumi menggunakan sihir terlarang?” tanyaku.
Bizar lalu menghampiri kami dengan sebuah gulungan. Dia lalu memanggil robotnya dan segera duduk di sampingku. Berhadapan dengan Radja dan Bara. Setelah itu dia bersuara, menanggapi pertanyaanku.
“Aku tidak tahu soal sihir terlarang. Meski begitu, dari sebuah ramuan aneh yang Radja dan Bara kasih ... aku menemukan 20% sihir terlarang. Sayangnya tidak diketahui siapa yang memiliki kekuatan ini,” jelas Bizar.
“Bizar, kamu coba nanti kamu cari sejarah keluarga penyihir di Twins,” ujar Radja. “Sementara itu, kita harus membuat ramuan penangkalnya. Setidaknya bisa mencegah mereka bervolusi lebih buruk lagi.”
Aku mengangguk dan setuju atas ucapan Radja. Saat ini kami membutuhkan penangkal. Bizar mulai menjelaskan tentang ramuan yang ditemukan oleh Bara dan Radja. Bagaiman reaksinya bekerja dan segenap kebencian juga niat jahat dikumpulkan ke dalam tubuh manusia biasa. Jika dibiarkan nyawa mereka akan terancam.
Cara kedua adalah dengan mengguanakan kekuatan empat pedang, tetapi itu hanya bersifat sementara. Niat jahat bisa muncul kembali kapan saja. Itu juga sangat boros tenaga.
Tiba-tiba suara alarm membuat kami terkejut. Karena terlalu jauh dari komputernya, Bizar segera menggunakan layar transparan di hadapannya. Suara itu masih tetap berbunyi entah ada apa.
“Bizar, ada apa?” tanya Radja dan kami semua penasaran.
“Ada monster yang menyerang dua tempat berbeda. Aku sudah mengirim teman-teman yang berlatih untuk ke sana. Sial. Seberapa banyak mereka. Bara, Radja, aku butuh bantuan kalian untuk mengirimkan racun nanti. Sekarang aku harus membuatnya terlebih dahulu,” jelas Bizar.
Aku membelalak tidak percaya dengan apa yang diucapkan laki-laki tersebut. Namun, sepertinya memang benar. Aku mengikuti Bizar dan berniat untuk membantunya membuat racun pelumpuh. Sementara Bara dan Radja bersiap-siap.
__ADS_1
Bizar mulai mentransfer tiap barang ke atas meja yang kami pakai untuk berdiskusi. Dia juga memunculkan beberapa benda yang tidak aku ketahui. Sepertinya , berada di dekat Bizar pun tidak akan membantu. Maka, aku pun mendekati komputer Bizar.
Di sana teman-teman sudah mulai sampai di dua lokasi yang berbeda. Aku bisa melihat kekacauan yang monster itu perbuat. Mereka semua mencoba untuk mengalihkan pandangan dari monster, sekaligus mengeavakuasi warga sekitar. Padahal mereka terbagi menjadi dua tempat, tetapi mereka sangat kompak. Aku jadi ingin pergi ke salah satunya dan membantu mengevakuasi warga.
Namun, tiba-tiba semua layar menjadi mati. Semua yang terakhir kulihat adalah serangan para monster sangat gila seperti hewan. Aku ingin memanggil Bizar, tetapi dia sedang fokus. Mana mungkin aku mengganggu laki-laki tersebut.
“Bizar! Bizar! Kami membutuhkan racunnya sekarang, atau jika ada cara menghentikan mereka ... tolong katakan!” ucap Candra panik.
“Tolong, monsternya mulai bermunculan kembali. Kami tidak bisa melawan mereka dengan anggota pas-pasan. Cepatlah!” ucap Irish yang sama paniknya.
Aku tidak tahu harus menekan apa dan menjawab bagaimana. Akhirnya aku pun menggunakan jam tangan dan menghubungi keduanya. “Maaf, kami akan segera pergi mengirimkan racunnya. Tolong bertahanlah sebentar lagi.”
Mereka benar-benar dalam keadaaan gawat. Aku terus berdoa, maka secepat itu pula Bizar akhirnya menyelesaikan racunnya. Dia memberikan racun tersebut sebagian pada Bara jura Radja. Menyimpan beberapa untuk keadaan darurat.
Bizar cepat-cepat menghampiri komputernya. Mengutak-atik sesuatu di dalamnya. Lalu mengernyitkan dahi. Matanya jadi sipit dan bibirnya maju ke depan beberapa mili. Suasana laki-laki itu pasti kembali memburuk karena sekarang dua tampilan layarnya yang gelap. Aku baru mau menceritakan apa saja yang aku lihat sebelumnya. Namun, aku urungkan niat.
“Bizar, buka portal. Kami membawa banyak monster,” ucap Candra.
“Bizar! Cepat buka portalnya. Semua sudah berakhir!” seru Irish.
Kami berdua saling melirik, tidak paham apa yang terjadi. Bahkan Radja dan Bara pun belum masuk ke dalam portal. Bizar belum mengetik apa pun. Lalu bagaimana mereka berhasil menyerang? Tidak, tidak. Apa yang terjadi?
__ADS_1