
Lalu, kenapa semua orang bisa terhubung denganku? Seperti Kak Ron yang ternyata selalu berinkarnasi—bahkan sudah hidup lebih dari 500 tahun. Kakakku dulunya dipilih sebagai pengawal bagi Hana. Begitu juga teman-teman yang lain. Apa dulu aku orang yang sangat penting? Apakah aku reinkarnasi dari seseorang? Sungguh ... ini membingungkan.
Saat ingatan itu berputar, seluruh tubuhku tetap kaku. Namun, hati, jantung dan kepalku sangat sakit. Beberapa kali ada sensasi dingin, tetapi tidak berlangsung lama sampai panas dan pedih menyerang. Bagai ada yang berperang di dalam tubuhku. Entahlah apa.
Tuhan, izinkan aku untuk hidup lebih lama. Ada janji yang harus aku tepati.
Rasa sakit itu tiba-tiba lenyap begitu saja. Kini dingin menusuk permukaan kulitku dari bawah kaki sampai ke ubun-ubun. Namun, tubuhku masih kaku saat terakhir kali mencoba menggerakkannya. Bahkan, untuk membuka mata saja masih berat. Sungguh, aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Inikah kematian itu?
Aku merutuki diri sendiri, merasakan sakit pada hati yang begitu memilukan. Andai aku tidak berdoa untuk mati, akankah Tuhan mau memberikanku kesempatan lagi? Pikiranku berandai-andai dan jantungku semakin lemah saat berdetak. Aku tidak baik-baik saja. Sebentar lagi aku mati, membusuk, lalu dikuburkan dekat ayah dan ibu.
Tiba-tiba kehangatan kembali menyelimutiku, entah apalah itu. Sejenak dari kegelapan yang kurasakan muncul setitik cahaya. Apa aku harus mengikutinya? Aku tidak tahu apa itu. Meski tidak menghampiri, cahaya itu justru mendekat ke arahku. Berbentuk selendang yang lalu mengikat leher. Sangat hangat. Dari cahaya itu muncul serpihan cahaya lainnya. Apakah ini yang akan aku lihat saat aku mati?
Kali ini aku mendekati salah satu serpihan di sekitarku. Mereka begitu hangat, teduh dan membuat hatiku tenteram. Semua itu kenanganku. Kenangan bersama Radja, Bizar, Kak Ron, dan teman-teman lainnya. Serpihan cahaya yang menghangatkanku adalah teman-teman, orang terkasih. Seakan aku tahu apa yang mereka bisikan, jangan pergi Nadira.
Cahaya itu berkumpul menjadi satu, membentuk bola besar. Semakin lama semakin terang dan membuat aku tidak bisa melihat dengan jelas. Hingga rasanya—entah bagaimana—mataku terbuka dengan mudahnya. Samar-samar aku bisa melihat. Agak buram, jadi tidak aku ketahui di mana ini. Tubuhku masih lemas, tetapi bisa aku rasakan kasur pada bangsal yang sedang aku gunakan. Ini mungkin ruang medis Twins.
__ADS_1
“Vaksinnya bekerja, syukurlah,” ucap Kak Ron. Laki-laki itu mendekat, meski aku belum bisa melihat wajahnya dengan benar. Aku yakin, dia kakakku. “Apa kamu butuh sesuatu?”
“Em ... Kak?” gumamku pelan lalu terasa berat saat mengucapkan dua patah kata saja. Orang dewasa ini sadar, dia segera menggunakan kekuatan penyembuhnya kepadaku.
Tentu, hangat yang sama dapat aku rasakan. Kak Ron mengirimkan kehangatan ini dan menahan tiap sakit di tubuhku. Teman-teman berdoa untukku, sampai ke relung jiwa. Mereka benar, aku tidak boleh mati atau bahkan menyerah begitu saja. Sungguh, aku berterima kasih kepada mereka semua. Padahal beberapa dari mereka masih sangat sibuk, sementara sebagian lagi pun ada di atas bangsal. Terluka parah.
“Keadaanmu belum stabil. Kakak tahu jika kamu sangat khawatir dengan keadaan teman-temanmu. Tapi, untuk kali ini khawatirkan dirimu sendiri. Percayalah pada Bizar, dia akan mengatur segalanya. Kita yang akan menang. Kamu jangan menggunakan kekuatan hope. Itu salah satu sihir terlarang yang biasanya dimiliki oleh gadis berhati tulus.
“Kakak senang kamu termasuk, tetapi ... penggunaannya terlalu beresiko. Selain tubuhmu tidak kuat menahan besarnya kekuatan, musuh juga bisa menjadikan hal ini sebagai kesempatan. Terutama jika Miss Ann tahu. Dia bukan hanya mengincar kekuatan Hana, tetapi kekuatan hope untuk mengubah keadaan,” jelas Kak Ron hampir menjawab semua pertanyaanku.
Rasanya memuakkan hanya berbaring dan menyaksikan Kak Ron pergi ke sana-sini dengan robot yang Bizar buat. Dia sibuk mengobati orang-orang terluka. Aku mencoba mengira-ngira, ini hari apa dan sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Namun, semua itu sirna ketika melihat Bizar datang dengan mengaktifkan layarnya.
“Kak Ron, aku rasa vaksin ini harus dibuat lebih seperti asap. Kita simpan di beberapa titik pusat lalu membiarkannya jatuh seperti air hujan. Dengan begitu, monster-monster yang berperang akan tetap terbasahi oleh vaksin .... Oh hai, Dira, kamu sudah sadar? Syukurlah .... Tidak Radja, di sana terlalu banyak musuh ... oke ya, kerja bagus, berhati-hatilah,” ucap Bizar dan tidak sedikit pun aku pahami.
Seandainya Bizar sebuah robot, aku yakin jika robot itu akan berhenti bekerja dalam hitangan detik. Terlalu banyak informasi dan perintah. Namun, ini Bizar. Dia bekerja dengan cepat, tepat dan ringkas. Laki-laki itu kembali berjalan, lagi-lagi seperti tahu kapan dan di mana barang-barang sekitarnya. Tidak peduli itu benda mati atau robot-robotnya. Aku tahu sekarang kenapa laki-laki ini disebut sebagai monster. Bahkan oleh musuh. Keluarkan segala kekuatanmu. Inilah kekuatan Bizar, mengorganisir segala hal. Bahkan mungkin mengendalikan pikiran tiap orang melalui program pun bisa dia lakukan dengan mudah.
__ADS_1
“Bizar, sebelum kamu pergi, jangan lupa minum vitamin. Menggunakan kekuatan penuh membuat kamu sangat berantakan. Tenagamu juga akan lebih cepat habis,” ujar Kak Ron, dia lalu melirik ke arahku. “Adikku juga sangat mengkhawatirkanmu.”
“Aku tahu, aku bisa membaca pikirannya. Oh ... apa?! Baiklah akan aku bukan teleportasi ke tempat yang dituju ... Afly pergi dari sana, serius, monster di dekatmu akan meledak. Kalian semua berhati-hatilah, di antara semua monster, ada yang palsu. Monster palsu bisa meledak kapan dan di mana saja,” ucap Bizar lagi. Laki-laki yang sangat sibuk.
Kak Ron kembali mendekat, dia mencoba mencari tahu keadaan terbaru tentangku. Sejujurnya, aku mulai bisa menggerakkan tubuh. Justru sangat ringan. Namun, tenagaku terlalu lemah untuk menggerakkannya, alhasil diriku tetap berbaring.
“Pengobatannya benar-benar cepat. Nadira, kamu bisa pergi di malam hari. Sebenarnya kakak ragu untuk menurunkanmu ke bumi, tetapi semua orang memerlukan bantuanmu. Radja mencari si pengendali dan kakak rasa ... hanya kamu yang bisa membantunya,” ucap kakak sambil melihatku dengan nanar.
“Aku paham, Kak Ron. Tolong ... bantu aku sembuh. Dira ingin membantu mereka semua,” balasku penuh keyakinan. Kak Ron mengembuskan napasnya, dia lalu mengangguk.
“Kakak akan mengusahakannya. Kamu sabarlah. Malam nanti adalah babak final. Lawan kita saat ini tangguh, padahal bukan melawan dalangnya,” jelas Kak Ron, “jika kamu terjebak di dalam sebuah mimpi, kami masih bisa menyelamatkanmu karena Radja terhubung dengan alam naga. Namun, jika kamu terjebak di dalam sebuah buku, kami tidak tahu harus melakukan apa.”
Aku bergeming. Buku. Jurnal. Jika benar Ratih adalah sosok bayangan hitam yang kulihat, apakah maksudnya kekuatan itu berada pada jurnal yang sering dia tulis? Aku tidak tahu kenapa hati ini berdesir bagai terbawa ombak. Musuh begitu dekat, tetapi kami baru menyadarinya. Benar-benar mengesalkan.
Ratih, tidak cukupkah kita bersaing dalam lomba menulis cerita saja?
__ADS_1