Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 41. Pantaskah Aku?


__ADS_3

Aku berusaha untuk tidak mendengar ucapan Kak Ron yang tengah mengomel tentang kejadian tadi. Memang benar salahku karena aku bertindak seorang diri dan tidak menunggu mereka semua turun tangan. Kali ini aku benar-benar dihukum untuk tidak menggunakan kekuatan ini sembarangan padahal tadi memang sangat mendesak dan aku juga dibantu.


Meski aku berkata pada Kak Ron untuk tidak perlu khawatir padaku, dia tidak akan menurut dan justru melemparkan tatapan tajam padaku. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan kakak. Namun, aku tahu, semua itu dilakukan karena dia sangat menyayangiku meski kami bukanlah saudara kandung. Selama ini, kakak sudah banyak membantuku.


Teringat sekilas dengan orang yang membantuku, sebenarnya dia siapa? Aku benar-benar penasaran. Apakah kedua orang yang membantuku ini saling berhubungan? Jika ya, aku ingin tahu berapa banyak anggota kelompok mereka. Siapa tahu kami bisa membuat aliansi dan menghentikan kekacauan ini bersama-sama. Semakin banyak orang, semakin bagus!


“Dira kamu dengar apa yang kakak ucapkan?” tanya Kak Ron.


Aku meneguk ludah. Sejujurnya aku hanya paham garis besarnya. Kekuatanku tidak stabil dan jangan bertindak sendiri. Terlebih aku sedang mengambil izin baik di sekolah maupun di Twins. Tidak pantas orang yang mengambil izin berkeliaran di luar rumah, apalagi melawan monster yang jelas-jelas tidak diizinkan.


Akan tetapi aku tetapi menggeleng. Berkata jujur itu lebih baik. Aku ingin membuat Kak Ron kesal sampai dia menarik kembali semua hukumannya dariku. Bukannya aku tidak mau melawan, tetapi memang percuma saja. Lalu aku mendengar kakak mengembuskan napas sebelum dia kembali melihat ke arahku dan mengembungkan pipinya.


“Kakak tadi kasih tau kamu. Selama kamu izin, jangan menyerang monster. Oke, kamu boleh menyelidiki, tetapi tidak dengan aktivitas berat seperti berhadapan langsung dengan mereka. Kamu itu harus lebih berhati-hati Nadira. Saat ini mereka bisa saja mengincar kamu kapan dan di manapun,” jelas Kak Ron yang lalu mengelus puncak rambutku.


“Kak Ron, kakak terlalu parno dengan urusan ini. Tenanglah, aku tidak apa-apa,” ucapku. “Lagi pula monster itu tidak akan menyadari keberadaanku selama jamnya ada di Bizar.”


“Apa maksudmu, Dira?” tanya Kak Ron bingung.


“Ini baru pradugaku saja, Kak Ron. Mereka selama ini mengetahui keberadaan kita semua melalui radar di jam milik Bizar. Dia juga bilang selama ini ada penyadap yang membuat mereka tahu apa-apa saja rencana kita. Namun, Bizar belum menemukan di mana penyadap itu.

__ADS_1


“Sebelumnya dia juga menduga-duga. Ada pengkhianat di antara kita semua. Namun, bukan Bara, meski dia tahu soal pasukan Azumi dan kekuatan para monster ... dia bukanlah pengkhianat. Bara juga korban, sama seperti pasukan lainnya. Memang kalian semua memintaku libur karena keadaanku yang memburuk. Namun, seperti yang aku bilang, Kak.


“Kita ikuti saja permainan mereka. Walau aku diliburkan, izinkan aku tetap melawan para monster. Radja akan melindungiku dari jauh, para monster juga tidak akan menyadari keberadaanku untuk sementara waktu,” jelasku panjang lebar pada Kak Ron.


Aku harap kakakku yang satu ini bisa paham dan menerima keputusanku. Aku tidak bisa bersantai-santai saja. Ini bukan liburan di mana aku bisa membaca buku dengan tenang atau pergi jalan-jalan. Demi mengembalikan stamina dan kekuatanku, aku harus tetap bergerak. Tidak dapat aku biarkan musuh bertindak sebebas itu.


Jika aku pun tidak bisa menyerang dari arena tempur, aku akan melawan monster dari belakang. Mencari inti masalah yang membuat kristal kegelapan itu terpicu. Menenangkan dan menghilangkannya jika bisa. Maka mereka pun akan selamat. Dalam keadaan apa pun, aku harus tetapi ikut turun dan bertarung bersama semuanya.


Kak Ron tidak berkata apa-apa. Dia segera menggenggam tanganku dan langsung berjalan pulang. Lagi pula, jaket dan masker ini sukses membuat aku gerah. Apalagi tadi aku dikelilingi oleh api. Rasanya sekarang tubuhku lengket dengan keringat dari pertempuran lagi. Perlahan aku pun membalas genggaman tangan Kak Ron. Semoga dia dapat memahaminya.


-----------------------------


Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan setelah pulang sekolah, mungkin membaca buku bisa membantuku berlatih menulis cerita pendek untuk lomba nanti. Jika pun tidak, suasana baru pun memang aku perlukan. Jadi tidak masalah, aku akan tetap ke perpustakaan untuk bersantai. Daripada aku pulang dan rebahan di atas kasur selama sehari penuh.


Ya, Kak Ron tidak mengizinkan aku keluar mencari para pasukan Azumi. Dia memang memperbolehkan aku untuk menyelidiki jika mereka memang ada di sekitarku. Namun, meski kembali ke sekolah, aku tidak menemukan satu pun pasukan Azumi. Wajar saja, teman-teman yang lain sudah lebih dulu melakukannya sebelum aku kembali ke sekolah.


Ada saja cara kakak untuk menghentikanku dalam menyelidiki kasus. Memang sangat menyebalkan tetapi aku tetap menyayangi laki-laki itu. Keluargaku satu-satunya dan dia sangat peduli padaku. Oke, aku rasa aku akan menuruti ucapannya untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Semua konflik dan penyerangan dari pasukan Azumi biar mereka saja yang urus. Aku tidak akan ikut campur. Selama itu aku akan bersabar dan memikirkan dalang di balik ini semua seperti apa.


“Oy, Dira!” seru seorang laki-laki di kantin yang tengah menyapaku.

__ADS_1


Aku celingak-celinguk. Ternyata kakiku ini membawa ke pusatnya makanan di sekolah. Kantin. Memang setelah banyak berpikir, aku merasa lebih lapar. Maka aku melihat pada laki-laki yang menyapaku barusan. Afly.


Afly duduk berhadapan dengan Bara, mereka dikelilingi oleh banyak gadis. Tentu saja itu para penggemar dari si Raja Gombal sekaligus pelindung garis depan Twins. Aku menggeleng pelan melihat kelakuan Afly yang seperti itu, tetapi tidak ada salahnya untuk ikut duduk dan makan bersama mereka.


“Kamu udah baikan, Dira?” tanya Bara padaku..


Aku mengangguk. “Ya, hanya masuk angin, Bara. Kamu tahu pelatihan kemarin memang sangat jauh dan dekat dengan pegunungan. Wajar jika aku kelelahan dan masuk angin setelah pulang dari sana.”


“Wah, apa kalian banyak bermain di luar?” celetuk Afly. Aku paham jika pertanyaan ini bukan merujuk pada bermain yang sebenarnya. Dia bertanya soal latihan.


Kembali aku pun mengangguk. Tepat setelah itu bibi kantin datang, menawariku banyak sekali makanan. Dia juga merekomendasikan beberapa makanan berat karena melihat tubuhku yang sangat kurus. Aku hanya bisa tersenyum saja mendengar komentarnya. Berbeda dengan Bara dan Afly yang memesan bakso, aku memilih untuk memakan nasi goreng.


“Aku denger kamu ikut sebagai peserta karya sastra, emang kamu lebih jago nulis daripada Rima? Oh tunggu bentar ... memangnya kamu kenal sama Rima?” tanya salah satu gadis di bangku yang sejajar dengan Afly.


Aku memperhatikan gadis itu. Ini pertayaan yang sangat aku takutkan, Apakah aku lebih pantas dibandingkan orang yang jelas lebih jago dari pada diriku?


 


 

__ADS_1


__ADS_2