
Ujung-ujungnya aku pergi ke laboratorium Bizar sendirian. Untuk sementara waktu, aku tidak mau mengobrol dengan Radja. Dia menyebalkan. Apa-apaan cara dia mengerjaiku? Dia ingin mengembalikan kekuatan itu pada kakaknya, tetapi ternyata itu hanyalah kebohongan belaka. Jadi aku putuskan untuk pergi saja sendiri tanpa bilang-bilang padanya. Awas saja nanti, aku akan membalas laki-laki menyebalkan itu.
Walau sudah mengira ini hanya kebohongan belaka, tetapi aku masih merasa takut jika semua itu memang dia lakukan. Nanti bagaimana dengan kelompok ini? Radja adalah pemimpin yang baik dan cekatan. Aku bahkan bisa merasa tenang jika dia yang memimpi kelompok ini. Dia pun bisa diajak diskusi dengan mudah. Tidak seperti yang lain.
Jika dia menyebutkan hal itu lagi, aku benar-benar akan mencincangnya! Pada siapa lagi aku akan berbagi keluh kesah? Selama ini hanya dia yang memahamiku karena kami berdua sama-sama bukan pemilik murni dari kekuatan ini. Baiklah, aku akan pikirkan itu semua nanti lagi. Sebaiknya aku berdiskusi dengan Bizar lebih dahulu.
Laki-laki yang satu itu tengah mengetikkan program. Beberapa menguap karena lelah. Lingkar matanya benar-benar hitam. Apa dia tidak tidur? Atau kurang tidur? Ingin rasanya aku mendekati dirinya tetapi takut mengganggu. Terlebih dia terus menguap dan nyaris jatuh ke bawah. Segera saja aku berjalan ke salah satu lemari dan mengambil selimuti di sana.
Jika sudah dewasa nanti, apa Bizar tidak akan keluar dari laboratoriumnya? Minus untuk menghadiri seminar ataupun acara yang berhubungan dengan ilmu IPA. Aku mungkin akan melihat sebuah jenggot besar jika Bizar dewasa nanti atau bahkan rambutnya sudah berubah menjadi warna putih. Aku tidak habis pikir dengan itu semua.
“Zar, kamu kurang istirahat. Jangan paksa tubuh kamu terus. Gak baik,” ucapku seraya memberikan selimut padanya.
Bizar menerima selimut itu dan segera mengenakannya. Dia lalu memutar kursi agar berhadapan denganku. Satu jentikan jarinya membuat para robot mulai melayani dengan memberikan kursi untukku duduk di hadapannya.
“Aku tahu kamu mau bahas apa, tapi bisa kasih aku waktu buat tidur sebentar? Kamu benar, aku enggak boleh maksain diri aku untuk terus lihat layar komputer. Pasukan Azumi juga sudah gila, entah ada berapa banyak karena mereka terus bermunculan di berbagai tempat. Aku bersyukur jika kita masih dibantu oleh mereka,” ucap Bizar.
__ADS_1
Aku mengangguk. Membiarkan Bizar istirahat terlebih dahulu itu penting. Selama ini dia yang bertugas memberikan informasi bukan hanya padaku. Jika diperlukan dia harus memberikan informasi kepada dua tim secara bersamaan. Aku sempat berada di posisinya, jujur saja, aku tidak sanggup jika harus melakukan hal seperti itu. Ini bukan keahlian yang bisa dikuasai oleh sembarang orang saja.
Bizar mulai mengaktifkan kursinya untuk berubah menjadi kasur. Aku pun memilih untuk pergi dari sana. Mungkin mencari jalan tikus lebih dahulu ada baiknya. Pertama-tama mencari di lab milik Bizar. Namun, labnya ada di bawah tanah, apa iya akan ada orang yang masuk lewat jalur tikus? Kecuali mereka sendiri adalah tikus tanah.
Maka aku pun menyusuri satu demi satu tempat yang berada di sana. Meski dipenuhi dengan serangkaian elektronika, laboratorium ini sangat rapi. Beberapa robot di atas meja sedang dipasang oleh Bizar, sepertinya belum sempat dilanjutkan lagi. Sementara di sisi lainnya aku melihat berbagai potongan PCB tanpa ada komponen elektronikanya. Kali ini robot apa yang ingin Bizar buat?
Aku menghampiri meja tersebut, melihat PCB yang sama sekali tidak aku pahami jalurnya. Setelah meletakkan kembali jalur itu, aku melihat sebuah skema ruangan laboratorium. Perlahan aku menarik kertas tersebut dan melihatnya dengan seksama. Siapa tahu aku mendapatkan apa yang dicari.
Seperti yang Bizar bilang, laboratorium ini diisi begitu banyak sensor untuk mendeteksi. Aku bahkan tidak bisa mengingat satu per satu nama dan letak dari sensor tersebut. Namun, di antara skema itu, tidak ada satu pun jalan keluar dari laboratorium. Bizar tidak membuat jalan tikus di tempat ini.
Tapi siapa? Kapan? Andai aku bisa mengetahui semua itu dengan mudah. Jika sebelum ini semua sudah ada yang menyetelnya, maka seharusnya Bizar mengetahuinya. Waktu dia pergi pun tidak ada yang menyentuh komputer Bizar barang sedikit pun. Aku ingat kodenya begitu rumit, terlebih Io ditugaskan untuk menjaga di garis depan.
Apa mungkin mereka mengelabui kami? Tapi kapan dan bagaimana kondisi Bizar? Akhir-akhir ini Bizar selalu begadang dan dia memilih untuk mengawasi komputer selama sehari penuh. Meminum kopi dan makan sereal sebagai pengganjal perut. Sudah pasti ada yang ilmuwan itu sembunyikan dari kami semua. Jika tidak, Bizar pasti akan meluangkan waktu untuk beristirahat total.
Aku memutuskan untuk mengembalikan skema itu di atas meja. Semua ini akan jelas jika Bizar mau menceritakan semuanya. Karena dia memang lebih sering beristirahat jika ada kami. Seakan meminta kami untuk melindung komputer miliknya. Jika kami tidak ada, dia akan kembali gila kerja. Semoga setelah ini aku bisa menemukan petunjuk lainnya.
__ADS_1
Bizar terlihat sangat kelelahan, tetapi aku juga tidak bisa terlalu lama di ruangan ini. Harus kembali berlatih, terlebih Radja dan Bara pun masih berada di sana. Mereka pasti mencariku di bumi dan akan segera datang kemari. Entah kenapa aku ingin mencoba sesuatu sebelum mereka datang dan Bizar bangun.
Jika memang praduga ini benar adanya, aku mungkin bisa menemukan cara orang itu mengelabui kami semua. Jadi aku pun segera pergi ke salah satu rak dan bersembunyi di sana. Dengan tidak melakukan atau mengeluarkan suara keras, ruangan Bizar akan terlihat sangat sepi. Ini yang aku butuhkan, menipu mereka.
Perlahan-lahan aku coba menajamkan telinga, memang tidak bisa seperti Tiara. Namun, gadis itu sudah mengajarkanku dasar-dasarnya dan sekarang waktunya praktek. Aku segera menyingkirkan semua pikiran dan menutup mata. Fokus hanya pada suara. Selemah apa pun frekuensinya. Aku yakin mereka akan datang.
Dugaanku tepat, suara langkah kaki menuruni tangga dapat aku dengarkan. Segera aku membuka mata dan mengintip pelan-pelan melalui rak. Seharusnya aku meminta bantuan Sakura saja untuk hal seperti ini. Namun yang bisa aku lakukan sekarang adalah melakukan semuanya dengan hati-hati. Aku mengepalkan tangan sekencangnya. Saat aku mulai menyadari suara itu semakin mendekat.
Aku segera keluar dari persembunyian dan memunculkan anak pan dengan cepat.
“Kamu tertangkap!!!”
__ADS_1