Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 59. Kecurigaan Terhadap Ratih


__ADS_3

“Lelahnya!” ujar kedua tim bersamaan. Sejujurnya aku pun merasa begitu, tetapi tetap memaksakan diri untuk turun dan pergi makan bersama peserta lainnya. Bagi mereka, kami terlihat seperti orang yang haus akan kemenangan. Belajar hingga malam dan memiliki mata panda sebagai bukti. Namun pada kenyataannya, aku dan teman-teman hanya kelelahan.


Pertarungan kemarin malam sangat gila. Untung saja Bizar bisa membuka kembali portalnya, jika tidak, aku tidak dapat memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Satu keuntungan lainnya aku tidak perlu menghadapi laki-laki itu lagi. Aku belum siap melawan dia dengan kemampuan yang sekarang. Pasti ada cara yang tepat untuk mengatasi ini.


Sambil menyuap satu sendok sup, aku pun mengawasi tim sekolah lawan. Tiara dan Faizal terlihat sangat kesal. Tatapan mereka seolah ingin membunuh siapa pun yang berlalu lalang di hadapan mereka. Aku tidak melihat Bizar di manapun. Sejak kemarin malam, laki-laki itu masih sibuk dengan komputernya. Bahkan dia mengabaikan telepon kami.


“Ada kabar baik, kita semua langsung masuk babak penyisihan. Kabar buruk, aku terlalu lelah untuk berpikir,” ujar Candra yang baru saja datang setelah berkumpul dengan para panitia. Bukannya makan dia justru menyembunyikan wajahnya di antara tangan yang bertumpuk.


“Gimana kalau kita kalahin aja? Terus pulang dan istirahat?” ucap Irish.


Aku nyaris tersedak dengan roti yang sedang aku makan. Aneh saja mendengar seorang Irish yang merupakan peringkat satu di sekolah itu malah ingin mengundurkan diri. Jika aku bisa, aku pun ingin melakukannya. Namun, kami sudah terikat janji meski tidak secara lisan. Kepala sekolah memercayai kami, bahkan dia memberi kami kebebasan untuk berlatih karena tahu tugas kami dalam melindungi bumi ini cukup berat.


Segera kami membereskan makanan karena satu per satu mulai beranjak dari tempatnya. Sepertinya mereka akan bersiap untuk perlombaan, khususnya yang karya tulis dan sastra. Jadwalku dan jadwal teman-teman sangat berbeda. Mereka diharuskan ikut pelatihan bagi tim yang tidak ada jadwal bertanding. Namun, aku baru ingat jika Afly akan pulang dan segera saja jadwal itu menjadi milikku.


“Lomba kamu cuma dua jam kan? Nanti langsung belajar buat debat ya! Awas aja kalau kertasnya udah dibikin jadi bungkus bala-bala,” ucap Radja memperingatiku.


Dengan satu tarikan napas, aku segera menjitak kepala laki-laki yang berada di dekatku. Dia meringis pelan, tetapi itu pun tidak cukup untuk membuat aku puas. Bisa-bisanya dia membuat aku makin panik dengan kumpulan artikel untuk lomba debat. Jelas-jelas aku sedang berusaha untuk menenangkan diri sebelum lomba karya tulis dimulai. Aku sangat takut jika tulisanku acak-acakkan. Aku juga takut jika nantinya ada bagian yang terlupa.

__ADS_1


Setelah makan, mandi dan persiapan lainnya sudah selesai, kami pun berpisah. Aku harus pergi ke aula. Berbekal dengan pulpen dan kertas folio bekas latihan. Karena takut yang berlebihan, aku jadi berulang kali melihat pada isi cerita. Aku ingin lomba ini berjalan dengan baik tanpa harus merombak isi ceritanya.


Ratih terlihat santai. Dia pasti sudah terbiasa dengan ini semua. Aku bisa melihat jika gadis itu tengah sibuk membaca sebuah buku tipis, sepertinya novela. Orang-orang di sekitarku pun bermacam-macam. Tidak hanya berlatih, ada yang tengah bercanda tawa dan ada pula yang sibuk sendiri sambil menunggu bel berbunyi.


Keteganganku tidak berhenti di sana. Saat aku melipat kertas folio, bel berbunyi. Aku menelan ludah, rasa takut kembali menghampiri diriku.


oOo


Aku keluar dari ruangan dengan kepala yang rasanya mau pecah! Jika bisa diilustrasikan, kepalaku sudah berasap sekarang. Menulis selama kurang lebih dua jam untuk membuat satu karangan utuh. Sempat-sempatnya panik dengan pulpen yang isinya habis dan tidak membawa pulpen cadangan. Pintar sekali, dasar aku.


Teringat dengan pesan Radja padaku. Harus belajar untuk lomba debat, tetapi aku masih bersantai di depan aula. Otakku kosong. Percuma jika aku mengisinya dengan keadaan begini. Lebih baik beristirahat. Biar nanti malam saja aku belajar bersama mereka semua. Lalu mataku menangkap basah Ratih yang tengah terburu-buru keluar dari ruangan. Entah mau ke mana gadis itu, tetapi dia sangat mencurigakan.


“Lebih baik aku ikuti saja dia,” gumamku seraya beranjak dari tempat asal.


Ratih pergi keluar gedung sekolah. Para penjaga membiarkannya setelah dia mengatakan bawah dirinya adalah peserta karya tulis sastra yang tidak memiliki jadwal lain. Aku jadi semakin curiga. Jadi aku pun mencoba menirukan ucapan Ratih dan para penjaga pun membiarkan diriku pergi keluar.


Sebelum semakin jauh, aku menyusul Ratih yang tengah menaiki bus kota. Aku tidak tahu dia berencana ke mana, tetapi aku tetap mengikutinya. Kadang kala aku melihat pada jam dan mengaktifkan GPS, jaga-jaga jika terjadi sesuatu padaku.

__ADS_1


Ratih terlalu sibuk membaca buku sampai dia tidak sadar jika aku masuk ke dalam bus. Aku tidak tahu niatnya gadis ini ke mana. Kondisi bus ini masih lenggang dan belum banyak penumpang. Mungkin karena ini sudah mendekati siang hari dan para pekerja sudah berangkat ke tempat kerjanya sejak pagi buta.


Jam tanganku tiba-tiba berbunyi. Aku segera melihatnya sekilas. Ada monster di sekitar sini. Sial, padahal aku ingin bersantai. Tidak tahukah mereka aku sangat lelah? Oh tentu saja mereka tahu, bukankah ini memang rencana mereka sedari awal?  Membuat kami kelelahan lalu memenangkan permainan dengan mudah. Menyebalkan sekali.


Bus ini tiba-tiba berhenti. Semua penumpang kaget, termasuk aku. Sontak aku pun berdiri dan melihat bagaimana mobil-mobil sudah bertumpuk tidak karuan dan tersebar di mana-mana. Beberapa bangunan retak dan ada pula yang terbakar.


“Kita akan memutar arah. Tempat ini sangat berbahaya. Jangan panik, semua masih dalam kendaliku!” ucap sopir bis itu setengah  berteriak agar terdengar hingga bangku di belakang.


Aku segera meminta Bizar mengirimkan lokasi paling memungkinkan. Tidak ada waktu untuk menjelaskan dan aku sangat berharap jika dia membaca pesan dariku. Tepat setelahnya dia mengirimkan pesan untuk cek ponselku, di sana dia sudah meunjukkan jalur paling tepat. Maka aku pun mendekati sopir bus tersebut.


“Pak, kita ke arah kiri saja. Di sana aman dan belum banyak mobil yang berlalu lalang. Jika Bapak mengambil jalur kanan, nyawa penumpang ini dalam bahaya,” ucapku sambil mempertahankan diri sendiri agar tetap bisa berdiri dengan benar di atas bus.


Sopir itu pun melirik ke arahku sekilas. “Darimana kamu tahu jika jalur kiri lebih efektif dibanding jalan kanan?”


 


 

__ADS_1


__ADS_2