Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 31. Menenangkan Diri


__ADS_3

Selagi masih pagi buta, Radja menyuruh kami semua berlatih. Namun, Irish dan Demina sudah ditarik oleh Miss Sharron untuk menguasai kekuatan sihir medis. Mereka memang dipaksa, tetapi jika kami terlalu mengandalkan Kak Ron dan tpara peri saja itu akan gawat. Syukurlah aku tidak ikut ditarik. Saat ini aku ingin menjadi lebih kuat dengan mengembangkan salah satu kekuatanku.


Percakapan kemarin malam membuat aku tidak bisa tidur ataupun menulis cerita. Radja juga terlihat seperti itu, ada mata panda di wajahnya. Harusnya dia beristirahat saja daripada menyuruh kami untuk berlatih. Terutama di wilayah pelatihan ini ada di dekat hutan. Tidak ada air, apa aku harus menggunakan kekuatan tanaman?


“Aku mau berlatih terbang dan menggunakan kekuatan kegelapan di Twins saja. Dalam satu jam lagi aku akan kembali. Di sini terlalu mencolok bagiku,” ucap Bara yang baru saja menyarungkan kembali pedangnya. Aku pun mengangguk.


Bara segera terbang menggunakan sayap dan membuat portal sendiri. Entah akan sampai di mana, tetapi aku pun tidak bisa ikut masuk ke dalam portal miliknya. Di ujung sana Radja tengah berlatih menggunakan kekuatan api terkadang dia juga mengubah bentuk tangan menjadi tangan naga. Dia berlatih seperti orang yang tidak ingin memahami situasi. Bahkan jika ada orang lewat pun dia tidak akan peduli.


Aku mengembuskan napas, memang benar jika ini membuat kami terpikirkan terus menerus. Akhirnya aku pun menghampiri laki-laki tersebut. Sepertinya berlatih seperti ini tidak akan berhasil untuk menghilangkan pertanyaan-pertanyaan di dalam pikiran. Radja juga hanya akan membuat orang penasaran jika terus-menerus bertingkah seperti itu. Lebih baik kami melakukan hal lain saja.


“Radja, hentikan. Kamu akan membakar satu hutan jika cara kamu berlatih seperti ini!” ucapku yang lalu memadamkan api di batang-batang pohon. Lalu aku menggunakan kekuatan tanaman untuk menyembuhkan luka-luka para pohon tersebut.


Radja memang berhenti, tetapi setelahnya aku mendengar dia menghela napas berat. Sudah aku duga jika dia juga masih memikirkan ucapan Miss Sharron terlebih itu menyangkut dia dan keluarganya. Wajar saja jika Radja bertingkah seperti ini. Namun, aku khawatir jika dirinya terlalu memaksakan diri. Maka, aku semakin mengepalkan tangan dan mengobati para pohon dengan cepat. Setelahnya aku pun memegang lengan laki-laki yang selalu menyebalkan ini.


“Daripada kamu berlatih seperti ini, sebaiknya kita beristirahat sejenak. Bagaimana kalau naik ke atas pohon dan melihat matahari terbit?” usulku sambil menunjuk pada salah satu pohon di atas.


“Memangnya di sini bisa lihat matahari terbit?” balas Radja dan itu membuat aku berpikir. Posisi kami sekarang ini ada berada di wilayah mana?

__ADS_1


Tidak disangka-sangka, Radja sudah mengeluarkan sayapnya lalu menarik tanganku. Kami segera terbang menelusuri hutan, hingga akhirnya berhenti di salah satu pohon yang cukup tinggi. Dia lalu meletakkanku di atas dahan yang sangat tinggi. Aku menelan ludah dan menahan detak jantungku ketika aku melihat ke bawah sana. Terlebih Radja membuatku takut.


Dia terus memberitahu agar aku hati-hati, tidak tergelincir dan jangan banyak tingkah atau aku akan jatuh ke bawah. Entah sempat atau tidak kekuatan tanamanku nantinya menahan tubuh. Radja memang menyebalkan! Bisa-bisanya dia bertingkah usil dengan memanfaatkan keadaan kami saat ini. Aku cukup menyesal memberikannya ide untuk duduk di atas pohon.


“Dira, kamu tau puding?” tanya Radja tiba-tiba.


Aku menggangguk. “Iya, aku tau puding. Kenapa Ja? Kamu ngidam puding?”


“Enggak ngidam kok. Cuma mau ngasih tau aja, kalau kamu jatuh dari pohon ini ... nasib kamu bakal kayak puding yang jatuh dari tangan,” jelasnya sambil bersandar pada batang pohon di dahan atasku.


Dia benar-benar bisa sangat tenang ya dengan duduk seperti itu. Sementara aku berjalan pun sulit. Takut jika aku tiba-tiba hilang keseimbangan dan akhirnya jatuh seperti yang Radja ucapkan. Aku tidak mau bernasib sama dengan puding yang jatuh dari tangan. Tidak, tidak. Pelan-pelan aku coba meraih batang pohon dan bergerak perlahan-lahan.


Saat ini aku sangat fokus untuk memeluk batang pohon. Saat sampai aku segera menempelkan tangan dan menumbuhkan tanaman. Tunggu, kenapa tidak dari tadi saja aku menggunakan kekuataku? Sial, ternyata panik membuat aku pikun untuk sementara waktu.


Karena kesal, aku menghentakkan kaki. Tidak takut lagi jatuh karena saat ini aku sudah berpegangan pada pada tanaman rambat yang melingkar pada batang pohon. Lantas, aku pun menjawab ucapan Radja sebelumnya. “Tidak, terima kasih, segini saja sudah cukup. Kecuali kamu emang ingin liat aku kejang-kejang kalau kamu enggak berhenti bikin aku takut, Ja.”


“Siapa yang bikin kamu takut? Aku kan Cuma bercanda, Dira. Tapi serius, kamu harus hati-hati. Pohon ini agak licin,” ucap Radja.

__ADS_1


Baru saja dia berucap begitu, aku merasa dahan yang aku pijak ini sangat licin. Bahkan tanaman rambatku putus karena aku tidak fokus. “Ja serius, tolong aku!”


Radja segera menegok ke arahku, tepat ketika aku tergelincir dari dahan. Laki-laki itu segera membentangkan kembali sayapnya. Debaran jantungku semakin menjadi karena aku mulai merasa tubuh ini akan hancur saat sampai di tanah. Namun, pemikiran itu dihapus jauh-jauh. Radja menarik tanganku dan dia kembali menarikku ke atas dahan tempat dia duduk sebelumnya.


“Hati-hati dong, Dira. Aku baru bilang kalau tempat itu licin. Ya udah, sekarang kamu duduk di sana dan jangan panik. Aku bakal duduk di sini. Kita liat matahari terbit bareng-bareng,” ucapnya dengan tenang. Aku mengatur napasku, debaran jantung masih sangat kencang. Tadi itu nyaris saja aku bertemu dengan ajal.


Jika dipikir tadi itu menegangkan. Padahal saat berhadapan dengan monster, aku selalu nekat mendekat tanpa memikirkan kematian. Namun, setelah jatuh tadi, aku sangat-sangat takut. Kematian ada di depan mata, tetapi Radja menarikku kembali sebelum aku remuk atau hancur tercecer seperti puding. Walau dia sering usil, aku bersyukur dia tetap peduli.


Radja lalu tersenyum. “Udah jangan tegang gitu. Katanya, kalau liat matahari terbit itu bikin tenang. Mau buktiin bareng-bareng?”


Aku mengangguk sebagai jawaban. Kami pun sama-sama menoleh pada langit di ujung sana. Warna biru pucat kini perlahan berganti dengan warna yang lebih muda. Aku melihat perubahan langit dan hilangnya bintang-bintang ini membuat hati lebih tenang. Padahal, ini bukan yang aku harapkan. Meski salah arah, ternyata menenangkan hati seperti ini juga ada gunanya.


“Gimana, Ja? Kamu udah merasa baikkan?” tanyaku sambil menoleh pada laki-laki yang masih menarap langit.


“Bukannya aku yang harusnya nanya. Gimana kondisi kamu udah baikan? Manjur bukan ucapanku?” ucap Radja.


Aku tertawa. “Setidaknya dengan melihat ini, kita berdua tidak perlu panik akan masa depan. Benar, bukan?”

__ADS_1


 


 


__ADS_2