Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 85. Tidak Mungkin!!! Tidak Percaya!


__ADS_3

Kepalaku benar-benar berat. Kami masih harus mengejar Ratih. Namun, kondisi Tiara sangat parah—begitu pun dengan diriku. Aku ingin memercayakan hal ini kepada Radja, tetapi tanpa berbicara pun, laki-laki itu sudah menatapku dengan tajam.


Radja segera mengembalikan bentuk tangannya. Dia pun memanggil Naga Putih dari atas langit hingga menembus gedung ini. Aku paham, Radja akan membawaku dan Tiara ke Twins.


“Bagaimana dengan Ratih? Ja, biarkan aku ikut denganmu,” ucapku pelan.


“Aku menolak, Dira. Tubuhmu sudah sangat lemah. Tidak apa, aku akan melawan Ratih seorang diri,” ucap Radja tegas, tidak menerima argumenku yang lain. Namun, aku tetap bersikeras dan menepis ketika laki-laki itu ingin mengangkat tubuhku ke atas Naga Putih.


“Ini bukan waktunya untuk istirahat. Semua orang sudah bekerja keras dan sekarang kamu menyuruhku kembali semudah itu? Aku percaya padamu,” ucapku.


Radja mengembuskan napasnya. Dia masih mendekatiku—tidak. Laki-laki itu sudah seperti orang jahat dan kini dia memukulkan tangannya pada tengkukku. Kepalaku yang sebelumnya terasa berat, kini sudah tidak dapat dibendung. Samar-samar aku bisa mendengarkan ucapannya.


“Maaf.”


-----------------------


Saat aku terbangun, besar harapanku melihat dunia kembali tersenyum. Langit biru yang begitu cerah atau hari Senin yang selalu membuat orang kesal. Tidak ada lagi monster atau kekacauan. Aku menginginkan dunia yang baik-baik saja. Itu harapan dan hal yang ingin aku wujudkan dengan kekuatanku sendiri. Sayangnya, sampai sekarang itu hanyalah angan.


Tidak seperti kemarin tubuhku sangat kaku. Kali ini ketika bangun, tubuhku terasa ringan. Ruangan ini begitu identik dengan aroma ramuan. Sepertinya Kak Ron berusaha keras dalam menangani orang-orang yang terluka. Aku segera memperbaiki posisi, punggungku lelah untuk berbaring. Mungkin kali ini aku tertidur cukup lama. Di saat bersamaan Bizar masuk dengan keadaannya yang benar-benar kacau.

__ADS_1


Aku menyapa ilmuwan muda yang satu itu, tetapi Bizar tidak menjawabnya. Aku pikir dia memang sedang lelah dan mengabaikan ucapanku. Bisa saja suaraku yang terlalu lemah sehingga tidak sampai padanya. Namun, meski aku bicara di dalam hati pun, Bizar tidak membalasnya. Seolah laki-laki itu memang mengabaikanku. Ini aneh. Apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?


Sebelum turun dari bangsal, aku meregangkan tubuhku terlebih dulu. Aku mengikuti ke mana Bizar berjalan. Ternyata di pergi ke ruang laboratorium. Hampir semuanya ada di sana dengan wajah yang lesu dan ada jejak air mata di sana. Aku tidak mengerti dengan situasi ini. Apa yang sudah terjadi? Ingin aku tanyakan, tetapi bibirku kelu. Tak ada satu kata pun yang mampu keluar. Terlebih ketika aku melihat apa yang ada di hadapanku.


Layar transparan itu menunjukkan seseorang baru saja terbunuh. Tanganku gemetar. Apakah itu berita kematian? Berapa lama aku tertidur hingga tidak tahu tentang hal ini? Perlahan aku pun mendekat ke arah layar itu. Aku mengabaikan orang-orang di sekitar. Justru, mereka sendiri mengabaikanku. Seakah aku benar-benar tidak ada.


“Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi,” ucap Bizar sangat pelan, tetapi aku masih bisa mendengarnya. “Bagaimana reaksi Nadira jika dia sudah sadar nanti?”


Reaksiku? Aku bergeming. Tidak paham dengan pertanyaan Bizar. Aku sudah sadar dan ada bersama mereka. Namun, mereka tetap menganggapku tidak ada? Apa ini hanya mimpi? Tidak ingin peduli, aku kembali melihat ke arah layar. Kini benda canggih itu menampakkan keadaan kota—ralat dunia—sudah kacau balau. Mulutku terbuka sedikit, padahal kami sudah berusaha keras untuk menyelamatkan dunia.


“Kak Ron, Kakak sudah hidup lebih dari lima ratus tahun. Sekarang katakan, apa ada cara untuk menghentikan kekuatan Ratih? Kita tidak bisa bersembunyi, muncul untuk melindungi tanpa bisa melawan. Kita sudah sejauh ini, dan ....” Tiba-tiba Demina berhenti berucap. Gadis itu langsung menjatuhkan air matanya. Aku masih tidak paham dengan apa yang terjadi


“Maaf ... maaf. Ini salahku. Andai aku tidak terkena sihir, aku pasti tidak akan menyerang Radja dan Nadira. Membawa mereka ke dunia Kai. Andai saat itu,” ucap Tiara tetapi Kak Ron memotong ucapannya.


“Ini bukan salahmu. Bahkan jika Nadira sadar, dia tidak akan menyalahkanmu. Apa yang terjadi memang sudah takdir. Aku menyuruh kalian semua untuk bertahan karena sia-sia saja menyerang. Adikku bukan Hana, dia tidak bisa menggunakan kekuatan penuh dan melawan sihir terlarang. Bahkan demi melawan tanda pada leher kalian berdua, dia harus kelelahan.


“Kita harus memikirkan siapa yang harus diselamatkan terlebih dahulu. Miss Merry atau Radja. Siapa yang harus kita kalahkan? Miss Ann dengan rencana jahatnya atau Ratih dengan sihir terlarangnya. Kita tahu, orang yang mengendalikan monster adalah Ratih,” jelas Kak Ron.


Mataku membelalak. Radja dalam bahaya? Bagaimana mungkin! Memoriku berputar dengan cepat. Laki-laki menyebalkan itu memang melarangku untuk ikut. Tubuhku terlalu lemah setelah mengobati Tiara dan membuat kami semua keluar dari dunia Kai. Lalu, dia yang kesal dengan sikapku pun langsung memukul tengkukku. Tentu, aku dibuat tidak sadarkan diri olehnya. Selebihnya tidak ada yang aku ingat.

__ADS_1


“Aku tidak bermaksud merusak suasana. Namun, tidak ada yang bisa kita lakukan,” ucap Bizar. Laki-laki itu mendengus. “Salah satunya akan mati atau bahkan tidak ada yang selamat sama sekali. Peluang kita menang dalam menyerang hanya 2%, tenaga kalian semua sudah hampir habis. Sungguh miris, tetapi itu faktanya.”


“Jadi kita menyerah dengan keadaan saja? Bizar ... itu hal yang paling tidak bisa Nadira maafkan. Jika dia ada, dia pasti akan mendesak untuk menyelamatkan keduanya bukan?” ucap Candra.


Aku tidak mengerti kenapa mereka terus memasukkan namaku dalam diskusi. Memang benar jika aku mungkin tidak berada bersama mereka saat ini. Namun, jika perbedaan pendapat mereka tidak menemukan jalan tengah, maka percuma saja. Mereka tidak akan menyelamatkan siapa pun.


“Lalu apa? Kamu memintaku untuk mencari tahu keberadaan keduanya?!” ucap Bizar dengan suara meninggi. “Aku bukan robot. Aku lelah!”


“Tapi ini mendesak. Tidak bisakah kamu menyampingkan perasaan pribadimu, Bizar? Kami paham dan kami tidak ingin menganggapmu seperti setumpukkan besi yang dikendalikan. Namun, kita harus menyelamatkan mereka semua,” ucap Demina.


Aku menggeleng. Bizar memang bukan robot. Dilihat dari penampilannya yang berantakan, aku yakin jika laki-laki ini sudah melalui hal-hal yang begitu berat. Kini mereka semua meminta Bizar untuk mencari informasi lagi. Aku sungguh tidak bisa menerima hal itu. Namun, bibirku kelu dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


Sampai aku mendengar Kak Ron kembali bicara, “Jika kalian memaksa Bizar, kalian sama saja memperlakukannya seperti robot. Sudahlah, dia sudah bekerja keras demi kalian semua. Aku ingat rumor yang beredar saat lima ratus tahun lalu.”


“Rumor?”


“Dulu sebelum seorang anak yang lahir dari tetesan air mata naga turun, ada sebuah ramalan jika seorang anak dengan kekuatan hope akan melindungi dunia. Sayangnya anak itu dibunuh. Menurutku satu-satunya yang kurang dalam tim kita adalah pemilik kekuatan hope. Aku tidak tahu bagaimana kekuatannya, tetapi mungkin dia bisa mengubah dunia yang kacau ini,” ucap Kak Ron.


Lagi-lagi aku membelalak. Hana dan Mizuki mengatakan jika aku memiliki hope. Kekuatan yang Kak Ron katakan itu ada pada diriku. Jadi apa yang mereka katakan soal mengubah dunia itu benar ... aku bisa mengubahnya.

__ADS_1


“Kak Ron, kita terlambat. Lupakan soal hope.  Kita bahkan sudah kehilangan Radja.”


__ADS_2