
Ada sesuatu yang memaksa agar aku terbangun dari sunyinya malam. Gelumat riak yang saling beradu, pikirku hanya khayalan saja. Hawa beku menusuk-nusuk di atas permukaan kulit. Aku mulai menggeser badan, mencari selimut lainnya. Namun, yang aku rasakan hanyalah kerikil-kerikil kecil dan kasar di mana-mana.
Tunggu. Ini aneh!
Perlahan mataku terbuka lebar, hingga rasanya bumantara dapat kulihat jelas tanpa cahaya kelap-kelip di atas sana. Biru dongker menguasai langit di atas sana, itu artinya ini malam yang sama. Namun, jelas aku mengingat kalau tubuhku direbahkan di atas kasur, bukan pasir. Gelombang pasang yang saling beradu, sedikit demi sedikit airnya menyapu ke arah kaki telanjangku.
“Ini di mana?” bisikku pada diri sendiri. Aku mencoba bangkit, mengedarkan pandang ke semua penjuru. Hanya ada pohon-pohon berdiri tegak tidak jauh dari sini. Banyaknya tanaman menjulang ke atas, pohon yang sangat dikenal sebagai pohon seribu manfaat. Sebenarnya ini di mana?
Aku mencoba melihat ke tenggara, terdapat pondok kayu kecil. Meski hanya berhiaskan kulit kerang dan beratapkan daun pohon kelapa, pondok itu terkesan indah dan sederhana. Dorongan kuat bagiku untuk menghampiri tempat tersebut.
Kami telah menunggumu.
Aku tersentak. Panas seketika menjalar di sekitar leher. Spontan aku memegangi bagian leher. Sakit, seakan minyak panas baru saja melalui kerongkongan. Semakin suara aneh itu terdengar, semakin kuat minyak panas itu mengalir. Ini menyakitkan.
Aku pikir aku harus mencari sumber suara dalam benakku, karena tidak akan ada asap jika tidak ada api. Seruan itu terus berulang-ulang tanpa aku ketahui ke mana kaki melangkah. Namun, jelas bukan ke timur, karena pada mimpi sebelumnya aku tidak menemukan apa-apa di sana.
Benar, ini hanyalah mimpi yang entah kenapa terjadi secara berulang-ulang selama tiga bulan terakhir. Bahkan aku begitu yakin jika dalam mimpi ini aku sangat sadar untuk menggerakkan tubuhku. Suara orang yang mengatakan telah menungguku, entah siapa tapi itulah yang membuat tanda tanya besar pada mimpi aneh ini.
Tolong aku ....
Kembali suara lain, kali ini terdengar seperti suara laki-laki, menyerukan permintaan tolong. Entah
mengapa membuat kilas balik tentang penyelamatan di bumi tadi. Suaranya berulang-ulang meminta bantuan. Namun, semakin dekat aku berjalan, suara itu kian menghilang.
“Aku ada di mana sih?” gumamku dengan embusan napas yang turut berlalu.
Tiba-tiba awan-awan hitam menyelimuti di atasku. Ya, hanya di atasku. Entah menagapa, meski aku berlari awan gelap turut mengikuti. Tidak lama setelahnya sebuah benda tajam melesat turun di hadapanku.
Sebilah pedang panjang dengan besi yang begitu tebal, aku tidak bisa membayangkan betapa beratnya pedang tersebut jika aku menyentuhnya. Pada ujung pegangan, terdapat bandul keemasan. Ukurannya yang cukup besar ini membuat aku penasaran.
Aku mencoba untuk memegang tetapi sesuatu menjadi pembatas. Tidak terlihat, tetapi jika aku memukul, pantulan warna-warni bisa aku lihat di sekitarnya. Belum terselesaikan satu, dua pedang lainnya turun ke arah lainnya. Kali ini kedua pedang diselimuti cahaya yang berbeda. Salah satunya merah pucat. Apa ini?
Tolong ....
Gelengan kepala aku layangkan. Setelah ini aku pasti berlari berlawanan, seperti sebelum-sebelumnya. Dunia ini aneh, aku tidak mengerti apa pun. Semakin cepat aku berlari pandanganku pun turut mengabur. Namun, aku bisa melihat sosok gadis yang berdiri di ujung sana menggunakan gaun panjang berwarna biru laut. Air mengelilingi tubuhnya, tetapi ketika tangan itu bergerak air menghampiriku.
“HENTIKAN!” teriakku di alam mimpi ketika air yang menghampiri
semakin lama berubah menjadi es. Ujungnya yang lancip bisa saja menembus
kepala.
Aku terburu-buru bangun. Menutupi muka dengan kedua tangan, jantungku berdebar-debar. Awalan mimpi selalu sama, tetapi kali ini berbeda dari sebelumnya. Mataku turut memanas tanpa sebab. Rekaman suara yang meminta pertolonganku, entah siapa, berputar-putar dalam pikiranku.
Aku memilih menyokong punggung dengan sandaran kasur. Kulirik ke arah nakas. Biasanya aku menyimpan buku harian Hana pada pada rak atas. Haruskah aku mencari petunjuk tentang pedang-pedang itu? Namun bagaimana jika itu hanyalah kebetulan belaka?
-----------------------------------------------------------
Nasi goreng cabai, makanan favoritku tersaji di atas meja makan yang cukup panjang. Aku tidak mengerti kenapa di kerajaan membutuhkan meja panjang meski jumlah keluarga ereka tidaklah panjang. Terutama di sini, kerajaan ini hanya Radja dan aku saja yang makan. Miss Ann dan Miss Merry tidak memakan makanan manusia sebagai energi sehari-hari. Mereka hidup melalui pohon empat musim yang berada di belakang kerajaan.
“Ja, hari ini kegiatan di sekolah ngapain?” ucapku berbasa-basi dengannya. Radja sudah selesai memakan dua suap nasi ke dalam mulutnya, tetapi belum menjawab pertanyaanku. Setelah dia minum air putih, barulah dia menatapku.
“Mid-semester, ulangan-ulangan terjadwal di minggu ini sampai minggu depan. Menyebalkan sekali pelajaran pertama berhubungan dengan fisika,” gerutu Radja.
__ADS_1
“Bukannya kamu suka pelajaran itu?” Aku sangat yakin itu salah satu pelajaran Radja. Jujur, tiap kali Miss Ann mengajar aku tidak paham. Akhirnya peri itu menunjuk laki-laki menyebalkan ini untuk membantuku dalam materi fisika dan biologi. Hanya saja aku menolak jika Radja mengajariku biologi.
Radja tidak pernah melewatkan sedikit pun materi fisika yang didapatnya. Malah dia sedikit mengembangkan rumus sehingga ketika ulangan dia selalu unggul dalam waktu. Meski begitu, aku mengerti Radja hanya bisa menyentuh peringkat tiga di kelas, sementara peringkat satu dan dua di kelas merupakan murid berperingkat
tertinggi di sekolah. Ya, peringkat 1, 2 dan 3 selalu didominasi oleh Irish, Demina dan Candra.
Ketiganya merupakan salah satu rekan kami, sekarang masih tahap terapi untuk mengembalikan
kepercayaan diri mereka. Masa lalu menjadi pemicu trauma terbesar. Saat ini Azumi sudah kembali, tetapi rekan kami belum juga sembuh.
“Aku memang suka pelajaran fisika, tapi kenapa harus di awal? Mending di akhir aja gitu biar aku makin semangat ulangannya,” jelas Radja padaku.
Aku geleng-geleng, lalu memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutku. Harusnya aku tahu kalau Radja itu menyebalkan dan aneh. Setelah mengunyah, Radja beranjak dari tempatnya. Bahkan sarapannya tidak habis, terutama sayuran. Padahal menu kali ini adalah bayam, bagus untuknya setelah beberapa hari ini dia memforsir diri untuk berlatih. Siapa tahu dia bakalan jadi kayak Popaye, tokoh kartun yang langsung kuat jika makan
bayam.
“Ja, kamu harus habisin sarapannya. Gak kasian apa sama peri yang masak?” tegurku, sontak dia menoleh
padaku.
“Aku makan kok, tapi sebagian aku jadiin bekel.”
“Sama sayurnya?” Radja langsung menggeleng, “kenapa?”
“Pertama, bawa sayur itu ribet, Dira. Kedua, aku gak suka sayur dan terakhir aku gak mu makan sayur yang rasanya hambar. Karena kamu yang lagi sakit, kamu yang makan. Deal, bye!”
“Eh Ja!” teriakku. Namun dia sudah berlari ke luar ruangan. Senyum masam langsung tercetak jelas
Radja lagi-lagi berkilah, katanya mau bawa makan, tetapi buktinya enggak. Aku mengembuskan napas dan kembali beralih pada makananku sendiri. Tidak lupa, sayur bayam milik Radja aku pindahkan ke mejaku.
“Oh, Radja udah pergi?” Aku mengangguk-anggukkan kepala, paling juga Miss Ann yang menyapaku.
Kerlap-kerlip itu bertaburan mengangkat piring makan Radja, juga piringku. Kecuali sayur bayam yang baru aku makan sesuap saja. Miss Ann menggunakan sihirnya untuk membawa piring-piring ke dapur dan mencuci sendiri dengan sihirnya. Namun, jika Miss Merry ada di sini, dia akan memarahi Miss Ann dan menyuruhku mencuci piring
sendiri.
Kenapa jadi bahas cuci piring? Dibanding itu aku harus segera ke kamar dan mencari informasi tentang mimpi-mimpi belakangan yang hinggap pada setiap malamku. Selagi gambaran salah satu pedang masih tersimpan di dalam benak, aku tidak yakin nanti sore masih ingat soal pedangnya.
“Eh, Nadira, kamu makan kok cepat sekali? Nanti tersedak lho,” ujar Miss Ann padaku.
Aku membalas, “Maaf, Miss. Ada yang harus aku lakukan sekarang.”
“Tunggu dulu!” Miss Ann menahan pundakku. Entahlah bagaimana dia melesat dengan cepat ke belakangku. “Merry meminta aku mengawasi semua pergerakanmu.”
“Miss Ann, aku hanya membaca buku harian Hana. Ada yang harus aku pastikan soal pedang,” jelasku padanya.
Miss Ann tampak keheranan dengan apa yang aku sebutkan. “Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri, Nadira. Kalau begitu biar aku membantumu mencari tahu. Jadi katakan, ada apa?”
Aku mendorong mangkuk kosong ke tengah meja. Aku menengok ke arah Miss Ann. “Akan aku jelaskan di perpustakaan Miss.”
------------------------------------------------------
“Jadi mimpimu ini sudah ada selama tiga bulan dan kamu baru menceritakannya padaku?” Aku mengangguk.
__ADS_1
“Mimpi itu berulang-ulang, tapi kemarin agak sedikit berbeda. Selain suara yang memanggil, aku melihat pedang. Salah satunya yang aku ceritakan tadi padamu, Miss,” jelasku kembali.
Miss Ann mengangguk, dia terbang ke rak tertinggi di perpustakaan. Menarik salah satu buku tebal di sana. Sebelum turun, dia membuka lembaran halaman pada buku. Jika telinga runcingnya naik turun, Miss Ann mengembalikan buku tersebut ke tempatnya. Mengambil buku yang tidak kalah tebalnya. Begitu saja seterusnya.
Aku sudah menyarankan Miss Ann untuk menggunakan buku harian, tetapi dia menolaknya. Mencari di buku harian akan sulit meski lengkap. Hana memberi sihir pada bukunya agar orang lain yang membuka akan mendapati halaman secara acak. Jika kemarin bercerita tentang pengangkatannya sebagai ratu, besok saat kubuka halaman pertama berubah jadi pohon empat musim.
Miss Ann turun ke bawah dengan membawa buku bersampul cokelat tua. “Buku ini bisa membantu kita. Aku sudah membacanya sedikit dan sepertinya aku tahu apa yang kamu maksud, Dira.”
“Sungguh Miss? Apa itu?” tanyaku, kali ini aku benar-benar penasaran.
Miss Ann memiringkan kepalanya. Dia membuka buku itu terlebih dahulu, menunjuk pada gambar yang hanya dilukis oleh tinta hitam. “Nama pedang ini Crocea Mors digunakan oleh kesatria terdahulu. Aku tidak begitu dekat dengan kesatria ini. Dia sangat tertutup.
“Kesatria itu dipilih langsung oleh raja terdahulu, Kazuhiro, generasi pertama air mata naga. Kesatria ini ditugaskan bersama dengan Mamoru dan Ame. Mereka bertiga diminta untuk menjaga ratu.”
“Ratu? Ratu yang mana? Dan tunggu, Ame?” tanyaku.
“Istrinya Kazuhiro, Dira. Tiga orang ini diberi kepercayaan oleh alam untuk memegang elemen yang ada di dunia ini, utamanya air, api, cahaya dan kegelapan. Aku yakin kamu familier dengan Ame. Seingatku reinkarnasinya yang membantai habis keluargamu.”
Aku membuka mulutku lebar. Sulit bagiku percaya jika Nadialah orang yang sudah menghabisi keluargaku itu dulunya dipilih untuk melindungi seorang ratu. Tapi bukankah masa lalu adalah hal yang telah berlalu? Siapa pun dia sekarang, dia berhak menentukan jalannya sendiri.
“Dira, aku rasa ini adalah petunjuk untuk mengatasi Azumi,” terka Miss Ann.
“Apa? Tidak, ini hanya kebetulan,” kilahku sambil membaca buku tebal tersebut.
Miss Ann menarik daguku untuk menatapnya. “Tidak ada yang namanya kebetulan, Dira.”
Aku ingin membenarkan dan membuatnya menjadi fakta. Namun semua yang aku lihat hanyalah kebetulan. “Miss Ann tahu sendiri bagaimana Nadia membantai habis keluargaku dan menyisakan kakakku saja.”
“Ya, aku tahu kalian berdua makhluk kesepian,” balas Miss Ann.
“Tidak Miss, bukan itu yang aku maksud.”
“Dira, apa kamu tidak memercayai apa yang aku ucapkan? Aku akan memberimu satu rahasia. Pedang ini hanya bisa dipegang oleh mereka, jadi jika kamu mendapatkan pedangnya kamu bisa tahu siapa mereka,” jelas Miss Ann lagi.
Miss Ann tidak menyerah. Dia memegang kedua tanganku, meremasnya pelan. Namun pandanganku tetap menunduk ke bawah. Orangtuaku tidak pernah mengajarkan untuk mendendam, terutama Hana dan roh yang ada di dalam tubuhku. Mereka selalu mencegahnya.
“Baiklah, kamu benar-benar ragu, Dira. Meskipun Nadia salah satu orang yang dipercaya. Dan aku yakin kamu bisa menghilangkan semua kegelapan yang ada di hatinya. Lagi pula, kamu yakin Radja dan Bizar bisa menangani Azumi?” bisik Miss Ann.
Aku menyetujui apa yang Miss Ann ucapkan. Radja dan Bizar tidak mungkin bisa menangani Azumi, ditambah pasukan barunya yang cukup merepotkan. Aku mengembuskan napas.
Namun siapa aku yang bahkan tidak mengenal Nadia. Mengembalikan hatinya bukanlah hal yang mudah. Salah sedikit mungkin akulah yang tersingkir dalam permainan. Miss Ann memilih keluar dari perpustakaan dan menggeser jam belajar. Aku bisa fokus pada pedang itu terlebih dahulu.
Crocea Mors tidak memberikan petunjuk apa pun tentang pemiliknya. Hanya ada kekuatan elemental
kegelapan yang tercantum pada buku bersejarah. Dipegang oleh seorang laki-laki, tetapi di masa sekarang ada kemungkinan reinkarnasinya adalah perempuan. Mengingat suara yang muncul ada suara perempuan dan laki-laki. Memang bisa saja benar Nadia yang memiliki suara tersebut.
Lagi pula aku tidak yakin mereka dapat membantu kami melawan Azumi seperti yang Miss Ann katakan. Jelas-jelas di setiap mimpi itu terjadi, mereka meminta tolong. Menungguku untuk menyelamatkan mereka yang bahkan aku tidak tahu siapa. Namun benarkah? Mungkin yang mereka cari bukan aku, tapi Hana atau Vivian.
Mataku terpejam, mengingat bentuk pedangnya. Semakin lama aku mengingat, perawakan lelaki muncul menjadi bayang-bayang. Suara itu aktif kembali, permintaan tolong entah pada siapa. Air mata menetes tanpa sadar membasahi permukaan buku. Segera saja aku membuka mata. Tanganku gemetar, jantungku mulai berlari-lari seperti pelari. Kepalaku agak pusing dan mengangkat asam lambung, benar-benar mual!
“Apa yang aku lihat tadi?” gumamku. Aku mendongak ke atas langit. Seandainya Radja dan Bizar sudah pulang, aku ingin membicarakan ini dengan mereka. Aku ingin tahu apa yang kulihat.
Benarkah ini petunjuk?
__ADS_1