
Aku meneguk ludah ketika tubuh gadis di hadapanku mulai tertutupi dengan es. Wajahn tirusnya kini dihiasi oleh warna putih yang membekukan tubuhnya. Aku memang bisa merasakan dingin yang tidak normal ini. Rasanya itu menusuk hingga ke dalam tulang-tulangku, sampai aku ingin memeuk diri sendiri. Bahkan kekuatan milikku saja tidak sampai sedingin ini.
“Halo, Nadira? Kenapa kamu menelpon? Aku sedang berlatih,” ujar Radja dan aku tidak peduli.
Tiba-tiba Rima menyerangku dengan es beku yang melayang di sisi kanan dan kirinya. Aku menelan ludah, padahal aku baru mau membalas telepon Radja. Segera saja aku menghindar, tetapi tidak aku sadari jika itu adalah jebakan. Rima mengunci kedua kakiku dengan es. Aku mencoba mendekatkan telapak tangan dengan kaki. Sayangnya, Rima tidak sebodoh para monster lainnya. Dia sadar dan dia segera menyerangku dengan paku-paku es untuk membekukan lawannya.
“Ja, kamu ke sini dalam dua menit atau kamu akan menemukan jasadku sudah membeku,” ucapku berteriak. Aku kesal karena tidak juga bisa terlepas dari belenggu es.
Tidak lama gadis itu kembali melemparkan paku es dan kini mengenai tangan yang memegang ponselku. Namun, aku menyempatkan diri untuk melemparkan ponsel keluar sana. Setidaknya Radja bisa menjawab ucapanku atau mendengarkanku bicara. Ini sangat gawat, kekuatanku tidak bisa keluar.
“Rima dengarkan aku! Jangan biarkan dirimu dikuasai oleh kekuatan kegelapan! Dia hanya akan memperburuk keadaaanmu, tolong tenanglah!” ucapku lantang.
Berharap dia kembali menjadi normal. Aku justru melihat mata gadis itu berubah menjadi hitam. Tidak, sebentar lagi dia akan menjadi monster. Aku bahkan tidak tahu, berapa lama aku akan bertahan dengan keadaan ini? Kapan pula Radja atau bala bantuan datang?
Es ini semakin membekukan tubuhku. Dari luar es ini memang perlahan mengecil, tetapi surutnya itu bukan berarti kekuatan ini hilang. Es ini masuk ke dalam tubuhku, membekukan apa pun yang ada di dalam. Tatapanku semakin pudar karena dingin ini mulai merasuk ke atas kepalaku. Perlahan-lahan tanganku berubah menjadi putih, mirip-mirip dengan lawanku saaat ini.
“Nadira!!! Bertahanlah, kenapa kamu tidak mengucapkan apa pun lagi?” bentak Radja melalui ponselku.
__ADS_1
Aku mencoba untuk bertahan, sesuai dengan ucapan laki-laki itu. Kekuatan airku mencoba untuk menghilangkan energi dari Rima. Tetap berusaha menahan dengan kondisiku yang setengah sadar. Tidak ... aku tidak ingin gagal, tidak masalah jika Kak Ron memarahi diriku nantinya.
Jujur rasanya tidak dapat aku mengerti kenapa Rima seperti ini. Dari mana pula dia mendapatkan kekuatan pasukan Azumi? Namun, perlahan aku mulai mengetahui jawabannya. Tangan yang semakin kaku dan beku, sulit untuk aku lawan dengan kedua kekuatan elemental murni.
Aku menghirup napas karena dadaku sudah sangat sesak dan Rima terlihat tidak peduli. Di hadapanku bukan lagi seorang manusia yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, dia sudah seratus persen menjadi monster. Tentunya gadis itu berniat membunuhku hanya karena kekesalannya yang tidak terpilih dalam lomba. Padahal, jika aku bisa ... aku pun akan menolaknya.
Rima mengepalkan tangannya di hadapanku. Bersamaan dengan itu, ada sesuatu yang meledak di dalamnya dan aku benar-benar kesulitan untuk bernapas. Tenang, mereka pasti datang sebentar lagi. Harapan satu-satunya hanyalah ponsel yang ada di atas lantai. Penghubung antara kabarku dengan Radja dan teman-teman. Pasti di saat seperti ini Bizar juga sedang bertindak.
Memang benar rasa sakit ini menusuk-nusuk seluruh badanku seperti menggunakan jarum. Namun, berangsur-angsur menghilang. Kedua kakiku sudah tidak kuat lagi menopang tubuh dan akhirnya terjatuh. Aku gunakan tangan untuk menahan, setidaknya ini mencegah kepalaku tidak terbentur dan membuat lawan sadar jika aku tidak selemah itu.
Dari kedua tanganku yang membeku, aku melihat sebuah sinar hitam tengah merambat ke atasku. Tidak tahu apa dan tidak tahu seberapa berbahayanya. Dingin ini membunuh semua rasa sakitnya, jadi yang aku bisa hanyalah melihat sinar itu semakin merambat ke atas. Lalu aku melihat pada Rima.
“Kamu ... salah paham. Jangan gunakan kekuatan itu lagi, Rima. Sebelum ini semakin terlambat untuk mengubahnya,” balasku melawan rasa dingin yang menusuk. “Sadarlah, Rima!”
Besar harapanku langsung terkikis begitu saja karena Rima kembali menyerangku. Dia tidak memberikan aku kesempatan untuk berucap apa pun lagi. Aku hanya bisa pasrah jika paku-paku itu datang kembali. Kekuatanku memang tidak stabil dan aku menyesalinya. Rasa kecewa ini mengelilingi hati, tetapi tidak sanggup satu air mata pun keluar dari mata.
Semakin dekat paku itu menghantam, aku bisa merasakan ada sesuatu yang bergejolak. Sesuatu yang terbentuk di dalam hatiku. Kristal kegelapan. Tidak, tidak, semoga itu tidak benar. Tidak ada kekuatan kegelapan yang sedang mengelilingi hatiku. Rima ingin melempariku lagi, tetapi aku berusaha untuk menghindar dengan seluruh tenaga yang tersisa. Jika lebih dari ini, mungkin aku akan berubah sama saja seperti mereka.
__ADS_1
Karena pikiran dan tenagaku yang semakin melemah, aku pasti akan jatuh, paling buruk terbentur. Memang benar aku terbentur, tetapi tidak sekeras yang aku kira. Pelan-pelan aku menoleh pada kehangatan yang ada di belakangku. Radja menahan tubuhku dan dia segera memindahkan tubuhku ke tempat yang lebih aman. Sudut perpustakaan.
Di ujung sana, Nadia berlari ke arahku, sementara teman-teman lainnya ikut dengan Radja. Aku bisa melihat pertarungan mereka samar-samar. Terkadang aku mencoba untuk menahan rasa sakit yang ada di dadaku. Ini menyakitkan dan ini pasti karena kristal yang ada di dalam hatiku. Aku harus segera memberitahu mereka setelah ini, sehingga mereka bisa mengeluarkannya.
“Dira, kamu enggak apa? Ya ampun! Tubuhmu dingin sekali!” ujar Nadia padaku.
“Es ... milik Rima masuk ke dalam tubuhku, Nad,” balasku parau.
“Tahanlah sebentar, aku akan mencairkan es itu dengan apiku. Tolong tetaplah sadar,” ucap Nadia yang begitu khawatir dengan keadaanku.
Aku mengangguk dan berusaha menahan perih dari tangan Nadia yang panas. Ya, gadis itu tengah memegangku, menyalurkan panas dari kekuatannya untuk menghancurkan es di dalam tubuh. Memang aku bisa merasakan es itu menghilang dan entah bagaimana keluar begitu saja dari kulitku. Pandanganku tidak lagi buram dan semuanya terlihat dengan sangat jelas.
“Esnya banyak sekali, ini bisa memakan waktu sehari penuh,” ucap Nadia, “tangan dan kaki kamu masih biru. Sebaiknya aku minta Bizar untuk membukakan portal untukmu. Kak Ron akan segera datang dan mengobati kamu, Dira.”
Aku menggeleng, sambil tertatih aku mencoba untuk berdiri. “Tidak perlu, Nadia. Aku harus menghadapi Rima. Alasan dia menjadi monster adalah aku, jadi biarkan aku ikut mengakhiri ini bersama kalian semua.”
__ADS_1