
“Naif sekali pemikiran kalian.” Aku terkejut karena mereka tiba-tiba menyerang. Tubuh mereka perlahan berganti menjadi sisik. Beda dengan monster sebelumnya yang memiliki tubuh sekuat baja.
Kali ini lawan kami memiliki tubuh dengan sisik dan terlihat sangat tajam. Aura kegelapan bisa aku lihat dari mereka. Seakan matahari yang berada di puncak memihak pada kubu kami. Aku bisa melihat keduanya siap bertarung pada Bizar dan Radja.
Tunggu, kenapa hanya ada dua orang di sana?!
Segera aku mengendurkan pegangan pada tali busur. Tidak mungkin jika yang satu lagi adalah ilusi. Aku agak takut dengan bagian belakang. Sepertinya salah satu musuh sudah menemukan keberadaanku.
Dengan cepat aku melepaskan pegangan pada panah dan segera mengambil anak panahnya. Mataku membelalak karena saat berbalik seorang laki-laki lainnya ada di belakangku. Lawan yang hilang di arena satunya. Aku menelan ludah.
“Tidak baik lho, menusuk dari belakang,” ucap laki-laki itu padaku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Sekuat tenaga aku berusaha menahan tenaganya yang lebih besar dari perkiraanku. Segera aku melompat ke samping, karena di belakang tubuhku ada batang pohon.
“Di sini Bizar, aku sudah tahu siapa yang menghalangi jaringan. Radja, aku mohon bantuanmu untuk menyerang orang itu. Dira, kamu keluarkan saja kekuatanmu. Dia salah satu lawan yang sangat tangguh!” ucap Bizar.
“Aku paham. Bizar, kamu yakin akan melawan man to man dengan monster itu?” tanya Radja.
“Aku tidak akan mati, tenang saja. Nadira, perhatikan lawanmu!”
Peringatan dari Bizar membuatku segera melihat lawan lagi. Dia menyeringai dan memperlihatkan giginya yang mulai memanjang. Inikah sisa-sisa pasukan Azumi? Jadi itu bukan virus?
Aku segera memunculkam pedang dan menusuk tubuh bersisik tersebut. Ternyata tubuh monster kali ini lebih mudah ditembus dibandingkan dengan sebelumnya. Laki-laki itu segera mundur ke belakang lalu menghilang menjadi uap. Aku membelalak.
Jika begini urusannya aku menggunakan kekuatan air untuk menyebar es di segalam penjuru. Uap itu kembali membentuk tubuh manusia tanpa sisik. Namun, luka tebas yang aku timbulkan tidak ada di sana. Aku tidak percaya. Bagaimana bisa?!
__ADS_1
“Jangan berpikir ini akan sangat mudah, Nona.” Aku tida peduli dengan apa yang diucapkannya. Sampai Radja bisa menangani musuh itu, aku akan menahannya sekuat tenaga.
“Tenang saja, aku juga enggak berpikir kalau ini bakal mudah, Kak,” ucapku.
Kembali aku mengangkat pedang dan mulai menangkis serangannya. Dia kadang menggunakan cakar ataupun kekuatan elementalnya. Sayangnya kekuatan lawanku adalah air, jadi sulit untuk melawannya. Namun, aku tidak akan menyerah dengan mudah.
Aku menyilangkan tebasan pedang, lalu kanan dan kiri. Meski aku tahu tubuhnya tidak akan terluka sedikit pun. Regenerasi cepat ini membuatku ingat dengan Kak Ron yang juga memilikinya. Untuk melumpuhkan lawan, aku harus menyerangnya terus-menerus. Namun tenagaku sudah hampir habis.
Tidak sempat aku menghindari serangannya. Aku hanya sempat menyilangkan tangan sebagai bentuk pertahanan dari tendangan laki-laki tersebut. Hingga aku pun terdorong masuk ke arena pertempuran bersana Radja dan Bizar. Jantungku berpacu dengan lambat dan pandanganku sudah semakin buyar.
“Mereka ini makhluk apa?” bisik Radja yang ada di dekatku.
Aku menggelengkan kepala sebagai jawabannya. “Kalau aku tahu, aku pasti ngasih tau kamu, Ja.”
Bizar sendiri sudah tidak mampu untuk mengangkat pistolnya lagi. Dia sudah sangat kelelahan. Monster ini lebih parah dari yang diperkirakan. Terlebih satu di antara merekalah yang memprogram penghalang. Tanpa melenyapkan atau melumpuhkan penggunanya, kami tidak bisa pulang ataupun melacak Miss Merry.
Aku lihat laki-laki itu mulai menarik tangannya dan muncul sebuah layar transparan, mirip seperti milik Bizar. Tiba-tiba Radja berteriak, “Kalian hanya bermain-main dengan kami?!”
Buru-buru aku menahan lengan Radja. Jika harus melawan lagi, tenaga kami sudah hampir habis. Bahkan aku dan Bizar bisa tumbang kapan saja. Sepertinya laki-laki itu menyadari peganganku dan mengurungkan niatnya.
Ketiga laki-laki yang baru saja menjadi lawan kami pun menghilang seperti angin yang berembus. Tidak tercium bau apa-apa lagi. Aku segera duduk di atas batu besar. Melelahkan sekali. Beberapa kali menegadah dan merasakan silir angin yang silih berganti datang. Kami butuh istirahat sebelum menghubungi teman-teman yang lain.
Namun, sepertinya Bizar berbeda. Setelah yakin penghalang itu menghilang, dia kembali mengaktifkan kekuatannya. Mengetik program dengan cepat dan mencoba mencari letak keberadaan semua orang. Hingga akhirnya dia melihat lingkaran merah di arah barat, dua kilometer dari tempat mereka berada.
__ADS_1
Karena cukup lelah, Bizar juga duduk dan mengirimkan kordinat kami pada teman-teman. Siapa tahu mereka sudah menemukan Miss Merry. Ini pertarungan yang benar-benar melelahkan. Setelah sekian lama, kami kembali dipertemukan dengan musuh-musuh kuat.
“Menurut kalian, pasukan Azumi yang mereka katakan itu ada berapa?” tanyaku sambil menegadah ke langit.
“Entahlah, Dira,” balas Radja yang lalu berbaring. Dia mencoba mengatur napasnya kembali. “Aku tidak mengerti kenapa kekuatan mereka mirip-mirip dengan kita. Ini sangat mengejutkan, seakan mereka menduplikasi kita.”
“Harusnya itu tidak mungkin terjadi. Kalian tahu aku sering menghapus ingatan orang jika sudah terlalu banyak yang melihat,” jelas Bizar yang juga ikut berbaring.
Aku pun turut tergoda dan mulai berbaring bersama mereka. Melihat awan-awan yang bergerak bebas di atas sana. Merenungkan serangan lawan kami. Tidak ada waktu untuk bersantai. Terlebih kami mulai tahu jika ini semua disebabkan oleh pasukan Azumi yang sepertinya berhasil lolos saat penyucian.
Padahal aku, Afly, Bara dan Nadia sudah berusaha untuk menyatukan keempat pedang demi menghentikan Azumi dan pasukannya. Pasukan manusia yang tidak bersalah dan tidak bisa aku selamatkan tepat waktu saat itu. Perlahan aku mengepalkan tangan. Apakah ini kesalahanku juga?
“Radja! Bizar! Nadira!” Seruan itu membuat kami kembali berdiri, mencari asal suara. Di sana kamu melihat teman-teman membawa Miss Merry.
Aku tidak bisa menahan tangan untuk menutup mulutku sendiri. Mataku membelalak dan nyaris berair. Entah apa yang telah terjadi pada Miss Merry, tetapi peri itu memiliki banyak luka dan bajunya pun robek di mana-mana. Tak ayal, teman-teman kami yang lain pun memiliki luka dan sangat kelelahan. Aku tidak percaya ini semua!
Ingin rasanya bertanya, tetapi Radja menahanku. Dia justru bicara lebih dahulu. “Banyak yang harus kita obrolkan.”
“Sepertinya kalian juga kesulitan. Kita bener-bener harus menyelidiki ini,” timpal Candra.
Benar. Banyak hal yang terjadi dalam satu hari ini. Belum ada satu bulan sejak kami semua mendapatkan berita soal monster dan kini kami menemukan dalangnya. Mataku bertemu dengan mata Bara. Laki-laki itu berhutang banyak penjelasan.
Setidaknya dia pasti tahu soal pasukan Azumi dan darimana pasukan itu meniru kekuatan kami. Jika tidak, aku bahkan tidak bisa memikirkan masa depan kami selanjutnya. Lupakan saja sekolah impian. Keselamatan kami saja sangat terancam untuk hari ini!
__ADS_1
Pelan tapi pasti, portal sudah dibuat oleh Bizar. Aku yakin dia sangat kelelahan setelah menghadapi musuh yang serupa dengannya. Mungkin juga terpukul, karena Bizar tidak bisa menghadapinya.
Meski dibilang duplikat, lawan Radja tadi bisa melakukan serangan fisik lebih baik daripada Bizar. Aku paham perasaanya. Lalu, apa tindakan yang harus kami lakukan sekarang?